Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Dinding Keputusasaan
Setelah amarahnya meledak dan air mata terkuras habis, tubuh Leon akhirnya menyerah pada kelelahan. Ia tertidur di atas kursi rodanya, kepala sedikit terkulai ke samping. Napasnya terdengar berat, terputus-putus, seolah dadanya masih dipenuhi beban yang tak sempat ia lepaskan meski matanya telah terpejam.
Kamar itu tak lagi menyerupai tempat beristirahat. Lantai dipenuhi pecahan kaca dari bingkai foto yang hancur, buku-buku tergeletak tanpa aturan, dan vas bunga yang pecah menjadi saksi bisu luapan emosinya. Kekacauan itu mencerminkan isi hatinya—retak, berantakan, dan kehilangan arah.
Tak seorang pun berani melangkah masuk ke ruangan itu, kecuali dua sosok yang paling memahami dan mencintai Leon. Gaby, ibunya, dan Bibi Eli kepala pelayan yang telah mengabdi puluhan tahun pada keluarga mereka. Sejak Leon masih bocah, Bibi Eli sudah menjadi bagian dari hidupnya, menyaksikan setiap fase pertumbuhan, keberhasilan, hingga kehancurannya kini.
Dengan kunci cadangan di tangannya, Gaby membuka pintu kamar perlahan. Engsel pintu berdecit pelan. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, seolah berjalan di atas kaca rapuh. Bibi Eli mengikut di belakang, membawa sapu kecil dan kain lap, bertekad merapikan ruangan tanpa mengusik ketenangan Leon.
Namun belum jauh mereka melangkah, suara parau terdengar memecah kesunyian.
“Mama…”
Gaby tersentak. Ia segera menoleh ke arah kursi roda itu. Mata Leon terbuka setengah, menatap kosong ke depan.
“Nak… Mama minta maaf,” ucap Gaby lembut. “Mama tidak bermaksud mengganggumu.”
Ia mendekat, berlutut di samping Leon. Jemarinya menyentuh tangan putranya yang dingin, jauh dari hangat yang biasa ia rasakan. Di sudut ruangan, Bibi Eli mulai membereskan pecahan kaca dengan gerakan nyaris tanpa suara.
“Kamu belum makan apa pun sejak tadi siang,” ujar Gaby lirih. “Perutmu pasti kosong.”
Leon menggeleng pelan. “Aku tidak ingin makan,” jawabnya singkat, tanpa emosi.
Gaby menelan ludah. Ia tahu benar arti penolakan itu. Bukan soal makanan—Leon sedang menutup diri dari dunia.
“Kamu harus menjaga tubuhmu, Nak. Minum obatmu dulu,” bujuknya lagi, setenang mungkin.
Leon tersenyum miring, senyum pahit yang menyayat hati ibunya.
“Obat itu tidak mengubah apa-apa, Ma. Hari demi hari aku tetap terjebak di kursi ini. Tidak ada yang membaik.”
Nada putus asa itu membuat dada Gaby terasa sesak. Air mata menggenang, tapi ia menahannya mati-matian.
“Kamu tidak tahu masa depan, Leon,” katanya perlahan. “Tapi menyerah sekarang bukan pilihan.”
Leon memalingkan wajah. Suaranya tiba-tiba meninggi.
“Aku capek, Ma! Jangan paksa aku! Aku hanya ingin sendiri!”
Kata-kata itu menghantam Gaby lebih keras dari bentakan mana pun. Ia terdiam, tangannya perlahan terlepas dari genggaman Leon.
Lalu Leon kembali bicara, lebih dingin, lebih tegas.
“Aku minta Mama keluar sekarang, biarkan aku sendiri."
Gaby mengangguk pelan, meski hatinya menjerit. Ia tahu, berdebat sekarang hanya akan membuat luka itu semakin dalam.
Mereka pun keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, Bibi Eli menoleh pada Gaby dengan mata penuh empati.
“Nyonya… Tuan Leon sedang hancur,” katanya lembut. “Kadang orang yang paling terluka justru melukai orang-orang di sekitarnya.”
Gaby menghela napas panjang. “Aku mengerti, Eli. Tapi sebagai ibu… rasanya sakit sekali melihat anakku hancur tanpa bisa menolong.”
Bibi Eli menggenggam tangan Gaby. “Tuan Leon hanya belum menemukan pegangan. Perawat baru yang Nyonya tunggu akan datang hari ini. Siapa tahu… dialah yang Tuhan kirimkan.”
Gaby menatap pintu kamar Leon sekali lagi.
“Semoga saja,” bisiknya. “Aku hanya ingin dia hidup… bukan sekadar bernapas.”
Di balik pintu itu, Leon kembali memejamkan mata. Kesunyian menyelimuti kamarnya, menelan seorang pria yang dulu berdiri di puncak dunia—kini terperangkap dalam jurang keputusasaan, tanpa tahu bahwa takdir sedang bersiap mempertemukannya dengan seseorang yang akan mengubah segalanya.
---
Menjelang pukul tiga sore, sebuah mobil berhenti di halaman rumah keluarga Leon. Seorang wanita muda turun dengan langkah percaya diri. Ia memperkenalkan diri sebagai Mery, perawat yang dikirim langsung oleh agensi sesuai permintaan Gaby.
Namun sejak pandangan pertama, ada sesuatu yang membuat dahi Gaby berkerut. Seragam putih yang dikenakan Mery tampak terlalu mencolok, atasan ketat dan rok pendek di atas lutut. Padahal, Gaby telah menegaskan agar perawat yang datang mengenakan celana panjang demi menjaga kenyamanan dan kondisi mental Leon.
“Bukankah saya sudah meminta agar perawat mengenakan celana panjang?” tanya Gaby tegas, meski suaranya tetap terjaga sopan.
Mery tersenyum kikuk, lalu sedikit membungkuk.
“Maafkan saya, Nyonya. Ini kebiasaan saya. Saya sungguh tidak bermaksud melanggar. Besok saya janji akan menyesuaikan,” katanya cepat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan.
Gaby menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk singkat. “Pastikan itu tidak terulang.”
“Baik, Nyonya.”
Gaby lalu mengantar Mery ke lantai atas. Lorong panjang rumah itu terasa sunyi. Setiap langkah Mery menggema pelan, sementara udara di rumah itu terasa dingin dan berat dan jauh dari kesan rumah mewah yang hangat.
Di dalam kamar, Leon duduk di kursi rodanya menghadap jendela. Cahaya sore menyelinap masuk, memantulkan bayangan tubuhnya yang diam membeku. Ia tidak menoleh saat pintu terbuka.
“Leon,” suara Gaby terdengar hati-hati, “Mama membawakan perawat baru. Namanya Suster Mery.”
Tanpa berbalik, Leon menjawab dingin, nyaris tanpa emosi,
“Aku tidak membutuhkan siapa pun. Suruh dia keluar.”
Gaby menelan ludah. Ia melirik Mery dengan ragu. Namun sebelum ia sempat berbicara, Mery mendekat dan berbisik,
“Nyonya, izinkan saya mencoba sendiri. Kadang pasien seperti Tuan Leon justru lebih terbuka dengan orang yang belum mereka kenal.”
Gaby bimbang. Ia tahu risiko itu. Namun kelelahan dan harapan yang tersisa membuatnya mengangguk pelan.
“Baik. Tapi jika terjadi apa pun, segera keluar.”
Gaby dan Bibi Eli pun meninggalkan kamar.
Begitu pintu tertutup, ekspresi Mery berubah. Ia melonggarkan dua kancing teratas seragamnya, lalu melangkah mendekat dengan senyum dibuat-buat. Nada suaranya berubah lembut, hampir menggoda.
“Tuan Leon…” katanya pelan. “Hidup tidak akan membaik kalau Tuan terus marah seperti ini. Saya di sini untuk membantu. Kita bisa… bekerja sama.”
Ia duduk rendah di hadapan Leon, tubuhnya condong ke depan dengan sengaja. Tangannya perlahan menyentuh jemari Leon.
Untuk sesaat, Leon hanya diam.
Namun tatapan matanya berubah. Dingin. Tajam. Berbahaya.
Dalam sekejap, Leon menepis tangan Mery, lalu mencengkeram lehernya dengan kekuatan yang membuat wanita itu terkejut setengah mati.
“Beraninya kau,” bisiknya rendah penuh amarah, “datang ke kamarku dengan niat kotor.”
Mery terengah. “T-tuan… lepaskan… saya mohon…”
Cengkeraman Leon mengencang sesaat sebelum ia berkata dengan suara penuh kebencian,
“Aku lumpuh, tapi aku bukan pria bodoh. Keluar dari kamarku. Sekarang.”
Leon mendorongnya menjauh. Mery terjatuh ke lantai, terbatuk hebat sambil memegangi lehernya yang memerah. Wajahnya pucat pasi.
Tanpa berani menoleh lagi, ia bangkit dan berlari keluar kamar.
Di lorong, Gaby dan Bibi Eli tersentak melihat kondisi Mery.
“Apa yang terjadi?” tanya Gaby cemas.
“S-saya tidak sanggup,” jawab Mery gemetar. “Saya tidak bisa bekerja di sini. Saya berhenti. Sekarang juga.”
“Mohon bertahan sedikit saja” Gaby mencoba menahan.
Namun Mery menggeleng keras. “Tidak! Dia berbahaya. Saya takut… sungguh takut.”
Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia segera pergi meninggalkan rumah itu.
Dalam hatinya, Mery mengumpat kasar.
Aku kira dia hanya pria cacat kaya. Ternyata jiwanya lebih rusak dari tubuhnya.
Gaby terduduk lemas di ruang tamu. Tangannya gemetar, matanya kosong. Perawat keempat. Semua pergi dengan ketakutan yang sama.
“Ya Tuhan…” bisiknya lirih. “Haruskah aku menyerah?”
Sementara itu, di lantai atas, Leon kembali menatap keluar jendela. Tidak ada penyesalan di wajahnya. Hanya kehampaan.
Ia tak sadar bahwa semakin banyak orang yang pergi, semakin tebal pula tembok yang ia bangun
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎