kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paksaan kepada Sang Tawanan
Tanpa membuang waktu, Penyihir Petir memutuskan untuk kembali ke istana menggunakan sihir teleportasi singkat yang sangat melelahkan, sementara Delta tetap bersama sisa pasukannya di gua tersebut. Setibanya di ruang bawah tanah istana Atlas, Penyihir Petir langsung menuju sel yang paling terisolasi.
Tanpa banyak bicara atau basa-basi, Penyihir Petir membuka pintu sel dengan kasar dan menyeret penyihir itu keluar.
"Ikut denganku! Nyawa ratumu—maksudku, keselamatan kerajaan bergantung padamu!" bentak Penyihir Petir. Penyihir hutan itu hanya tertawa sinis, tubuhnya yang kurus bergetar. "Ratu yang kejam itu? Biarkan saja dia membusuk di mana pun dia berada. Dunia akan lebih baik tanpanya," jawabnya dengan suara serak. Penyihir Petir tidak peduli dengan penolakannya. Ia mencengkeram lengan penyihir hutan itu dengan kasar, memaksanya berjalan melalui lorong-lorong istana yang sepi. Prajurit penjaga yang tersisa hanya bisa menatap dengan bingung saat melihat penasihat mereka membawa tawanan itu dengan penuh kekerasan.
Penyihir Petir membawa sang penyihir hutan kembali ke lokasi pasukan Delta melalui celah terowongan yang telah mereka amankan sebelumnya. Sepanjang jalan, ia tidak memberikan kesempatan bagi penyihir itu untuk beristirahat. Ia ditarik dan didorong dengan kasar, seolah-olah ia bukan manusia melainkan alat yang harus segera digunakan. Saat mereka sampai di hadapan Panglima Delta, penyihir hutan itu dilemparkan ke tanah. Delta menatapnya dengan dingin, pedangnya masih terhunus, memberikan tekanan psikologis agar penyihir itu segera patuh pada perintah mereka.
Penyihir hutan itu meludah ke arah kaki Panglima Delta. Ia tetap diam, menolak untuk memberikan bantuan apa pun meski telah diancam dengan kematian. Delta, yang sudah kehilangan kesabaran karena banyaknya pasukannya yang tewas, memberi isyarat kepada para prajuritnya. "Berikan dia alasan untuk bicara," Para prajurit Minotaur mendekat, menggunakan kekuatan fisik mereka untuk menyiksa penyihir itu. Mereka tidak menggunakan senjata, melainkan tekanan dan paksaan fisik yang menyakitkan, menjepit tubuhnya dan menahan napasnya.
Penyihir Petir juga tidak tinggal diam. Ia menggunakan sihir petirnya untuk memberikan kejutan-kejutan kecil yang menyakitkan ke saraf-saraf sang penyihir hutan. "Bantu kami menemukan Ratu Layla, atau kau akan berharap mati ribuan kali sebelum ajalku benar-benar menjemputmu!" ancam sang penasihat. Suara jeritan penyihir hutan bergema di dalam gua, namun ia tetap bersikeras.
Setelah berjam-jam dalam penderitaan yang tak tertahankan, akhirnya ketahanan penyihir hutan itu runtuh. Tubuhnya memar dan gemetar hebat. Ia menatap Delta dan Penyihir Petir dengan mata yang penuh kebencian yang mendalam, namun juga penuh dengan keputusasaan. "Cukup... hentikan," bisiknya lirih ,Dengan berat hati, ia setuju untuk membantu mereka,
Penyihir hutan itu duduk bersimpuh, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Ia menutup matanya dan meletakkan kedua telapak tangannya di lantai gua yang lembap. Aura hijau yang sangat tipis mulai terpancar dari ujung jari-jarinya, merambat ke dalam celah-celah batu.
Setelah beberapa menit dalam keheningan yang tegang, tubuhnya tiba-tiba menegang. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya menghilang, menyisakan warna putih seluruhnya.
"Dia... dia tidak jauh dari sini," gumamnya,. "Keberadaannya sangat kuat, namun tertutup oleh sesuatu yang dingin dan bersisik. Kalian harus bersiap. Kematian mengintai di setiap celah di sekitar kalian." Mendengar hal itu, Panglima Delta segera memerintahkan pasukannya untuk membentuk formasi tempur. Centaur menyiapkan busur mereka, menembakkan anak panah ke arah kegelapan untuk memancing apa pun yang bersembunyi. Minotaur berdiri di barisan terdepan, kapak mereka dipegang erat dengan otot-otot yang menegang.
Penyihir Petir merasakan bulu kuduknya berdiri. Atmosfer di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin. "Katakan padaku, di mana tepatnya dia berada?" tanya Penyihir Petir dengan desakan. Penyihir hutan itu menunjuk ke arah sekumpulan pilar batu besar yang terlihat biasa saja di ujung gua. "Di sana. Dia ada di balik tabir itu. Tapi ingat, apa yang kalian cari mungkin bukan lagi apa yang kalian kenal." Pasukan Atlas mulai bergerak maju dengan sangat hati-hati,
Saat pasukan Atlas baru saja bergerak beberapa meter menuju pilar-pilar batu tersebut, sebuah tragedi terjadi tanpa peringatan sama sekali. Tanpa suara, tanpa hembusan angin, tiba-tiba beberapa prajurit Minotaur di barisan depan terhenti. Tubuh mereka yang besar dan berotot tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian yang simetris, mulai dari kepala hingga pinggang. Darah menyembur seperti air mancur, membasahi prajurit di belakang mereka. Kejadian itu terjadi begitu cepat sehingga mereka bahkan tidak sempat berteriak atau mengangkat senjata untuk membela diri.
Belum sempat Delta memberikan perintah, dua petinggi Centaur yang berada di sampingnya juga mengalami nasib yang sama. Sesuatu yang sangat tajam dan bergerak dengan kecepatan cahaya baru saja melewati mereka. Tubuh-tubuh itu jatuh ke tanah dengan bunyi 'bug' yang mengerikan, menyisakan pemandangan organ dalam yang berceceran. "Serangan dari atas! Atau dari bayangan!" teriak salah seorang prajurit dengan panik. Pasukan yang tadinya terorganisir mulai goyah; mereka mulai mengayunkan senjata ke udara kosong, mencoba menghalau musuh yang tidak bisa mereka lihat.
Penyihir Petir segera menciptakan kubah pelindung listrik di sekitar Delta dan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa ada pembunuh-pembunuh yang bergerak di antara dimensi atau memiliki kemampuan kamuflase tingkat tinggi. "Jangan berpencar! Tetap dalam formasi!" teriak Delta,naga api yang masih tersisa tidak lagi menunggu perintah. Dengan insting hewannya yang tajam, ia merasakan keberadaan musuh di langit-langit gua. Naga itu menarik napas dalam-dalam dan menyemburkan api yang sangat luas ke segala arah, membakar apa pun yang ada di atas mereka. Semburan api itu berhasil menyingkap tabir penyamaran musuh. Ternyata, puluhan siluman dengan tubuh ramping dan tangan berbentuk sabit
Pertempuran di dalam gua kristal telah berubah menjadi ladang pembantaian yang tak terkendali. Suara dentingan logam, raungan naga api, dan jeritan para Minotaur yang terbelah menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Namun, di tengah kekacauan yang merenggut nyawa pasukannya itu, Penyihir Petir tidak lagi memfokuskan perhatian pada strategi perang. Matanya yang tajam, yang diperkuat oleh sisa-sisa energi sihirnya, terus memindai setiap sudut kegelapan.
Tiba-tiba, sebuah getaran aneh merambat melalui tongkat peraknya. Itu bukan getaran sihir penyerang, melainkan resonansi dari aura mahkota Ratu Layla yang tertanam sihir pelacak kuno. Penyihir Petir memejamkan mata sesaat, membiarkan pikirannya menembus dinding-dinding batu. "Aku menemukannya!" teriaknya,Ia melihat sebuah celah sempit di balik pilar batu yang tadinya diselimuti oleh kabut hitam.
Tanpa memedulikan barisan Centaur yang mulai kewalahan menghadapi siluman sabit, Penyihir Petir meraih lengan Panglima Delta. "Panglima, lupakan pertempuran ini! Ratu ada di depan. Jika kita tidak bergerak sekarang, dia akan hilang selamanya!" Delta tertegun sejenak.
Ia mengangguk tajam, memberikan isyarat kepada beberapa Minotaur untuk tetap bertahan sebagai tameng manusia bagi mereka.
Penyihir Petir juga tidak membiarkan penyihir hutan itu lepas. Dengan kasar, ia mencengkeram rantai yang masih melilit pergelangan tangan penyihir itu. Mereka bertiga berlari menuju celah batu, meninggalkan teriakan-teriakan minta tolong dari para prajurit Atlas yang sedang meregang nyawa.
Saat mereka meluncur masuk ke dalam lorong sempit tersebut, Penyihir Petir menggunakan sihirnya untuk meruntuhkan pintu masuk, mengunci pasukan mereka di luar agar tetap bertempur hingga mati, sekaligus memastikan tidak ada siluman yang bisa mengikuti mereka dengan cepat.
Langkah kaki mereka bergema di lorong yang kini terasa jauh lebih tenang namun mencekam. Penyihir hutan itu hanya bisa menatap dengan pandangan kosong,Mereka terus merangsek masuk, mengikuti denyut energi yang semakin kuat, menuju sebuah ruang besar di mana kebenaran yang mengerikan telah menunggu.