NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berubah Jadi Hukuman

🕊

Suasana rumah biasanya penuh dengan keriangan. Namun pagi itu, ketenangan yang jarang terjadi segera pecah oleh kemarahan yang tak terduga.

Dika, Ayu, dan Chandrika sedang bermain di ruang tamu, mencoba menyalurkan energi yang meluap-luap karena liburan. Mereka tertawa, saling mengejar, dan membuat suara berisik di seluruh rumah. Di tengah keseruan itu, tangan jahil mereka menyentuh barang-barang yang seharusnya tidak diganggu.

“Eh, jangan sentuh itu, Ara!” tegur Dika sambil tertawa.

Ayu menepuk pundak adiknya yang kecil, “Santai aja, Dika. Cuma mau liat sebentar kok.” Chandrika ikut berlari, menabrak meja kecil, dan… suara retakan terdengar. Semua berhenti seketika.

“Tidak… tidak mungkin!” seru Ayu, matanya melebar melihat barang pecah di lantai.

Dan tepat saat itu, Sita muncul dari dapur. Wajahnya memerah, tangan terkepal, dan mata penuh kemarahan. “Apa-apaan ini?!” suaranya memecah keheningan. Dika terdiam, Ayu menunduk, dan Chandrika menahan napas. Mereka tahu kesalahan itu serius.

“Kalian merusak barangku! Barang yang penting, mahal, dan aku rawat sendiri! Apa kalian pikir ini main-main?!” Sita melotot, hampir berteriak. “Ma… maaf, Bu… kami cuma main…,” suara Dika tercekat, takut.

“Cuma main? Barang ini rusak karena kalian main-main! Tidak ada yang ‘cuma main’ ketika merusak milik orang lain!” Sita melangkah mendekat, menunjuk ketiga anak itu dengan jari gemetar. Ayu mencoba menjelaskan, “Tapi… kami tidak sengaja, Bu. Kami cuma ingin…”

Sita memotong dengan tajam, “Tidak ada alasan! Kalian semua akan dihukum! Keluar rumah sekarang, duduk di halaman sampai maghrib. Tidak boleh masuk sebelum aku bilang!” Ketiganya menatap satu sama lain, wajah mereka pucat. “Apa?! Keluar sampai maghrib?” Dika hampir tidak percaya.

“Ya! Sekarang juga! Keluar!” Sita menegaskan, suaranya meninggi.

Aku, yang baru saja pulang dari butik sore itu, membawa tas berisi catatan latihan matematika dan beberapa peralatan jahit, terkejut mendengar suara kemarahan dari ruang tamu. Aku membuka pintu, melihat Dika, Ayu, dan Chandrika berdiri menatap lantai dengan ekspresi cemas.

“Kenapa ini?” tanyaku, suara pelan karena takut memprovokasi Sita lebih jauh.

Sita menoleh, matanya menatapku dengan tajam. “Alea… kamu juga ikut kena imbas! Tidak ada pengecualian! Kamu baru pulang sore, tapi tetap saja kamu ada di rumah saat anak-anak ini bermain. Keluar sekarang, dan duduk di halaman sampai maghrib!”

Aku menelan ludah, kaget. “Tapi… Bu… aku tidak ikut merusak…” Sita tidak menghiraukan penjelasanku. “Keluar! Semua harus belajar konsekuensi!” Aku menatap saudara-saudaraku. Mereka sama terkejutnya. Chandrika kecil menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Kaka Alea… kita duduk di luar?”

Aku tersenyum tipis, mencoba menenangkan hati mereka. “Iya… kita semua duduk di luar sebentar. Nanti maghrib kita boleh masuk lagi.” Mereka mengikuti arahanku, dan kami semua keluar ke halaman. Duduk di bangku kayu, masing-masing dengan ekspresi campur aduk antara bosan, kecewa, dan sedikit takut.

“Aduh… capek banget, ya,” keluh Ayu sambil meletakkan kepalanya di tangan.

“Enggak ngerti kenapa hukuman ini lama banget,” gumam Dika sambil menatap langit sore. Chandrika duduk di pangkuanku, merengek kecil. “Kaka… aku lapar… tapi nggak boleh masuk.” Aku menepuk kepalanya, mencoba menenangkan. “Sabar, Ara… sebentar lagi maghrib. Kita bisa makan dan masuk rumah lagi.”

Hari itu terasa panjang. Matahari perlahan menurun, cahaya sore menembus dedaunan halaman, dan kami duduk di sana, hanya memandang ke sekeliling. Tidak ada permainan, tidak ada tawa berlebihan—hanya keheningan dan perasaan ‘kegabutan tinggi’.

Dika menarik nafas panjang. “Aku nggak pernah merasa sebosan nya duduk di sini… kita nggak boleh main, nggak boleh masuk rumah… hanya duduk gini aja.” Ayu menatapnya sambil menghela napas. “Iya… rasanya kayak dihukum paling lama di dunia.” Chandrika menatapku, wajahnya sedikit cemberut. “Kakak… kita bener-bener nggak ada kerjaan…”

Aku tersenyum tipis, mencoba meredakan suasana. “Kita bisa cerita-cerita aja, atau main tebak-tebakan. Biar waktu nggak terasa terlalu lama.”

Mereka setuju. Kami mulai bermain tebak-tebakan, meski dengan semangat setengah hati. Angin sore berhembus, daun-daun bergoyang, dan kami tertawa kecil sesekali. Tetapi di hati masing-masing, kami merasakan jenuh yang sama—liburan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi hukuman yang panjang.

Tak lama kemudian, aku menarik napas panjang dan berkata, “Kalian tahu nggak… hukuman ini bisa bikin kita belajar sesuatu. Kita belajar sabar, belajar bertanggung jawab… meski rasanya capek banget.”

Ayu menatapku, setengah tersenyum. “Iya… tapi tetap aja nggak enak duduk di sini berjam-jam.” Dika menepuk pundakku. “Setidaknya Kaka Alea tetap bisa sabar ngadepin semua ini. Aku nggak tahu kalau aku bisa segitunya.”

Chandrika menempel di sampingku. “Kaka… aku mau masuk rumah…” Aku mengelus kepalanya. “Sabar, Ara… sebentar lagi maghrib, kita bisa masuk. Kita hanya harus bertahan sebentar lagi.”

Jam terus berjalan. Matahari perlahan tenggelam, dan udara mulai terasa sejuk. Duduk di halaman dengan saudara-saudaraku membuat aku merenung. Betapa seringnya rumah kami dipenuhi ketegangan—kebahagiaan bisa tiba-tiba berubah menjadi kemarahan, dan ketidakadilan bisa muncul tanpa peringatan. Tetapi hari ini, kami belajar bersama tetap bersama-sama, tetap sabar, dan tetap saling mendukung, meski dalam keheningan dan kegabutan.

Dika mulai memainkan ranting pohon, Ayu menatap langit dengan ekspresi melamun, dan Chandrika menguap lelah. Aku menarik napas panjang, menatap mereka satu per satu, dan tersenyum tipis. “Sebentar lagi, kita masuk rumah. Nanti malam kita bisa cerita, main, atau belajar bareng. Tapi sekarang, kita bertahan dulu.”

Hening sejenak, hanya terdengar suara angin dan kicau burung. Masing-masing dari kami merasakan panjangnya waktu—liburan berubah menjadi ujian kesabaran. Tetapi di hati kecilku, aku tahu bahwa hukuman ini, meski terasa berat, juga mengajarkan kami pentingnya tanggung jawab dan pengendalian diri.

Maghrib akhirnya tiba. Lampu rumah dinyalakan, dan suara langkah Sita terdengar dari dalam. “Kalian boleh masuk sekarang!” Aku menarik napas panjang, tersenyum, dan berkata kepada saudara-saudaraku, “Ayo, kita masuk. Akhirnya bebas juga.”

Chandrika loncat kegirangan, Dika menepuk pundakku, dan Ayu tersenyum lelah tapi lega. Kami masuk ke rumah, meninggalkan halaman yang sepi dan panas terik sore itu. Meskipun kemarahan Sita membuat kami terpaksa duduk berjam-jam di luar, kebersamaan kami tetap terjaga.

Di dalam rumah, kami menata diri, duduk bersama, dan akhirnya merasakan sedikit kehangatan yang hilang sepanjang hari. Aku menatap medali Olimpiade yang tergantung di meja belajarku, tersenyum tipis. Dunia mungkin keras, rumah kadang penuh ketegangan, tapi bersama saudara-saudaraku, aku belajar bertahan dan tetap tegar.

Dan malam itu, meski lelah dan sedikit jenuh, aku menulis di jurnal: "Hari ini, hukuman membuat kita duduk berjam-jam di halaman. Tapi aku belajar sesuatu: kesabaran, tanggung jawab, dan kebersamaan. Liburan yang berubah menjadi hukuman ini mengajarkan aku untuk tetap tegar dan menjaga saudara-saudaraku. Dunia boleh keras, tapi kita bisa bertahan bersama."

Aku menutup buku catatan, tersenyum tipis, dan menatap keempat saudara yang tertawa kecil di meja makan. Meskipun hari ini terasa berat, aku tahu satu hal: keluarga, kebersamaan, dan ketahanan hati lebih penting daripada kemarahan atau hukuman sesaat.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!