Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah Menyesal...
Ayahnya memilih diam lagi, tidak adakah di dunia ini yang peduli pada keadaannya? Hati Putri benar-benar dibuat hancur kala itu.
Putri tersenyum miris di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
"Terima kasih, Yah. Terima kasih sudah mengajariku, bahwa aku benar-benar sendirian di dunia ini."
Tubuhnya limbung, pandangannya gelap. Namun ia memaksakan kakinya untuk terus melangkah mencari taksi.
Ia tidak boleh pingsan di sana, dia harus pulang ke rumah Devan. Setidaknya di sana, meski dibenci, ia punya atap untuk berteduh dan menyembunyikan tangisnya.
Malam itu, penyakit di tubuh Putri menggerogoti tubuhnya lebih cepat, diperparah oleh stres dan luka hati yang tak terobati.
Hujan turun semakin deras, mengguyur tubuh ringkih Putri yang berjalan tertatih-tatih di pinggir trotoar yang sepi. bajunya basah kuyup, menempel pada kulitnya yang dingin sedingin es.
Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas paku. Tulang-tulangnya menjerit, dan kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang melemah.
Bayangan mobil ayahnya yang berlalu tanpa peduli masih menari-nari di pelupuk matanya, menambah perih luka batin yang menganga.
"Sakit," rintihnya lirih, suaranya hilang ditelan gemuruh guntur.
Pandangan Putri mulai kabur, lampu-lampu jalanan berubah menjadi bias cahaya yang menyilaukan dan berputar. Napasnya tercekat, paru-parunya seolah lupa cara menghirup udara.
Di depan sebuah halte tua yang gelap, kakinya menyerah.
Tubuh Putri ambruk ke aspal yang basah dan keras, tidak ada tangan yang menangkapnya. Tidak ada pelukan yang menahannya, dan ia jatuh dalam kesendirian yang nyata.
Kesadarannya perlahan menghilang, namun sebelum segalanya menjadi gelap, ia merasakan hangatnya cairan kental yang mengalir dari hidungnya, bercampur dengan air hujan.
"Mungkin ini akhirnya," batin Putri pasrah, "selamat tinggal, mas Devan."
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport hitam melaju kencang membelah hujan
Devan mencengkeram setir dengan gelisah. Sudah pukul sembilan malam, dan Putri belum pulang.
Ponsel istrinya mati, perasaan tidak enak yang ia rasakan sejak sore tadi, kini berubah menjadi kepanikan yang tak terjelaskan.
Ia baru saja menelepon rumah orang tuanya Putri, dan jawaban Anggun membuatnya murka.
"Anak tidak tau diri itu sudah saya usir, dia mencuri kalung saya!"
Begitulah jawaban Anggun ketika ditanya di mana Putri.
Devan tidak percaya, ia tahu Putri. Gadis itu mungkin miskin cinta, tapi dia bukan pencuri.
Mata tajam Devan menyisir jalanan yang ia tahu menjadi rute dari rumah orang tuanya menuju rumah mereka.
"Di mana kamu, Put?" gumam Devan cemas.
Tiba-tiba, sorot lampu mobilnya menangkap gundukan di dekat halte yang sepi, seseorang tergeletak di sana.
Jantung Devan berhenti berdetak sesaat, firasatnya menjerit.
Ia membanting setir ke pinggir, mengerem mendadak, dan berlari keluar menembus hujan tanpa mempedulikan bajunya yang sudah pasti akan basah kuyup.
"PUTRI!"
Teriakan Devan terdengar pilu saat ia membalikkan tubuh yang tergeletak itu.
Wajah istrinya pucat pasi, nyaris membiru. Namun yang membuat napas Devan tercekat adalah darah.
Darah segar mengalir deras dari hidungnya, menodai wajah dan baju bagian atasnya. Dan di pipi kirinya, tercetak jelas bekas tamparan merah menyala yang mulai membengkak.
"Putri! Bangun! Hey!" Devan menepuk pipi Putri, tangannya gemetar hebat. "Jangan bercanda, Put! Buka mata kamu, Put!"
Tidak ada respon, tubuh Putri terkulai lemas seperti boneka rusak di pelukannya. Kulitnya sedingin mayat.
Ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup kini mencekik lehernya.
Tanpa pikir panjang, ia membopong tubuh kurus istrinya yang terasa begitu ringan, terlalu ringan untuk ukuran orang dewasa, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Bertahan, Put. Aku mohon, bertahanlah," bisik Devan panik, ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Suasana Unit Gawat Darurat malam itu terasa mencekam bagi Devan.
Putri langsung dibawa masuk oleh tim medis begitu mereka tiba. Devan tertahan di luar tirai pembatas, bajunya basah kuyup dan ada noda darah Putri di kemejanya.
Ia mondar-mandir di koridor seperti orang gila, pikirannya berkecamuk. Bayangan wajah pucat Putri, darah yang tak berhenti mengalir, dan lebam-lebam di tubuh istrinya berputar di kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Put?"
Satu jam berlalu terasa seperti satu abad.
Seorang dokter pria paruh baya keluar dari balik tirai dengan wajah serius, melepas maskernya.
Ia menatap Devan dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara profesionalisme dan penghakiman.
"Keluarga nyonya Putri?" tanya dokter itu.
"Saya suaminya, Dok." Devan maju cepat. "Gimana keadaan istri saya? Dia cuma pingsan karena kedinginan, kan?"
Devan sadar, Putri bukan pingsan karena kedinginan. Namun, ia sengaja menepis pikiran itu hanya untuk membuat dirinya tenang.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Devan lekat-lekat. "Mari ikut ke ruangan saya, Pak. Ada hal serius yang harus kita bicarakan."
Jantung Devan berdegup kencang. Ia mengikuti dokter itu masuk ke ruangan, dan duduk di kursi dengan perasaan tidak karuan.
"Pak Devan," ucap dokter itu memulai, "istri Anda saat ini kritis. Pendarahannya cukup sulit dihentikan karena trombositnya sangat rendah."
"Kritis? Trombosit?" Devan bingung. "Maksud Dokter dia demam berdarah?"
Dokter itu menggeleng pelan, ia membuka sebuah map medis di meja, lalu menatap Devan tajam.
"Bapak benar-benar tidak tahu?" tanyanya, nada suaranya menyiratkan ketidakpercayaan.
Devan terdiam kaku, dokter itu menatapnya semakin dalam.
"Tahu apa?! Jangan berbelit-belit, Dok!" bentak Devan, emosinya labil karena panik.
"Istri Anda, nyonya Putri. Beliau menderita kanker darah stadium lanjut, Pak Devan," ungkap dokter itu.
Dunia Devan runtuh, hening...
Telinganya berdenging hebat, kata-kata dokter itu seolah bahasa asing yang tidak bisa dicerna otaknya.
"Kanker...?" bisik Devan, suaranya hilang.
"Ya. Dan melihat kondisi fisiknya... kerusakan organ dalam, memar-memar di sekujur tubuh, serta berat badannya yang turun drastis. Sepertinya beliau sudah menahan sakit ini sendirian cukup lama tanpa pengobatan yang memadai."
Dokter itu menyodorkan selembar kertas hasil lab.
"Bapak bisa lihat ini. Sel darah putihnya tidak terkendali. Kami menemukan sisa obat pereda nyeri dosis tinggi di lambungnya. Beliau hanya mengandalkan obat warung untuk menahan sakit yang seharusnya ditangani dengan morfin di rumah sakit. Saya tidak bisa membayangkan seberapa besar rasa sakit yang beliau tahan setiap hari."
Devan terpaku, ingatannya memutar ulang semua kejadian beberapa bulan terakhir.
Wajah pucat Putri yang ia ejek, muntah-muntah yang ia tuduh hamil. Tubuh kurus yang ia bilang diet cari perhatian, lebam di tangan yang ia cengkeram kasar, dan malam itu... saat ia melihat Putri mengoleskan salep di punggungnya yang penuh luka dalam.
Semuanya adalah tanda, tanda yang Putri coba sembunyikan, dan tanda yang Devan abaikan dengan kejam.