NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Detak

Pintu ruang periksa tertutup perlahan di belakang mereka.

Suara klik kecil itu terdengar terlalu jelas di ruangan yang didominasi warna putih dan biru pucat. Bau antiseptik kembali menusuk, lebih tajam dari ruang tunggu. Ayuna berhenti sejenak di ambang pintu, telapak tangannya tanpa sadar mengepal.

“Silakan duduk dulu, Bu Ayuna,” kata dokter perempuan itu ramah sambil menoleh dari meja kerjanya.

Ayuna mengangguk dan duduk di kursi yang ditunjukkan. Renan berdiri di sampingnya, sedikit canggung, lalu ikut duduk setelah dokter mengisyaratkan ia boleh mendampingi.

Dokter membuka berkas. “Ini pemeriksaan kehamilan pertama, ya?”

“Iya,” jawab Ayuna pelan.

Dokter mengangguk. “Hari pertama haid terakhir kapan?”

Ayuna menyebutkan tanggalnya. Dokter mencatat cepat, lalu melanjutkan beberapa pertanyaan ringan—mual, pusing, nafsu makan, apakah ada nyeri atau flek. Ayuna menjawab satu per satu, jujur, tanpa menambahkan apa pun.

Renan diam. Hanya mendengarkan. Ayuna tahu pria itu mungkin tidak memahami istilah-istilah medis yang disebutkan dokter, tapi dari caranya menegang, ia tahu Renan menyadari betul bahwa kehamilan bukan perkara sepele.

“Baik,” kata dokter akhirnya. “Kita cek tekanan darah dan berat badan dulu, ya.”

Pemeriksaan berlangsung singkat. Manset melingkar di lengan Ayuna, angka muncul di layar alat. Dokter mengangguk kecil, lalu menuliskan hasilnya.

​“Normal,” katanya singkat, memberikan senyum profesional yang menenangkan.

​Ayuna mengembuskan napas tanpa sadar, seolah beban seberat satu ton baru saja terangkat dari paru-parunya.

​“Untuk usia kehamilan sekitar delapan minggu,” lanjut dokter sambil berdiri, “pemeriksaan USG akan kita lakukan supaya lebih jelas, ya.”

Ayuna mengangguk lagi, meski jantungnya mulai berdebar tidak karuan.

Ia bangkit dari kursi dan berjalan mendekati ranjang pemeriksaan. Tangannya refleks mencari sandaran saat naik, dan sebelum ia benar-benar menyadarinya, Renan sudah berada di sisinya, mengulurkan tangan.

Genggamannya hangat dan mantap. Tidak menekan, tidak memaksa. Hanya ada di sana. Cukup untuk membuat Ayuna tidak goyah saat merebahkan tubuhnya.

Asisten dokter membantu merapikan pakaian Ayuna seperlunya. Ayuna merasa rapuh, terbuka, dan sedikit takut. Bukan pada rasa sakit, melainkan pada apa pun yang akan ia lihat sebentar lagi.

Dokter menyiapkan alat pemindai. “Mungkin akan terasa sedikit tidak nyaman, Bu. Kalau ada yang tidak enak, langsung bilang.”

Ayuna mengangguk.

Ia merasakan sentuhan dingin, membuat tubuhnya menegang sesaat. Jemarinya otomatis mencengkeram tangan Renan lebih erat. Ia tidak menoleh, tidak ingin melihat reaksinya. Ia hanya ingin bertahan di momen itu.

Dokter mulai memeriksa.

Di layar monitor, muncul bayangan abu-abu yang awalnya tidak berarti apa-apa bagi Ayuna. Ia mengernyit, mencoba memahami sesuatu yang tampak asing dan tak berbentuk.

Lalu dokter menghentikan gerakan alat itu.

“Ini,” katanya sambil menunjuk layar. “Kantung kehamilannya. Dan di sini…”

Ia menggeser sedikit.

“…detak jantungnya.”

Suara itu terdengar pelan pada awalnya, lalu diperjelas oleh mesin.

Deg. Deg. Deg.

Ritmenya cepat. Teratur. Nyata.

Ayuna merasa dadanya sesak, seolah udara di paru-parunya mendadak terlalu sempit untuk menampung perasaan yang datang bersamaan. Ia menatap layar tanpa berkedip, takut suara itu akan menghilang jika ia lengah.

Itu bukan bayangan. Bukan dugaan. Bukan sekadar kata “hamil”.

Itu kehidupan.

“Detaknya bagus,” lanjut dokter dengan suara tenang.

“Sesuai usia kehamilan. Letaknya normal, di dalam rahim.”

Ayuna menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Ia melirik ke samping.

Renan masih di sana. Masih menggenggam tangannya. Wajah pria itu tegang, matanya terpaku ke layar, seolah dunia di luar monitor itu sudah tidak ada artinya lagi.

“Itu… anak kita?” suara Renan terdengar serak.

Ayuna tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata kita terdengar hangat, tapi juga berat, mengingatkannya pada terlalu banyak hal yang belum selesai.

“Benar, Pak,” jawab dokter. “Usia kehamilan sekitar delapan minggu. Sejauh ini semuanya tampak baik.”

Renan meremas tangan Ayuna pelan, lalu tanpa berkata apa pun, menunduk dan mencium punggung tangannya. Gerakannya singkat, sopan, tapi penuh emosi yang tidak ia ucapkan.

Ayuna membiarkannya.

Bukan karena ia sudah memaafkan. Melainkan karena, untuk sesaat, ia juga membutuhkan pegangan itu.

Dokter melanjutkan penjelasan tentang vitamin, asam folat, makanan yang perlu dijaga, dan hal-hal yang sebaiknya dihindari. Ayuna mendengarkan, mengangguk sesekali, menyimpan semua itu di kepalanya dengan hati-hati.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter menutup berkas. “Nanti kita jadwalkan kontrol berikutnya, ya. Kalau ada keluhan sebelum itu, jangan ragu datang ke rumah sakit.”

Ayuna mengucapkan terima kasih pelan.

Saat ia turun dari ranjang pemeriksaan, kakinya terasa sedikit lemas. Renan kembali sigap menopangnya, tapi Ayuna tidak sepenuhnya bersandar. Ia berdiri dengan tenang, menjaga jarak tipis yang masih tersisa di antara mereka.

Di dalam dirinya, perasaan itu bergejolak.

Ada kelegaan. Ada haru. Ada kebahagiaan yang tidak bisa ia sangkal.

Namun, di balik semua itu, luka lama masih ada. Tentang awal yang salah. Tentang taruhan yang menjadi bayangan bahkan di momen sebersih ini.

Ayuna mengusap perutnya pelan, hampir tidak terlihat.

Apa pun yang terjadi antara dirinya dan Renan, satu hal menjadi jelas sejak detak jantung itu terdengar.

Ia tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri.

Dan keputusan apa pun yang akan ia ambil setelah ini, harus cukup kuat untuk melindungi kehidupan kecil yang baru saja ia dengar berdetak untuk pertama kalinya.

❀❀❀

Di luar ruang periksa, lorong rumah sakit terasa lebih sunyi.

Ayuna masih berusaha menata napasnya ketika mereka melangkah keluar dari ruang pemeriksaan, seolah detak kecil yang barusan ia dengar belum sepenuhnya berhenti bergema di dadanya.

Detak itu membuatnya sadar, dalam tubuhnya terdapat makhluk kecil yang sedang tumbuh. Benih kecil yang menggabungkan dirinya dan Renan. Dan dia benar-benar nyata.

“Ayuna,” Renan memanggil pelan.

Ayuna menoleh.

"Kita makan siang dulu,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berhati-hati.

“Ke tempat yang kamu suka. Kamu belum makan apa-apa dari pagi.”

"Ok." Jawabnya Ayuna singkat.

Sudut mulut Renan melengkung sedikit ke atas mendengar jawaban Ayuna. Tanpa menunggu Ayuna menanggapi ia meraih tangannya dan menggenggamnya, menuntunnya berjalan di lorong.

Di mobil, Renan memastikan sabuk pengaman Ayuna terpasang dengan benar. Mobil melaju pelan meninggalkan area rumah sakit.

Renan menyetir dengan tenang. Tangannya mantap di kemudi. Sesekali ia melirik spion, memastikan jalanan aman. Ayuna menatap keluar jendela, memperhatikan kota yang bergerak pelan di siang hari.

Ponsel Renan tiba-tiba berbunyi.

Tliiitt... tliiit... tliiit...

Renan melirik ponselnya yang tergeletak di dasbor dan melihat panggilan itu dari Adrian.

Tanpa pikir panjang ia menyambungkan panggilan ke sistem mobil.

“Ren,” suara Adrian terdengar jelas di dalam kabin, "Masalah teman Ayuna itu udah beres. Kamu mau berenti di sini atau membuatnya pergi dari kota ini juga?”

Perkataan Adrian yang terlontar itu sontak membuat Ayuna mengalihkan pandangannya menatap Renan. Pandangan keduanya bertemu dan dari sorot mata pria itu Ayuna tahu dia meminta pendapatnya.

Ia teringat pesan Shaila tadi pagi bahwa semua itu perbuatan Renan dan memintanya menghentikan Renan.

Renan mengalihkan pandangannya ke depan dan membalas Adrian. “Cukup sampai di sini,” kata Renan akhirnya.

“Aku tidak mau masalah ini menyeret hal-hal lain.”

Ayuna yang linglung tertegun mendegar ucapan Renan. Setahunya pria ini bukanlah orang yang pemaaf. Apakah ini karena dirinya? Tapi, dia belum mengatakan apa-apa.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Anonymous: oke lah tak apa.. menarik juga
total 8 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!