"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: SENTUHAN SANG PREDATOR
Ghea berusaha bangkit, jemarinya mencengkeram pinggiran sprei dengan sisa tenaga yang ia miliki. Rasa nyeri menyengat dari kakinya, mengingatkannya pada trauma benturan keras yang menghancurkan dunianya. Ia harus mencari sepatunya. Sepatu itu bukan sekadar alas kaki; di sana tersimpan kunci yang bisa membawanya pulang pada jati dirinya yang hilang.
Meskipun Adrian sudah dengan lantang menyebutnya sebagai seorang detektif, memori di otak Ghea seperti ruangan kosong yang gelap gulita. Tak ada setitik cahaya pun yang menuntunnya pada kilasan masa lalu. Siapa dia sebenarnya? Siapa orang tuanya? Dan yang paling penting, dosa apa yang pernah ia lakukan hingga terperangkap dalam sangkar pria bernama Adrian ini?
Ghea menatap kedua kakinya yang terbalut perban tipis. Luka itu seolah mengolok-oloknya, melumpuhkan insting bertahan hidup yang seharusnya ia miliki sebagai seorang penegak hukum. Karena tak sanggup berdiri, Ghea memutuskan untuk turun dari kasur dengan merangkak. Napasnya memburu, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya saat ia menyeret tubuhnya di atas lantai kayu yang dingin.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka membuat jantung Ghea seolah berhenti berdetak. Ia membeku di lantai, mendongak dengan posisi yang sangat rendah dan hina di depan pria yang kini berdiri di ambang pintu.
"Kau mau ngapain?"
Pertanyaan itu keluar dari bibir tipis Adrian dengan nada yang sangat tenang, namun memiliki vibrasi yang menekan. Adrian tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan cahaya lampu koridor menciptakan bayangan panjang yang menelan tubuh Ghea.
Ghea terdiam. Jantungnya berpacu hebat, menciptakan dentuman di telinganya sendiri. Ia menatap wajah Adrian. Pria itu memang tampan—terlalu tampan untuk ukuran seorang monster. Hidungnya mancung sempurna, rahangnya tegas seolah dipahat dari batu pualam. Namun, di balik ketampanan itu, Ghea bisa membaca kilat ancaman yang nyata.
"Kau mau ke mana, Sayang?" Adrian akhirnya melangkah masuk. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai kayu terdengar seperti hitungan mundur kematian. Ia berjongkok di depan Ghea, menyamakan tingginya, memaksa Ghea menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedalam palung.
"Aku... aku ingin mandi dan berganti baju. Tubuhku terasa gerah," ucap Ghea, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar.
Adrian tersenyum. Sebuah senyuman manis yang sanggup meluluhkan hati wanita mana pun yang tidak tahu siapa pria ini sebenarnya. Namun bagi Ghea, lengkungan bibir itu terasa lebih mengerikan daripada todongan senjata.
"Baiklah. Aku akan memandikan mu," jawab Adrian pelan, namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah.
Mata Ghea membelalak. Dunia seolah berputar lebih cepat. "Memandikanku?! Tapi... bisakah kamu meminta Bi Inah saja yang melakukannya?"
Adrian menggeleng pelan, tangannya terulur mengusap pipi Ghea yang pucat. "Ada aku di sini. Kenapa harus Bi Inah? Bukankah aku tunanganmu?"
Ghea merasakan mual di perutnya mendengar kebohongan itu diulang kembali. Padahal baru saja kemarin pria ini mengungkap identitas aslinya. Mengapa sekarang dia kembali bermain peran sebagai tunangan yang penuh kasih?
"Aku bukan tunanganmu!" seru Ghea, keberaniannya mencuat sesaat.
Tawa Adrian pecah, menggelegar memenuhi ruangan kamar yang kedap suara itu. "Meski kau menolak sampai napas terakhirmu, kenyataannya tetap sama. Di mata dunia, kau adalah tunanganku. Milikku."
Tanpa peringatan, Adrian meraup tubuh Ghea, menggendongnya dalam posisi bridal style. Ghea yang terkejut segera memberontak, tangannya memukul-mukul dada bidang Adrian yang keras seperti baja. "Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku!"
Adrian tak bergeming. Ia membawa Ghea ke dalam kamar mandi mewah yang sudah dipenuhi uap air hangat. Tanpa basa-basi, ia menurunkan tubuh Ghea ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh. Air hangat itu segera meresap ke pakaian rumah sakit yang dikenakan Ghea, membuatnya menempel ketat di tubuhnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri!" pekik Ghea, mencoba berpegangan pada pinggiran porselen bathtub.
"Yakin, bisa sendiri?" Adrian menaikkan satu alisnya, menatap kaki Ghea yang malang.
Pertanyaan itu seketika membungkam mulut Ghea. Keheningan yang memalukan menyelimuti mereka. Ia sadar, ia tidak punya pilihan. Luka di kakinya masih terlalu basah, dan tubuhnya masih terlalu ringkih untuk sekadar duduk tegak tanpa bantuan.
Dengan gerakan yang sangat telaten, Adrian mulai menuangkan sabun ke spons lembut. Ia mulai menggosok bahu Ghea, turun ke lengan, lalu ke punggungnya. Ghea hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu sekaligus murka. Ia mengutuk kelemahannya sendiri. Detektif macam apa dia, yang membiarkan musuhnya menyentuh setiap inci kulitnya dengan cara yang begitu intim.
Selesai dengan ritual yang menyiksa batin itu, Adrian mengangkat Ghea kembali ke atas ranjang. Ia mengeringkan tubuh Ghea dengan handuk lembut seolah Ghea adalah porselen mahal yang mudah pecah. Ghea hanya bisa pasrah, matanya terus mengikuti setiap pergerakan Adrian yang begitu rapi dan terorganisir. Ada sesuatu yang salah dengan pria ini—ketenangannya adalah sesuatu yang tidak wajar.
Adrian kemudian berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan. Lemari itu tampak kosong, hanya ada dua stel pakaian tidur sederhana di sana. Namun, Adrian berbalik dan menatap Ghea dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan ambilkan gaun yang cocok untukmu. Aku sudah memesannya sejak lama, dan hari ini adalah waktu yang sempurna bagi kamu untuk memakainya."
Adrian mendekat kembali, menumpukan tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Ghea, lalu berbisik tepat di telinganya. "Gaun ini yang akan membuatmu terlihat lebih seksi, mantan detektif Ghea Zanna."
Bulu kuduk Ghea meremang. Suara napas Adrian di lehernya terasa seperti hembusan angin dari neraka. Sebenarnya siapa pria ini? Jika dia mengenalnya sejak tiga tahun lalu, apakah Adrian adalah salah satu target yang gagal ia ringkus? Ataukah ia adalah monster yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kasus yang ia tangani?
Setiap pertanyaan yang muncul di kepala Ghea hanya berakhir di jalan buntu. Memorinya benar-benar kosong, menyisakan ruang luas bagi Adrian untuk mengisi kepala Ghea dengan kebohongan apa pun yang ia inginkan.
Tak lama kemudian, Adrian kembali membawa sebuah gaun satin berwarna putih polos yang berkilau di bawah cahaya lampu. "Pakailah ini. Setelah itu, aku akan mengobati luka di kakimu. Jangan mencoba untuk bergerak sendirian lagi, Ghea. Aku tidak suka melihat milikku menyakiti dirinya sendiri di atas lantai yang kotor."
Ghea menatap gaun putih itu dengan perasaan ngeri. Putih melambangkan kesucian, namun di tangan Adrian, gaun itu terasa seperti kafan yang akan mengubur kebebasannya selamanya.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....