Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 19
Aktivitas kembali seperti biasanya, anak-anak The Lion sudah masuk bersekolah seperti yang lain. Setelah jam pertama sampai jam keempat selesai, Bagus memilih tidak ikut teman-temannya ke kantin senior tingkat tinggi karena sedang mencari seseorang yang sejak kemarin tidak bertegur sapa dengannya, lebih tepatnya orang itu yang tidak ingin menyapa atau membalas sapaan Bagus.
Dengan kedua tangan yang bersembunyi di saku celana sekolah, Bagus menyusuri koridor kelas XII sembari celingak-celingukan mencari orang itu. Sepuluh menit menyusuri koridor ia tidak menemukannya, tempat yang saat ini berada di otaknya hanyalah satu.
Ruang latihan modern dance.
Bagus berlari untuk kembali ke awal dan menuruni tangga menuju koridor paling bawah, kelas sepuluh.
Tapi yang namanya insiden memang tidak bisa dihindari, Bagus menabrak seseorang di saat ia ingin menuruni tangga kelas sebelas menuju kelas sepuluh. Tangan Bagus dengan cepat menangkap pinggang cewek yang hampir saja terjungkang dari tangga akibat keburu-buruannya.
"Lo gakpa-pa, Ta?"
Dita menggeleng sembari menegakkan tubuhnya dan memungut beberapa buku cetak yang berjatuhan dari tangga. Merasa bersalah, Bagus ikut memungut buku tersebut kemudian memberikannya pada Dita.
"Makasih, Kak," ucap Dita.
Bagus tersenyum tipis. "Santai, anggap aja permintaan maaf gue," katanya, "oh iya, lo mau kemana bawa-bawa buku kayak gitu? Bukannya ini jam istirahat, ya?"
Dita memeluk buku-bukunya. "Mau ke perpus lantai dua, Kak. Nyari referensi buat makalah yang dikasih sama bu Retno. Perpus lantai satu penuh."
Bagus mengangguk mengerti. "Mau gue temenin, gak? Gue cukup tau bahasa Jerman, loh."
"Emm ...." Dita tampak ragu, cewek berambut sebahu itu menggaruk pelan pipinya tanda gugup. Ia ingin menerima tawaran Bagus, namun ia juga takut jika seandainya Rio melihat dirinya kembali berhubungan dengan Bagus lalu marah dan membentaknya lagi, untung-untung jika tidak berbuat kasar.
"Gi-gimana, ya, Kak. Aku-" Kalimat Dita tertelan ke kerongkongannya ketika tangan Bagus mampir menepuk puncak kepalanya, rasanya masih sama seperti dulu, Bagus masih bisa memberi efek luarbiasa pada tubuh dan ritme jantungnya.
"Kalau lo ragu terima ajakan gue karna takut Rio marah, lo tenang aja, gue yang bakal tanggung jawab sendiri." Peduli setan jika sekarang Bagus sudah seperti cowok yang ingin merebut cewek orang lain. Ia sudah terlalu banyak bersabar selama ini.
Dengan masih sedikit ragu, Dita akhirnya mengangguk. Ia tersenyum tipis pada Bagus kemudian berjalan beriringan menuju perpustakaan yang ada di lantai kelas XI. Bagus sesekali melontarkan guyonan hingga membuat Dita tertawa. Rasanya, Bagus ingin waktu berhenti untuk sebentar saja, ia ingin berdua dengan Dita tanpa ada gangguan apapun.
Entah itu Rio, ataupun tugasnya untuk menjalankan dare gila itu.
Bagus hanya mau berdua dengan Dita, itu saja.
Dan hal inilah yang membuat Bagus melupakan tujuan awalnya menuruni tangga dengan terburu-buru.
####
Krystal membeli satu roti berisi coklat dengan satu jus jeruk di kantin kelas sepuluh karena kebetulan ia baru saja selesai latihan. Apa yang dibeli Krystal saat ini bukanlah untuk dirinya walau sebenarnya ia sangat haus dan uangnya hanya tinggal ongkos pulang.
Krystal membeli ini untuk permintaan maafnya pada Bagus. Krystal tahu ini sepenuhnya bukan salahnya namun, ia juga merasa apa yang dikatakan Bagus ada benarnya.
Krystal terlalu egois dan mementingkan perasaannya sendiri tanpa tahu ada hati lain yang juga merasakan rasa sakit sepertinya.
Mama Dita mungkin merebut kebahagiaan mamanya, namun Dita tidak tidak pernah salah dalam hal ini seperti apa yang dikatakan Bagus, Dita tidak tahu apa-apa.
"Semuanya tujuh ribu, Neng."
Krystal segera memberikan uang senilai yang disebutkan ibu kantin, setelah itu ia keluar dari kantin dengan senyum tipisnya.
Ini sebenarnya aneh, Krystal tidak pernah ambil pusing jika ia tidak berinteraksi dengan Bagus walau beberapa hari pun, namun sejak semalam, hatinya gelisah hingga ia kesulitan untuk memejamkan mata.
Ia dibayang-bayangi dengan semua tingkah Bagus yang akhir-akhir ini selalu menghiburnya dan berdiri di sisinya ketika Krystal butuh bantuan. Krystal tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan, ia hanya tahu bahwa Bagus sudah berhasil menempati posisi khusus di hatinya.
"Semoga lo terima permintaan maaf gue, ya, Gus." Krystal menatap roti dan jus jeruknya dengan senyum mengembang, rasanya tidak sabar untuk direcoki oleh cowok gondrong itu lagi.
Krystal berbelok menaiki tangga menuju lantai dua kelas sebelas terlebih dahulu agar bisa ke lantai tiga kelas dua belas. Namun, mendengar suara yang tidak asing di telinganya membuat langkah Krystal tertahan di dekat tembok belokan tangga. Dari sini, ia bisa melihat kaki seorang perempuan dan kaki seorang laki-laki sedang berhadapan.
"Mau gue temenin, gak? Gue cukup tau bahasa Jerman, loh."
"Emm ... gi-gimana, ya, Kak. Aku-"
"Kalau lo ragu terima ajakan gue karna takut Rio marah, lo tenang aja, gue yang bakal tanggung jawab sendiri."
Setelah kalimat yang Krystal yakini berasal dari Bagus itu selesai, dua pasang kaki itu berjalan menaiki tangga.
Krystal menatap roti dan jus jeruk yang ia bawa dengan nanar. Helaan napasnya terdengar berat dengan mata yang mulai mengembun.
Krystal kira, Bagus juga akan merasa bersalah akan masalah semalam dan mendatanginya untuk minta maaf. Nyatanya cowok itu sama sekali tidak memperdulikannya dan memilih pergi bersama Dita.
Krystal kira, saat ia meminta maaf pada Bagus, Bagus juga akan meminta maaf padanya dan akhirnya mereka kembali seperti awal-awal lagi. Nyatanya, berniat mencarinya saja, itu tidak Bagus lakukan dan memilih berdua dengan Dita.
Krystal sadar, ia bukanlah Dita yang masih punya arti penting untuk Bagus walau Dita sudah menyakiti cowok itu. Tapi apakah tidak ada kesempatan untuknya membantu Bagus melupakan Dita jika cowok itu saja tidak ingin posisi Dita tergeser di hatinya.
Krystal juga sadar bahwa ia bukan siapa-siapa di hidup Bagus, Krystal hanyalah cewek asing yang kebetulan didekati Bagus tanpa alasan yang jelas. Krystal juga hanyalah anak dari pasien yang diobati oleh bunda Bagus hingga kedekatannya dengan Bagus cukup cepat. Namun, salahkah jika ia menyimpan rasa?
Menarik napas berat dan mendongakkan wajahnya sejenak untuk menarik kembali air matanya yang ingin lolos, Krystal berbalik menuruni tangga, roti dan jus jeruk yang ia beli dibuang Krystal ke tong sampah di ujung tangga.
Cewek yang masih memakai kemeja putih polos dan rok hitam selutut---seragam anak modern dance---itu berlari secepat yang ia bisa. Berlari tanpa tujuan.
Ia tidak tahu mau kemana, yang ia tahu, ia tidak ingin bertemu dengan Bagus kali ini.
Kaki Krystal membawa ia ke ujung koridor kelas sepuluh yang sepi, Krystal bersembunyi di balik tembok kemudian merosotkan tubuhnya ke bawa. Memeluk lututnya kemudian menangis di sana.
Ia sebenarnya tidak ingin memangis karena hal sepeleh ini. Ia juga heran mengapa dirinya begitu cengeng hanya karena Bagus bersama Dita padahal itu semua hak Bagus untuk bersama siapa saja.
"Jangan nangis, Tal! Lo gak ada buat ngerasa sakit hati. Bagus bukan siapa-siapa lo! Berhenti buang-buang air mata lo sendiri!" ucapnya pada diri sendiri dengan nada parau.
Krystal menarik napas lagi untuk melonggarkan kesesekan di dadanya. Sekarang ia merasa sangat bodoh, menangisi seseorang yang mungkin saat ini sedang mengukir tawa bersama-sama.
Membayangkan itu, Krystal sekarang tahu kalau takdir tidak pernah ada di pihaknya, dulu ia kalah dari mama Dita untuk mempertahankan papanya. Sekarang ia kembali kalah dengan Dita yang masih memegang hati Bagus.
Dan mungkin selamanya ....
Krystal tidak akan pernah bisa menang.
.
.
.
KASIH SEMANGAT BUAT KRYSTAL DENGAN CARA NGE-VOTE BANYAK-BANYAK, YOK😭
MAU BILANG APA SAMA BAGUS?
MAU BILANG APA SAMA DITA?
MAU BILANG APA SAMA KRYSTAL?
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..