NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_19

Aku membaringkan tubuh di atas kasur empuk berwarna gading, menatap kosong langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal berkilau redup. Ruangan ini terlalu luas untuk sekadar menampung kegelisahanku, terlalu sunyi untuk hati yang sedang riuh. Pernikahan yang kujalani baru hitungan hari, namun ujian yang harus kuhadapi terasa seolah datang bertubi-tubi.

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dada ku sungguh terasa sesak.

Aku kira, setelah berhasil keluar dari masa lalu yang kelam, aku akan melangkah ke lorong kebahagiaan—atau setidaknya ketenangan. Tapi rupanya aku hanya berpindah dari satu penderitaan ke penderitaan lain, dengan kemasan yang lebih mewah, lebih rapi, dan lebih menyakitkan.

Impian untuk dicintai oleh seorang laki-laki dengan tulus, tanpa syarat, tanpa bayang-bayang perempuan lain, sepertinya memang hanya layak hidup di dunia mimpi. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ini karma? Karena terlalu sering menolak lamaran lelaki yang datang silih berganti, bahkan sebelum aku mencoba mengenal mereka lebih jauh.

Namun jika kupikir lagi, rasanya tidak adil jika disebut karma.

Aku selalu memilih kata-kata paling halus saat menolak. Tidak pernah merendahkan, tidak pernah mencela. Lagipula, merekalah yang datang dengan cara tak masuk akal. tiba-tiba melamar hanya karena aku adalah putri keluarga Rusdiantoro. bukan karena kepribadian ku, atau nilai nilai ku yang lain.

Tubuhku menggelinding pelan menyusuri kasur, satu sisi ke sisi lain, entah sudah berapa lama. Mungkin setengah jam, mungkin lebih. Jam dinding berdetak pelan, seolah mengejek kegelisahanku yang tak juga reda.

Andai saja aku bisa menceritakan semua yang terjadi—kejadian kemarin, juga barusan—pada Maya. Setidaknya aku punya teman untuk berbagi, mencari sudut pandang lain, atau sekadar menangis tanpa dihakimi. Tapi Maya sedang berbulan madu dengan Sultan, sang suami. Aku tidak mungkin mengganggu kebahagiaan mereka dengan masalah rumitku.

Aku menggigit bibir bawah, menahan emosi yang kembali naik.

Aku harus mencari cara. Aku tidak boleh membiarkan Narendra sampai membelikan Ajeng sebuah penthouse.

Naren memang tidak akan jatuh miskin meski membeli sepuluh penthouse sekaligus. Tapi aku tidak rela—sungguh tidak rela—melihatnya menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk membujuk Ajeng, hanya untuk menenangkan amukan perempuan yang entah bagaimana caranya selalu berhasil mengendalikan hidup suamiku.

bagai jin Dasim, Ajeng selalu berhasil membuat Naren kehilangan logika, kehilangan kendali, hingga bertindak konyol dan manut seperti kerbau yang di cocok hidungnya

Tiba-tiba sebuah nama terlintas di benakku.

“Ardi… kenapa nggak kepikiran dari tadi sih,” gumamku pelan.

Aku langsung meraih ponsel di atas nakas dan menghubungi tangan kanan suami ku itu

Tak lama, sambungan tersambung.

[Hallo, Assalamu’alaikum, Bu Rayna. Ada yang bisa saya bantu?]

Suara Ardi terdengar sopan seperti biasa, tenang, profesional.

[Wa’alaikum salam. Ardi, kamu lagi sama Mas Naren?] tanyaku basa-basi. padahal aku sudah tau jawabannya.

[Tidak, Bu. Pak Naren belum sampai kantor. Sepertinya masih di perjalanan.]

Aku menghela napas pelan.

‘Dia memang nggak bakal sampai kantor hari ini, Ar,’ batinku getir.

[Bagus kalau gitu. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu… sekalian mau minta tolong.]

Nada suaraku menurun, nyaris terdengar seperti permohonan.

[Tentang apa, Bu? Saya akan berupaya membantu semampu saya.]

Aku terdiam sejenak, menyusun kalimat agar terdengar netral.

[Ajeng tadi datang ke penthouse. Dia… ngamuk. Singkat cerita, Naren berniat membelikan dia penthouse dengan ukuran dan luas yang sama seperti milik Naren sekarang. Katanya supaya Ajeng nggak ngamuk lagi.]

Di seberang sana, terdengar tarikan napas tajam. sepertinya Ardi juga sama terkejutnya dengan ku tadi

[Lalu… saya harus apa, Bu?] tanyanya kemudian.

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

[Saya minta tolong. Tolong cegah supaya Narendra tidak sampai membelikan Ajeng penthouse itu. Bukan karena saya iri, Ar. Tapi saya rasa… tindakan dia sangat berlebihan.]

Aku ragu sejenak.

[Sa… saya cuma…] Kata-kataku terhenti. Aku mencari padanan kata yang aman, selain “cemburu”. Aku tidak mau Ardi tahu bahwa perasaanku pada Narendra sudah sejauh ini.

[Bu Rayna tidak perlu menjelaskan alasannya pada saya.] Suara Ardi terdengar tegas namun hangat. [Sebagai istri sah Pak Naren, Ibu berhak melakukan apa pun. Dengan alasan apa pun.]

Dadaku menghangat, meski hanya sedikit.

[Terima kasih, Ar.]

[Saya akan mencari cara untuk mencegahnya, Bu. Semoga berhasil.]

[Terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkanmu, di tengah kesibukanmu.]

[Sama-sama, Bu. Sejak Bu Rayna menjadi istri Pak Naren, saya punya dua bos sekarang.]

Aku tersenyum kecil.

Setelah mengucap salam, aku memutus sambungan. Ponsel kembali tergeletak di atas kasur, sementara aku menatap langit-langit dengan perasaan yang sedikit lebih ringan—meski jauh dari tenang.

---

**POV AUTHOR**

Ardi menghentikan seluruh pekerjaannya begitu panggilan dari Rayna berakhir. Ia bersandar di kursi kerjanya, menatap layar laptop yang kini tak lagi ia pedulikan. Kepalanya penuh.

Ia sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan bosnya.

Rumah beserta seluruh isinya, asisten rumah tangga, mobil keluaran terbaru—dan sekarang, sebuah penthouse bernilai miliaran rupiah—semua digelontorkan Narendra hanya demi satu tujuan. meredam amukan Ajeng.

Ardi bangkit, mondar-mandir di ruangannya. Langkahnya gelisah, tangannya sesekali mengusap wajah.

“Maafkan saya, Pak,” gumamnya lirih. “Kali ini saya harus melawan keputusan Bapak. Semoga Bapak segera sadar… bahwa Bapak sedang mencampakkan berlian demi batu koral.”

Ardi sangat mengenal tabiat Narendra. Ia tidak akan mendengarkan pendapatnya, kecuali jika itu berkaitan langsung dengan pekerjaan. Maka, Ardi membutuhkan bantuan seseorang yang disegani Narendra—tentu saja selain orang tuanya.

“Pak Bayu…” Ardi berhenti melangkah. “Aku harus menghubungi Pak Bayu.”

Ia segera mengambil ponsel, mencari kontak Bayu, lalu menekan tombol panggil. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya, pada panggilan kelima, sambungan terjawab.

[Hallo, selamat siang, Pak Bayu.]

[Siang, Ar. Maaf tadi meeting. Baru kelar. Ada apa? Semua baik-baik saja kan?]

Nada Bayu terdengar waswas. Ardi jarang meneleponnya, apalagi sampai berkali-kali.

[Maaf mengganggu waktunya, Pak. Apa saya bisa minta waktu sebentar?]

[Buruan ngomong, Ar. Gue jadi deg-degan.]

[Saya mau minta tolong, Pak.]

[Minta tolong apaan? Kalau mau minjem duit, bilang ke bos lo. Kalau mau beli obat kuat, baru hubungin gue.]

Ardi menarik napas.

[Enggak, Pak. Ini soal Pak Naren.]

[Ar, lo ngomong yang jelas. Temen gue masih napas, kan?]

[Kalau napasnya sih masih, Pak. Tapi kalau jalan pikirannya… saya nggak yakin.]

Bayu terdiam sejenak.

[Lo dipecat sama Naren?]

[Bukan, Pak. Barusan Bu Rayna menelepon saya.]

Bayu langsung serius.

[Terus?]

[Tadi pagi Bu Ajeng datang ke Agonda Residence. Mereka bertengkar. Dan untuk membujuk Bu Ajeng, Pak Naren berniat membelikan penthouse dengan ukuran dan luas yang sama seperti di Agonda.]

[Apa?!] Bayu nyaris berteriak. [Itu orang mabok kecubung apa gimana?!]

[Bu Rayna minta saya membantu menggagalkan rencana itu. Tapi seperti Bapak tahu, Pak Naren tidak akan mendengarkan saya. Jadi… saya butuh bantuan Bapak.]

Bayu menghela napas panjang.

[Oke. Gue handle. Gue bakal hubungi Bagas. Urusan ini kita berdua yang beresin.]

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.

[Dan satu lagi, Ar. Selama bos lo masih di bawah pengaruh… itu siliman wewe lo harus jagain Rayna. Jangan sampai saat Naren sadar nanti, dia udah kehilangan perempuan paling pantas buat dia.]

[Saya akan melakukan yang terbaik, Pak. Untuk kedua bos saya.]

[Bagus.]

Bayu memutus sambungan. Tak lama, ia mengirim pesan singkat pada Bagas untuk bertemu. Bagas bahkan membatalkan jadwal kliennya karena rasa penasaran yang menggebu.

---

**Di Café Chibe**

Bayu sudah tiba lebih dulu. Dua gelas minuman terhidang di atas meja.

“Bray,” sapa Bagas sambil menarik kursi.

“Duduk,” kata Bayu singkat.

“Lo nggak campur sianida kan di minuman gue?”

“Kagak. Cuma gue ludahin dikit.”

“Brusss—!” Bagas menyemburkan coffelatte-nya. “phak kata gue teh, ”

Bayu tertawa puas.

“Serius dong. Kita ke sini buat rapat luar biasa.” ucap Bayu kemudian

Bagas mendengus. “Buruan ngomong. Gue sampai cancel meeting.”

“Temen lo bikin ulah lagi.”

“Siapa?”

“siapa lagi kalau bukan si Naren yang kalau bucin otaknya pindah ke pantat, "

Bagas mengernyit. “kali ini apa lagi? bikin ulah apa lagi tuh orang?”

“Ajeng datang pagi tadi ke Agonda. mereka berantem. Dan buat ngeredam, Naren mau beliin dia penthouse sekelas Agonda.”

Bagas menggebrak meja. “Itu orang beneran udah nggak waras!”

“Bini-nya udah tau.”

“Rayna? Iya. Justru dia yang minta tolong.”

Bagas mengusap wajahnya frustasi.

“Gila… serius. Kita harus gerak cepat.”

Bayu mengangguk. Mereka saling pandang, dengan satu kesimpulan yang sama. Narendra harus diselamatkan

1
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!