NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbongkarnya rahasia Yanti

Malam ketujuh di rumah keluarga Hardianto terasa seperti penghakiman bagi Laura. Udara di dalam kamar bayi itu mendadak menjadi dingin, namun keringat dingin membasahi dahi Laura. Jam dinding kayu di lorong berdetak seperti hitungan mundur bom waktu. Satu hari lagi. Hanya tersisa beberapa jam sebelum fajar Black Sabbath menyingsing, dan botol kristalnya masih kosong.

Laura berdiri di samping boks Gabriel. Bayi itu tidur dengan sangat tenang, sebuah kontras yang menyakitkan dengan badai di dalam dada Laura. Di bawah sinar bulan yang masuk melalui celah gorden, wajah Gabriel tampak bercahaya, dilindungi oleh doa-doa yang dipanjatkan para pendoa sore tadi.

"Hanya tujuh tetes..." bisik Laura, suaranya parau. Tangannya merogoh saku, meraba ujung jarum perak yang kini terasa seperti membakar kulitnya.

Tiba-tiba, sebuah dorongan rasa lapar atau mungkin sekadar kegelisahan yang tak tertahankan membuat Laura melangkah keluar. Ia harus bergerak. Ia harus melakukan sesuatu agar pikirannya tidak pecah

Laura menuruni tangga dengan langkah tanpa suara, menuju dapur untuk mengambil segelas air. Rumah itu sangat sepi, namun ia bisa merasakan atmosfer yang berat. Di luar sana, di balik dinding rumah yang suci ini, ia seolah bisa mendengar suara cakaran dan geraman halus.

 Para iblis utusan Satanik—pengintai yang dikirim Elena—sedang mengitari rumah itu, mencoba mencari celah untuk masuk. Namun, setiap kali mereka mendekat, mereka terpental oleh "pagar" cahaya yang tak terlihat, hasil dari urapan doa keluarga ini.

BRAAAKKK!

Sebuah benturan keras menghantam pintu belakang dapur. Laura tersentak, gelas di tangannya hampir jatuh. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.

Dengan keberanian yang dipaksakan, ia mendekati pintu kayu itu. Tangannya yang gemetar membuka selot kunci. Creeeeak... Pintu terbuka lebar.

Tidak ada apa-apa.

Hanya ada halaman belakang yang luas, diselimuti cahaya purnama yang sangat terang dan dingin. Angin malam berhembus pelan, menggoyahkan daun mawar. Namun, di batas pagar rumah, Laura melihat bayangan-bayangan hitam yang menggeliat, tertahan oleh garis cahaya yang melingkari properti itu. Mereka mengintai, haus akan darah, namun tak berdaya menembus doa keluarga Pak Hardianto.

Laura segera menutup dan mengunci pintu kembali. Saat ia berbalik, suara yang paling ia takuti memecah kesunyian.

KRIIIIING! KRIIIIING!

Telepon rumah di meja sudut ruang tengah berdering nyaring. Di tengah malam buta, suara itu terdengar seperti ledakan. Laura berlari mengangkatnya sebelum Pak Hardianto terbangun.

Laura berbisik gemetar "Halo?"

Terdengar suara dingin Marco, tanpa emosi. "Waktumu habis, Laura. Aku sudah di sini. Aku menunggu di seberang jalan raya, di bawah bayangan pohon beringin itu." "Marco... aku... aku butuh waktu sedikit lagi. Rumah ini... ada sesuatu yang melindunginya."

 "Jangan cari alasan! Pukul dua dini hari nanti, kau harus keluar dari pintu itu dengan botol yang sudah terisi. Jika tidak, jangan salahkan aku jika fajar besok adalah hari terakhirmu bernapas. Selesaikan tugasmu, atau kau yang akan kami jadikan persembahan!"

Klik.

Sambungan terputus.

Laura menyandarkan kepalanya di dinding. Ia benar-benar kalang kabut. Pukul dua? Itu hanya tinggal dua jam lagi. Pikirannya kacau antara bayangan dirinya yang harus menjadi tumbal,dan wajah Gabriel yang suci.

Di atas, di lantai dua, ia mendengar Gabriel tiba-tiba menangis—bukan tangisan lapar, tapi tangisan ketakutan, seolah bayi itu merasakan kehadiran legiun iblis yang sedang menatap dari kegelapan luar jendela. Laura berlari ke atas, namun setiap langkahnya terasa berat. Ia merasa seperti sedang berjalan di dalam lumpur hisap.

Para iblis di luar mulai berbisik di kepalanya, menyatu dengan perintah Marco.

 "Lakukan sekarang, Laura... atau mati bersama bayinya!"

Waktu menunjukkan pukul satu malam tepat. Di langit, bulan purnama bersinar dengan terangnya, seolah mengawasi setiap gerak-gerik di dunia. Suasana di rumah keluarga Hardianto begitu sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang menemaninya.

Suasana kamar bayi menjadi sangat dingin, hingga napas Laura mengeluarkan uap putih. Cahaya bulan purnama yang menembus jendela seolah berubah menjadi pucat pasi. Di belakang tubuh Laura, sebuah bayangan hitam pekat dengan jubah yang menjuntai—sosok kuno yang haus darah—perlahan menyatu dengan punggungnya.

Mata Laura yang semula bening, kini berubah menjadi merah menyala. Gerakannya kaku, jari-jarinya memanjang seperti cakar saat ia mendekati boks bayi Gabriel

Suara parau bergema di kepala Laura

"Lihatlah kemurnian itu, Laura... Begitu rapuh. Hanya satu goresan, dan kekuatanku akan menjadi milikmu sepenuhnya. Ambillah! Jangan biarkan doa-doa manusia lemah ini menghalangimu!"

Laura Membatin, suaranya bergetar hebat.

"Tidak... Jangan... Gabriel tidak berdosa. Pergi dari tubuhku!"

Laura mencoba menghentikan tangannya yang terus merayap menuju leher bayi itu. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kirinya sendiri dengan sangat kuat hingga memar, berusaha menahan serangan roh tersebut.

"Kau adalah milik kami sekarang! Ingat perjanjianmu dengan Marco! Ingat nasib Omamu! Jika kau tidak memberikan darah ini, kau akan membusuk di neraka bersamanya!"

Tiba-tiba, di tengah kegelapan yang menghimpit, sebuah memori meledak di benak Laura. Ia melihat dirinya yang berusia enam tahun, duduk di bangku gereja kayu yang tua, memegang tangan Oma yang kasar namun hangat.

Suara Oma terngiang jelas.

"Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku... Jangan takut, Laura. Terang akan selalu menang atas kegelapan selama kau memanggil Nama-Nya."

Laura mulai bersuara lewat bibirnya yang gemetar.

"Tuhan... Yesus... Tolong... aku..."

Roh Jahat mengerang kesakitan.

"Diam! Jangan sebut nama itu! Hancurkan bayi itu sekarang juga!"

Roh jahat itu memaksa tubuh Laura membungkuk lebih dalam. Kuku Laura sudah nyaris menyentuh pipi Gabriel yang lembut. Namun, air mata Laura jatuh tepat di dahi bayi itu. Begitu tetesan air mata itu menyentuh kulit Gabriel, sebuah cahaya putih redup terpancar dari kalung salib yang tergeletak di samping boks bayi.

Laura Berteriak dalam tangisnya,

"TIDAK! AKU BUKAN MILIKMU! GABRIEL ADALAH ANAK TUHAN!"

"KAU AKAN MENYESAL, LAURA! KAU AKAN HANCUR—!"

Dengan satu sentakan batin yang luar biasa, Laura mendorong seluruh energi jahat itu keluar dari jiwanya. Ia merasakan sesuatu yang dingin dan hitam melesat keluar dari punggungnya, menabrak dinding dan menghilang tertiup angin malam yang tiba-tiba berhembus kencang.

Nuraninya bergejolak, melakukan perlawanan terhadap roh jahat yang mencoba menguasainya. Nama Tuhan yang sering diucapkan Oma terngiang di telinganya. Kilasan masa kecilnya di gereja tiba-tiba muncul di pikirannya, membuat air mata menetes di pipinya.

Ia teringat saat Oma mengajarkannya berdoa, saat ia bernyanyi di koor gereja, saat ia merasa damai dan dicintai. Kenangan-kenangan itu memberikan kekuatan padanya untuk melawan roh jahat yang mencoba menguasainya.

"Tidak, aku tidak akan menyakiti Gabriel," bisik Laura, suaranya parau. "Tuhan, tolonglah aku."

Suasana sepi jam dua dini hari itu pecah seketika.

Suara deru mobil yang berhenti mendadak di depan pagar rumah keluarga Hardianto terdengar seperti guntur. Cahaya lampu sorot mobil itu menyapu jendela kamar bayi, tempat Laura masih terpaku.

Bel rumah berbunyi nyaring.

Di lantai bawah, terdengar suara pintu kamar Pak Hardianto terbuka dengan kasar. Bu Sisil dan suaminya turun dengan wajah bingung dan mata yang masih mengantuk.

"Siapa yang datang jam segini, Pak?" suara Bu Sisil bergetar hebat. Ia sangat gugup, tangannya meremas ujung dasternya.

Pak Hardianto membuka pintu depan. Di sana berdiri Ibu Marta dan tim pendoanya. Wajah mereka tegang, keringat dingin membasahi dahi Ibu Marta meskipun udara malam itu menusuk tulang.

"Maafkan kami, Pak Hardianto! Kami harus kembali. Roh Kudus mendesak kami di tengah doa malam kami. Ada serangan kuasa kegelapan yang sangat hebat sedang mengepung rumah ini. Ada celah yang terbuka dari dalam!"

Kata Bu Marta,memberi penjelasan

"Apa maksud Ibu? Kami baik-baik saja. Rumah ini tenang, tidak ada apa-apa.

" tanya pak Hardianto dengan wajah panik bercampur bingung.

Bu Sisil mulai menangis ketakutan.

 "Ibu Marta, jangan menakut-nakuti saya... Ada apa sebenarnya?

Di lantai atas, Laura mendengar setiap kata dari Ibu Marta. Jantungnya serasa mau copot. Ia tahu, radar spiritual para pendoa itu sudah mengarah tepat ke arahnya. Kedoknya bukan lagi di ujung tanduk, tapi sudah runtuh.

Dengan gerakan secepat kilat, Laura menyambar tas kecilnya. Ia tidak sempat lagi mengambil botol kristal di bawah tumpukan bedong. Ia hanya membawa dirinya dan rahasia yang ia simpan.

"Aku harus pergi... sekarang!" bisiknya panik.

Ia melihat ke arah pintu kamar yang mulai didekati oleh langkah kaki Pak Hardianto dan para pendoa. Tanpa pikir panjang, Laura membuka jendela kamar. Angin malam menerpa wajahnya. Ia melihat ke bawah—jarak yang cukup tinggi, namun bagi seorang Anak Setan Emas yang sedang terdesak, itu bukan halangan.

HUP!

Laura melompat dari jendela, mendarat di atas rumput dengan suara dentuman halus. Ia tidak menoleh ke belakang. Dengan napas yang memburu, ia berlari kecil, mengendap-endap di balik bayangan pohon mawar, menuju pagar samping yang luput dari pantauan lampu mobil pendoa.

Laura terus berlari menuju arah jalan raya. Kakinya yang tanpa alas kaki menginjak kerikil tajam, namun ia tidak merasakannya. Pikirannya hanya satu: Marco.

Di pinggir jalan raya yang gelap, di bawah rimbunnya pohon beringin, sebuah sepeda motor hitam besar sudah menyala mesinnya. Lampu depannya sengaja dimatikan. Marco duduk di atasnya, wajahnya tersembunyi di balik helm hitam, namun aura kemarahannya terasa hingga ke kejauhan.

"Cepat naik!" geram Marco saat Laura muncul dari balik semak-semak.

Laura melompat ke jok belakang. Mesin motor itu meraung, memecah kesunyian malam, dan melesat secepat kilat meninggalkan kota kecil itu. Laura menoleh sekali lagi ke arah rumah keluarga Hardianto yang semakin menjauh. Ia melihat lampu-lampu rumah itu menyala terang, dan bayangan para pendoa di teras.

Ia telah selamat dari maut malam itu, tapi ia tahu, perjalanannya menuju Black Sabbath tanpa darah Gabriel akan jauh lebih mengerikan daripada serangan iblis mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!