Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: KODE RAHASIA DI BALIK SENYUMAN
Lampu flash kamera yang membabi buta membuat mata Alana perih, namun rasa panas di pinggangnya jauh lebih menyiksa. Tangan Arkano di sana terasa seperti besi panas yang mengunci pergerakannya. Di depan puluhan lensa kamera, mereka tampak seperti pasangan paling serasi di abad ini: Sang Raja Bisnis yang misterius dan Istri cantiknya yang mempesona.
"Tersenyum, Alana. Kau terlihat seperti sedang menuju tiang gantungan, bukan menuju pelaminan," bisik Arkano, suaranya halus bagai beludru namun mengandung ancaman mutlak.
Alana memaksakan sudut bibirnya terangkat. "Aku memang sedang menuju tiang gantungan. Dan kau adalah algojonya."
Arkano terkekeh pelan, sebuah akting yang sempurna untuk menunjukkan kemesraan di depan publik. Ia membawa Alana berjalan lebih dalam ke tengah aula mewah tersebut. Di sana, para petinggi bisnis, pejabat, bahkan beberapa orang yang Alana curigai sebagai gembong kriminal kelas kakap, berdiri memegang gelas sampanye.
Di sudut ruangan, dekat pilar besar, Rian masih berdiri di sana. Rekan setimnya itu tampak gelisah. Alana tahu Rian sedang mencoba membaca situasi. Sebagai sesama agen intelijen, mereka memiliki bahasa isyarat tangan yang hanya dipahami oleh anggota 'The Silent Cat'.
Aku harus memberitahunya bahwa aku terjebak. Aku harus memberitahunya soal pengkhianatan Komisaris Hendra, batin Alana kalut.
"Tuan Dirgantara! Selamat atas pernikahannya!" seorang pria berperut buncit menghampiri mereka. "Siapa sangka, pria sedingin Anda akhirnya bertekuk lutut pada seorang wanita."
Arkano menyesap minumannya dengan elegan. "Beberapa hal berharga memang layak untuk ditaklukkan, Pak Surya."
Saat Arkano terlibat pembicaraan serius soal proyek pelabuhan, Alana melihat celah. Arkano sedikit melonggarkan pegangannya untuk menyalami kolega tersebut. Alana segera mengambil gelas jus dari nampan pelayan yang lewat, lalu dengan sengaja memposisikan jemarinya di batang gelas.
Ia menggerakkan telunjuknya:
Ketuk-diam-ketuk-ketuk. Itu adalah kode sandi Morse untuk: D-A-N-G-E-R (Bahaya).
Rian yang memperhatikannya dari kejauhan sedikit mengangguk. Ia mulai bergerak perlahan mendekat ke arah area prasmanan, tempat yang lebih dekat dengan posisi Alana.
"Sepertinya kau sangat haus, Sayang?" Arkano tiba-tiba menoleh, matanya yang tajam menatap jemari Alana yang masih berada di batang gelas.
Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia segera meminum jusnya untuk menutupi kegugupan. "Ya, di sini sangat gerah."
"Atau kau sedang mencoba mengirim pesan lewat gelas itu?" suara Arkano mendingin. Tekanan di pinggang Alana kembali menguat, kali ini begitu kencang hingga Alana sedikit meringis. "Jangan pernah berpikir kau bisa membodohiku di rumahku sendiri."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," elak Alana dengan wajah datar andalannya.
Tiba-tiba, seorang pelayan menabrak Rian yang sedang menyamar sebagai fotografer. Terjadi keributan kecil. Rian menjatuhkan kameranya, dan saat ia membungkuk untuk mengambilnya, ia sengaja menjatuhkan sebuah alat pelacak kecil sebesar kancing baju di bawah meja dekat Alana.
Alana melihatnya. Itu adalah kesempatan emas. Jika ia bisa menginjak alat itu dengan sepatunya, alat itu akan menempel di bawah tumitnya dan Rian bisa melacak keberadaan markas rahasia Arkano nantinya.
Alana menggeser kakinya perlahan. Sedikit lagi... hampir kena...
Crak!
Bukan kaki Alana yang menginjak alat itu, melainkan sepatu pantofel mengkilap milik Arkano. Dengan gerakan yang terlihat tidak sengaja namun sangat bertenaga, Arkano menginjak alat pelacak itu hingga hancur berkeping-keping di bawah sol sepatunya.
Alana membeku. Harapannya hancur bersama alat itu.
Arkano menunduk, berbisik tepat di telinga Alana hingga napas hangatnya menyentuh kulit sensitif wanita itu. "Mainan yang murahan. Katakan pada temanmu, jika dia tidak segera pergi dalam tiga menit, aku tidak menjamin dia bisa keluar dari sini dengan kedua kaki yang masih utuh."
Wajah Alana memucat. "Arkano, jangan..."
"Dua menit lima puluh detik, Alana."
Alana segera menatap Rian, memberikan gelengan kepala kecil yang sangat samar—sebuah tanda untuk segera abort mission. Rian tampak ragu sejenak, namun melihat sorot mata Alana yang penuh ketakutan, ia akhirnya mundur dan menghilang di balik pintu keluar darurat.
Lemas. Alana merasa kakinya hampir tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Dunianya benar-benar telah dikunci oleh Arkano.
Setelah acara konferensi pers yang melelahkan berakhir, Arkano membawa Alana kembali ke lantai atas. Begitu pintu kamar tertutup, Arkano langsung menyentakkan tangan Alana dan mendorongnya ke arah pintu hingga punggung wanita itu menghantam kayu keras.
"Kau berani bermain-main denganku di depan umum?!" Arkano menggeram. Kedua tangannya mengunci Alana, wajahnya hanya berjarak beberapa inci. Amarah terpancar jelas dari mata hitamnya yang pekat.
"Dia temanku! Dia hanya ingin memastikanku baik-baik saja!" teriak Alana, amarahnya yang tertahan sejak pagi akhirnya meledak.
"Kau menghancurkan hidupku, Arkano! Kau menjebakku dalam pernikahan ini, kau menunjukkan padaku bahwa orang yang kupercaya adalah pengkhianat. Apa lagi yang kau mau dariku?!"
Air mata mulai menggenang di mata Alana, bukan karena lemah, tapi karena rasa frustrasi yang luar biasa.
Arkano terdiam sejenak melihat air mata itu. Tangannya yang besar terangkat, ibu jarinya menghapus air mata di pipi Alana dengan gerakan yang anehnya terasa lembut, kontras dengan kilat kemarahan di matanya tadi.
"Aku menginginkan loyalitasmu, Alana," ucap Arkano dengan nada rendah yang bergetar. "Dunia luar sudah membuangmu.
Polisi-polisi itu menganggapmu sampah yang bisa dijual. Hanya di sini, bersamaku, kau memiliki harga."
"Dengan cara menjadi tawananmu?" tantang Alana dengan suara bergetar.
"Dengan cara menjadi ratuku," ralat Arkano. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Kau pikir aku memilihmu hanya karena kau agen polisi? Ada ribuan agen di luar sana. Tapi hanya kau, 'The Silent Cat', yang berani menodongkan pisau ke leherku saat aku sedang tidur di pertemuan bawah tanah tahun lalu. Sejak saat itu, aku tahu kau harus menjadi milikku."
Alana terbelalak. Jadi, Arkano sudah mengincarnya sejak setahun yang lalu? Misi penyusupan ke mansion ini... apakah itu juga bagian dari rencana Arkano untuk memancingnya masuk ke perangkap?
"Kau... kau udah gila," bisik Alana ngeri.
"Mungkin," Arkano menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat tampan namun sangat berbahaya. "Dan orang gila ini tidak akan pernah melepaskan mangsanya."
Tiba-tiba, Arkano mengangkat tubuh Alana dengan mudah dan menghempaskannya ke atas ranjang king size yang empuk. Alana mencoba bangkit, namun Arkano sudah menindihnya, mengunci kedua tangan Alana di atas kepala dengan satu tangan.
"Lepaskan! Arkano, kita punya perjanjian!"
"Perjanjian itu mengatakan kau adalah istriku. Dan seorang istri tidak boleh menyembunyikan rahasia dari suaminya," Arkano mulai menciumi leher Alana, membuat wanita itu meronta-ronta namun di saat yang sama, ada sensasi aneh yang mulai merayapi tubuhnya—sebuah debaran jantung yang tidak seharusnya ada untuk seorang musuh.
"Berhenti... Arkano..." suara Alana melemah, berubah menjadi desahan halus yang justru memicu gairah pria di atasnya.
Arkano berhenti sejenak, menatap mata Alana yang sayu. "Kau membenciku, Alana. Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau tertarik padaku sama besarnya dengan kau ingin membunuhku."
Tepat saat suasana semakin panas, ponsel rahasia di saku jas Arkano bergetar. Arkano menggeram kesal, ia melepaskan kunciannya dan bangkit untuk mengangkat telepon.
"Apa?!" bentak Arkano pada si penelepon.
Wajah Arkano mendadak berubah serius. "Di mana? Siapkan tim. Jangan biarkan mereka lolos."
Arkano mematikan telepon dan menatap Alana yang masih terbaring di ranjang dengan napas terengah-engah.
"Selamat, Istriku. Sepertinya teman-teman polisimu tidak menyerah begitu saja. Mereka baru saja mencoba menyerang salah satu gudang logistikku di pelabuhan. Dan kau... kau akan ikut bersamaku untuk melihat bagaimana caraku menangani para pengkhianat."
Alana terperanjat. Gudang logistik? Itu adalah misi yang pernah ia susun bersama Rian sebelum ia tertangkap.
"Jangan sakiti mereka, Arkano!"
Arkano mengambil sepucuk pistol dari laci meja samping tempat tidur, memeriksanya dengan gerakan dingin, lalu menatap Alana dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
"Itu tergantung padamu, Alana. Pakai pakaian yang nyaman untuk bergerak. Malam ini, kau akan belajar bahwa di duniaku, kesalahan kecil berarti kematian."
Alana kini harus ikut ke lokasi penyerangan. Haruskah ia membantu rekan-rekan polisinya dan berisiko dibunuh oleh Arkano, atau justru melihat teman-temannya tewas di tangan suaminya sendiri?