NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Dia Nadinta, Bukan Orang di Masa Lalu

Masih pada hari yang sama, malam semakin larut di Jakarta. Hujan yang sempat mengguyur kota di sore hari kini telah reda, menyisakan aspal basah yang memantulkan cahaya lampu jalanan seperti cermin retak.

Di ketinggian lantai 45 apartemen The Langham Residence, kebisingan kota di bawah sana hanyalah dengungan samar yang tidak berarti.

Di dalam unit penthouse yang luas dan bernuansa maskulin itu, Mahendra Abimanyu baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih mengepul dari pintu kaca di belakangnya.

Dia mengenakan kaos oblong polos berwarna abu-abu berbahan katun mesir dan celana santai panjang, rambutnya yang basah disisir ke belakang dengan jari, menampilkan sisi yang jauh lebih rileks dibandingkan sosok Direktur yang kaku di kantor.

Mahendra berjalan menuju dapur bersihnya yang didominasi marmer hitam. Dia menyalakan mesin kopi otomatis. Suara biji kopi yang digiling dan desis uap air panas mengisi keheningan apartemen yang terlalu besar untuk satu orang itu.

Sambil menunggu kopinya siap, Mahendra bersandar di meja island, menatap pantulan dirinya di jendela kaca floor-to-ceiling.

Hari ini adalah hari yang panjang. Rapat direksi, pemecatan Rudi, teguran keras untuk Arga, dan wanita itu.

Nama itu kembali muncul di benaknya.

Nadinta.

Wanita yang menyelamatkan wajah divisi pemasaran. Wanita yang berdiri tenang di tengah badai kepanikan. Wanita yang memiliki sorot mata setajam pisau bedah.

Mahendra mengambil cangkir kopinya yang mengepul, menghirup aroma Arabika yang pekat untuk mengusir lelah. Dia tidak menyalakan televisi. Dia tidak membuka media sosial. Sebaliknya, dia membawa kopinya berjalan menuju ruang kerja pribadinya di sudut penthouse.

Ruang kerja itu gelap, hanya diterangi oleh lampu meja tembaga yang memancarkan cahaya kuning hangat. Mahendra duduk di kursi kulit ergonomisnya, menyalakan komputer iMac 27 inci di hadapannya.

Dia meletakkan cangkir kopi di sebelah mouse, lalu jemarinya menari di atas keyboard. Dia masuk ke dalam portal database internal HRD Lumina Group menggunakan akses khusus Direktur—akses yang memungkinkannya melihat profil siapa saja tanpa batasan.

Rasa penasarannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia perlu tahu siapa sebenarnya wanita yang berani mengambil alih panggung presentasi itu.

Di kolom pencarian, Mahendra mengetik nama itu dengan perlahan.

N-A-D-I-N-T-A P-U-T-R-I P-E-R-M-A-T-A-S-A-R-I.

Enter.

Layar berkedip sejenak, lalu memunculkan profil lengkap karyawan beserta foto paspor digital.

Mahendra memajukan tubuhnya, sikunya bertumpu di meja, matanya terkunci pada foto itu.

Di layar, foto Nadinta menatapnya balik. Itu adalah foto formal dengan latar belakang biru, kemungkinan diambil beberapa tahun lalu saat dia baru masuk kerja. Wajahnya di foto itu terlihat lebih muda, lebih polos, namun sorot matanya tampak lain.

Alih-alih melihat sorot mata yang lurus dan tajam, seperti apa yang dia lihat siang hari ini, Mahendra justru melihat wajah Nadinta yang tersenyum manis. Seperti karyawan yang bekerja karena dia memang mencintai pekerjaannya. Orang yang tulus.

Pada detik itu juga, mendadak dada Mahendra terasa sesak. Cangkir kopi di sampingnya bergetar pelan saat tangan Mahendra mengepal.

Tatapan itu.

Tatapan wanita polos yang selalu mengikuti pikirannya.

Seketika, bayangan lain tumpang tindih di atas foto Nadinta. Bayangan wajah seorang wanita yang sudah satu tahun tidak dia lihat, namun masih menghantuinya setiap kali hujan turun.

Ingatan itu menghantamnya seperti ombak pasang. Dia melihat wanita yang sedang marah, wanita yang sedang berdebat dengannya tentang prinsip, wanita yang menolak untuk mengikuti kemauannya.

"Aku bukan boneka, Mahendra! Aku punya otak, aku punya kaki, aku bisa jalan sendiri!"

Suara wanita itu bergema di telinga Mahendra, sejelas rekaman kaset lama. Dan kemudian, suara itu digantikan oleh bunyi decit ban mobil dan benturan logam di jalan tol yang basah.

Mahendra memejamkan mata erat-erat, mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir hantu itu. Napasnya memburu. Dia melepaskan kacamata bacanya, memijat pangkal hidungnya untuk menenangkan diri.

"Fokus, Mahendra. Dia orang lain."

Dia membuka mata kembali, memaksa dirinya melihat Nadinta sebagai Nadinta. Dia mengambil kopinya, menyesapnya sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang kering.

Mahendra menggeser scroll mouse ke bawah, mulai membaca data riwayat hidup Nadinta untuk mengalihkan pikirannya dari trauma masa lalu.

Pendidikan:

Universitas Indonesia, Sarjana Ekonomi (Manajemen).

IPK: 3.92 (Summa Cum Laude).

Indeks KPI: A+

Alis Mahendra terangkat. "Cumlaude... dan KPI-nya sempurna?"

Dia membaca catatan prestasi akademik dan organisasi semasa kuliah. Ketua Himpunan Mahasiswa. Juara kompetisi debat bisnis nasional. Penerima beasiswa penuh.

"Dia brilian," gumam Mahendra, kekagumannya tumbuh.

Nadinta jelas bukan sekadar karyawan yang masuk karena bantuan jejaring apalagi beruntung. Ini adalah talenta murni yang selama ini terkubur di bawah manajemen Rudi yang bobrok.

Mahendra terus menggulir ke bawah, melewati data administrasi yang membosankan, hingga sampai ke bagian Minat & Hobi.

Biasanya bagian ini diabaikan oleh HRD, tapi Mahendra membacanya.

Hobi: Long Distance Running (Maraton - Finisher Bali Marathon 42K), Yoga, Catur.

Mahendra terhenti. Dia membayangkan Nadinta—wanita yang selalu terlihat rapi dengan blazer di kantor—sedang berlari menempuh jarak 42 kilometer di bawah terik matahari, bermandi keringat, menolak untuk berhenti sebelum garis finis.

Dia membayangkan postur tubuh Nadinta saat berdiri di podium tadi pagi. Tegap. Bahu terbuka. Kaki yang menapak kuat.

Mahendra tertawa kecil, tawa yang lepas dan ringan.

Senyum Mahendra merekah. Dia merasa menemukan sesuatu yang berharga. Sebuah aset yang sepadan dengan standarnya yang tinggi.

Namun, senyum itu tidak bertahan lama.

Jari Mahendra menggulir layar ke bagian paling bawah. Bagian yang paling personal dan sering kali paling mengecewakan.

STATUS PERNIKAHAN & KONTAK DARURAT.

Di sana tertulis:

Status: Belum Menikah (Bertunangan).

Mahendra terdiam sejenak. "Bertunangan..."

Lalu dia membaca baris berikutnya.

Nama Pasangan/Kontak Darurat:

Arga (NIK: 201908... - Senior Supervisor Divisi Pemasaran).

Dunia di sekitar Mahendra seolah berhenti berputar.

Dia mendekatkan wajahnya ke layar, memastikan dia tidak salah baca.

"Arga?" desisnya.

Dia segera membuka tab baru, mengetikkan NIK karyawan tersebut untuk memverifikasi. Profil Arga muncul di sebelah profil Nadinta.

Fotonya terlihat sok tampan dengan senyum yang terlalu lebar.

Pendidikan: Universitas Swasta Tier-3, IPK 2.8.

KPI: C- (Menurun drastis dalam 6 bulan terakhir).

Catatan Disiplin: Sering terlambat, teguran SP2 (yang baru saja diberikan Mahendra tadi pagi), indikasi penyalahgunaan jam kerja.

Mahendra membandingkan kedua profil itu di layar monitor ganda.

Kiri: Nadinta. Bintang kelas, aktif berprestasi akademik dan non akademik, otak brilian, disiplin tinggi.

Kanan: Arga. Medioker, pemalas, ceroboh, dan pengecut yang melempar tanggung jawab saat presentasi gagal.

"Ini lelucon macam apa?" suara Mahendra berubah dingin, ada nada iritasi yang kental di sana.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan yang gelap.

Pertanyaan itu berputar di kepalanya, mengganggu logika bisnisnya yang selalu mencari keseimbangan nilai.

Kenapa?

Kenapa wanita dengan kualitas A+ seperti Nadinta mau mengikatkan hidupnya pada laki-laki dengan kualitas C- seperti Arga?

Arga yang tadi pagi panik, gagap, dan tidak bertanggung jawab. Arga yang bahkan tidak membaca laporan yang dia tanda tangani sendiri. Arga yang membiarkan tunangannya bekerja keras sementara dia bersembunyi di balik alasan kosong.

"Apa yang kamu lihat dari dia, Nadinta?" bisik Mahendra, menatap foto Nadinta lagi. "Apakah kamu buta? Atau dia memegang kartumu?"

Ada rasa tidak rela yang aneh muncul di dada Mahendra. Rasa yang asing.

Dia merasa seperti melihat sebuah lukisan masterpiece yang digantung di dinding toilet umum yang lembap dan kotor. Sayang. Tidak pada tempatnya.

Dan lebih dari itu, Mahendra merasa khawatir. Pria seperti Arga—pria yang insecure dan tidak kompeten—biasanya akan menjadi beban yang menarik pasangannya ke bawah. Dia akan mematikan cahaya Nadinta pelan-pelan.

Mahendra mengangkat gelas kopinya, hendak meminumnya lagi, ketika tiba-tiba keheningan ruang kerjanya dipecahkan oleh dering telepon yang nyaring.

Bukan telepon kantor. Tapi ponsel pribadinya yang tergeletak di meja.

Mahendra melirik layar ponselnya. Jam menunjukkan pukul 22.00.

Siapa yang menelepon selarut ini?

Nama yang muncul di layar membuat darah Mahendra membeku seketika. Gelas kopi di tangannya tertahan di udara.

CLARISSA (UK) Calling...

Clarissa. Wanita yang hampir dia lupakan pernah ada di hidupnya.

Wanita itu. Kenapa dia menelepon?

Firasat buruk merayapi punggung Mahendra.

Dia meletakkan gelasnya pelan-pelan. Dia membiarkan telepon itu berdering tiga kali, empat kali, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dengan berat hati.

"Halo?"

1
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
Wida_Ast Jcy
Waduh... bakalan miskin gak tu. atau betul-betul sudah jatuh miskin thor
chemistrynana
Iyah gimana sih mas, bukannya tau diri kamu/Facepalm//Facepalm/
chemistrynana
WHAT THE??? gak modal bet dah🤣🤣
PrettyDuck
udah dikasih hidup kedua, jangan dibuang gitu aja. bales semua sakit yg pernah mereka kasih dinnn.
PrettyDuck
gampang banget dijebaknyaa.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
PrettyDuck
lau sendiri apa rud kalo bukan predator?
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/
MARDONI
KARINA 😭🤍 Sikap sopannya itu kuat banget. Aku ikut ngerasa sedih tapi kagum sama ketenangannya.
MARDONI
NAH INI 😭📅 Karina tipikal rekan kerja sigap.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!