"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Mentari di Langit Pesantren
~Tiga Tahun yang Membawa Berkah
Tiga tahun berlalu seperti embusan angin pagi,
Membawa kita kembali ke tanah tempat janji bersemi.
Kairo kini tinggal kenangan yang tersimpan rapi,
Sebab pelabuhan sesungguhnya ada di sini, di sisi sang imam hati.~
Waktu seakan berlari tanpa henti. Tiga tahun telah berlalu sejak Gus Zidan menjemput Bungah di Kairo. Pesantren kini terasa jauh lebih hidup. Bukan hanya karena jumlah santri yang bertambah, tetapi karena tawa anak-anak yang kini mewarnai kediaman para pengasuhnya.
Di teras rumah utama yang asri, Mas Azam nampak sedang duduk bersantai. Di sampingnya, istrinya yang dulu adalah teman sekamar Bungah di Kairo, Fatimah, nampak sedang menyisir rambut putri mereka. Fanesyah, yang kini sudah tumbuh menjadi bocah TK yang cantik dan pintar, nampak sibuk dengan buku mewarnainya.
"Fanesyah, pelan-pelan warnainnya, Sayang. Nanti keluar garis," ucap Fatimah lembut. Fatimah kini telah menjadi bagian dari keluarga besar pesantren, mendampingi Mas Azam mengelola madrasah.
Tak lama kemudian, dari arah dalam rumah, muncul Bungah. Penampilannya masih tetap anggun dengan cadar yang menutupi wajah jelitanya, namun ada yang berbeda. Langkahnya kini lebih berhati-hati sambil tangan kirinya mengelus perutnya yang sudah membuncit. Bungah kini sedang hamil empat bulan.
"Mbak Fat, Mas Azam... lihat mas Zidan nggak? Tadi katanya mau ke kantor pondok sebentar tapi belum balik," tanya Bungah sambil duduk perlahan di kursi kayu jati.
"Cieee... yang bumil nggak bisa jauh sebentar saja dari suaminya," goda Fatimah sambil tertawa renyah. "Gus Zidan tadi lagi sama Abi di depan, ada tamu dari Jombang katanya."
Bungah hanya tersipu di balik cadarnya. Rasa manjanya kepada Zidan memang semakin menjadi-jadi sejak ia mengandung anak pertama mereka.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar. Gus Zidan muncul dengan wibawa yang tak luntur, mengenakan koko putih dan sarung batik tulis. Begitu matanya menangkap sosok Bungah, raut wajahnya yang serius langsung berubah menjadi sangat lembut.
"Mencari Mas ya?" tanya Zidan sambil berjalan mendekat. Ia langsung mengambil posisi duduk di samping Bungah, mengabaikan godaan Mas Azam yang berdehem kencang.
"Tadi dedek bayinya gerak terus, Mas. Katanya kangen Abinya," keluh Bungah manja, menyandarkan kepalanya di bahu Zidan.
Zidan tersenyum, tangannya bergerak mengelus perut Bungah dengan penuh kasih sayang. "Sabar ya, Sayang. Tadi ada urusan sebentar sama Abi. Sekarang Mas sudah di sini."
Zidan menatap langit sore yang mulai menguning. Pikirannya melayang pada kenangan tiga tahun lalu. Dari pertemuan tanpa sengaja di pantai saat Bungah masih berseragam penuh coretan pilox, hingga perjuangan mereka menikah jarak jauh. Siapa sangka, gadis kecil yang dulu menyuruhnya tersenyum itu kini sedang mengandung darah dagingnya.
"Mas Zidan..." panggil Bungah lirih.
"Dalem, Sayang?"
"Terima kasih ya, sudah menjadi langit tempat aku bersinar. Terima kasih sudah sabar menunggu aku lulus dari Kairo," ucap Bungah tulus.
Zidan mengecup dahi Bungah dengan khidmat. "Mas yang harus berterima kasih. Kamu sudah membawa cahaya di pesantren ini, dan sebentar lagi, kamu akan memberikan kado terindah untuk hidup Mas."
Di teras itu, di bawah saksikan matahari yang mulai tenggelam, keluarga besar itu berkumpul dalam syukur. Azam, Fatimah, dan Fanesyah yang ceria, serta Zidan dan Bungah yang sedang menanti kelahiran buah hati mereka. Perjalanan panjang dari Kairo menuju Jawa Timur berakhir di sini, di sebuah pelabuhan bernama rumah, tempat cinta tak pernah berhenti tumbuh.
**TAMAT**