Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Orang Asing yang Terlalu Jujur
Song An menyadari satu hal sejak bangun pagi itu. Istana terasa… sama saja, tidak lebih baik dan tidak lebih buruk. Namun hatinya terasa lebih ringan, Ia duduk di depan meja kecil sambil menyeruput teh.
Mei berdiri di sampingnya. “Selir tidak ingin sarapan?”
“Nanti.” jawab Song An
“Selir belakangan ini sering berkata ‘nanti’.” ujar Mei
“Karena aku tidak lapar kalau pikiranku penuh.” jawab Song An
“Penuh apa?” tanya Mei bingung
“Hal-hal yang tidak penting.” ujar Song An
Mei mengangguk walau jelas tidak mengerti.“Selir mau ke taman?” tanyanya.
Song An berdiri. “Iya.”
—
Taman belakang tidak ramai.
Hanya beberapa pelayan lewat jauh di sana.
Song An duduk di bangku batu yang sama seperti kemarin, ia menatap kolam. “Kalau hidup bisa sesederhana ini,” gumamnya.
“Kalau hidup sesederhana itu, dunia akan sepi.” ujar seseorang di belakang Song An
Song An tersentak dan menoleh.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya.
Pakaiannya sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang, tidak berlebihan.
Ia tidak terlihat seperti pejabat.
Tidak juga seperti pelayan.
“Maaf,” kata Song An. “Aku tidak dengar langkah kakimu.”
“Karena kau sedang berpikir,” jawab pria itu santai.
Song An mengangkat alis. “Kau siapa?”
“Orang lewat.” jawab pria itu
“Orang lewat jarang masuk taman ini.” ujar Song An
“Kadang orang lewat juga ingin tenang.” sambung pria itu
Song An mengangguk. “Masuk akal.”
Pria itu duduk di bangku seberang.
Jarak mereka tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
“Apa kau sering ke sini?” tanya pria itu.
“Sering,” jawab Song An. “Tempat ini tidak menuntut apa pun.”
Pria itu tersenyum kecil. “Kau bicara seolah tempat lain menuntutmu.”
“Semua tempat menuntut,” jawab Song An ringan. “Kecuali yang sepi.”
“Dan kau suka sepi?”
“Aku suka jujur.”
Pria itu menatapnya lebih lama.“Jarang ada orang yang menyebut itu dengan lantang.”
“Karena jujur sering dianggap tidak sopan.” ujar Song An
“Menurutmu jujur itu sopan?” tanya pria itu
“Menurutku perlu.” jawab
Pria itu tertawa kecil. “Jawaban yang merepotkan.”
“Sudah kubilang.”
—
Hening sebentar.
Tidak canggung.
Tidak dipaksakan.
“Apa yang kau lakukan di istana?” tanya pria itu akhirnya.
“Hidup.”
Pria itu mengangkat alis. “Jawaban yang aman.”
“Aku bukan orang yang berbahaya,” jawab Song An. “Jadi aku tidak perlu hati-hati.”
Pria itu tersenyum miring. “Tidak semua bahaya terlihat.”
“Dan tidak semua ketenangan benar-benar tenang.”
Song An menoleh. “Kau pintar bicara.”
“Aku banyak mendengar.”
Song An terkekeh. “Hati-hati. Mendengar terlalu banyak bisa melelahkan.”
“Aku sudah lelah.”
“Kelihatan.”
Pria itu tertawa kecil lagi.
—
“Apa kau tidak bertanya siapa aku?” tanya pria itu.
“Kalau kau mau bilang, kau bilang. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.”
“Kenapa?”
“Karena nama tidak selalu jujur.”
Pria itu terdiam.
Ia menatap Song An seolah melihat sesuatu yang baru.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “panggil aku zhi.”
Song An mengangguk. “Song An.”
“Aku tahu.”
Song An menatap tajam. “Kau mendengarku.”
“Aku lewat,” jawab Shen ringan.
“Lewat yang terlalu dekat?”
“Lewat yang tidak sengaja.”
Song An menghela napas. “Baiklah.”
—
“Kau tampak berbeda dari selir lain,” kata Shen.
“Karena aku bukan mereka.”
“Semua orang bilang begitu.”
“Tapi tidak semua orang hidup seperti aku.”
“Bagaimana hidupmu?”
“Tenang,” jawab Song An. “Karena aku tidak menginginkan apa pun.”
“Tidak ingin diperhatikan?”
“Capek.”
“Tidak ingin disukai?”
“Ribet.”
Shen tersenyum. “Kalau begitu, apa yang kau inginkan?”
Song An berpikir sebentar.“Hidup yang tidak memaksaku.”
Jawaban itu membuat Zhi terdiam.
—
“Kalau hidup memaksamu sekarang?” tanya zhi.
“Setidaknya aku tidak memaksa diriku sendiri.”
“Kau keras kepala.”
“Sudah biasa.”
—
Angin berembus.
Daun bergerak.
“Song An,” kata zhi pelan, “kalau kau bisa memilih… kau akan pergi?”
Song An menatap kolam.
“Kalau aku bisa memilih dengan bebas… iya.”
zhi mengepalkan tangannya pelan.“Dan kalau kau tidak bisa?”
“Ya aku hidup sebaik mungkin.”
“Kau tidak marah?”
“Aku sudah capek marah.”
—
zhi tertawa kecil, tapi tidak sepenuhnya senang.“Kalau semua orang berpikir sepertimu,” katanya, “istana ini akan sepi.”
Song An menoleh. “Mungkin itu tidak buruk.”
zhi menatapnya lama.
“Song An,” katanya pelan, “kau tidak takut?”
“Takut apa?” tanya Song An
“Didengar oleh orang yang tidak seharusnya.” ujar zhi
Song An tersenyum tipis. “Kalau orang itu mendengar, berarti ia memang perlu mendengar.”
zhi menunduk ia merasa… tertampar.
—
Langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Song An berdiri, “Sepertinya aku harus pergi.”
“Kau tidak bertanya siapa aku sebenarnya,” kata zhi
Song An tersenyum kecil. “Kalau suatu hari kau mau bilang, aku dengar.”
Ia berbalik pergi.
Tanpa menoleh.
—
Kaisar Shen yang menyamar jadi Zhi berdiri lama di sana, ia baru sadar sesuatu jika Song An tidak berusaha menarik perhatiannya. Tidak mencoba menyenangkan, tidak takut dan justru itu yang membuatnya… terikat.
—
Malam itu, Kaisar Shen kembali ke ruangannya, ia duduk terdiam.“Song An,” gumamnya.
Ia tersenyum kecil, bukan senyum seorang kaisar tapi senyum seorang pria yang baru bertemu seseorang yang tidak memintanya menjadi apa pun.
...****************...
Keesokan paginya
Song An baru saja duduk ketika Selir Zhang datang dengan wajah aneh.
“Kenapa mukamu?” tanya Song An.
Selir Zhang duduk cepat. “Kau dengar?”
“Dengar apa?” tanya Song An
Selir Li muncul dari sisi lain paviliun. “Kalau belum, sebentar lagi.”
Song An menatap mereka bergantian. “Kalian bicara seperti ini membuatku curiga.”
Selir Zhang menghela napas. “Kita jadi bahan pembicaraan.”
Song An mengangkat alis. “Baru sekarang?”
“Bukan soal kita sering bertemu,” kata Selir Li. “Tapi katanya…”
“Kami bersekongkol,” lanjut Selir Zhang.
Song An terdiam dua detik lalu tertawa. “Bersekongkol?” ulangnya. “Untuk apa?”
“Itu juga yang ingin kutanyakan,” kata Selir Zhang.
Selir Li menambahkan, “Katanya kita ingin menarik perhatian Yang Mulia.”
Song An berhenti tertawa. “Oh.”
“Ksu terlihat tenang?” kata Selir Zhang cepat. “Kami tidak percaya.”
“Aku juga tidak,” jawab Song An santai. “Kalau aku mau menarik perhatian, caraku pasti lebih malas.”
Selir Li terkekeh. “Justru itu yang membuat orang lain gelisah.”
Di sudut taman lain, beberapa selir berbisik.
“Aneh,” kata salah satu dari mereka. “Mereka terlalu sering bersama.”
“Terutama Selir Song.” ujar salah satu sekir
“Dia selir bayangan tapi bertingkah seolah tidak peduli.” sambung lainya
Seorang selir dengan riasan lebih tebal mendengus. “Justru itu yang berbahaya.”
“Selir Qin,” bisik yang lain, “kau merasa terancam?”
“Aku merasa curiga,” jawab Selir Qin. “Tidak ada orang yang benar-benar tidak menginginkan apa pun.”
—
Kabar itu menyebar cepat.
Namun caranya kasar.
Dan terlalu mudah dipatahkan.
—
Siang itu, Song An berjalan bersama Selir Li dan Selir Zhang melewati lorong.
Beberapa selir berhenti bicara saat mereka lewat.
Song An melirik. “Sepertinya kita terkenal.”
Selir Zhang berbisik, “Kalau aku tahu terkenal itu melelahkan, aku akan sembunyi dari dulu.”
Selir Li tersenyum tipis. “Biarkan saja.”
“Kalau mereka bicara?” tanya Selir Zhang.
Song An menjawab ringan, “Kita jawab.”
Bersambung