NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Racun dari Balik Jeruji

Meskipun Aris berada di balik jeruji besi, kehadirannya masih terasa seperti kabut tipis yang enggan hilang dari hidup Hana. Pagi itu, Baskara datang ke kantor Hana dengan ekspresi yang sangat tidak biasa. Ia tidak membawa berkas lelang, melainkan sebuah surat panggilan dari kepolisian terkait laporan baru.

"Ibu Hana, tampaknya Aris tidak tinggal diam di dalam sana," ujar Baskara serius. "Dia melalui pengacara barunya—yang kita tahu didanai oleh Victor Wijaya—melaporkan Ibu atas dugaan penggelapan aset keluarga saat masih menikah dulu."

Hana mengernyitkan dahi, merasa hampir ingin tertawa karena konyolnya tuduhan itu. "Penggelapan aset? Aset apa yang mereka punya, Pak Baskara? Selama lima tahun saya yang membayar cicilan rumah, listrik, bahkan biaya makan mereka."

"Mereka mengklaim bahwa beberapa perhiasan warisan keluarga ibunya hilang saat Ibu pindah dari rumah itu, dan mereka menuduh Ibu menjualnya untuk modal awal hidup mandiri," jelas Baskara. "Ini jelas tuduhan palsu, tapi tujuannya bukan untuk memenjarakan Ibu. Tujuannya adalah merusak reputasi Ibu sebagai Manajer Keuangan di depan publik. Mereka ingin membangun narasi bahwa seorang ahli keuangan pun bisa berbuat curang dalam lingkup rumah tangga."

Hana terdiam. Ia menyadari pola serangan Victor. Victor menggunakan Aris untuk menyerang karakter moral Hana, sementara ia sendiri menyerang posisi profesional Hana.

Sore harinya, Hana memutuskan untuk melakukan sesuatu yang selama ini ia hindari: mengunjungi Aris di penjara. Ia butuh mengakhiri permainan ini langsung di sumbernya.

Ruang kunjungan penjara terasa pengap dan dipenuhi aroma disinfektan yang menyengat. Di balik sekat kaca, Aris muncul dengan langkah gontai. Namun, saat melihat Hana, matanya berkilat penuh kebencian sekaligus kemenangan kecil yang menyedihkan.

"Akhirnya kamu datang juga, Manajer Hebat," sindir Aris melalui telepon interkom.

"Berhenti bermain api, Aris," sahut Hana tenang. "Laporan penggelapan perhiasan itu? Kita berdua tahu itu bohong. Ibu tidak pernah punya perhiasan warisan selain cincin yang ia gadaikan sendiri untuk membayar utang judimu dua tahun lalu. Saya punya bukti tebusannya."

Aris tertawa kering. "Bukti itu tidak penting, Hana. Yang penting adalah berita di luar sana. Orang-orang akan tahu bahwa wanita suci sepertimu ternyata punya sisi gelap. Victor Wijaya menjanjikan saya pembebasan bersyarat jika saya bisa membuat hidupmu berantakan. Dan saya tidak akan berhenti."

Hana menatap Aris dengan rasa kasihan yang mendalam. Pria ini tidak sadar bahwa ia hanya sedang digunakan sebagai pion yang bisa dibuang kapan saja oleh Victor.

"Kamu pikir Victor peduli padamu?" tanya Hana lembut. "Dia hanya membenciku karena tender proyek Vietnam. Begitu aku jatuh, dia akan membiarkanmu membusuk di sini tanpa menoleh sedikit pun. Kamu sedang menjual sisa martabatmu untuk orang yang bahkan tidak sudi menjabat tanganmu."

"Diam kamu! Kamu hanya takut, kan?" bentak Aris.

"Saya tidak takut, Aris. Saya hanya ingin memberitahumu satu hal," Hana mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya baru saja membeli tanah di sebelah rumah lama kita. Di sana, saya akan membangun shelter bagi wanita-wanita yang kamu hancurkan mentalnya. Dan satu lagi... saya sudah bicara dengan dokter panti jompo tempat Ibumu dirawat. Beliau bilang, Ibu sering memanggil namamu, tapi dia lebih sering menangis karena malu punya anak sepertimu."

Wajah Aris berubah pucat. Sebutan tentang ibunya selalu menjadi titik lemahnya.

"Hentikan laporan palsu itu, atau saya akan memastikan tim hukum saya membongkar semua utang piutang gelapmu kepada para rentenir ke polisi. Kamu tahu berapa banyak kasus penipuan yang bisa mereka kenakan padamu selain kasus pemerasan ini?" ancam Hana dengan nada dingin yang mematikan.

Hana keluar dari penjara dengan perasaan yang lebih lega. Ia telah memberikan peringatan terakhir. Namun, saat ia menuju mobil, sebuah pesan singkat masuk dari Adrian.

"Hana, rapat darurat dengan dewan komisaris dimajukan malam ini. Victor Wijaya baru saja merilis data audit PT Anindita Jaya yang telah dimanipulasi ke media. Kita harus bertindak sekarang."

Hana segera memacu mobilnya kembali ke pusat kota. Di tengah hiruk-pikuk kemacetan, ia menyadari bahwa pertempuran ini telah meluas. Aris adalah masa lalu yang menyakitkan, tapi Victor adalah masa depan yang berbahaya.

Sesampainya di kantor, suasana sangat tegang. Adrian menunggunya di lobi dengan wajah yang menunjukkan bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja.

"Apa yang mereka katakan, Adrian?" tanya Hana sambil berjalan cepat menuju lift.

"Mereka bilang ayahmu sengaja membangkrutkan perusahaan untuk melarikan uang investor. Victor punya dokumen bertanda tangan ayahmu yang terlihat sangat asli," jawab Adrian. "Investor Singapura mulai ragu untuk melanjutkan pencairan dana tahap kedua."

Hana masuk ke ruang rapat dengan kepala tegak. Di dalam, Pak Winata dan beberapa komisaris sudah menunggu dengan wajah masam.

"Hana, kami butuh kejujuranmu," ujar Pak Winata. "Apakah ada kemungkinan ayahmu memang terlibat dalam skema itu?"

Hana mengeluarkan sebuah map kecil dari tasnya—berkas yang ia temukan di gudang ibunya semalam. "Ayah saya adalah korban, Pak. Dan pria yang namanya dicoret di foto ini adalah dalang sebenarnya. Pria itu adalah Gunawan Wijaya, ayah dari Victor Wijaya. Saya punya salinan surat wasiat ayah saya yang menceritakan bagaimana ia dijebak. Surat ini tidak pernah dipublikasikan karena ayah saya tidak ingin saya hidup dalam dendam."

Hana meletakkan dokumen itu di meja. "Victor Wijaya sedang mencoba membunuh karakter saya karena dia takut saya akan membongkar sejarah kelam keluarganya. Jika perusahaan ini mundur sekarang, maka kita membiarkan seorang kriminal memenangkan persaingan bisnis ini."

Suasana ruangan menjadi sangat hening. Adrian berdiri di samping Hana, memberikan dukungan moral yang tak terucapkan.

"Beri saya waktu empat puluh delapan jam," pinta Hana. "Saya akan membawa bukti asli keterlibatan Gunawan Wijaya. Dan saya akan memastikan Victor tidak hanya gagal menjatuhkan saya, tapi juga harus mempertanggungjawabkan perbuatan ayahnya di masa lalu."

Pak Winata menatap Hana cukup lama, lalu mengangguk pelan. "Dua hari, Hana. Jika kamu gagal, kami terpaksa memberhentikanmu sementara untuk menyelamatkan citra perusahaan."

Hana keluar dari ruangan itu dengan beban berat di pundaknya. Ia tahu, dua hari ini akan menjadi waktu yang paling menentukan dalam hidupnya. Ia harus berpacu dengan waktu, melawan musuh yang memiliki uang dan kekuasaan tak terbatas.

Namun, saat ia sampai di mejanya, ia melihat sebuah catatan kecil dari Bi Inah yang terselip di ponselnya: "Non, ada kiriman doa dari Ibu. Ibu bilang, kebenaran tidak akan pernah tertukar jalannya."

Hana tersenyum. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang selama ini menjadi kontak rahasia ayahnya—seorang mantan auditor tua yang kini hidup terasing di desa. "Pak Jaya? Ini Hana. Anak almarhum Pak Anindita. Saya butuh bantuan Anda untuk membuka brankas rahasia itu."

Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Hana tidak lagi hanya membela dirinya sendiri, ia sedang bertarung untuk martabat ayahnya yang telah lama tiada. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menang dengan cara yang kotor.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!