NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Satu — Kota Abadi bukan Sekedar Zona Aman

Selamat membaca cerita baruku, semoga suka ya...

Di salah satu truk, seorang anak kecil duduk diam di samping ibunya. Keduanya menatap lurus ke depan. Tidak berkedip, tidak juga berbicara. Arsya merasakan sesuatu mencengkram dadanya. “Kalau ini terjadi di Kota Sejuk…” ia berbisik.

Jay menyelesaikan kalimatnya. “Berarti kota Abadi bukan sekedar zona aman.”

Salah satu tentara tiba-tiba menoleh ke arah pepohonan tempat mereka bersembunyi. Semua langsung menunduk lebih rendah. Beberapa detik menegangkan. Namun tentara itu kembali fokus pada truk. Konvoi mulai bergerak, satu per satu truk melaju ke arah barat.

Ke arah yang sama dengan tujuan mereka. Niki menatap Jay. “Kita masih mau ke sana?” Jay terdiam. Kalau orang tuanya benar dievakuasi.. Apakah mereka juga menerima vaksin itu?

Apakah “aman” berarti… terkendali? Arsya menggenggam tongkatnya lebih erat. “Kita tidak bisa kembali,” katanya pelan. “Dan kita tidak bisa tetap disini.” Jay menatap konvoi yang menjauh, debu mengepul di belakang roda besar itu.

“Kalau kita ingin tahu kebenarannya,” ujarnya akhirnya, “kita harus melihat sendiri apa yang ada di Kota Abadi.”

Niki menyeringai tipis. “Berarti kita menuju pusat eksperimen.” Jay mengangguk, “bisa jadi.” jawab Jay.

Arsya menatap rumah-rumah kecil yang sudah ditinggalkan oleh truk tentara itu. “Bagaimana jika, kita periksa rumah rumah itu terlebih dahulu? Baru kita lanjut ke perjalanan? Siapa tau ada sesuatu informasi yang akan kita dapati disana.”

Saran Arsya. Membuat semuanya setuju untuk memeriksa terlebih dahulu, namun hanya Jay, Niki, dan Arsya. Sedangkan Regan dan Lyno stay di tempat persembunyian mereka. Jay megangguk singkat. “Cepat. Lima belas menit. Kalau ada apa-apa, langsung kembali ke titik awal.”

Regan menepuk bahu Lyno pelan. “Kami jaga sini.” Lyno ingin protes, tapi akhirnya hanya mengangguk. “Hati-hati.”

🍂

Tiga orang itu bergerak menyusuri pagar belakang rumah-rumah kecil yang baru saja ditinggalkan. Pintu beberapa rumah masih terbuka. Tirai berkibar pelan tertiup angin.

Sepi.

Terlalu sepi.

Arsya melangkah masuk ke rumah pertama. Bau obat dan logam samar tercium di udara.

Ruang tamu berantakan, tapi bukan seperti dijarah. Lebih seperti ditinggalkan terburu-buru. Di meja terdapat gelas air setengah penuh dan piring dengan sisa makanan yang sudah mengering.

“Tidak ada perlawanan,” gumam Niki. Jay menuju kamar tidur. Laci terbuka. Lemari kosong setengahnya. “Barang berharga tidak diambil,” katanya. “Berarti mereka tidak merasa akan kembali.” Arsya berhenti di dapur. Di atas meja kecil, ada amplop putih. Ia mengambilnya dan di bagian depan tertulis:

PROGRAM STABILISASI WARGA – TAHAP 1

Arsya menatap Jay.

Jay langsung mendekat dan membuka isinya. Di dalamnya ada selebaran resmi dengan logo militer dan stempel pemerintah.

Selamat. Anda terpilih untuk menerima vaksin tahap awal guna meningkatkan imunitas terhadap wabah kanihu. Efek samping sementara dapat berupa kelelahan disorientasi ringan, dan penurunan respon emosional.

Niki mendengus pelan. “Penurunan respon emosional?” Jay membaca bagian bawahnya.

Subjek diminta mengikuti arahan petugas tanpa perlawanan demi keamanan bersama.

Arsya merasakan dingin merayapi punggungnya. “Bukan hanya vaksin. Ini kontrol perilaku.” Jay membalik lembar itu. Ada kode angka dan barcode. Di sudut bawah tertulis kecil:

Distribusi: Zona Abadi – Batch 07

Sunyi beberapa detik.

“Jadi Kota Abadi memang pusatnya,” ujar Niki pelan. Jay menyimpan kertas itu ke dalam tasnya. “Kita cek satu rumah lagi.”

Rumah kedua lebih sunyi. Namun di kamar anak kecil, Arsya menemukan sesuatu lain. Sebuah buku gambar terbuka di lantai. Gambar keluarga stick figure. Tap mata mereka digambar hitam penuh. Dan di atasnya, tulisan goyah:

“Ibu bilang nanti kita jadi tenang selamanya.”

Arsya menelan ludah, langkah cepat terdengar dari luar, ketiganya langsung siaga. Jay memberi isyarat diam. Mereka mendekat ke jendela, mengintip sedikit. Satu tentara berjalan menyusuri jalan kecil itu sendirian.

Seperti sedang memastikan tak ada yang tertinggal. Atau mencari sesuatu. Niki berbisik sangat pelan, “Patroli pembersih.” tentara itu berhenti tepat di depan rumah tempat Regan dan Lyno bersembunyi— meski masih terhalang semak.

Jay tubuhnya menegang. Kalau mereka ketahuan sekarang, bukan hanya soal kanihu. Tapi manusia yang jauh lebih terorganisir. Tentara itu mengangkat alat kecil di tangannya. Seperti pemindai. Alat itu mengeluarkan bunyi bip…bipp… pelan.

Arsya merasakan jantungnya berdentum keras. Jay berbisik nyaris tak terdengar, “dia tidak mencari orang..”

“Lalu apa?” tanya Niki. Jay menatap selebaran di tangannya. “Dia mencari yang belum divaksin.”

Degupan jantung mereka berdetak tiga kali lebih cepat, mereka seperti bisa mendengarkan suara debaran itu sendiri. Sampai tentara itu masuk kedalam rumah, dan mereka mendengar suara teriakan dan tangisan seorang wanita.

Wanita itu meminta tolong untuk di lepaskan. Tapi matanya tidak menatap tentara itu melainkan kedalam rumahnya. Wanita itu tahu dirinya tidak akan bisa lepas dari genggaman tentara yang menangkapnya tapi anaknya, masih bisa diselamatkan.

“Kumohon! Jangan beri aku vaksin. Aku tidak mau menjadi kanihu, seperti suami saya yang kalian perlakukan sebagai uji coba. Kumohon.” lirih wanita itu dengan air mata yang mengalir. Tentara itu menatapnya dengan datar, lalu menyeret tubuh wanita itu dengan kasar.

Arsya membeku. Tangannya reflek mencengkram lengan Jay. suara itu—putus asa, mentah, dan nyata. Bukan seperti warga di truk tadi. Ini berbeda. Wanita itu masih sadar. Masih memiliki rasa takut dan bisa melawan.

Jay perlahan menggeser posisi, mencoba melihat dari celah jendela. Di ruang tamu rumah seberang, seorang wanita setengah berlutut di lantai, rambutnya acak-acakan, pipinya basah oleh air mata. Tangannya dicengkram kuat oleh tentara.

“Kumohon!! Beri saya keringanan!” suaranya pecah.

Tentara itu tetap datar. “Subjek menunjukan resistensi emosional. Proses harus dipercepat.” Wanita itu meronta. “Aku tidak mau jadi seperti dia! Suamiku berubah! Kalian bilang itu vaksin penyelamat!”

Jay menegang.

Berubah, bukan mati.. Berubah.

Tentara itu mengeluarkan alat suntik otomatis dari tas kecil di pinggangnya. Arsya menahan nafas. “Tidak—!” teriak wanita itu. Namun sebelum jarum itu menyentuh kulitnya—terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah.

Tentara itu menoleh. Seorang anak kecil berdiri di lorong, memeluk boneka lusuh. Matanya lebar. “Ma…”

Wanita itu langsung berhenti meronta. Tatapannya berubah, bukan lagi memohon untuk dirinya. Melainkan ke arah anaknya. “Lari…” bisiknya parau. “Lari ke belakang… jangan keluar…” tentara itu mengalihkan perhatian. Alat pemindainya kembali berbunyi.

Bip.

Bip.

Bip lebih cepat. “Subjek kedua terdeteksi,” katanya datar. Arsya merasakan tubuhnya gemetar. Niki berbisik tertahan, “kita tidak bisa diam saja.” Jay terdiam, sepersekian detik. Dalam otaknya, strategi bertabrakan dengan nurani.

Jika mereka bergerak, mereka membuka posisi, namun jika tidak,.. Anak itu akan, wanita itu tiba-tiba menggigit tangan tentara tersebut sekuat tenaga. Tentara itu tersentak.

Kesempatan sepersekian detik. “Sekarang,” bisik Niki. Jay mengambil keputusan cepat. “Gang belakang. Alihkan perhatian. Jangan bunuh, buat dia jatuh.” Arsya mengangguk, menggenggam tongkat baseball lebih erat.

Detik berikutnya, Niki melempar batu besar ke arah kaca rumah sebelah.

PRANG!

Terima kasih sudah membaca jangan lupa kasih like dan Vote, kita lanjut besok yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!