Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keheningan di dalam kamar utama itu terasa begitu pekat, hanya dipecahkan oleh suara detak jam dinding yang seolah mengejek posisi pria berwajah tampan itu.
Dareen berdiri mematung di sisi tempat tidur, menatap hamparan sprei sutra putih yang tampak seperti medan perang baginya. Kini piyama tidurnya sudah terkancing rapi.
Bayangkan selama dua jamnya Dareen berusaha menghindar dengan terus menerus berada di dalam kamar mandi, menyakinkan dirinya sendiri.
Di depannya, Afnan masih mempertahankan senyum kemenangan yang membuat harga diri Dareen terasa diinjak-pijak, sebab bagaimana bisa ia menikahi wanita manipulatif penuh tipu daya?
"Depankan tangannmu, Afnan. Aku sedang tidak ingin bermain-main." Desis Dareen dengan suara rendah yang berbahaya.
Namun, alih-alih takut, Afnan justru semakin menempelkan tubuhnya, membiarkan jemarinya bermain di ujung piyama Dareen.
"Siapa yang bermain-main, Kak?" Sahut Afnan dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Lagi pula, pintu itu terkunci. Kakak tidak punya pilihan selain menghabiskan malam ini bersamaku, hanya kita berdua." Afnan berkata dengan semangat bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil.
Dareen menyentakkan tangan Afnan dengan kasar, pria itu berbalik, melangkah menuju sofa panjang di ujung ruangan. Berniat untuk tidur di sofa. Lebih baik menderita sakit punggung daripada harus berbagi napas di atas ranjang yang sama dengan wanita yang telah memanipulasi ibunya sendiri.
"Aku akan tidur di sofa. Jangan berani mendekat." Titah Dareen ketus.
Afnan tidak tinggal diam, ia berjalan perlahan mengikuti Dareen, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet bulu yang tebal.
"Oh, benarkah? Kakak yakin ingin tidur di sana? Aku bisa saja berteriak sedikit kencang, dan Mommy akan langsung mendobrak pintu ini karena mengira Kakak sedang menyiksaku lagi."
Dareen menghentikan langkahnya, menoleh dengan mata yang berkilat marah, "Kau benar-benar wanita licik, Afnan. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau sudah mendapatkan status, sudah mendapatkan rumah ini, apa lagi?"
Afnan berhenti tepat di depan Dareen, menatap lurus ke dalam mata cokelat gelap milik suaminya.
"Aku ingin Kakak, bukan hanya status, tapi kehadiran Kakak di sini, di sisiku."
Dareen tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan, "Obsesimu itu menjijikkan, kau menghancurkan hubunganku dan Jeslyn, kau menjebakku, dan sekarang berharap agar aku mencintaimu?"
"Ya, aku memang gila. Dan kegilaan ini lahir karena Kakak tidak pernah mau melihatku!" Suara Afnan naik satu nada, namun ia segera mengontrolnya kembali agar tidak terdengar sampai ke luar.
Dengan cepat Afnan meraih bantal dari atas ranjang dan melemparkannya ke arah Dareen, "Baiklah, jika Kakak ingin tidur di sofa, silakan." Katanya tegas.
"Tapi jangan salahkan aku, jika besok pagi Mommy melihat Kakak seperti gelandangan dan memberikan ceramah panjang lebar selama tiga jam penuh saat sarapan."
Dareen terdiam, bayangan Mommy Renala yang berceramah saat sarapan adalah mimpi buruk yang lebih nyata daripada harus berbagi ranjang.
Dengan perasaan kalah yang sangat dalam, Dareen akhirnya kembali ke arah ranjang, pria itu merebahkan tubuhnya di sisi paling pinggir, membelakangi Afnan sepenuhnya.
"Matikan lampunya, aku mau tidur." Perintah Dareen tanpa menoleh.
Afnan terkikik pelan, sebuah suara yang sangat menyebalkan di telinga Dareen, ia mematikan lampu kamar, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur yang temaram, Afnan kemudian merangkak naik ke atas ranjang, menempati sisi kosong di sebelah Dareen.
Keheningan kembali melanda, namun kali ini lebih mencekam. Dareen bisa merasakan pergerakan kasur saat Afnan mengubah posisinya.
Aroma parfum Afnan yang lembut mulai menyerang indra penciuman Dareen.
"Kak." Bisik Afnan di dalam kegelapan.
"Tidur, Afnan."
"Kakak tahu? Di kantor tadi, saat Kakak bilang aku orang asing, itu sangat menyakitkan." Afnan berbisik sangat pelan, kali ini suaranya tidak terdengar seperti sedang berakting. Ada nada luka yang terselip di sana.
Dareen tetap diam, namun matanya terbuka lebar di dalam kegelapan, perasaannya sama sekali tak bersalah.
Tiba-tiba, Dareen merasakan tangan Afnan melingkar di pinggangnya dari belakang, wanita itu menyandarkan kepalanya di punggung tegap Dareen. Dareen tersentak, otot-otot tubuhnya menegang seketika.
"Lepaskan, Afnan, jangan memancing kesabaranku." Desis Dareen kejam.
"Biarkan begini sebentar saja, Kak. Anggap saja ini bayaran karena aku sudah membelamu di depan Mommy." Gumam Afnan.
"Aku tahu Kakak benci padaku, aku tahu Kakak menganggapku kotor, tapi setidaknya malam ini, biarkan aku merasa kehangatan tubuh, Kakak."
Dareen ingin sekali berbalik dan memaki wanita ini, namun ada sesuatu yang menahannya. Rasa lelah yang luar biasa, kekalahan di meja judi, dan tekanan dari Mommy Renala membuatnya kehilangan energi untuk terus melawan.
Kali ini Dareen membiarkan tangan Afnan tetap di sana, meski hatinya terus merutuk.
Menit demi menit berlalu, napas Afnan mulai terdengar teratur, menandakan wanita itu telah terlelap dalam posisi memeluk punggung suaminya.
Dareen perlahan memutar tubuhnya, melepaskan pelukan Afnan dengan sangat hati-hati agar wanita itu tidak terbangun.
Kini ia menghadap ke arah Afnan, dalam cahaya temaram, Dareen bisa melihat sisa-sisa air mata yang mengering di pipi sang wanita. Dareen mengulurkan tangannya, hampir menyentuh wajah Afnan, namun ia segera menariknya kembali dengan cepat.
"Kenapa harus begini, Afnan?" Gumam Dareen sangat lirih, hampir berupa bisikan angin.
Pikirannya melayang pada Jeslyn, wanita yang dulu ia anggap sebagai masa depannya, kini telah menjadi kakak iparnya karena ulah Afnan.
Dareen membenci Afnan atas hal itu, tapi di saat yang sama, ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Afnan yang gila adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup kembali, meski perasaan itu dibalut dengan amarah yang meluap-luap.
Dareen menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berantakan.
Tanpa Dareen sadari, tangannya bergerak sendiri, menarik selimut untuk menutupi bahu Afnan yang terbuka. Setelah itu, ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam tidur yang tidak tenang, terkunci di dalam kamar yang sama dengan wanita yang paling ia benci, sekaligus wanita yang paling mengerti bagaimana cara menghancurkan pertahanannya.
Di luar kamar, Mommy Renala tersenyum tipis sambil menyesap tehnya di ruang tengah, ia tahu persis apa yang ia lakukan.
Karena baginya, tidak ada obat yang lebih ampuh untuk pria keras kepala seperti Dareen selain dikurung bersama wanita kurang ajar dan kurang malu seperti Afnan.