Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan paginya Elena sudah duduk di meja makan saat Adrian turun.
Bi Lastri menyiapkan sarapan. Evan sudah di depan piringnya dengan mata yang masih setengah mengantuk, tangannya sibuk menyusun potongan roti menjadi bentuk yang tidak jelas.
Adrian menarik kursi dan duduk. Matanya langsung menemukan Elena yang menatapnya tenang dari seberang meja.
"Kamu bangun pagi sekali?"
Elena meletakkan gelasnya. "Adrian, setelah sarapan aku mau bicara. Hanya kita berdua."
Adrian menatapnya sebentar. Lalu mengangguk. Mereka kembali ke teras belakang.
Elena duduk. Adrian berdiri sebentar sebelum akhirnya duduk juga.
"Aku mau kejelasan." Elena langsung memulai. "Tentang rumah tangga kita."
"Elena—"
"Dengarkan aku dulu." Suaranya tenang tapi tidak memberi ruang untuk dipotong. "Satu tahun kamu pergi. Tidak ada nafkah, tidak ada kabar, tidak ada apapun. Aku kehilangan Ara sendirian. Dan sekarang aku tahu kamu tinggal di sini di rumah perempuan lain." Ia berhenti sebentar. "Kamu masih mau kembali ke aku dan Evan atau tidak?"
Adrian tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam satu sama lain di atas meja.
"Tidak semudah itu, El."
"Kenapa tidak?"
"Karena ada banyak hal yang...."
"Iya atau tidak, Adrian." Elena memotong pelan. "Itu saja yang aku tanya."
Hening sesaat. Di dalam suara Evan terdengar samar, suara sendok beradu piring, suara Evan yang bicara pada Bi Lastri.
Adrian menatap tangannya sendiri.
"Aku tidak bisa melepaskan Clara begitu saja." Ia akhirnya berkata. "Bukan karena aku tidak peduli sama kamu dan Evan. Tapi aku berhutang terlalu banyak sama dia. Dia yang angkat aku dari nol, El."
"Jadi kamu memilih dia."
"Bukan memilih, Elena."
"Kamu tidak bisa kembali ke aku dan Evan." Elena menegaskan datar. "Itu artinya memilih. Apapun alasannya."
"Aku juga tidak mau kehilangan kamu." Adrian menatapnya dan untuk pertama kalinya sejak kemarin ada sesuatu di matanya yang terlihat tulus, sesuatu yang terlihat seperti lelaki yang benar-benar tidak tahu caranya menyelamatkan semua yang sedang ia hancurkan. "Aku masih mencintai kamu, El. Itu yang membuatnya tidak mudah."
Elena menatapnya lama.
"Kamu mencintaiku." Elena mengulang kata-kata itu pelan. "Tapi kamu tinggal di rumah perempuan lain. Kamu tidak mengirim nafkah selama ini. Kamu tidak datang ke pemakaman anak kita." Ia berhenti. "Seperti apa cintamu itu, Adrian?"
Adrian tidak menjawab.
"Aku minta cerai." lanjut Elena
Adrian mendongak tajam. "Apa?"
"Cerai." Elena mengulang dengan nada yang sama. "Kalau kamu tidak bisa kembali sepenuhnya ke aku dan Evan, aku minta cerai."
"Tidak." Adrian berdiri. "Aku tidak mau cerai."
"Adrian!"
"Aku tidak mau cerai, Elena." Suaranya meninggi untuk pertama kalinya pagi itu. "Kita bisa cari jalan lain."
"Jalan lain seperti apa?" Elena menatapnya dari tempat duduknya, tidak ikut berdiri, tidak ikut terbawa emosinya. "Kamu tetap di sini bersama Clara dan aku di kampung menunggu? Seperti satu tahun kemarin?"
"Bukan begitu maksudku."
"Lalu bagaimana?" Elena berdiri sekarang, perlahan, terukur. "Kamu ingin mempertahankan aku tapi tidak mau melepaskan Clara. Kamu ingin pernikahan ini tapi tidak mau menjalankan kewajibanmu sebagai suami." Suaranya tetap tenang tapi setiap katanya jatuh tepat sasaran. "Itu namanya egois, Adrian. Bukan cinta."
"Kamu tidak mengerti situasiku."
"Aku sangat mengerti." Elena memotong. "Yang tidak kamu mengerti adalah situasiku."
Adrian mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Elena, tolong jangan ambil keputusan terburu-buru. Kita bisa bicara baik-baik."
"Aku sudah sangat baik-baik selama satu tahun." Elena menjawab datar. "Dan lihat hasilnya."
"Kalau kamu pergi dari sini." Adrian menatapnya, suaranya berubah, ada sesuatu di baliknya yang terdengar seperti ancaman yang dibungkus keputusasaan. "Kalau kamu pergi aku tidak akan menyusulmu. Aku tidak akan peduli kamu di mana, kamu bagaimana. Bahkan kalau kamu jadi gembel di luar sana pun aku tidak akan mencarimu."
Elena menatap wajah lelaki yang dulu ia pilih di atas segalanya, di atas keluarganya, di atas kenyamanannya, di atas masa depan yang sudah tersedia rapi untuknya. Menatap lelaki yang sekarang berdiri di depannya mengancam akan membiarkannya menjadi gembel kalau ia berani pergi.
Dan tidak ada satupun dari kata-kata itu yang membuat langkahnya goyah.
"Baik." Elena mengangguk pelan. "Aku catat itu." Ia berbalik masuk ke dalam.
Elena kembali kemar itu untuk berkemas, tidak butuh waktu lama untuk membereskan tasnya.
Evan duduk di tepi tempat tidur memperhatikan ibunya berkemas dengan mata yang sudah tahu sesuatu sedang terjadi tapi tidak tahu persis apa.
"Kita pergi, Bu?"
"Iya."
"Ke mana?"
"Ibu belum tahu." Elena menutup resleting tasnya. "Tapi kita pergi."
Evan tidak bertanya lagi. Ia turun dari tempat tidur dan mengambil tas kecilnya sendiri, tas yang ia kemas sendiri kemarin malam dengan cara yang tidak rapi tapi penuh usaha.
Mereka turun. Di ruang tamu Clara duduk dengan secangkir teh di tangannya, terlihat sangat cantik, tenang, sempurna seperti biasa. Matanya menemukan tas di punggung Elena dan sesuatu bergerak di wajahnya yang langsung disembunyikan di balik senyum yang hangat.
"Mau kemana?"
"Kami pamit." Elena tersenyum tipis. "Terima kasih untuk semuanya, Clara."
"Loh, mau pergi ke mana?" Clara berdiri. "Menginap di sini dulu tidak apa-apa, aku sudah bilang tidak keberatan."
"Tidak perlu." Elena memotong sopan. "Sudah cukup."
Adrian muncul dari arah teras, matanya langsung ke tas di punggung Elena lalu ke wajahnya.
"Elena." Suaranya memperingatkan. "Aku serius tadi."
"Aku tahu." Elena menatapnya sebentar. "Aku juga serius."
Ia menggandeng tangan Evan dan berjalan ke pintu depan.
"Elena." Adrian memanggil sekali lagi dari belakang. Suaranya kali ini berbeda, lebih pelan, lebih seperti orang yang baru menyadari sesuatu tapi terlambat. "Kamu tidak punya uang. Kamu tidak kenal siapa-siapa di kota ini. Kamu mau ke mana?"
Elena membuka pintu. Angin pagi menyambut wajahnya, segar, asing, penuh dengan segala kemungkinan yang belum ia tahu bentuknya.
Ia menoleh ke Adrian untuk terakhir kalinya pagi itu.
"Itu bukan urusanmu lagi." Elena menjawab tenang. "Selamat tinggal, Adrian."
Pintupun tertutup.
Di trotoar depan rumah itu Elena berdiri sebentar dengan Evan di sampingnya dan satu tas ransel lusuh di punggungnya, persis seperti saat ia datang.
Evan mendongak. "Bu, kita beneran tidak tahu mau ke mana?"
"Belum tahu." Elena mulai melangkah. "Tapi kaki kita tahu caranya melangkah, kan?."
Evan menimbang kata-kata itu sebentar. Lalu ia ikut melangkah di samping ibunya.
Dan mereka berjalan menjauhi rumah itu, menjauhi pagar besi hitam yang tinggi, menjauhi taman yang terawat, menjauhi semua yang mewah dan bersih tapi berbau pengkhianatan.