"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26. Segel iblis terlepas
Nadira histeris ketika menemukan sang ayah tergeletak dengan berlumuran d*arah di sekujur tubuhnya. pria paruh baya itu tak sadarkan diri dengan luka t*sukan di perut dan lengan serta memar seperti bekas pukulan benda tumpul.
"ayah bangun ayah! Ayah Nadira mohon sadarlah!" Nadira meletakan kepala sang ayah di pangkuannya.
Nadira merasa bersalah karena terlambat menemukan ayahnya yang kini terluka parah entah karena apa. Ia merasa gagal menjadi seorang anak dan merasa kecewa mengapa sang ayah nekat masuk ke hutan larangan tanpa memberi tahunya dulu.
Nadira menangis terisak karena nafas Ayah Wijaya mulai terputus-putus.
"Ayaahh!! Sadarlah Nadira mohon!!"
"Nadira? Kamu kenapa?" tanya Aksara dengan wajah bingung
"Aksara apa kamu tidak lihat kondisi ayahku? Kenapa kamu bertanya aku kenapa?" Nadira berkata dengan berlinangan air mata
"Tapi Nadira-" Elsa ingin mengucapkan sesuatu namun Nadira sudah mengangkat tangannya
"kalian tidak ada yang bereaksi dengan kondisi ayahku yang mengenaskan! Kalian tidak peduli!" teriak Nadira
"tapi Nadira apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu lihat!"
"biarkan Nadira tenang dulu baru kita jelaskan padanya" ucap kiyai Syafiq
Rehan akhirnya juga diam. mereka menunggu beberapa saat hingga nadira menghentikan tangisannya.
"Nadira dengarkan Abi!" ucap kiyai Syafiq yang berjongkok dihadapan Nadira
"Pejamkan matamu dan istighfar lah"
"tapi abi, ayah butuh pertolongan segera" ucap Nadira
"iya nanti kita tolong, sekarang ikuti apa yang Abi katakan"
Nadira memejamkan matanya dan beristirahat berulang kali untuk menenangkan hatinya.
Setelah ia merasa cukup tenang, perlahan Nadira membuka matanya dan melihat ke arah sang ayah yang ia pangku tadi
"Astagfirullah!!!" teriak Nadira yang terkejut dan reflek menendang sosok yang ia anggap ayahnya tadi
"bagaimana mungkin?" Nadira benar-benar syok melihat apa yang baru saja ia alami
bagaimana bisa yang ia anggap ayahnya tadi justru kini berubah menjadi siluman berkepala kerbau yang sudah m*ti mengenaskan.
"Itulah kenapa Abi ingatkan jangan kosongkan pikiran. Kamu boleh cemas tapi jangan berlebihan Nadira, iblis itu punya seribu satu muslihat. Jadi kita harus benar-benar harus lebih pintar dan waspada" jelas kiyai Syafiq
"sekarang kamu sudah mengalaminya Nadira, kemungkinan nantinya dia akan kembali memperdaya kamu" ucap Ki Satya
"ya Allah kenapa dengan ku?" gumam Nadira
"Udah, kita kembali fokus ya jangan banyak pikiran dulu insya Allah keluargamu tidak apa-apa" ucap Elsa
"iya aku akan lebih fokus kali ini" ucap Nadira
"tapi, kira-kira siapa yang sudah mengalahkan siluman kerbau itu?" tanya Rehan
"Wijaya dan Zayyan" ucap Ki Satya
"Darimana Aki tau?" tanya Aksara
"hei kamu lupa jika saya kuncen gunung Kawi hahaha" ucap Ki Satya yang agak menyombongkan dirinya
"Jangan sombong Satya nanti keblinger" celetuk Kiyai Syafiq
"iya iya pak kiyai" jawab Ki Satya
"jadi, gimana dengan m*Yat gadis ini?" tanya Nadira
"kita hubungi pak Hamdan untuk mengajak beberapa warga agar bisa mengevakuasi almarhumah" ucap Kiyai Syafiq
"biar aku yang telepon bapak " rehan merogoh ponselnya dari kantong celana dan menelpon bapak angkatnya.
"halo assalamua'alaikum pak"
"wa'alaikumsalam ada apa nak?"
"ini bisa nggak bapak sama warga yang lain masuk kehutan larangan? Kami menemukan jenazah Tika anak Bu Leha" ucap Rehan
"Innalilahi wa innailaihi roji'un, bapak usahakan ya Re, soalnya disini juga lagi genting"
"apa ada masalah pak?"
"para warga ingin membakar rumah simbahnya Nadira"
"apa?!"
"iya, tapi anehnya rumah itu tidak terbakar malah para warga yang terluka"
"Astaghfirullahalazim..." ucap mereka yang mendengar ucapan pak Hamdan
mereka benar-benar tidak menyangka jika masalah datang bertubi-tubi. Pasti setelah ini para warga akan semakin membenci Nadira dan keluarganya.
"ya sudah nanti bapak hubungi lagi kalau bisa nyusul kesana ya. Ini para warga sedang di obati"
"baik pak assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam"
"ya Allah gimana ini?" gumam Nadira yang merasa takut jika apa yang diucapkan oleh salah satu jin yang merasuki salah satu warga dulu adalah benar. Jika ia adalah Malapetaka
"Nadira jangan pikirkan apa pun, kita selesaikan yang disini dulu baru rumah itu" ucap kiyai Syafiq
"tapi...apa sebenernya yang menjadi pusat permasalahan ini justru rumah itu Abi?" tanya Aksara
"setau Abi hutan Inilah pusatnya karena Abi sendiri yang menyegel iblis itu disini" ucap kiyai Syafiq
"tapi bagaimana jika iblis itu terlepas lebih cepat dari perkiraan Syafiq?" tanya Ki Satya
"dia tidak bisa melepaskan dirinya sendiri kecuali..." ucapan kiyai Syafiq terhenti
"kecuali apa Abi?" tanya Nadira
"kecuali ada yang membantunya dengan memberikannya darah gadis suci setiap bulan purnama" ucap kiyai Syafiq
"lalu, dia tidak ada disini?" tanya Rehan menatap kedua pria yang sudah berumur itu
"mari kita ketempat dimana ia disegel dulu, jika tidak ada bearti memang dia sudah terlepas" ajak Ki Satya
mereka lalu bergegas menuju sebuah goa yang dulu tempat iblis itu disegel. Kiyai Syafiq sudah merasa cemas dan khawatir jika iblis itu terlepas duluan, maka akan banyak korban yang berjatuhan
"disini tempat nya!" ucap kiyai Syafiq
"tapi...kenapa tidak aura apa-apa disini Abi?" tanya Nadira
"mari kita lihat kedalam"
mereka memasuki goa yang sangat gelap itu. mereka mengandalkan senter untuk penerangan.
"memang benar dia terlepas!" cetus Ki Satya
"Allahu Akbar!!" kiyai Syafiq sungguh tak menyangka jika iblis itu benar-benar sudah pergi dari goa ini.
dan tampak disekitar batu tempat iblis itu di Rantai, terdapat banyak bekas sajen-sajen serta banyaknya m*Yat para gadis yang selama ini menghilang.
"ya Allah mereka semua korban iblis itu" ucap Elsa menutup mulutnya
"Sebanyak ini para gadis yang ia hisap darahnya, bearti memang benar ia sudah terlepas" ucap Rehan
"dia menghisap darah mereka hingga kering seperti ini" Aksara tak menyangka dan merasa kasihan melihat gadis-gadis tak berdosa itu menjadi tumbal untuk kebangkitan kolonyowo.
"jadi bagaimana ini Abi, aki?" tanya Nadira
"kita harus kembali ke desa dan menuju rumah warisan itu segera!" ucap Ki Satya
"tapi bunda, ayah dan kakakku bagaimana?" lirih Nadira
"kita akan bertemu mereka di luar hutan, dan untuk bundamu mungkin ia masih di sembunyikan" ucap kiyai Syafiq
Ia sempat telepati dengan Zayyan agar mereka bertemu di luar hutan dan pergi bersama menuju rumah warisan tua itu.
"Lalu bagaimana dengan m*yat para gadis ini?" tanya Rehan
"biarkan dulu, nanti jika para warga ada yang mau masuk kita tunjukkan lokasinya" ucap Ki Satya
"apa tidak apa-apa Ki?" tanya Elsa
"tidak apa-apa yang penting rumah warisan itu dulu lumayan nanti kalo dapet emas berlian" Ucap Ki Satya sambil menggosokkan tangannya
"Akii!!!"
"Satya!!"
"hehehe bercanda. Kalian ini terlalu serius nanti cepat tua kayak si itu" ucap Ki Satya melirik kiyai Syafiq
"ini kan emang serius Ki" ucap Nadira
"nah makanya santai, kalo serius terus nanti otak jadi buntu mampet nggak bisa mikir jernih keperosok lah" seloroh Ki Satya
"Re, aku nggak ngerti sama bapakmu itu" ucap Aksara berbisik pada Rehan
"lah apalagi aku" jawab Rehan.
.
Didesa, pak Hamdan berusaha untuk mengajak warga agar mau kehutan larangan karena ingin mengevakuasi para korban yang sudah di temukan. namun, ajakan itu ternyata malah memicu keributan karena sebagian masih saja menyalahkan Nadira .
"Mau masuk hutan larangan apa mau mengantar nyawa?!"
"iya, harusnya keluarga Wijaya yang bertanggung jawab"
"anak-anak kami jadi korban karna Nadira pergi dan sekarang saat anak kami sudah jadi korban ia malah baru kembali!"
"tapi bukan salah Nadira dan keluarganya karena ini asal mulanya dari almarhum juragan Sapto"
"betul itu, anak keturunannya hanya terkena imbas karena keserakahan orang tuanya"
"malah sekarang Liana diculik juga"
para penduduk terbagi menjadi dua kubu. Yang masih bisa berpikir jernih mau di ajak ke hutan larangan dan yang masih salah paham tidak peduli walaupun anak mereka yang ada di hutan itu
DUAAARRRRR
DUAAARRRRR