Dua bulan lalu, Luella Brynn dipaksa menikah dengan seseorang Bernama Edric Alton yang tidak ia inginkan dan tidak ia kenal. Hanya untuk mengikuti permintaan mendiang orangtua Edric. Pernikahan hanya sebatas formalitas di hadapan orangtua Edric, dan begitu orangtua Edric meninggal. Luella di ceraikan begitu saja oleh Edric. Tidak ada kata perpisahan, hanya ada selembar cek dengan nominal fantastis sebagai rasa terimakasih karena Luella bersedia membantu Edric. Lalu bagaimana dengan kehidupan Luella dan Edric pasca bercerai? Dengan status baru yang akan mereka bawa satu sama lain, sedangkan usia Luella terbilang masih sangat muda bahkan usianya terpaut 15 tahun dengan Edric.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Pagi ini Luella bangun dengan lebih segar dan lebih tenang dari biasanya. Pertemuannya dengan Edric sedikit mengubah kehidupannya hari ini. Perasaan yang biasanya ia rasakan saat pagi, tiba-tiba perasaan itu menghilang begitu saja.
“Thank you Pak Edric” gumam Luella.
Ting! Ponsel Luella berdering.
“Luella, aku di depan” – Henry
Luella segera meninggalkan rumah dan keluar untuk menemui Henry, lalu menuju ke kantor.
“Apa kabar Luella?” Tanya Henry.
“Baik. Kamu bagaimana?”
“Baik dan cukup sibuk. Gimana kerjaan kamu kemarin?”
“Semua oke, dan berjalan dengan baik”
“Dan Cal?”
Luella menoleh kearah Henry, sambil mengingat bahwa dia sudah menjelaskan, namun Henry masih menanyakan ulang tentang itu semua. Salah satu sikap yang Luella kurang suka dari Henry.
“Henry, aku sudah jelaskan” ucap Luella dengan tenang.
“Iya, aku ingat. Tapi kenapa Cal melakukan itu? Kemana manager marketing yang harusnya bertanggung jawab?”
“Pak Willy punya urusan lain, dan kemarin kebetulan ada Pak Cal. Jadi beliau menawarkan bantuan”
“Bantuan? Dia CEO, Luella”
“Lalu, masalahnya dimana Henry. Dia bantuin aku, dan aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan klien”
“Kamu gak merasa aneh?”
“Henry, cukup. Ini masih terlalu pagi untuk meributkan hal-hal yang seharusnya tidak kita ributkan. Dan untuk apa kamu melakukan ini, tidak menguntungkan juga buat kamu”
“Luella, aku berdiri disini untuk kamu. Untuk mengejar kamu, untuk membuat kamu kembali ke hidupku”
Luella hanya diam, ia tidak ingin terpancing apapun oleh Henry. Suasana hatinya mendadak buruk karena sikap henry yang berlebihan.
Mungkin tidak akan menjadi masalah untuk Luella, jika Henry adalah kekasihnya. Tapi saat ini Henry bukanlah kekasihnya.
“Thank you, Henry” ucap Luella dengan nada lirih kemudian keluar dari mobil Henry.
Di lobby, sudah ada sarah yang menunggunya. Sarah sengaja menunggu Luella karena dia sempat menghilang kemarin, karena sakit, dan sedikit membuat Luella hawatir.
“Pagi” sapa Sarah.
“Sudah sehat?” tanya Luella
“Sudah, ini lebih baik. Kok kelihatannya lagi gak mood?”
“Biasalah, Henry”
“Ada masalah?”
“Masih masalah yang lama, dengan mengulang-ulang topik yang sudah aku jelaskan”
“Habit mana bisa dirubah”
“Hahaha, iya”
“Aku beli dua bubur, ayo kita makan dulu. Masih ada waktu”
“Oke”
Luella dan sarah meninggalkan Lobby, dan menuju pantry yang berada di lantai ruangannya. Mereka berdua terlihat sedang menikmati bubur, hingga tiba-tiba Via datang.
“Pagi” ucap Via.
“Pagi Bu Via” jawab sarah dan Luella dengan kompak.
“Kebetulan sekali kalian ada disini. Saya ada urusan dengan kalian”
Luella dan sarah saling pandang, kemudian mereka merasa sedikit tegang karena mereka tahu ini bukan hal yang baik untuk di hadapi.
“Sarah, mana surat dokter kamu? Dan Luella, kamu direct ke CEO hanya karena sesuatu yang tidak bisa kamu jelaskan” ucap Via dengan tegas.
“Maksudnya saya tidak bisa menjelaskan bagaimana Bu?” tanya Laura.
“Saya tahu kamu punya klien VIP. Apakah kamu menjelaskan? Siapa klien kamu? Tidak kan. Lalu membuat cerita seolah saya menghalangi pekerjaan kamu” ucap Via.
“Bu, soal klien saya rasa tidak ada di aturan kontrak. Maksud saya, saya tidak perlu menjelaskan siapa klien saya. Tapi saya perlu bertanggung jawab dengan klien saya”
“Bagaimana saya tahu kalau seandainya kamu berbohong?”
“Kenapa saya harus berbohong?”
“Who know’s Luella?”
“Dalam tiga tahun saya bergabung dengan perusahaan ini, Bu Via bisa cek sendiri berapa kali saya meminta izin untuk menemui klien, bahkan saya lebih sering mengundang klien datang ke kantor dari pada saya bertemu di luar. Lalu bagaimana bisa Bu Via menyimpulkan saya berbohong? Dan apa tadi? Bu Via mengatakan saya membuat cerita? Bahkan di kantor ini saya hanya berteman dengan Sarah. Jadi siapa yang membuat cerita, saya atau Ibu?” Jelas Luella dengan tegas.
Luella begitu terpancing dengan sikap Via, karena menuduhnya melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. Ditambah lagi suasana hati Luella saat ini sedang tidak baik karena sikap Henry.
Sementara sarah hanya tercengang melihat perlawanan Luella, karena ini pertama kali Luella melawan HR setelah 3 tahun lamanya dia bekerja di perusahaan tersebut.
PLAK!
Pipi Luella terasa panas terbakar, ketika tangan seorang HR mendarat dengan kasar di poipinya. Dan kejadian tersebut disaksikan oleh sarah dan juga beberapa staff lainnya.
Semua orang terkejut melihat sisi Via, yang selama ini mereka melihatnya sebagai HR yang bijak dan tegas. Namun kali ini penilaian itu hilang seketika.
“Terimakasih Bu untuk tamparannya” Ucap Luella kemudian meninggalkan pantry dan kembali ke mejanya.
Sementara Sarah, dia juga meninggalkan Via begitu saja dan memilih untuk menyusul Luella.