Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 16
TANDA BAHAYA
Sebelum ada yang kembali, Eliza berniat untuk keluar kamar. Namun, saat itu juga dia melihat adanya drone yang bergerak dengan sebuah kamera bak cctv yang terus mengintai nya.
Tentu saja, Eliza tak bisa gegabah selain diam mengamati pergerakan drone otomatis tersebut.
“Anda sedang apa, Nyonya Elizabeth?” tanya Cili yang sontak membuat Eliza terkejut.
“Aku ingin ke dapur.” Jawab Eliza, namun Cili menatap penuh curiga, seolah dia tahu bahwa itu cuman sandiwara belaka.
Tak ada perdebatan ataupun perbincangan lagi, Eliza berjalan keluar menuju ke arah dapur, sementara Cili mengikutinya dari belakang, hanya iseng saja. Dan selama perjalanannya menuju ke dapur, Eliza mengamati dengan seksama. -’Mereka menjaga sangat ketat.’ batin Eliza yang nampak sedikit berkerut alis.
Sampai di dapur, ia segera mengambil minuman, namun tak ada satupun pelayan yang menolongnya karena itu sudah perintah dari Esperance ataupun Luis. Kini Eliza duduk tenang di sofa perapian.
Untuk pertama kalinya, Eliza tidak menggunakan foundation, sehingga lukanya terlihat jelas dan menjadi sorotan para pelayan yang sesekali mengintipnya sejak tadi.
“Aku merindukan kalian.” Gumam Eliza saat ia teringat akan keluarganya, termasuk kedua adiknya. Hingga tanpa terasa air matanya menetes, mengingat kalau dia berada di sebuah sangkar emas.
“Sedang apa kau di sini?” seketika suara seorang wanita membuat Eliza mengusap air matanya.
Soraya, kakak Luis yang menatap sinis. Eliza pikir wanita itu juga pergi dari rumah, nyatanya tidak. Wanita itu kembali menatap ke api yang menyala, menghangatkan ruangan.
“Apa kau sudah membaik?”
Pertanyaan dari Eliza tanpa ditoleh, namun pertanyaan itu sangat mengejutkan Soraya yang tak pernah mendapat pertanyaan seperti itu.
“Bukan urusanmu.” Jawab Soraya sedikit tegas, namun Eliza tak termakan hati, dia hanya diam menikmati kopinya. “Dan kenapa kau keluar dengan memperlihatkan luka-luka mu huh? Bukankah sudah ada aturannya.”
Eliza menoleh menatap Soraya yang nampak lebih tegang dari sebelumnya.
“Terkadang amarah mengendalikan seseorang dan melampiaskan ke orang lain!” kata Eliza tersenyum tipis.
Soraya, si wanita cantik bermata indah itu, menatap adik iparnya dengan tatapan yang perlahan melunak.
“Apa sebuah pernikahan harus diperintah?” tanya Eliza yang kembali menatap ke Soraya.
Tentu, Soraya tak menjawabnya selain diam mengingat pernikahannya sudah hancur gara-gara putrinya lahiran. Mengingat semua itu membuat Soraya kembali sedih.
Eliza bangkit dari duduknya tanpa senyuman, seolah semuanya sudah mati rasa. Ia berjalan melewati Soraya yang masih berdiri.
“Terima kasih.” Kata Soraya yang seketika mengejutkan Eliza yang refleks menoleh hingga Soraya juga ikut menoleh. Tak ada perbincangan selain saling menatap seolah mereka berdua tahu rasanya menjadi seorang wanita yang sudah berumah tangga dan mendapat masalah.
Elizabeth tersenyum kecil, “Lakukan apa yang menurutmu benar. Dan aku juga akan melakukannya.” Kata Eliza sebelum dia benar-benar pergi dari ruangan perapian tadi.
Ucapannya masih membuat Soraya cemas sendiri. Apa yang akan gadis itu lakukan? Apakah luka itu masih belum cukup dia dapatkan sehingga Elizabeth nekat akan berbuat hal yang bisa memancing emosi Luis Holloway.
...***...
London, Inggris
Jam pasir itu hampir habis. Butir terakhir jatuh perlahan, seperti hitungan mundur menuju neraka. Mata silver Vale mengamati jam pasir tersebut. “Kita akan pergi setelah jam pasir ini habis.” Ucapnya tenang.
“Anda ingin pergi ke mana Tuan?” tanya Lou yang sekedar ingin memastikan lebih jelas.
Vale duduk tenang di kursi kerjanya, lalu bersandar menatap lurus. “Birmingham.” jawabnya.
Lou sebagai asisten Vale terlama, dia mengangguk faham dengan rencana bosnya. Sementara Vale yang masih menatap lurus dan diam, pikirannya seolah tak sabar akan bertemu seseorang yang seharusnya dia hindari daripada membuatnya kotor karena darah.
“Soal, putri keluarga Taylor— ”
“Abaikan saja. Dia terlalu bodoh karena masih bertahan dengan pria seperti Holloway yang sudah membunuh keluarganya!” kata Vale menyeringai kecil.
Lou ikut tersenyum. Sangat mudah mendapatkan informasi lengkap, dan kini Vale sudah mendapatkannya.
“Tunda jadwalku, aku ingin bersantai sambil menunggu jam pasir ini selesai dan siapkan semuanya.” Pinta Nathaniel Vale yang dibalas anggukan oleh si asistennya.
“Apa Anda ingin seorang wanita untuk hiburan?!” tanya Lou sedikit bercanda, itu hal wajar untuk mereka berdua yang sudah terlihat seperti teman dekat, namun masih dalam rasa hormat dan posisi masing-masing.
“Wanita? Tidak ada yang cocok untukku, mereka sangat agresif.” Kata Vale yang hanya membantu Lou tersenyum tipis lalu pamit pergi dari ruangan bernuansa tenang dan gelap.
Pria itu menatap ke arah jam pasirnya yang terus bergerak turun semakin banyak dan banyak.
“Aku tidak sabar bertemu dengan para bajingan di sana.” Gumam Vale yang menunjukkan emosi nya ketika sebuah ingatan di masa lalu mulai muncul secara tiba-tiba.
Suara tembakan dan teriakan darinya, ketika ayah, ibu dan adiknya terbunuh sangat tragis. Semuanya terlihat jelas di depan mata dan senjata hampir saja membunuhnya saat kobaran api memakan habis keluarganya karena ulah seseorang.
“Fuck.” Umpat Vale yang langsung berpaling malas bila harus mengingat semua itu.
Ia menatap kembali ke sebuah kertas perusahaan milik Taylor yang sudah lama menumpuk di atas mejanya. Ya, sudah berapa kali Samuel Taylor meminta kerjasama dengan menikahkan putri sulungnya dengannya, namun Vale menolak karena baginya kurang menarik akan bidang bisnis keluarga Taylor.
Pria berkemeja hitam itu meraih kertas tersebut, menelitinya dengan lekat, membayangkan bagaimana perasaan putri pertama Taylor jikalau tahu keluarganya sudah tewas di tangan suaminya sendiri.
“Dasar bodoh!” gumam Vale yang kembali meletakkan kertas itu dan meneguk minumannya.
Sementara di Birmingham, sebuah kapal speedboat baru saja menepi, tatkala Luis dan anak buahnya turun usia menyelesaikan pekerjaan mereka yang berada di pulau tersembunyi. Tak ada yang tahu selain dirinya dan keluarganya.
“Pastikan tidak ada yang melihat, berurusan dengan polisi membuatku muak.” Kata Luis yang berjalan ke arah mobilnya usai memberikan perintah tersebut kepada asisten setianya, Grag.
Anak buah Lusi membungkuk memberi hormat kepada bos mereka yang pergi. Namun setelah itu, mereka bergegas melakukan pekerjaan masing-masing.
.
.
.
Beberapa menit berlalu, di kamar yang hening dan gelap, Eliza mengernyit saat matanya masih terlelap dalam tidurnya. Namun sebuah sentuhan dan belaian di wajah, leher dan tubuhnya membuat dia merasa sedikit geli.
“Seharusnya kau tidak tidur.”
Eliza langsung membuka mata, kaget saat ia tahu bahwa dia masih berada di sekitar Holloway. Dan benar saja, suaminya sudah ada di samping ia tidur.
“Why? (kenapa)? Kau melihatku seperti melihat ancaman.” kata Luis yang masih menguap lembut pipi Eliza.
Wanita itu menelan ludah, menatap dengan penuh ketakutan namun juga berani.
“Aku pikir kau akan pulang besok.” Kata Eliza sehingga Luis mengamati tubuhnya dari perut ke wajah cantik istrinya.
“Sayangnya tidak. Dan itu pasti membuatmu tidak nyaman. Tapi aku merindukan mu!” kata Luis yang menyeringai devil hingga ia langsung menahan leher Eliza dan mencium bibirnya secara tiba-tiba dan sedikit kasar.
Wanita itu mencoba mendorong dan berpaling, namun tangan Luis yang lainnya bergerak membelai dan meremas tubuh Eliza. Tentu saja wanita membuka lebar matanya saat ketakutan mulai menggebu dalam tubuhnya.
“Luis... Hentikan..”
Tak mendengarkan, ia terus mencoba lebih menekan leher Eliza dan mengecupi leher wanita itu. Tentu saja Eliza harus cepat berpikir. “Aku... Aku ingin bertanya sesuatu, soal vale.”
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl