Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Obat Penawar
Suasana di ruang rapat Kantor Pemerintah sangat suram, raut wajah mereka terlihat sangat lelah dan ketakutan, sudah dua minggu lebih, tapi para Tabib belum juga menemukan penawar dari penyakit menular itu.
Seminggu setelah penyakit menular terjadi, Tuan Bupati mengirim surat dan meminta bantuan ke Pemerintah Ibu Kota, dan Tiga hari yang lalu mereka baru menerima balasan surat tersebut, ternyata para Tabib di Ibu Kota juga tidak bisa membuat penawarnya dan mereka hanya mengirim obat gatal untuk alergi.
Dalam isi surat tersebut, jika penyakit menular tersebut tidak bisa diatasi, Tuan Bupati tidak perintahkan untuk membuka pintu gerbang Kota, yang artinya tidak boleh ada orang masuk atau keluar Kota. Dan surat itu di cap langsung oleh yang Mulia Kaisar.
"Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita membiarkan penyakit ini makin banyak memakan korban?" tanya si A.
"Tidak! Aku masih ingin hidup!" Bantah si B yang langsung menolak, dia baru saja menjadi seorang Kakek, ingin melihat cucunya tumbuh besar.
"Jika kita membiarkan begitu saja, akan banyak korban, tapi para Tabib juga tidak menemukan penawarnya!" ucap Si A lagi.
"Bagaimana jika memisahkan yang terkena penyakit!" ujar Si B.
"Memisahkan? Maksudmu bagaimana?" tanya Si A dengan bingung, begitupun dengan yang lainnya.
"Ya, kita buatkan mereka tempat tinggal yang baru di luar Kota!" jelasnya dengan rasa bersalah, di keluarganya juga ada yang tertular.
"Ha, jadi mereka dikeluarkan dari Kota?"
"TIDAK! Apa kalian ingin memberontak? Yang Mulia Kaisar melarang kita untuk membuka pintu gerbang sebelum penyakit itu bisa di atasi." ucapnya dengan sedikit suara meninggi.
"Tapi Tuan, apa yang harus kita lakukan? Jika tidak membiarkan mereka keluar, lama-lama kita semua juga akan terjangkit!" ucap Si B dengan sedikit berani.
Tuan Bupati diam, dia juga tidak tau harus berbuat apa. Dia tidak ingin melanggar perintah dari pusat, tapi dia juga tidak ingin semua orang di Kota Yinzi Terjangkit penyakit itu. Dia benar-benar bingung, selama menjabat sebagai Bupati, apapun masalahnya pasti dia bisa mengatasinya dengan baik. Tapi kali ini benar-benar tidak ada cara mengatasinya, bahkan orang-orang dari pusat saja angkat tangan.
Tuan Bupati menghela nafas berat, dia curiga, mungkin dirinya pernah melakukan kesalahan besar, sampai-sampai Dewa memberinya cobaan yang tak biasa diatasi. Namun, dirinya adalah pejabat yang jujur dan bersih, tidak pernah mengambil yang bukan miliknya, penduduk Kota Yinzi dan Desa di bawah Yurisdiksinya hidup dengan sejahtera. Jadi, di mana letak kesalahannya?
Orang-orang di dalam ruangan masih berdebat dengan pendapat mereka masing-masing, ada yang setuju di bawah keluar, namun ada juga yang menolak, karena orang yang terjangkit itu adalah keluarga mereka, ada orang tua, istri dan anak. Mana mungkin mereka siap berpisah.
Di tengah perdebatan itu, seseorang masuk dengan berlari kerena dikejar oleh penjaga. Dua orang penjaga itu segera menunduk dan berkata. "Tuan, maafkan kami. Kami sudah menahannya, tapi dia tetap menerobos masuk." ucapnya sambil menunduk.
Sebelum Tuan Bupati buka suara, orang yang berlari masuk menyela lebih dulu. "Tuan! Saya memang bersalah, saya siap dihukum. Tapi Izinkan saya mengatakan sesuatu, ini tentang penyakit menular!" jelasnya.
Raut wajah Tuan Bupati yang tadinya menahan amarah langsung mengendur menjadi cemas, dia sangat sensitif dengan penyakit itu, setiap hari ada saja yang melapor tentang penyakit itu.
"Kenapa? Apa ada orang lagi meninggal lagi?" tanyanya dengan suara berat.
"Tidak! Tidak. Saya memang sedang berpatroli dan tidak ada yang meninggal." Dia salah satu penjaga Kota, dan setiap hari berpatroli dengan teman-temannya.
Tapi kali ini dia berpatroli sampai ke pintu gerbang, yang biasanya tak ada satupun yang berani sampai ke sana, karena penyakit itu berasal dari pengungsi yang ada dibalik pintu gerbang itu.
Saat dia ingin berjalan pergi, dia melihat anak kecil berlari dari arah pintu gerbang, segera dia menghentikannya. "Eh berhenti, kenapa kau berkeliaran di luar?"
Anak kecil itu berdiri dengan tubuh gemetar, dengan gugup dia berkata. "Tuan, saya orang miskin, tidak punya uang untuk membeli persediaan. Saya hanya bisa makan dengan mencarinya di tempat pembuangan setiap hari."
Penjaga itu hanya bisa menghela menafas panjang. Dia mengambil sesuatu dibalik bajunya. "Ini ambil dan makanlah" menyodorkan sebuah roti kukus.
Dengan bahagia anak itu mengambilnya, "Terima kasih Tuan!"
"Hmm, pulanglah. Jangan berkeliaran lagi! Kamu bisa tertular penyakit!" Ucapnya.
"Baik Tuan." Anak kecil itu pergi, tapi baru selangkah dia berbalik lagi, lalu berkata "Tuan! Bukan kah penyakit menular itu berasal dari pengungsi? Tapi tadi aku tidak sengaja melihatnya, mereka semua baik-baiknya saja!"
Tuan penjaga terkejut. "Apa katamu? Mereka baik-baik saja? Tidak mungkin!" ucapnya tidak percaya. Bagaimana bisa mereka baik-baik saja. Penyakit itu berasal dari mereka, dan jika mereka bisa membuat obatnya, tentu mereka tidak memohon ingin masuk kota untuk membeli obat. Dan juga tiga hari yang lalu, saat dia mengintip, kondisi mereka benar-benar sangat parah.
"Hmm, Tuan bisa melihatnya sendiri! Saya harus pulang sekarang, Kakakku pasti sudah menungguku!" katanya dan berlari pergi dengan suasana hati yang bahagia. Tugas yang dikasih dari Kakak cantik sudah dia laksanakan, dan sekarang dia juga mengetahui nama Dermawannya.
Tuan penjaga menuju pintu gerbang dengan jantung berdebar, dia tak percaya, tapi juga sedikit berharap. Jika para pengungsi benar-benar sembuh, Kota Yinzi pasti selamat dari penyakit itu.
Dia membuka bongkahan batu kecil dan dia benar-benar melihat para pengungsi dalam kondisi baik, semua beraktivitas seperti biasanya, anak-anak kecil bermain dengan gembira. Segera dia berlari untuk melapor tentang apa yang dilihatnya, dia bahkan menerobos masuk ke dalam ruang rapat, karena para penjaga pintu melarangnya masuk.
"Tuan! Saya benar-benar melihatnya. Jika saya berbohong, saya siap dihukum mati!" ucapnya dengan serius.
Tuan Bupati awalnya tidak percaya, tapi melihat penjaga itu betaruh dengan nyawanya dia langsung meminta pengawal pribadinya untuk pergi melihat langsung.
Pejabat dan para Bangsawan yang ada di dalam ruangan sangat cemas, tentu harapan itu ada dalam hati mereka, apalagi para Tabib, jika memang ada obatnya, orang yang membuatnya pasti orang yang sangat jenius.
Dan setelah menunggu beberapa menit, pengawal itu kembali dan membenarkan apa yang dikatakan penjaga tersebut. Dirinya juga sangat senang saat melihatnya langsung.
"Tunggu apa lagi, ayo kita kesana! Kita minta obatnya!" Ucap si A.
"Ya, kita harus mengambil obatnya sebelum penyakit ini makin banyak memakan korban!" Kata Si B dengan antusias, akhirnya dia bisa merasakan yang namanya menjadi seorang Kakek.
Yang lainnya juga ikut mendesak Tuan Bupati untuk segera ke pintu gerbang. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan kondisi seperti itu, keberadaan mereka terbatas untuk bergerak.
"Jangan terburu-buru! Kita harus merundingkannya terlebih dahulu. Orang yang bisa membuat obat yang sangat langka pasti bukan orang biasa, jangan membuatnya tersinggung!" Kata Tuan Bupati dengan bijak.
Ruangan kembali hening. Ya, orang itu pasti memiliki ilmu pengobatan yang sangat tinggi, Tabib di Ibu Kota saja tidak mampu. Jangan sampai Tabib Sakti itu tidak ingin menjual obatnya.
Ngomong-ngomong soal Tabib Sakti, mereka merasa sangat familiar. Setelah diingat-ingat, serentak mereka saling tatap. "Jangan-jangan dia!"
...----------------...
Rombongan Desa Suning saat ini baru saja selesai makan siang, Kepala Desa dan para Tetua sedang rapat kecil, dan Aruna juga ada diantara mereka.
"Bagaimana ini? Apakah kita harus menunggu lagi?" tanya seseorang.
"Apa yang harus ditunggu? Kita bisa melanjutkan perjalanan besok pagi. Tapi kita harus ambil jalan memutar, karena pintu gerbang tidak akan tebuka untuk saat ini!" jelas Ayah Lin.
"Ah jalan memutar? Berarti kita harus lewat hutan ya?" Tanya Paman Ji Min dengan sedikit merinding, biarpun saat ini dia sedikit menguasai pertahanan, tapi yang namanya binatang buas tetap menyeramkan.
"Kami para orang tua hanya bisa mengikuti keputusan kalian, kami tak bisa apa-apa. Yang penting kami tidak jadi beban itu sudah cukup lebih baik!" ucap salah satu dari tetua. Para tetua lainnya langsung mengangguk setuju.
"Nak bagaimana denganmu?" tanya Kelapa Desa kepada Aruna.
"Tenang saja! Kita tidak perlu lewat jalan memutar. Mungkin kita harus menunggu sehari lagi!" Ucapa Aruna.
"Nak apa maksudnya?" tanya Kepala Desa dengan heran, begitupun dengan yang lainnya, mereka tidak bisa menebak, karena Aruna sering bersikap misterius.
"Pintu gerbang akan terbuka hari ini!" Ucap Aruna sambil tersenyum geli melihat respon mereka yang sangat serius.
Semua orang terkejut, kemudian bersorak bahagia. Mereka langsung percaya apa yang dikatakan Aruna, Jika Aruna berkata A maka A, jika B maka B. Tapi dalam hati mereka juga bertanya-tanya, apa yang sudah Aruna lakukan di dalam Kota? Sampai membuat pintu gerbang harus dibuka, tapi mereka yakin, itu bukanlah suatu hal yang buruk.
Dan benar saja, selang beberapa menit pintu gerbang terbuka dan sebuah kereta kuda berjalan keluar menuju rombongan pengungsi.
"Pintu gerbang terbuka!" seru seseorang.
"Yeeeyyy, pintu gerbang terbukaaa!" para bocah juga sangat antusias.
"Wahh, ternyata benar-benar terbuka!" ucapnya dengan mata berbinar.
Semua orang menatapnya, seolah mengatakan, 'Apa maksudmu berkata seperti itu? Apakah kamu tidak percaya dengan ucapan Aruna?'.
Orang itu langsung gugup dan berkata, "Tidak-tidak, aku cuman kagum saja!" dia cengengesan dengan menghela nafas lega karena yang lainnya tidak lagi peduli.
Kareta kuda yang keluar dari Kota berhenti di rombongan pengungsi yang ada di depan, tapi tak lama, kereta tersebut berjalan kembali menuju ka arah rombongan mereka.
Kepala Desa dan yang lainnya segera berdiri, Tidak ada lagi rasa gugup atau takut seperti sebelumnya, mereka berdiri dengan postur tubuh yang tegap.
Seorang pria paruh baya turun dari kereta, dia tampak sedikit terkejut melihat rombongan pengungsi yang ada di depannya, dilihat dari raut wajah mereka terlihat tidak sedang pergi mengungsi.
"Salam Tuan!" Ucap Kepala Desa sambil menunduk dan diikuti yang lainnya.
"Ya, bangkitlah!" pintanya dengan kagum.
"Tuan! perkenalkan, saya Kepala Desa dari Desa Suning."
"Oh baguslah, saya Bupati Kota Yinzi!" balasnya dengan ramah.
Semua tak menyangka, ternyata orang yang keluar dari gerbang Kota adalah Tuan Bupati, apa yang membuat Tuan Bupati sampai menemui mereka? Apa jangan-jangan Aruna telah memberitahu tentang obatnya?.
Tuan Bupati langsung menghentikan mereka saat Melihat Kepala Desa dan yang lainnya kembali ingin memberi hormat. "Tak perlu, saya tidak ingin bertele-tele, kalian pasti sudah mendengar situasi yang terjadi. Jadi saya ingin meminta maaf kepada Kalian, karena pintu gerbang tertutup yang membuat kalian menunda perjalanan."
Kepala Desa terkejut dengan sikap Tuan Bupati, "Tuan tak perlu minta maaf, ini bukan salah Anda. Memang kita sebagai pemimpin harus mengambil tindakan yang bijak!"
Tuan Bupati mengangguk. "Ya, jadi kedatangan saya ke sini ingin memohon kepada Tabib Kalian, untuk membuat obat penawar dan menjualnya kepada orang-orang yang ada di dalam Kota Yinzi."
Kepala Desa Kembali dibuat terkejut, sikap Bupati membuatnya sedikit tak biasa. Dia benar-benar merendahkan diri untuk keselamatan warganya, panutan yang benar-benar patut di contoh.
"Salam ke pada Tuan Bupati!" Tiba-tiba Aruna muncul dari belakang. Dia juga sedikit kagum dengan sikap Tuan Bupati, orang seperti ini harus dihormati dan diberik muka.
"Maaf menyela, Jika Tuan ingin obatnya silahkan ambil, obatnya sudah tersedia. Saya sudah membuatnya, karena saya sudah menebak apa yang terjadi di dalam Kota!"
Tuan Bupati menatap Aruna dengan penuh tanda tanya, siapa gadis cantik itu? Apakah benar-benar mereka ini para pengungsi? Dia tersadar dari rasa penasarannya. " Kalau boleh tau nona ini siapa?"
"Tuan, saya salah satu warga Desa Suning. Kebetulan, saya sedikit mengetahui tentang pengobatan. Dan beberapa hari yang lalu tanpa sengaja berhasil membuat penawar penyakit itu!"
Semua warga Desa Suning membenarkan ucapan Aruna. Tapi tidak dengan Tuan Bupati, dia bukan orang bodoh, apa maksudnya 'tanpa sengaja?' mana ada hal seperti itu? Namun dia berpikir dengan cepat, mungkin Aruna tidak ingin statusnya diketahui banyak orang.
"Memiliki sedikit ilmu, itu sudah sangat bagus. Jadi Nona Aruna, bagaimana cara kami harus membeli obat penawarnya?" tanya Tuan Bupati dengan perasaan campur aduk. Orang yang biasanya memiliki keahlian, pasti berlomba-lomba untuk memperlihatkan kepada orang lain agar mendapat pujian, tapi kenapa Aruna malah bersikap acuh.
"Tuan saya tidak ingin menyusahkan warga Anda, berikan saja apa yang kalian miliki!" ucap Aruna sambil tersenyum.
Setelah berbincang sejenak, Aruna meminta seseorang mengambil obatnya dalam kereta, ada sekitar tiga dos dengan terisi penuh, Aruna juga mengatakan, jika masih kurang Tuan Bupati hanya perlu mengutus seseorang untuk datang mengambil lagi. Dan pembayaran boleh dilakukan esok hari jika mereka sudah melihat khasiat obatnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Tuan Bupati bergegas naik kereta dengan perasaan berkecamuk, permintaan Aruna yang katanya tidak ingin menyusahkan malah makin membuatnya tertekan, apa yang dia miliki?
lanjut thorr💪💪💪