NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMORI MASA KECIL.

Setelah kejutan di kantor pusat A-Games Digital, Adam tidak langsung membawa Aurel kembali ke hotel. Mobil mereka melaju menuju kawasan elit di perbukitan Surabaya. Mereka berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, yang terbuka otomatis menyambut kedatangan mereka. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah rumah megah bergaya kolonial modern dengan taman luas yang tertata sangat rapi.

"Rumah ini... milik siapa lagi, Adam?" tanya Aurel sambil menatap pilar-pilar putih yang kokoh.

"Ini rumah masa kecilku, Aurel. Rumah yang sempat disita bank saat Ayah difitnah, namun berhasil aku beli kembali tiga tahun lalu," jawab Adam sambil mematikan mesin mobil.

Mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang berplafon tinggi. Suasananya begitu hangat, jauh dari kesan kaku rumah mewah di Jakarta. Adam menuntun Aurel menuju sebuah koridor yang dindingnya dipenuhi oleh bingkai foto kayu jati. Aurel terpaku, langkahnya terhenti di depan sebuah foto besar yang tampak sedikit usang namun dirawat dengan baik.

"Tunggu, ini... bukankah ini aku?" gumam Aurel, jarinya menyentuh kaca bingkai.

Di foto itu, seorang gadis remaja berusia 13 belas tahun dengan kuncir kuda sedang tertawa lebar sambil menggendong seorang anak laki-laki kecil berusia 3 tahun yang menggemaskan. Anak kecil itu memegang es krim yang belepotan di pipinya.

Adam tersenyum tipis di sampingnya. "Itu kamu, Kak Adel. Dan anak kecil yang terlihat sangat merepotkan itu adalah aku."

Aurel menoleh dengan mata membulat. "Kak Adel? Kamu... kamu memanggilku begitu?"

"Kamu lupa? Dulu, sebelum badai itu datang, keluarga kita sangat dekat. Kamu sering menggendongku, menyuapiku, bahkan mengejar-ngejarku saat aku tidak mau mandi," kenang Adam dengan binar mata yang jenaka. "Bagiku, kamu selalu menjadi 'Kakak Adel' yang pemberani. Itulah kenapa saat aku beranjak dewasa dan melihatmu di TV sebagai CEO dingin, aku merasa harus 'menyelamatkan' Kakakku yang dulu ceria."

Aurel menunduk, wajahnya merona merah. Kenangan masa kecil yang terkubur oleh kebencian ayahnya kini muncul satu per satu. "Aku ingat sekarang... anak kecil yang selalu menangis kalau aku pulang ke Jakarta. Ternyata itu kamu, Adam."

Disaat bersamaan tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga melingkar. Seorang wanita cantik berhijab syar'i turun dengan wajah berseri-seri. Ia tampak seumuran dengan Aurel, memiliki sorot mata yang teduh namun tegas.

"Adam? Kamu sudah pulang?" sapanya.

Jantung Aurel berdegup kencang. Ia tahu siapa wanita itu. Arumi, kakak kandung Adam. "Bagaimana jika dia membenciku? Bagaimana jika dia mengusirku karena aku anak dari pria yang menghancurkan keluarganya?" pikir Aurel cemas.

"Mbak Arumi, kenalkan, ini Aurel," ucap Adam tenang.

Suasana sempat hening sejenak. Arumi menatap Aurel dalam-dalam, membuat Aurel menundukkan kepala karena merasa bersalah. Namun, bukannya kemarahan, Aurel justru merasakan sepasang tangan hangat memeluk bahunya dengan erat.

"Akhirnya kamu sampai juga di sini, Adel," bisik Arumi lembut.

Aurel terisak kecil dalam pelukan itu. "Mbak Arumi... aku... aku minta maaf. Atas nama Papa, aku benar-benar minta maaf."

Arumi melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Aurel. "Sstt... jangan katakan itu. Adam sudah menceritakan semuanya. Kami bukan keluarga pendendam, Del. Ayah kami selalu mengajarkan bahwa dendam hanya akan menjadi racun bagi hati kita sendiri. Kamu adalah korban dari situasi ini, sama seperti kami."

"Tapi, Mbak tidak marah aku menikahi Adam? Dan perbedaan usia kami..." tanya Aurel ragu.

Arumi tertawa kecil, suara tawanya menenangkan. "Justru aku bersyukur. Adam itu keras kepala, hanya wanita seperti kamu yang bisa menjinakkannya. Umur hanyalah angka dalam catatan sipil, tapi di mata Allah, yang terpenting adalah bagaimana kalian saling menjaga." jawabnya membuat Aurel terharu mendengarnya.

Di tengah pembicaraan emosional itu, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga tahun berlari mendekat. Ia membawa sebuah buku cerita besar dan langsung memeluk kaki Adam.

"Om Adam! Baca buku!" seru anak itu.

"Eh, Raffa, perkenalkan dulu. Ini Tante Adel, istrinya Om Adam," ujar Adam sambil menggendong keponakannya itu.

Raffa, anak Arumi, menatap Aurel dengan mata bulatnya yang jernih. Ia tidak tampak malu atau takut. Anak itu justru menyentuh hijab biru Aurel dengan lembut.

"Tante cantik. Tante lagi sedih ya? Matanya basah," ucap Raffa dengan suara khas balita yang cadel namun terdengar sangat bijak.

Aurel tersenyum haru, ia mengambil alih Raffa dari gendongan Adam. "Iya, Sayang. Tante sedih karena senang bisa bertemu Raffa."

Raffa mengusap air mata di pipi Aurel dengan tangan kecilnya. "Kata Bunda, kalau sedih harus baca doa. Nanti Allah kasih pelangi di hati Tante. Tante jangan nangis lagi, nanti pelanginya nggak mau datang."

Aurel terpana mendengar ucapan bijak anak sekecil itu. Ia mencium pipi Raffa dengan penuh kasih sayang. "Iya, Raffa benar. Tante sudah tidak sedih lagi sekarang."

Arumi tersenyum melihat kedekatan mereka. "Raffa memang sangat dewasa untuk usianya. Dia seolah mengerti perasaan orang di sekitarnya. Sepertinya kamu sudah punya penggemar baru, Del."

Sore itu, mereka menghabiskan waktu di taman belakang sambil minum teh. Aurel merasa benar-benar diterima di keluarga ini. Rasa takut dan keraguan yang sempat membayanginya di Jakarta seolah menguap begitu saja.

"Mbak Arumi, terima kasih sudah menerima saya dengan tangan terbuka," ucap Aurel tulus.

"Sama-sama, Adel. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Aku senang Adam memilihmu. Dia butuh seseorang yang bisa mengingatkannya pada akarnya, dan kamu adalah bagian dari akar itu," balas Arumi.

Adam yang sedang bermain bola dengan Raffa menoleh ke arah dua wanita itu. "Sudah kubilang kan, istriku? Tidak ada yang perlu ditakutkan di sini."

Aurel menatap Adam, lalu beralih ke Raffa yang tertawa riang, dan terakhir pada Arumi yang tersenyum tulus. Di rumah megah ini, ia tidak hanya menemukan kemewahan fisik, tapi ia menemukan kemewahan hati yang selama ini tidak bisa dibeli dengan saham AA Cosmetic sekalipun.

"Adam," panggil Aurel saat hari mulai senja.

"Ya?"

"Aku ingin kita sering-sering ke sini. Aku ingin Raffa mengajarkanku cara melihat pelangi di tengah badai," ucap Aurel sambil tersenyum manis.

Adam berjalan mendekat dan merangkul bahu Aurel. "Tentu. Rumah ini adalah milikmu juga sekarang. Dan soal pelangi itu... aku akan pastikan pelanginya selalu ada di hatimu, Kak Adel."

Malam itu di Surabaya, Aurel tidur dengan hati yang paling tenang sepanjang hidupnya. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu takut akan masa depan atau perbedaan usia, karena ia berada di tengah keluarga yang mengerti arti memaafkan dan mencintai karena Allah.

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!