NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Tengah malam di pinggiran Kota Golden Core terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu jalan kuning pucat berkedip-kedip di atas gang sempit tempat Xiao Han biasa menunggu orderan terakhir. Ponsel murahnya bergetar di saku celana jeans lusuh. Nomor tak dikenal. Biasanya dia abaikan panggilan seperti ini setelah jam 11 malam, kebanyakan prank atau pelanggan mabuk yang salah kirim. Tapi malam ini perutnya keroncongan, dan tagihan obat ibunya baru saja masuk reminder ketiga.

Dia menarik napas panjang, lalu menjawab.

"Halo, Call Man Service?" suara di seberang lembut, tapi ada nada perintah yang tak bisa disembunyikan. Wanita. Usia matang, mungkin sekitar tiga puluh tahunan.

"Iya, Mbak. Xiao Han speaking. Ada yang bisa saya bantu malam ini?"

Ada jeda singkat. Lalu suara itu kembali, kali ini lebih tegas.

"Saya butuh pendamping makan malam. Sekarang. Bayarannya sepuluh juta. Tunai. Setengah di muka via transfer, setengah setelah selesai. Hanya makan malam. Tidak lebih."

Xiao Han hampir menjatuhkan ponsel. Sepuluh juta. Untuk makan malam. Itu setara gaji empat bulan sebagai tukang antar surat, bahkan lebih dari biaya operasi kecil yang dibutuhkan ibunya bulan depan.

"Tapi... Mbak, ini agak mendadak. Lokasinya di mana?"

"Golden Heights Residence, tower A, lantai 32. Aku jemput di lobby dalam tiga puluh menit. Pakai baju rapi, hitam kalau bisa. Jangan terlambat."

Panggilan terputus.

Xiao Han menatap layar ponsel yang sudah gelap. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan panggilan biasa. Ini bukan sekadar menemani ngobrol atau foto bareng seperti yang biasa dia terima dari mahasiswi kesepian atau tante-tante yang bosan. Ini level lain.

Dia buru-buru pulang ke kontrakan kecil di gang belakang. Ibunya sudah tidur di kasur tipis, napasnya pelan tapi tersengal karena paru-paru yang semakin lemah. Adiknya, Xiao Mei, masih belajar di meja kecil sambil menguap. Jam sudah lewat setengah dua belas.

"Kak, pulang kok malam banget?" tanya Xiao Mei sambil menggosok mata.

"Ada orderan dadakan. Besok pagi Kakak transfer uang buat sekolah sama obat Ibu, ya. Kamu tidur dulu."

Xiao Mei mengangguk, tapi matanya penuh tanya. Xiao Han tak sanggup menatapnya lama-lama.

Dia buru-buru mandi air dingin, mengenakan kemeja hitam terbaik yang dia punya, satu-satunya yang masih layak dipakai ke acara formal, dan celana bahan yang dia beli di pasar loak dua tahun lalu. Rambutnya disisir rapi, wajah dicuci bersih. Dia hampir tak mengenali dirinya sendiri di cermin retak.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah Mercedes hitam mengkilap sudah menunggu di depan gang. Sopir membukakan pintu belakang tanpa bicara. Xiao Han masuk, dan mobil meluncur mulus menuju pusat kota.

Golden Heights Residence adalah gedung apartemen termahal di Golden Core. Hanya orang-orang super kaya yang tinggal di sini, pengusaha properti, pejabat tinggi, dan para taipan yang namanya jarang muncul di media tapi mengendalikan separuh ekonomi kota.

Di lantai 32, pintu apartemen terbuka otomatis begitu Xiao Han menekan bel. Aroma parfum mahal menyambutnya, bercampur wangi masakan steak dan anggur merah.

Wanita itu berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke gemerlap kota malam. Rambut hitam panjang tergerai, gaun merah marun membalut tubuhnya dengan sempurna. Usianya sekitar tiga puluh, cantik dengan cara yang dingin dan tajam. Matanya menatap Xiao Han dari atas ke bawah, seperti menilai barang dagangan.

"Kamu Xiao Han?" tanyanya tanpa senyum.

"Iya, Mbak... atau Bu?"

"Panggil saja Lin Qing. Duduk."

Meja makan sudah tersaji untuk empat orang, tapi hanya dua kursi yang ditempati. Di seberangnya, dua orang tua, mungkin ayah dan ibu Lin Qing, sudah duduk dengan ekspresi kaku. Ayahnya pria berusia enam puluhan, jas mahal, raut wajah keras. Ibunya memakai perhiasan berlian yang menyilaukan.

"Xiao Han, ini ayah dan ibuku. Malam ini kamu harus berpura-pura jadi kekasihku. Kami sedang makan malam keluarga. Mereka ingin tahu siapa yang selama ini 'mengganggu' hidupku dengan panggilan-panggilan tengah malam."

Xiao Han menelan ludah. Jadi ini bukan sekadar makan malam biasa. Ini sandiwara. Dan taruhannya sepuluh juta.

Lin Qing mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah hanya untuk Xiao Han.

"Aku Lin Qing, CEO Lin Group. Pengusaha terkaya di kota ini saat ini. Aku muak ditanya kapan nikah, kapan kasih cucu. Jadi malam ini kamu pacarku. Cerita kita pacaran sudah enam bulan, kenal lewat bisnis. Kamu... katakan saja kamu anak muda berbakat di bidang logistik. Jangan bilang kamu laki-laki yang aku sewa."

Xiao Han mengangguk pelan. Dia merasakan keringat dingin di punggungnya.

Malam itu dimulai dengan pertanyaan tajam dari ayah Lin Qing.

"Kamu dari keluarga mana, Nak? Bisnis orang tuamu apa?"

Xiao Han tersenyum, senyum yang sudah dia latih ratusan kali di depan cermin kontrakan.

"Saya dari keluarga biasa, Pak. Ayah sudah meninggal. Sekarang saya fokus membangun karier sendiri di bidang logistik dan pengiriman. Kami ketemu waktu saya handle proyek pengiriman khusus untuk Lin Group beberapa bulan lalu."

Lin Qing memegang tangan Xiao Han di atas meja, gerakan kecil tapi terasa seperti listrik. Jari-jarinya dingin.

"Ibu, Ayah, dia orang baik. Sabar. Dan... dia sayang saya."

Ibu Lin Qing menghela napas panjang. "Kalian serius? Kalau serius, kapan bertunangan?"

Xiao Han merasakan telapak tangan Lin Qing mengerat. Dia menatap wanita itu sekilas—ada sesuatu di matanya. Bukan cinta, bukan juga nafsu. Lebih seperti... keputusasaan yang tersembunyi rapat di balik topeng dingin.

"Belum kepikiran ke situ, Bu," jawab Lin Qing cepat. "Kami nikmati dulu prosesnya."

Makan malam berlangsung tegang. Xiao Han berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan hati-hati, sementara Lin Qing sesekali menyentuh lengannya, tersenyum tipis, berpura-pura mesra. Setiap sentuhan terasa seperti transaksi, dingin, profesional, tapi entah kenapa membuat jantung Xiao Han berdetak tak karuan.

Saat hidangan penutup tiba, ayah Lin Qing akhirnya bicara blak-blakan.

"Kalau kamu serius sama anakku, buktikan. Lin Group butuh mitra logistik baru. Kalau kamu bisa handle kontrak besar bulan depan, aku akan pertimbangkan kalian."

Xiao Han tersenyum kaku. Dia tahu ini jebakan. Tapi sepuluh juta sudah ada di rekeningnya, setengahnya sudah ditransfer tadi di mobil.

Malam berakhir dengan Lin Qing mengantarnya ke pintu.

"Terima kasih," katanya pelan. "Kamu bagus malam ini."

Dia menyerahkan amplop tebal berisi sisa lima juta tunai.

Xiao Han mengangguk. "Kalau butuh lagi, hubungi saja."

Lin Qing menatapnya lama. "Mungkin aku akan hubungi lagi. Bukan untuk makan malam."

Pintu tertutup. Xiao Han berdiri di koridor mewah itu, memegang amplop yang terasa berat. Di luar, kota Golden Core masih berkilau, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang mulai bergeser, antara rasa lega karena uang itu akan menyelamatkan ibunya, dan rasa takut karena dia tahu, satu panggilan ini hanyalah awal.

Dia baru saja melangkah ke dunia yang tak bisa dia tinggalkan begitu saja.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!