NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Mentari di Langit Pesantren

~Tiga Tahun yang Membawa Berkah

Tiga tahun berlalu seperti embusan angin pagi,

Membawa kita kembali ke tanah tempat janji bersemi.

Kairo kini tinggal kenangan yang tersimpan rapi,

Sebab pelabuhan sesungguhnya ada di sini, di sisi sang imam hati.~

Waktu seakan berlari tanpa henti. Tiga tahun telah berlalu sejak Gus Zidan menjemput Bungah di Kairo. Pesantren kini terasa jauh lebih hidup. Bukan hanya karena jumlah santri yang bertambah, tetapi karena tawa anak-anak yang kini mewarnai kediaman para pengasuhnya.

Di teras rumah utama yang asri, Mas Azam nampak sedang duduk bersantai. Di sampingnya, istrinya yang dulu adalah teman sekamar Bungah di Kairo, Fatimah, nampak sedang menyisir rambut putri mereka. Fanesyah, yang kini sudah tumbuh menjadi bocah TK yang cantik dan pintar, nampak sibuk dengan buku mewarnainya.

"Fanesyah, pelan-pelan warnainnya, Sayang. Nanti keluar garis," ucap Fatimah lembut. Fatimah kini telah menjadi bagian dari keluarga besar pesantren, mendampingi Mas Azam mengelola madrasah.

Tak lama kemudian, dari arah dalam rumah, muncul Bungah. Penampilannya masih tetap anggun dengan cadar yang menutupi wajah jelitanya, namun ada yang berbeda. Langkahnya kini lebih berhati-hati sambil tangan kirinya mengelus perutnya yang sudah membuncit. Bungah kini sedang hamil empat bulan.

"Mbak Fat, Mas Azam... lihat mas Zidan nggak? Tadi katanya mau ke kantor pondok sebentar tapi belum balik," tanya Bungah sambil duduk perlahan di kursi kayu jati.

"Cieee... yang bumil nggak bisa jauh sebentar saja dari suaminya," goda Fatimah sambil tertawa renyah. "Gus Zidan tadi lagi sama Abi di depan, ada tamu dari Jombang katanya."

Bungah hanya tersipu di balik cadarnya. Rasa manjanya kepada Zidan memang semakin menjadi-jadi sejak ia mengandung anak pertama mereka.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar. Gus Zidan muncul dengan wibawa yang tak luntur, mengenakan koko putih dan sarung batik tulis. Begitu matanya menangkap sosok Bungah, raut wajahnya yang serius langsung berubah menjadi sangat lembut.

"Mencari Mas ya?" tanya Zidan sambil berjalan mendekat. Ia langsung mengambil posisi duduk di samping Bungah, mengabaikan godaan Mas Azam yang berdehem kencang.

"Tadi dedek bayinya gerak terus, Mas. Katanya kangen Abinya," keluh Bungah manja, menyandarkan kepalanya di bahu Zidan.

Zidan tersenyum, tangannya bergerak mengelus perut Bungah dengan penuh kasih sayang. "Sabar ya, Sayang. Tadi ada urusan sebentar sama Abi. Sekarang Mas sudah di sini."

Zidan menatap langit sore yang mulai menguning. Pikirannya melayang pada kenangan tiga tahun lalu. Dari pertemuan tanpa sengaja di pantai saat Bungah masih berseragam penuh coretan pilox, hingga perjuangan mereka menikah jarak jauh. Siapa sangka, gadis kecil yang dulu menyuruhnya tersenyum itu kini sedang mengandung darah dagingnya.

"Mas Zidan..." panggil Bungah lirih.

"Dalem, Sayang?"

"Terima kasih ya, sudah menjadi langit tempat aku bersinar. Terima kasih sudah sabar menunggu aku lulus dari Kairo," ucap Bungah tulus.

Zidan mengecup dahi Bungah dengan khidmat. "Mas yang harus berterima kasih. Kamu sudah membawa cahaya di pesantren ini, dan sebentar lagi, kamu akan memberikan kado terindah untuk hidup Mas."

Di teras itu, di bawah saksikan matahari yang mulai tenggelam, keluarga besar itu berkumpul dalam syukur. Azam, Fatimah, dan Fanesyah yang ceria, serta Zidan dan Bungah yang sedang menanti kelahiran buah hati mereka. Perjalanan panjang dari Kairo menuju Jawa Timur berakhir di sini, di sebuah pelabuhan bernama rumah, tempat cinta tak pernah berhenti tumbuh.

**TAMAT**

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!