Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di depan lobi Kama Company, sebuah mobil BMW 320i M Sport berwarna putih baru saja berhenti dengan mulus. Dari dalam mobil itu keluar dua pria tampan bak dewa Yunani, mengenakan setelan jas hitam rapi, dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin.
Aura keduanya langsung mencuri perhatian.
Tanpa banyak bicara, kedua pria itu melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan. Di dalam, mereka sudah ditunggu oleh Zidan, atas perintah Aru.
Dari arah meja resepsionis, Zidan melihat dua pria itu berjalan ke arahnya. Dengan sigap, ia langsung menghampiri.
“Selamat siang, Pak Kenan dan Pak Joe. Perkenalkan, saya Zidan, asisten dari Mbak Aru. Saya diutus untuk mengantar Bapak ke ruang meeting,” ucap Ziy ramah sambil tersenyum.
Ya, dua pria itu adalah Kenan dan Joe. Mereka datang untuk menghadiri meeting bersama Aru.
“Hem.”
Kenan hanya berdehem singkat sebagai respons. Wajahnya tetap datar, sorot matanya dingin saat melirik Zidan sekilas, lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya.
Zidan refleks menelan ludah.
"Astaga… dinginnya kayak kulkas dua belas pintu.Kenapa Mbak Aru nyuruh gue nyambut manusia sedingin ini sih?Tatapannya kayak singa mau nyantap mangsa…" batinnya.
“Kenapa masih bengong?” suara Kenan terdengar rendah dan dingin.
“Ayo, antar saya ke tempat Aru.”
Zidan tersentak.
“M-mari, Pak,” jawabnya gugup.
Sementara itu, Joe yang berjalan di samping Kenan menahan tawa melihat ekspresi Zidan yang nyaris pucat.
Mereka menuju lift khusus. Tak butuh waktu lama, lift berhenti di lantai 15, lantai khusus ruang meeting.
Sepanjang koridor, hampir semua pasang mata tertuju pada mereka—lebih tepatnya pada Kenan.
Siapa yang tidak mengenal Kenan Baskara group? Pengusaha muda paling berpengaruh, pemilik Baskara group dan Aryasatya Hospitals, sosok yang sering muncul di layar kaca dan media bisnis nasional.
Bisik-bisik mulai terdengar, terutama dari para karyawan wanita.
“Itu Pak Kenan dari Baskara Group, kan? Ya ampun, aslinya lebih tampan.”
“Gila, auranya beda banget.”
“Udah kayak aktor Korea…”
“Aku mau dong jadi istrinya Pak Kenan.”
“Hot, dingin, mahal.”
Kenan tak menggubris sedikit pun. Wajahnya tetap datar, langkahnya tenang mengikuti Zidan.
Berbanding terbalik dengan Joe yang terus tersenyum dan sesekali membalas sapaan karyawan.
Namun tetap saja, pesona Joe kalah telak dibanding Kenan.
Tak lama, mereka tiba di ruang meeting.
Di sana, Aru sudah menunggu.
“Selamat siang, Pak Kenan. Pak Joe,” sapa Aru sambil tersenyum dan menjabat tangan Kenan.
“Selamat siang, Aru,” jawab Kenan—kali ini dengan senyum tipis yang mengejutkan Zidan.
“Siang, Aru,” sapa Joe dari belakang Kenan. Ia tak menjabat tangan Aru, karena sebelumnya sudah diperingatkan Kenan dengan tatapan tajam sebelum berangkat.
Sikap posesif Kenan mulai terlihat, meski Aru sama sekali belum menyadarinya.
“Silakan duduk, Pak,” ucap Aru.
Kenan dan Joe mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia. Zidan ikut duduk di belakang Aru.
“Apa kita bisa mulai meeting-nya, Pak?” tanya Aru.
“Silakan,” jawab Kenan ramah.
Zidan melirik Kenan diam-diam.
"Tadi di bawah auranya kayak iblis kutub… sekarang kok senyum-senyum begini?
Ini orang punya kepribadian ganda apa gimana?" batinnya.
Meeting pun dimulai.
Aru mempresentasikan perkembangan pembangunan rumah sakit dan hotel milik Baskara Group dan Kama company yang sedang mereka tangani. Kenan mendengarkan dengan sangat fokus, sesekali mengangguk, sesekali memberikan masukan profesional.
Mereka benar-benar terlihat seperti dua orang yang saling menghargai kapasitas masing-masing.
“**********”
Di tempat lain.
Di depan pintu kamar Alvian, sudah berdiri Bisma dan Alvaro, membawa nampan berisi sepiring nasi goreng kesukaan Alvian.
Sejak siang kemarin, Alvian tak keluar kamar.
Bisma mengetuk pintu.
Tok… tok… tok…
Tak ada jawaban.
Bisma mencoba memutar gagang pintu—tidak terkunci.
Mereka masuk dan melihat Alvian tidur telentang di atas kasur, tubuhnya tertutup selimut hingga kepala.
Bisma duduk di tepi ranjang.
“Vian, bangun dulu. Abang bawain sarapan,” ucap Bisma sambil menggoyang tubuh adiknya.
Tak ada respons.
“Coba tarik selimutnya, Bang,” saran Alvaro.
Bisma menarik selimut perlahan, lalu menyentuh bahu Alvian.
Dan tubuhnya langsung menegang.
“Panas…”
“Bang?” Alvaro panik.
“Badannya panas banget,” suara Bisma mulai bergetar. “Vian demam.”
“Vian, bangun,” panggil Bisma cemas.
“B-Bang…” suara Alvian lirih. “Pusing… perut… sakit…”
“Buka mata, ini abang.”
Alvian menggenggam tangan Bisma erat.
“Pusing, Bang…”
Alvaro mulai gemetar.
“Bang, kita bawa ke rumah sakit, ya?”
“Tenang,” jawab Bisma, berusaha setenang mungkin meski hatinya kalut. “Kamu ambil alat medis abang, sama panggil Ayah dan Mama.”
Alvaro langsung berlari.
Tiba-tiba, genggaman Alvian melemah.
“Vian?” Bisma menepuk pipinya. “Dek! Bangun Dek!
Tak ada respons sama sekali dari Vian.
Bisma langsung mengecek nadi,ternyata nadinya lemah.
“VARO! AYAH! MAMA!” teriaknya panik.
Tak lama, Ayah Dika, Mama Yasmin, dan Alvaro masuk tergesa.
Mereka semua terkejut. “Ya Allah…” Mama Yasmin langsung menghampiri. “Kenapa, Bang?”tanya mama Yasmine panik.
“Vian pingsan, Ma. Nadinya melemah. Kita ke rumah sakit sekarang.”ucapnya.
Tanpa menunggu lama, mereka membawa Alvian ke mobil.
“Cepat, Varo, bawa mobil!” titah Bisma.
“Iya, Bang!”
Mereka melaju kencang menuju Aryasatya Hospitals, rumah sakit milik keluarga Kenan.
Bukan karena tak percaya rumah sakit sendiri, tapi karena jaraknya lebih dekat dan dua keluarga itu sudah lama bersahabat.
Di sepanjang jalan, Mama Yasmin tak henti berdoa.
“Ya Allah… selamatkan anak kami…”
Bisma terus memegang tangan Alvian, matanya tak lepas dari wajah pucat adiknya.
“Bertahan ya, Dek… Abang di sini.”
Mobil melaju membelah malam, membawa harapan dan kecemasan yang sama besar.
Mobil berhenti mendadak di depan Ghaksa Hospitals. Lampu-lampu rumah sakit menyala terang, terasa menyilaukan di mata Bisma yang sejak tadi tak lepas menatap wajah pucat Alvian di pangkuannya.
“Vian… bertahan, ya,” bisik Bisma dengan suara parau.
Begitu pintu mobil terbuka, udara malam bercampur aroma antiseptik langsung menyergap.
“Brankar! Cepat!” teriak Bisma begitu menginjakkan kaki di lobi IGD.
Dua perawat berlari menghampiri dengan brankar. Tanpa menunggu instruksi, Bisma membantu memindahkan tubuh adiknya ke atasnya.
“Demam tinggi, muntah, pingsan di rumah,” lapor Bisma cepat namun terkontrol.
“Tekanan darahnya turun,” ujar salah satu perawat sambil memasang alat monitor. “Kita bawa ke IGD sekarang.”
Brankar didorong cepat melewati lorong IGD. Roda-rodanya berdecit nyaring, seolah berpacu dengan waktu.
Di saat yang sama, dari arah ruang dokter, seorang pria berjas putih baru saja keluar. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam dan fokus.
Nathan.
Begitu melihat brankar yang didorong tergesa, langkah Nathan langsung terhenti.
"Bang Bisma, Bang Varo? Apa yang terjadi. " ucap Nathan terkejut melihat mereka.
"Vian, dia tiba-tiba pingsan. " jawab Bisma. Nathan mengangguk paham.
Nathan mendekat, tangannya langsung menyentuh pergelangan tangan Alvian.
“Nadinya lemah,” gumamnya. Ia mendongak menatap Bisma.
Ia berjalan sejajar dengan brankar sambil memberi instruksi cepat.
“Pasang infus RL, cek darah lengkap, CRP, elektrolit. Siapkan antipiretik IV. Saya mau USG abdomen setelah stabil.”
“Siap, Dok.”
Mama Yasmin terisak.
“Nathan… Tante mohon tolong anak tante?”
Nathan berhenti sejenak di depan pintu IGD, menatap Mama Yasmin dengan tatapan tenang namun meyakinkan.
“Nat, akan melakukan yang terbaik untuk bang Vian, tan. Tapi sekarang tante tenang dulu. ”ucap Nathan.
Mama Yasmine mengangguk.
Pintu IGD dibuka.
“Nat, abang ikut,” ucap Bisma.
Nathan menoleh sekilas.
“Boleh,bang.”
Bisma mengangguk. Mereka segera masuk ke ruang IGD.
Bersambung...................