Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Lunaris duduk melamun di kursi taman rumah sakit, pikirannya melayang jauh entah kemana dengan air mata yang terus jatuh mengalir di kedua pipinya.
Kepergian ibunya yang sangat mendadak benar-benar manjadi pukulan keras untuk dunia Lunaris yang terasa makin suram.
Nyonya Lyn masih berada di dalam untuk mengurus beberapa hal agar jasad ibunya Lunaris bisa segera dibawa ke rumah duka.
Kesedihan dari rasa kehilangan masih menyelimuti Lunaris, rasa duka yang mendalam membuat waktu seolah berhenti di sekeliling Lunaris. Dalam kepalanya penuh dengan berbagai macam penyesalan dan pertanyaan.
Mengingat apa yang dikatakan dokter dan juga dugaan polisi.
Kenapa ibunya harus berakhir seperti ini?
Apa salah ibunya hingga ia harus dihabisi?
Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada ibunya?
Dan siapa yang sudah menghabisi nyawa ibunya dengan begitu kejam?
Semua pertanyaan itu terus berputar di kepala Lunaris. Lunaris benar-benar tidak terima dengan apa yang menimpa sang ibu. Ibunya tidak pantas diperlukan seperti itu. Lunaris ingin marah dan berteriak melampiaskan rasa kecewa dan semua amarahnya, tapi Lunaris bahkan tidak tau pada siapa dia harus melampiaskan semuanya.
Semua terasa sangat menyakitkan untuk Lunaris.
Sedangkan di sisi lain, Aaron melihat Lunaris yang duduk diam di kursi taman. Gadis itu tidak menangis meraung-raung, hanya ada air mata yang terus mengalir dan tangisannya yang sunyi.
Aaron lalu melangkah mendekati Lunaris. Pemuda itu kemudian duduk disamping Lunaris, tapi sepertinya gadis itu masih sibuk dengan semua isi pikirannya hingga tidak menyadari Aaron duduk disampingnya.
"Luna," Panggil Aaron, mencoba membawa Lunaris keluar dari pikiran gadis itu.
Mendengar suara Aaron yang memanggilnya membuat Lunaris sedikit tersentak. Ia pun menoleh sejenak sebelum kembali melihat ke arah depan.
"Lo masih disini, gak balik?"
"Gue gak bisa biarin lo sendirian disini."
"Gue gak sendirian, ada nyonya Lyn yang nemenin gue."
Aaron menghela napas berat, uap putih tipis keluar dari mulutnya membaur dengan udara malam yang dingin. Ia menatap profil wajah Lunaris yang pucat di bawah sorot lampu taman yang temaram. Mata gadis itu bengkak, dan tatapannya kosong seolah jiwanya ikut pergi bersama sang ibu.
"Gue tau ada Nyonya Lyn," Jawab Aaron lembut, namun nada suaranya menyiratkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Tapi itu nggak bikin gue lantas bisa tenang ninggalin lo kayak gini, Lun. Nyonya Lyn sibuk di dalam, dan lo di sini sendirian ngelawan isi kepala lo sendiri. Gue nggak bisa biarin itu."
Lunaris menunduk, memainkan ujung jaketnya dengan jari yang gemetar. "Gue baik-baik aja, Aaron. Gue cuma perlu nunggu Nyonya Lyn selesai ngurus surat izin buat bawa jenazah Ibu keluar. Habis itu kami mau langsung urus kremasi ibu."
Suara Lunaris tercekat saat menyebut kata 'kremasi'. Kata itu terasa begitu final, begitu mematikan. Menyadari bahwa tubuh hangat sang ibu yang dulu selalu memeluknya ketika ia bermimpi buruk akan segera berubah menjadi abu dalam hitungan jam membuat dadanya kembali sesak.
"Gue nggak mau lo ngerasa terbebani. Lo punya kehidupan sendiri, dan mungkin sekarang nyonya Dimitri lagi khawatirin lo gara-gara lo belum balik juga. Pulanglah," tambah Lunaris lirih, mencoba membangun benteng pertahanan terakhirnya. Ia tidak ingin Aaron melihatnya hancur lebih jauh lagi. Ia tidak ingin dikasihani.
Apalagi oleh anak majikan ibunya ini.
Namun, Aaron justru menggelengkan kepalanya pelan. Ia menggeser posisi duduknya, sedikit lebih condong ke arah Lunaris, mencoba menawarkan kehadiran yang nyata.
"Gue nggak akan pulang. Mau lo usir sekalipun, gue bakal tetep duduk di sini buat nemenin lo," Ucap Aaron keras kepala. Tatapannya menyorotkan ketulusan yang menyakitkan. "Gue nggak peduli seberapa keras lo bilang lo baik-baik aja, gue bisa liat lo lagi hancur. Dan gue... gue nggak akan maafin diri gue sendiri kalau gue balik ke kasur empuk di rumah sementara lo duduk kedinginan di sini nunggu proses kremasi Bibi Nova sendirian."
Aaron menelan ludah, menahan gejolak emosi di dadanya. "Bibi Nova... dia juga berarti buat gue, dan lo juga temen gue. Jadi tolong, jangan anggep gue orang asing. Izinin gue nemenin lo. Izinin gue bantu apa pun yang bisa gue bantu. Entah itu urusan administrasi, biaya, atau sekadar jadi patung di sebelah lo supaya lo nggak ngerasa sepi."
Lunaris menoleh menatap Aaron. Ia mencari kebohongan di mata pemuda itu, tapi yang ia temukan hanya rasa duka yang sama besarnya. Pertahanan Lunaris perlahan retak. Ia terlalu lelah untuk berdebat, terlalu lemah untuk menolak uluran tangan—meskipun tangan itu berasal dari dunia yang sama dengan orang-orang yang menyakitinya.
"Terserah lo," Bisik Lunaris akhirnya, menyerah. "Tapi jangan harap gue bisa ngomong banyak. Gue capek, Ron... gue capek banget."
"Nggak apa-apa," Aaron menjawab cepat, ada sedikit kelegaan dalam suaranya. "Lo nggak perlu ngomong sepatah kata pun. Gue cuma bakal ada di sini."
Dan di bawah langit malam yang kelam, di tengah dinginnya angin yang berhembus di taman rumah sakit, Aaron menepati ucapannya. Ia tetap duduk diam di sana, menjadi penjaga bagi gadis yang dunianya baru saja runtuh, menemani Lunaris menunggu pagi yang entah akan membawa harapan atau keputusasaan baru.
Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, hanya suara angin malam yang mendesir pelan di antara pepohonan.
Aaron, yang sedari tadi menatap wajah samping Lunaris, perlahan menurunkan pandangannya. Matanya tak sengaja tertuju ke bawah, ke arah kaki Lunaris yang hanya terbalut sepatu flat shoes tipis yang sudah usang.
Napas Aaron tercekat.
Di bawah temaram lampu taman, terlihat jelas pergelangan kaki kanan Lunaris membengkak besar. Kulit di sekitar tulang mata kakinya tidak lagi berwarna pucat seperti wajahnya, melainkan berubah menjadi ungu kebiruan yang mengerikan.
Bengkak itu terlihat seolah-olah kulitnya bisa pecah kapan saja saking tegangnya.
Sebelumnya Aaron tidak tau bagaimana kondisi kaki Lunaris saat melihat pertama kali, karena saat itu kaki Lunaris terbalut perban juga sepatu. Tapi sekarang Aaron bisa melihat dengan jelas bengkak parah di kaki Lunaris.
"Luna... kaki lo," Bisik Aaron, suaranya terdengar ngeri.
Mendengar itu, Lunaris ikut menunduk, mengikuti arah pandang Aaron. Detik itu juga, seolah saraf-saraf tubuhnya baru tersadar dari mati suri, rasa sakit yang sedari tadi terabaikan oleh hantaman duka mendadak menyerang balik dengan brutal.
"Ah..." Lunaris mendesis pelan, wajahnya meringis.
Ia baru ingat. Kejadian di sekolah tadi sore. Jatuh dari tangga, injakan sepatu Bracia, dan perjalanan panjang menyeret kaki yang pincang. Adrenalin dan syok akibat berita kematian ibunya sempat membuat tubuhnya kebas, mematikan rasa sakit fisik itu sementara waktu. Tapi kini, saat adrenalin itu surut, denyutan di kakinya terasa seperti ditusuk paku panas yang berkarat.
Meskipun tadi sore sempat dipijat oleh nyonya Lyn, tapi sepertinya tidak berpengaruh banyak karena sekarang bengkak di kaki Lunaris jadi lebih parah karena tidak Lunaris obati lagi.
Namun, bagi Lunaris, rasa sakit di kakinya ini terasa kerdil. Tidak ada apa-apanya dibandingkan lubang menganga di dadanya. Kakinya bisa sembuh, tapi ibunya tidak akan pernah kembali.
"Luna sejak kapan kaki lo biarin kaya gini? Ini bengkaknya parah banget!" Aaron segera berlutut di hadapan Lunaris, hendak memeriksa kakinya namun ragu untuk menyentuh karena takut menyakiti gadis itu lebih jauh. "Lo gila ya nahan sakit kayak gini dari tadi? Kita harus ke UGD sekarang. Mumpung kita udah di rumah sakit."
Aaron sudah bersiap untuk berdiri dan membopong Lunaris, tidak peduli jika gadis itu menolak. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh bahu Lunaris, suara langkah kaki yang tergesa mendekat menghentikan gerakannya.
"Lunaris, Aaron."
Itu Nyonya Lyn. Wanita paruh baya itu datang dengan napas sedikit terengah, tangannya memegang map plastik berisi beberapa lembar dokumen. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya memancarkan ketegaran yang mencoba ia tularkan pada Lunaris.
Aaron segera berdiri, memberi ruang bagi Nyonya Lyn.
"Bagaimana, Nyonya?" Tanya Lunaris cepat, mengabaikan denyutan di kakinya. Fokusnya langsung beralih sepenuhnya pada urusan sang ibu.
Nyonya Lyn menghela napas panjang, lalu duduk di sisi lain Lunaris, mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Sudah selesai, Nak. Semua berkas administrasi dan surat pelepasan jenazah sudah diurus. Pihak rumah sakit sudah mengizinkan kita membawa jenazah Ibumu pulang untuk disemayamkan sebentar, tapi..."
Nyonya Lyn memberi jeda sejenak, menatap Lunaris dengan hati-hati. "...mengingat kondisi jenazah dan prosedur kepolisian yang menyarankan agar tidak menunda terlalu lama, jadwal kremasi sudah ditetapkan besok pagi di krematorium kota."
Mendengar kata 'besok pagi', bahu Lunaris merosot. Waktunya sangat singkat. Waktu untuk melihat wajah ibunya untuk yang terakhir kali tinggal hitungan jam.
"Ayo, kita harus segera ke ruang jenazah untuk persiapan pemindahan," Ajak Nyonya Lyn lembut.
Lunaris mengangguk mantap. Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri, bertumpu pada kaki kirinya. Saat kaki kanannya menyentuh tanah, rasa nyeri hebat kembali menyengat hingga ke pangkal paha, membuatnya nyaris limbung.
"Luna, tunggu," Aaron menahan lengan Lunaris, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kaki lo nggak bisa dipake jalan. Nyonya Lyn, kaki Lunaris cedera parah, dia harus diperiksa dulu—"
"Gak usah, Ron," potong Lunaris cepat, melepaskan tangan Aaron dari lengannya. Suaranya dingin dan tegas. "Gue nggak punya waktu buat ngurusin kaki. Ibu gue nunggu."
"Tapi lo kaki lo bisa makin sakit ka—"
"Gue bilang nanti aja!" Sentak Lunaris, matanya berkaca-kaca menatap Aaron. "Besok Ibu gue udah jadi abu! Gue bisa ke dokter kapan aja buat ngobatin kaki gue, tapi gue nggak punya waktu lagi sama Ibu gue!"
Aaron terdiam, tertampar oleh kalimat itu. Ia melihat tekad yang keras di mata Lunaris, tekad seorang anak yang rela merangkak di atas paku demi ibunya.
Nyonya Lyn menatap kaki Lunaris sekilas dengan prihatin, lalu menatap Aaron. "Biarkan dia, Nak Aaron. Biarkan Lunaris melakukan apa yang harus dia lakukan untuk ibunya. Nanti sesampainya di rumah duka, Bibi yang akan mengompres kakinya, Luna."
Aaron akhirnya mengalah. Ia mengangguk lemah, mundur selangkah. "Oke... kalau gitu, biar gue bantu papah lo jalan ke sana."
Kali ini Lunaris tidak menolak. Dengan terpincang-pincang dan dibantu oleh Aaron di satu sisi serta Nyonya Lyn di sisi lain, Lunaris melangkah menyusuri lorong rumah sakit, menyeret kakinya yang sakit demi memenuhi bakti terakhirnya pada wanita yang paling ia cintai di dunia.