NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konspirasi

Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang dingin, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menunggu guncangan yang akan terjadi di lantai teratas gedung Eduardo Tower. Alexander Eduardo duduk di depan cermin besar, mengenakan kemeja sutra putih yang kaku. Almira berdiri di belakangnya, membantu memasangkan dasi sutra berwarna biru gelap. Jemari Almira yang halus bergerak dengan telaten, meski ia tak bisa menyembunyikan getaran di tangannya.

Alex menatap pantulan mereka di cermin. Ia tampak gagah dengan jas custom-made yang membungkus bahu lebarnya, namun pandangannya jatuh ke bawah—ke arah kursi roda berbahan karbon ringan yang kini menjadi singgasananya.

"Kau tidak perlu melakukan ini jika kau belum siap, Almira," ucap Alex, suaranya rendah dan penuh kewibawaan yang mulai kembali.

"Aku siap, Alex. Jika mereka ingin menyerangmu, mereka harus melewati aku terlebih dahulu," jawab Almira dengan nada tegas yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Transformasi dari seorang gadis pelayan yang penakut menjadi wanita yang berdiri tegak di samping penguasa Jakarta itu sungguh luar biasa.

Alex meraih tangan Almira, mencium punggung tangannya lama. "Ingat, di ruangan itu, jangan tunjukkan kelemahan sedikit pun. Mereka adalah hiu yang bisa mencium setetes darah dari jarak bermil-mil."

Pintu ruang rapat dewan direksi yang terbuat dari kayu jati berlapis baja terbuka lebar. Keheningan seketika menyergap ruangan itu saat Alex didorong masuk oleh Rendy, dengan Almira berjalan anggun di sampingnya mengenakan gaun formal berwarna navy yang menunjukkan wibawa seorang Nyonya Eduardo.

Dua belas anggota dewan direksi, dipimpin oleh Tuan Mahendra, duduk mengelilingi meja oval besar. Wajah mereka menunjukkan campuran antara rasa hormat yang terpaksa dan rasa muak yang disembunyikan. Di sudut ruangan, Elara duduk dengan kaki bersilang, mengenakan kacamata hitam yang menyembunyikan tatapan predatornya.

"Selamat pagi, Tuan-Tuan," suara Alex menggema, memenuhi setiap sudut ruangan. Meskipun ia duduk lebih rendah dari mereka semua, auranya tetap mendominasi. "Saya mendengar ada desas-desus tentang mosi tidak percaya. Silakan, saya ingin mendengar langsung apa yang membuat kalian merasa pemimpin kalian tidak lagi layak."

Tuan Mahendra berdehem, meletakkan selembar dokumen di atas meja. "Alex, mari kita bicara realistis. Perusahaan ini adalah raksasa. Kita tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang... katakanlah, memiliki keterbatasan mobilitas yang permanen. Investor butuh pemimpin yang dinamis, yang bisa hadir di setiap belahan dunia dalam sekejap. Kondisimu saat ini adalah liabilitas bagi nilai saham kita."

"Mobilitas adalah soal logistik, Tuan Mahendra. Kepemimpinan adalah soal visi dan kecerdasan," balas Alex dengan seringai tajam. "Jika kalian menganggap kaki saya adalah otak perusahaan ini, maka kalianlah yang tidak layak duduk di sini."

Ketegangan mencapai puncaknya ketika Elara tiba-tiba berdiri. Ia melepas kacamata hitamnya, menunjukkan mata yang berkilat penuh kemenangan.

"Bukan hanya soal fisikmu, Alex," ucap Elara sambil melangkah maju ke tengah meja. "Ini soal integritas dan legitimasi ahli waris yang kau agung-agungkan. Kau memaksa dewan direksi menerima pernikahanmu dengan seorang... pelayan, hanya karena alasan dia mengandung darah Eduardo. Tapi, bagaimana jika aku katakan bahwa janin itu adalah sebuah penipuan besar?"

Almira tersentak, tangannya secara instingtif memeluk perutnya. "Apa yang kau bicarakan, Elara?"

Elara melemparkan sebuah amplop cokelat ke tengah meja. "Itu adalah hasil tes DNA pralahir yang diambil dari sampel darah Almira saat dia dirawat di puskesmas desa tempo hari. Hasilnya menunjukkan nol persen kecocokan dengan profil genetik Alexander Eduardo."

Ruangan itu meledak dalam bisik-bisik panik. Tuan Mahendra tersenyum puas. "Jika ini benar, Alex, maka kau bukan hanya telah dipermalukan oleh seorang wanita, tapi kau juga telah mencoba menipu dewan direksi untuk mempertahankan takhtamu menggunakan anak orang lain."

Alex menatap dokumen itu. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Ia menoleh ke arah Almira yang kini tampak sangat pucat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Alex, aku bersumpah... itu tidak mungkin. Aku tidak pernah bersama siapa pun selain dirimu!" isak Almira, suaranya bergetar karena syok.

Para direktur mulai bersuara, menuntut pengunduran diri Alex seketika. Elara menatap Almira dengan pandangan "skakmat". Ini adalah rencananya yang paling matang; memalsukan dokumen medis menggunakan koneksinya di laboratorium pusat.

Penderitaan batin Almira mencapai puncaknya. Di ruangan yang dipenuhi orang-orang paling berkuasa ini, ia merasa kembali menjadi gadis kecil yang kotor dan hina. Ia melihat keraguan mulai muncul di mata beberapa sekutu Alex. Namun, ia lebih takut melihat reaksi Alex. Apakah pria itu akan mempercayai kertas itu? Ataukah pria itu akan membuangnya kembali ke selokan?

Alex mengambil dokumen itu, membacanya perlahan. Keheningan kembali terjadi. Semua orang menunggu ledakan amarah Alex yang legendaris.

Namun, Alex justru tertawa. Suara tawanya kering dan dingin, membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

"Elara, kau selalu pintar dalam memanipulasi detail, tapi kau lupa satu hal tentang aku," ucap Alex sambil merobek dokumen itu menjadi dua, lalu empat, dan melemparkannya ke udara seperti sampah.

"Apa yang kau lakukan?! Itu bukti otentik!" teriak Elara.

"Bukti otentik?" Alex menatap Elara dengan pandangan meremehkan. "Dokter Bastian, silakan masuk."

Pintu kembali terbuka, dan Dokter Bastian masuk membawa sebuah koper medis. Ia meletakkan sebuah tablet digital di tengah meja yang terhubung langsung dengan layar proyektor besar di ruangan itu.

"Tuan-Tuan sekalian," ujar Dokter Bastian dengan tenang. "Saya adalah dokter pribadi keluarga Eduardo. Saya yang melakukan prosedur pengambilan sampel DNA pralahir secara resmi di bawah pengawasan ketat tiga hari yang lalu, bukan di puskesmas desa yang keamanannya bisa disusupi. Dan ini adalah hasilnya yang terenkripsi langsung dari laboratorium independen internasional."

Layar besar itu menunjukkan data genetik yang sangat rumit, namun di bagian akhir tertulis jelas dalam huruf kapital: PATERNITY CONFIRMED: 99.99% MATCH.

Wajah Elara berubah menjadi abu-abu. Tuan Mahendra terperangah, mulutnya terbuka tanpa sanggup mengeluarkan kata-kata.

"Dokumen yang kau bawa, Elara, adalah hasil rekayasa laboratorium milik pamanmu di Singapura. Aku sudah memegang bukti transfer uang dari rekening pribadimu ke laboratorium tersebut sebagai 'biaya administrasi'," Alex menekan sebuah tombol di kursi rodanya, dan sebuah rekaman audio mulai diputar—suara Elara yang sedang memesan hasil tes palsu itu.

"Sekarang," Alex menatap Tuan Mahendra dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Berdasarkan pasal etik perusahaan, mencoba memalsukan data untuk menjatuhkan pimpinan adalah pelanggaran berat. Saya tidak hanya menolak mosi tidak percaya ini, tapi saya menyatakan mosi untuk mengeluarkan Tuan Mahendra dan seluruh keluarga Mahendra dari dewan direksi Eduardo Group. Sekarang juga."

Keamanan masuk dan mulai menggiring Tuan Mahendra dan Elara keluar dari ruangan. Elara berteriak histeris, mencoba meraih Alex, namun para pengawal dengan sigap menahannya.

"Kau tidak akan pernah bahagia dengannya, Alex! Kau akan membusuk di kursi roda itu bersamanya!" teriak Elara sebelum pintu tertutup rapat.

Setelah ruangan kosong, menyisakan hanya Alex, Almira, dan Rendy, ketegangan di bahu Alex runtuh. Ia bersandar di kursi rodanya, memejamkan mata dengan napas yang berat.

Almira luruh di samping kursi roda Alex, memegang tangan suaminya erat-erat. "Terima kasih, Alex. Terima kasih telah mempercayaiku."

Alex membuka matanya, menatap Almira dengan kelembutan yang menyakitkan. "Aku tidak hanya mempercayaimu, Almira. Aku tahu. Aku merasakannya di sini," ia meletakkan tangan Almira di jantungnya. "Anak ini adalah bagian dariku. Tidak ada kertas mana pun yang bisa mengubah kenyataan itu."

Meskipun mereka memenangkan pertempuran di ruang kaca, Almira menyadari bahwa penderitaan mereka belum berakhir. Elara yang terpojok adalah Elara yang paling berbahaya. Dan kondisi fisik Alex masih menjadi bayang-bayang yang menghantui masa depan mereka.

Namun, saat mereka meninggalkan gedung itu, Alex tidak lagi menunduk. Ia duduk tegak di kursi rodanya, dengan tangan Almira yang tak pernah lepas dari genggamannya. Sang majikan arogan kini telah benar-benar berubah; ia tidak lagi memimpin dengan rasa takut, melainkan dengan kekuatan dari cinta yang lahir dari puing-puing penderitaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!