NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan Madu

Jet pribadi itu mendarat dengan mulus di Villa Aditama, Roma. Brian memegang tangan Arumi dengan hati-hati saat turun, di mana beberapa pelayan sudah berdiri rapi menyambut kedatangan mereka. Vila mewah yang berada di Roma ini merupakan milik kakek Brian yang dulu dihadiahkan untuknya. Namun, karena kesibukannya sebagai aktor, Brian jarang sekali memiliki waktu untuk berkunjung ke sana.

​Arumi menatap bangunan vila itu dengan takjub, arsitekturnya begitu megah dan indah. Brian merangkul pundaknya dan mengajaknya masuk.

​"Kita akan tinggal di sini selama beberapa hari," ucap Brian lembut sambil memeluk tubuh Arumi, lalu mencium keningnya.

​Sebenarnya, Brian sudah lama berencana membawa Arumi untuk bulan madu di Roma, tetapi jadwal pekerjaannya yang padat baru memungkinkan hal itu sekarang. Brian kemudian membimbing Arumi menuju kamar utama mereka.

​Begitu memasuki kamar, Arumi langsung menuju balkon untuk menikmati pemandangan perbukitan yang membentang indah di hadapannya. Brian tersenyum melihat binar bahagia di wajah istrinya. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk Arumi dari belakang dan mencium lembut ceruk lehernya.

​"Brian, jangan di sini," bisik Arumi malu-malu.

​"Kenapa? Tidak akan ada yang melihat kita. Di sini hanya ada kita berdua," jawab Brian parau.

​Brian membalikkan tubuh Arumi, menatap matanya dalam-dalam, lalu menciumnya dengan mesra. Perlahan, ia membimbing Arumi mundur hingga ke tepi ranjang sambil mulai melepas kemejanya. Ia melempar pakaiannya ke sembarang arah, lalu dengan tatapan penuh damba, tangannya mulai membuka ritsleting gaun yang dikenakan Arumi, menatap istrinya dengan penuh gairah.

Udara Roma yang mulai mendingin di sore hari kontras dengan suasana hangat yang menjalar di dalam kamar luas itu. Arumi merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat saat jemari Brian dengan perlahan menurunkan kain gaunnya, membiarkannya jatuh ke lantai seperti kelopak bunga yang gugur. Cahaya matahari senja yang berwarna jingga keemasan menerobos masuk melalui pintu balkon, membasuh kulit mereka dengan rona yang hangat.

Sentuhan Brian pada pengait bra Arumi berakhir dengan suara gesekan halus yang memecah keheningan kamar. Bra itu merosot, menumpuk di lantai, meninggalkan Arumi yang kini merasa begitu rentan namun sekaligus terbakar oleh tatapan lapar suaminya. Brian tidak melepaskan pandangannya sedikit pun, matanya seolah sedang mengagumi karya seni paling berharga yang pernah ia temukan.

​"Brian..." bisik Arumi, suaranya bergetar antara gugup dan keinginan yang mulai membuncah.

​"Kau sangat indah, Arumi. Selalu indah," sahut Brian dengan suara rendah yang serak.

​Ia membawa Arumi ke tengah ranjang yang empuk. Saat tubuh mereka bersentuhan tanpa penghalang, Arumi bisa merasakan panas yang menjalar dari dada bidang pria itu ke tubuhnya. Brian menindihnya dengan lembut, menyangga berat tubuhnya agar tidak menghimpit Arumi sepenuhnya.

​Tangan Brian yang hangat mulai menjelajah, mendaki dari pinggang ramping Arumi menuju tengkuknya, menariknya perlahan untuk memperdalam ciuman mereka. Kali ini ciuman itu terasa lebih menuntut. Arumi membalasnya dengan keberanian yang baru ia lakukan, melingkarkan lengannya di leher Brian, menarik pria itu agar semakin menyatu dengannya.

​Brian beralih ke telinga Arumi, membisikkan kata-kata pujian yang membuat wajah Arumi semakin memerah. Kecupannya turun ke ceruk leher, memberikan sensasi geli sekaligus panas yang membuat Arumi melengkungkan punggungnya secara naluriah. Napas Arumi mulai terengah-engah saat bibir Brian memberikan tanda-tanda kepemilikan di sana.

​"Katakan kau milik siapa," tuntut Brian pelan, suaranya bergetar di kulit leher Arumi.

​"Milikmu... aku milikmu, Brian," rintih Arumi pelan.

​Kehilangan kendali yang selama ini ia tahan sebagai aktor yang selalu menjaga citra, Brian membiarkan instingnya mengambil alih. Jemarinya menelusuri setiap lekuk tubuh Arumi dengan penuh gairah, memberikan sentuhan-sentuhan yang memicu letupan panas di bawah kulit istrinya. Setiap inci kulit yang disentuh Brian seolah meninggalkan jejak api yang tak kunjung padam.

​Arumi merasakan sensasi yang luar biasa saat tangan Brian bergerak semakin berani di bawah sana melepaskan sisa-sisa kain ditubuhnya. Perasaan melayang dan desakan yang tak terbendung mulai memenuhi rongga dadanya. Ia mencengkeram sprei sutra di bawahnya, mencoba mencari pegangan saat Brian membawanya semakin jauh ke dalam pusaran gairah yang memabukkan.

​Di bawah cahaya remang kamar yang mewah itu, gerakan mereka menjadi sebuah tarian yang indah. Brian memastikan setiap sentuhannya memberikan kenyamanan sekaligus letupan rasa yang membuat Arumi memanggil namanya berkali-kali. Ketegangan di antara mereka memuncak, memenuhi ruangan dengan aura keintiman yang begitu pekat.

​Ketika segalanya menjadi semakin intens, Brian berhenti sejenak untuk menatap mata Arumi, memastikan bahwa istrinya merasakan hal yang sama. Di dalam manik mata Arumi, ia hanya melihat cinta dan penyerahan diri yang utuh. Dengan satu gerakan yang pasti dan penuh kasih, Brian menyatukan seluruh jiwa dan raga mereka, menghapuskan sisa jarak yang ada.

​Brian membalik tubuh Arumi, menuntun wanita itu agar berada di atasnya, membiarkannya memegang kendali. Gerakan Arumi yang berani membuat Brian mengerang rendah urat-urat di leher dan lengannya menegang, menahan sensasi nikmat yang nyaris tak tertahankan. Arumi pun terengah-engah, matanya terpejam rapat saat merasakan setiap hentakan yang membawanya terbang hingga berkali-kali mencapai puncak kebahagiaan.

Saat Arumi bergerak di atasnya, Brian mencengkeram pinggul istrinya dengan kuat, membantu ritme mereka agar semakin menyatu. Keringat tipis mulai membasahi dahi mereka, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram.

​"Lihat aku, Arumi," geram Brian rendah, suaranya serak karena gairah yang memuncak.

​Arumi membuka matanya yang sayu, menatap manik mata Brian yang gelap dan penuh damba. "Brian... ini... ini terlalu banyak," rintihnya sambil menyandarkan telapak tangannya di dada bidang Brian yang naik turun tak beraturan.

​Brian menarik tubuh Arumi mendekat, membenamkan wajahnya pada kelembutan istrinya, menyesap aroma tubuh Arumi yang memabukkan sementara kebanggaannya terus bergerak selaras di bawah sana, memicu kedutan liar yang menandakan kepuasan yang luar biasa.

​"Katakan," tuntut Brian sambil sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengecup bibir Arumi yang membengkak. "Katakan kau hanya milikku. Jangan biarkan pria lain melihatmu seperti ini."

​Arumi mendesah panjang, merasakan kedutan liar di pusat tubuhnya saat Brian memberikan dorongan yang lebih dalam. "Hanya milikmu... selalu... Ah, Brian! Cepatlah..."

Brian terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat jantan dan menggoda di telinga Arumi. "Aku tidak akan melepaskan mu secepat itu, Sayang. Kita punya sepanjang waktu di Roma untuk menebus waktu yang hilang."

​Ia kemudian menarik tengkuk Arumi, memaksa wanita itu membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Kau tahu betapa tersiksanya aku menghindari mu hanya karena membayangkan momen ini? Kau membuatku gila, Arumi."

​"Kalau begitu, jangan berhenti," bisik Arumi di depan bibir Brian, sebuah tantangan yang langsung disambut dengan serangan ciuman panas dan gerakan yang semakin memburu.

​Percintaan mereka malam itu terasa begitu panas dan menuntut. Tak ada yang mau mengalah keduanya saling memuja, saling menindih, dan bergerak dalam ritme gairah yang membara, seolah dunia di luar vila itu tidak lagi ada. Hanya ada mereka berdua yang sedang menyatu dalam ikatan cinta yang paling dalam di jantung kota Roma.

​Suara napas yang bersahut-sahutan dan detak jantung yang beradu menjadi musik latar malam itu di Roma. Mereka tenggelam dalam lautan rasa yang hanya dimiliki oleh dua orang yang saling mencintai, hingga akhirnya mencapai puncak kebahagiaan bersama yang meninggalkan rasa lelah yang nikmat di sekujur tubuh.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!