Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan
Di sebuah hutan lebat yang dipenuhi pepohonan tinggi dan besar, sekelompok hewan yang tampak seperti campuran antara rusa dan binatang pemangsa sedang merumput dengan tenang.
Namun tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang mengawasi dari kejauhan. Salah satunya milik seekor serigala raksasa dengan bulu hitam pekat menutupi seluruh tubuhnya. Yang lain milik seorang pria yang hanya mengenakan kulit berwarna merah gelap di pinggangnya.
Tatapan keduanya memancarkan niat membunuh, seolah apa pun yang berdiri di hadapan mereka akan dilenyapkan.
Noah dan Sierra sedang menggunakan kemampuan Indra Perburuan. Saat kemampuan itu aktif, pupil mata Noah melebar, memberinya penglihatan yang jauh lebih detail dan terfokus pada target.
Ia bisa melihat jejak panas mangsanya dari jarak dua puluh meter, bahkan merasakan mana di antara makhluk-makhluk itu yang ototnya sedang benar-benar rileks.
“Lo ambil kiri. Gue bakal tarik perhatian mereka. Begitu gue muncul, langsung serang. Targetin yang paling dekat sama pohon. Ngerti?” kata Noah sambil melirik Sierra.
Sierra mengangguk, lalu bergerak pergi tanpa menimbulkan suara apa pun yang bisa memperingatkan target mereka.
Noah maju mendekati kawanan itu dengan diam-diam, merunduk dan bergerak melalui rerumputan tinggi menggunakan kedua tangan dan kakinya, layaknya hewan berkaki empat. Gerakannya tenang, tidak tergesa, juga tidak ceroboh.
Ia tampak seperti seekor harimau yang menunggu momen sempurna untuk menerkam.
Begitu jaraknya cukup dekat, Noah segera mengaktifkan aura Dominasi Perang. Tekanan gravitasi yang kuat langsung menekan area dalam radius sekitar lima meter. Sebelum makhluk-makhluk itu sempat bereaksi, Noah melompat ke arah yang terdekat, mengaktifkan Cakar Serigala, lalu mengayunkan cakar kanannya ke tengkuk mangsa yang sama sekali tidak siap dan bahkan tidak mampu bergerak di bawah tekanan aura tersebut.
Darah kebiruan mengalir ke tanah begitu cakarnya menembus kulit yang terasa sekeras kulit buaya, hanya dalam hitungan detik.
Serangan mendadak itu membuat anggota kawanan lainnya panik dan berusaha kabur secepat mungkin. Jangkauan Area Dominasi Perang milik Noah terbatas, sehingga beberapa dari mereka masih bisa menguasai tubuhnya dan mulai berlari menjauh.
Namun mereka justru disambut oleh seekor Serigala Purba raksasa dari sisi berlawanan.
Ya ... Sierra jauh lebih brutal dibandingkan Noah. Ia tidak membunuh dengan cepat. Ia menancapkan taringnya ke leher mangsa, lalu mencabik kepala mereka hingga terlepas dari tubuh. Darah biru menyembur seperti air mancur di atas rumput hijau, dan pembantaian itu belum berakhir.
Noah dan Sierra bergerak menuju target terdekat masing-masing, menyerang dengan pola yang sudah direncanakan sebelumnya.
Koordinasi mereka begitu rapi, seolah sudah berlatih bersama berkali-kali. Pembantaian terus berlanjut hingga lima tubuh tergeletak tak bernyawa di tanah.
Dari sembilan makhluk itu, empat berhasil melarikan diri, sementara lima lainnya meregang nyawa.
“Huff, kayaknya kita lumayan beruntung,” kata Noah sambil meletakkan tangan kanannya di atas salah satu bangkai.
“Serap!”
...────୨ৎ────...
...Inang memperoleh kemampuan berikut: Pelari Kilat, Penglihatan 360°, Pelindungan Wilker....
...────୨ৎ────...
“Oh, jadi mereka namanya Wilker,” pikir Noah setelah mengetahui nama spesies itu melalui sistem.
Ia membayangkan memiliki kulit setangguh Wilker. Seketika, kulitnya berubah menjadi hijau seperti milik makhluk-makhluk tersebut, dan duri-duri kecil muncul di seluruh tubuhnya.
“Ugh, sekarang gue kelihatan kayak Killer Croc,” gumam Noah.
Ia menonaktifkan kemampuan itu, lalu mengambil Monster Core. Sementara itu, Sierra mencabik daging dan isi perut tubuh-tubuh lain dengan taring besarnya, seolah sudah kelaparan selama bertahun-tahun. Ia hanya menyisakan Monster Core untuk Noah, tanpa meninggalkan apa pun yang lain.
Noah sudah sepenuhnya pulih. Kini kekuatannya empat kali lipat dibanding saat pertama kali memasuki Solmara.
Tubuh Dewa Perang miliknya juga telah menyelesaikan transformasi pertamanya dan menjadi dua kali lebih kuat dari sebelumnya.
Selain itu, ia juga telah memakan Monster Core dari hewan-hewan kecil hasil buruan Sierra di pagi hari. Menurut sistem, levelnya kini sudah mencapai level 2, dan seluruh atribut serta statistik tubuhnya ikut berlipat ganda.
Meski begitu, semua itu bukan alasan untuk bersantai dan berharap segalanya akan berjalan sesuai keinginannya.
Ia masih ingat dengan sangat jelas bagaimana kemarin ia nyaris mati saat melawan kawanan serigala, bertahan hidup hanya selangkah dari kematian. Kalau saja sedikit meleset, bisa jadi justru dialah yang dicabik dan dirobek perutnya oleh kawanan itu. Karena itu, ia tak ingin membuang waktu sedikit pun.
Entah bagaimana, Sierra seolah punya pemahaman alami tentang mangsa mana yang bisa mereka buru dengan kemampuan mereka saat ini, dan mana yang sebaiknya dihindari. Itu lebih mirip insting bawaan dari spesies Serigala Purba.
Berkat hal itu, Noah tidak nekat menyerang berbagai jenis hewan dan predator di hutan hanya karena kebodohannya sendiri. Jika Sierra yang kini sudah level 15 saja tidak berani mendekati makhluk-makhluk tertentu, maka akan sangat bodoh bagi Noah untuk menjadikan monster-monster itu sebagai target.
Noah menelan dua inti setelah membersihkan darah biru yang menempel di permukaannya. Ia sudah terbiasa sekarang, dan pemandangan berdarah di hadapannya sama sekali tidak lagi mengusiknya. Dua inti lainnya ia simpan, berjaga-jaga jika nanti dibutuhkan, entah untuk dimakan atau digunakan untuk keperluan lain.
DINGGG
...────୨ৎ────...
...Selamat kepada Inang karena telah mencapai level 3....
...────୨ৎ────...
Noah tidak mengecek statistiknya. Ia menoleh ke arah Sierra.
“Ayo. Udah waktunya kita memburu ular sialan itu,” kata Noah dengan penuh semangat. Tatapannya tajam, seperti menyimpan dendam pada seseorang.
Sierra yang sudah kenyang oleh daging dan jeroan pun mengangguk, lalu merendahkan tubuhnya di depan Noah.
Noah naik ke punggungnya, dan mereka bergerak ke arah utara, menuju sebuah lembah luas yang dipenuhi bebatuan besar dan aliran air.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti dan menatap sebuah sarang besar yang terbuat dari batang dan cabang pohon.
...────୨ৎ────...
...Hi....
...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....
...Terima kasih....
...────୨ৎ────...