Clarissa Atmaja yang baru kembali dari studinya disambut dengan tanggal pernikahan untuk menikahi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, laki-laki pilihan papanya. Namun, saat kembalinya ia dipertemukan dengan laki-laki yang menggetarkan hatinya, dan membuatnya jatuh cinta.
Angga yang dulunya pria yang hangat, berubah jadi dingin dan tak ingin lagi mengenal dengan yang namanya perempuan karena sakit hati dengan perempuan masa lalunya. Sehingga, membuat orang-orang berpikir dan menganggapnya laki-laki yang tidak normal atau tidak menyukai perempuan. Tetapi, Rissa bertekad untuk mengejar cintanya, dan menaklukkan laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan, dan tentang isu mengenai laki-laki yang ia sukai.
Mampukah Rissa menaklukkan hati Angga Wijaya atau ia akan menikahi laki-laki pilihan papanya yang sudah menjadi tunangannya?
oh ya kak jika berkenan follow Instagram aku mamika759
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nggak ada akhlak
Keesokan paginya, Melly dan Anggun sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sedangkan Rissa, dirinya masih tergolek di atas tempat tidur sambil memperhatikan kedua sahabatnya berdandan.
"Lo, nggak berangkat kerja?" tanya Anggun yang menatap Rissa dari pantulan kaca riasnya. Biasanya Rissa sudah bersiap untuk berangkat kerja.
"Gue malas!" sahut Rissa lesu. Ia menarik kembali selimutnya, dan menutupi tubuhnya.
Melly berjalan ke arah tempat tidur Rissa, "Hei, jangan bilang karena Angga nolak, Lo, Lo jadi nggak mau masuk kerja!" Melly menarik selimut yang menutupi tubuh Rissa.
"Apaan sih Lo, dingin tau!" Rissa kembali menarik selimutnya, dan menutupi kembali tubuhnya dengan selimut.
"Liat Nggun, temen Lo! Gara-gara cinta ditolak, dianya mogok kerja!" ucap Melly pada Anggun sambil menunjuk Rissa yang tertidur.
"Ris, cinta ditolak, harusnya dukun yang bertindak. Kenapa Lo, jadi mogok kerja?" ucap Anggun yang ikut menggoda Rissa.
"Rese banget kalian berdua!" Rissa membuang selimutnya, dan bangkit dari tidurnya.
"Siapa juga yang mogok kerja karena cinta gue ditolak? Gue itu, emang udah izin sama Angga kemaren, kalau gue nggak masuk kerja," ucap Rissa yang kesal.
"Kirain gue...."
"Kirain.. kirain apa Lo! Gue tu takut Erik, nungguin gue lagi di kantor, gue!" ucap Rissa lesu.
"Kasian banget nasib, Lo, Ris!" ucap Melly dengan menggelengkan kepalanya, menatap wajah Rissa.
"Biasa aja muka, Lo! Jangan kasianin gue!" Rissa berdiri, lalu mengusap wajah Melly.
"Tunggu gue. Gue nebeng kalian!" ucap Rissa sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Lo, mau kemana?" tanya Anggun.
"Kerja," sahut Rissa sambil masuk ke dalam kamar mandi.
***
Selesai bersiap, mereka bertiga keluar dari apartemen. Dengan hati-hati Rissa keluar dari apartemennya.
"Hei, kalian inget nggak pesen gue! Kalo ada orang yang mau nangkep gue, jangan kalian diam aja. Kalian teriak aja, penculik!" Rissa mengingatkan kembali pesannya pada kedua sahabatnya.
"Gimana ceritanya, kalo yang nangkep Lo, bokap Lo? Masa kita mau neriakin bokap, Lo, penculik. Bisa berabe kita!" jawab Melly.
Anggun yang mendengar ucapan Melly tertawa. Begitupun Rissa yang juga baru menyadari ucapannya.
"Ya, kalian tetep teriak aja!" ucap Rissa sambil tertawa.
"Anak durjana, Lo, Ris!" Anggun memukul pelan bahu Rissa.
Tak lama, mereka bertiga sampai di basemen, tempat dimana mobil Anggun terparkir. Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil, dengan posisi duduk Rissa di kursi penumpang belakang, Melly duduk di kursi samping pengemudi, dan Anggun yang mengemudikan mobilnya.
"Kok, bokap sama Erik nggak nangkap gue!" ucap Rissa yang merasa heran, karena orang tuanya, dan tunangannya tidak bergerak untuk menangkap dirinya.
"Bagus dong kalo gitu. Mungkin bokap Lo, sama Erik sadar, kalo Lo, nggak mau nikah sama Erik," sahut Anggun sembari mengemudikan mobilnya.
"Bagus apanya? Gue takut mereka udah nyiapin rencana lain!" ucap Rissa yang malah semakin takut, dengan rencana yang dibuat papanya, dan tunangannya.
"Lo, bener Ris. Jangan-jangan Erik, sama bokap Lo, lagi nyiapin pernikahan Lo. Mungkin, nunggu mereka selesai nyiapin, baru Lo, diangkut buat dikawinin sama Erik. Mamp*s Lo! Jika itu bener rencana mereka," ucap Melly dengan berbagai macam pemikirannya.
"Kebanyakan baca novel, Lo!" Anggun menoyor kepala Melly mendengar ucapan Anggun.
"Kan itu hanya spekulasi gue! Siapa tau, itu emang rencana yang mereka rencanakan," jawab Melly.
"Lo, jangan nakutin gue, Mel," ucap Rissa yang kepikiran dengan ucapan Melly. Walaupun sedikit konyol, papanya akan melakukan hal itu, tapi ia juga takut, kalau ucapan Melly benar.
"Gue bukan nakutin, Lo! Lo, pikir aja sendiri! Kenapa bokap Lo, sama Erik, diam aja? Nggak mungkin kan mereka nggak tau, keberadaan, Lo, sekarang?" Rissa membenarkan perkataan Melly.
"Tumben banget otak, Lo, encer!" ucap Anggun yang juga membenarkan ucapan Melly.
"Kalian baru sadar, kalo gue itu jenius!" ucap Melly terkekeh.
"Jadi, apa yang harus gue lakuin?"
"Bentar yah! Gue pikir dulu, apa yang harus, Lo, lakuin!" Melly menunjuk-nunjuk dagunya memikirkan apa yang harus dilakuin sahabatnya itu. Rissa duduk bersandar, menunggu jawaban Melly.
"Ris...." Melly berbalik melihat Rissa.
"Apa?" dengan cepat Rissa menyahut panggilan Melly.
"Apa rencana, Lo?" tanya Rissa yang penasaran dengan rencana yang ada dipikiran sahabatnya itu.
Melly menyengir, dan menggaruk-garuk kepalanya, "Gue juga nggak tau, apa yang harus, Lo, lakuin! Mana, bokap Lo, kerja sama dengan perusahaan Angga. Gue yakin bokap, Lo, sudah nungguin di sana, dengan alasan kerja," jelas Melly.
Rissa kembali tersadar dengan ucapan sahabatnya itu. Kalau perusahaan tempat ia berkerja, berkerja sama dengan perusahaan papanya.
"Astaga, kenapa gue ngelupain itu? Untung, Lo, ngingetin gue!" ucap Rissa yang sangat bersyukur, karena Melly telah mengingatkan dirinya.
"Nggun, puter balik ... puter balik, Nggun!" pinta Rissa, mengejutkan Anggun yang sedari tadi fokus mengemudi.
"Lo, mau kemana?" tanya Anggun sambil melirik dari kaca spionnya.
"Gue mau pulang! Gue nggak jadi masuk kerja!" jawab Rissa.
"Becanda Lo, Ris! Kesiangan kita, kalo ngaterin Lo, pulang," ucap Anggun yang melirik jam di pergelangan tangannya.
"Gue harus kemana, kalo gue nggak ke apartemen? Ke kantor, pasti bokap gue ada di kantor gue," ucap Rissa yang mulai panik.
Anggun menghela nafasnya panjang, "Lo, pikir, kalo Lo, di apartemen, Lo, aman?" ucap Anggun yang masih melajukan mobilnya.
"Iya juga, yah! Kenapa otak gue nggak bekerja, sih, sekarang?" umpat Rissa sambil memukul pelan dahinya
"Udah, Lo, ke kantor aja! Lagian juga, bokap Lo, Nggak bakal berani rusuh di lapak orang! Apalagi itu perusahaannya Angga," ucap Anggun menenangkan Rissa.
"Woy, kayak Lo, nggak tau aja gimana temperamennya bokap Rissa, yang suka ngerusuh," timpal Melly yang mengejutkan Rissa dan Anggun.
"Duh, kalian jangan bikin gue galau dong! Kemana gue ini? Mana bentar lagi, nyampe kantor, gue!" ucap Rissa yang kesal.
"Terserah, Lo Ris! Gue juga bingung mau narok, Lo, dimana?" ucap Melly.
"Udah deh, ke kantor aja! Gue juga ogah, ngaterin Lo, balik ke apartemen! Udah telat nih!" seru Anggun.
"Jahat banget sih, Lo!" sahut Rissa kesal.
"Bokap Lo, tuh yang jahat!" timpal Melly sambil tertawa.
"Woy, bokap gue, yang Lo katain! Emang nggak ada akhlak ya kalian, gue diemin dari tadi ngatain bokap, gue!" ucap Rissa sambil menjewer telinga Melly.
"Sakit Ris!" rengek Melly setelah Rissa melepaskan tangannya, dari telinganya. Melly mengusap-usap telinganya.
"Lebai banget sih, Lo. Gue cuma pegang doang! Gue jewer beneran, Lo!" Rissa kembali mengangkat tangannya hendak menempelkan pada telinga Melly.
"Ampun ... ampun gue, Ris. Nggak lagi, gue ngatain bokap, Lo!" ucap Melly sambil mengatupkan kedua tangannya.
Rissa, dan Anggun pun tertawa melihat ekspresi wajah Melly, yang menyek-menyek, di mata mereka berdua.
Bersambung.
Hai kak... makasih sudah baca ceritanya...
jangan lupa dukungannya vote, like, dan komentarnya biar nulisnya semangat 🤭😍