Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Di Bawah Langit dan Janji yang Lancang
Malam semakin larut saat SUV hitam milik Jordan membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, hanya terdengar alunan musik instrumen pelan yang menambah kesan intim sekaligus mencekam bagi Airin. Jordan sengaja tidak memacu kendaraannya. Ia membiarkan jarum spidometer bergerak malas, seolah ingin memperpanjang waktu yang ia miliki bersama gadis di sampingnya.
Airin, dengan segala kepolosan yang membungkus status ningratnya, hanya bisa menyandarkan kepala pada kaca jendela. Matanya yang bulat menatap barisan lampu jalan yang berpendar layaknya kunang-kunang besi. Ia merasa lelah lelah karena harus bersembunyi dari ayahnya, dan lelah karena jantungnya terus-menerus dipaksa bekerja keras oleh kehadiran Jordan.
"Kenapa diam saja?" suara berat Jordan memecah keheningan.
Airin menoleh sedikit, helai rambut keritingnya menutupi sebagian pipinya yang merona. "Saya hanya sedang berpikir, Pak. Bapak terlalu berani menghadapi orang-orang Ayah. Saya takut itu akan menjadi masalah besar bagi Bapak nanti."
Jordan terkekeh rendah, jemarinya mengetuk kemudi dengan irama konstan. "Masalah adalah sarapan pagi bagiku, Airin. Jangan khawatirkan aku, khawatirkan saja bagaimana caramu menghadapi aku yang tidak akan melepaskanmu dengan mudah."
Mobil itu tiba-tiba berbelok ke arah jembatan layang yang cukup ikonik namun sepi di jam seperti ini. Tanpa aba-aba, Jordan menepikan mobilnya tepat di tengah jembatan dan mematikan mesin.
"Turun," perintah Jordan singkat.
Airin tertegun. Ia menatap sekitar yang tampak sunyi. "Bapak... Bapak menurunkan saya di sini? Di tengah jembatan?"
Airin mengira Jordan sedang marah atau merasa bosan dengannya. Dengan raut wajah yang sedikit sedih namun tetap terlihat tenang, ia membuka pintu mobil dan turun. Angin malam yang dingin langsung menyergap kulit bahunya yang terbuka. Tanpa membuang waktu, Airin meraba tasnya, mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi daring. Ia merasa mungkin ia telah berbuat salah hingga dosennya itu mengusirnya.
Baru saja jemari lentiknya hendak menyentuh layar aplikasi, sebuah tangan besar merenggut ponsel itu dari genggamannya dengan gerakan secepat kilat.
"Pak! Kembalikan ponsel saya," pinta Airin dengan suara lembutnya yang kini terdengar sedikit memohon.
Jordan tidak menjawab. Ia memasukkan ponsel Airin ke saku jasnya, lalu menarik tangan gadis itu menuju tepian jembatan. "Siapa yang menyuruhmu memesan taksi? Aku menyuruhmu keluar untuk melihat ini."
Jordan menunjuk ke arah langit. Malam itu, langit Jakarta yang biasanya tertutup polusi tampak sedikit lebih cerah dengan beberapa bintang yang mengintip di balik awan tipis. Angin lembut berembus, memainkan rambut panjang Airin yang digerai, membuatnya berkibar pelan menutupi sebagian wajah manisnya.
Airin terdiam. Ia berdiri di samping pria raksasa setinggi 187 cm itu, merasa begitu kecil namun terlindungi. Wajahnya yang terkena terpaan angin tampak sangat damai, dengan lesung pipi yang samar-samar terlihat saat ia sedikit tersenyum menatap bintang.
Jordan tidak menatap langit. Ia hanya menatap Airin.
Bagi Jordan, pemandangan di sampingnya jauh lebih indah dari galaksi mana pun. Kelembutan Airin, kepolosannya, dan bau mawar yang menguar dari tubuh gadis itu benar-benar mengikis sisa-sisa pengendalian diri yang ia miliki. Rasa gemas yang tertahan sejak di kelas kini memuncak hingga ke ubun-ubun.
Tanpa peringatan, Jordan meraih bahu Airin, memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya, dan langsung merunduk. Ia mendaratkan kecupan di bibir Airin. Bukan ciuman brutal seperti dalam hayalannya tadi, melainkan sebuah kecupan yang dalam, hangat, dan penuh dominasi yang terselubung.
Airin terkesiap. Matanya membelalak kaget. Ia mencoba mendorong dada bidang Jordan, namun pria itu seperti tembok baja yang tak tergoyahkan.
"Bapak... Bapak lancang sekali!" ucap Airin setelah berhasil melepaskan diri. Napasnya terengah-engah, wajahnya merah padam karena marah, namun suaranya tetap tidak bisa meninggi. Kelembutan alaminya membuat kemarahannya terdengar seperti keluhan yang manis.
Airin berbalik, berniat pergi dengan kaki telanjang kalau perlu, namun tangan Jordan dengan sigap melingkar di pinggang rampingnya, menariknya kembali hingga punggung Airin menempel erat di dada Jordan.
"Aku menyukaimu, Airin Rodriguez. Bukan sebagai mahasiswaku, tapi sebagai wanita yang ingin aku miliki seutuhnya," bisik Jordan tepat di telinga Airin, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Airin terkesiap, tubuhnya mendadak lemas. Pengakuan itu terasa seperti bom yang meledak di kepalanya. "Bapak bicara apa... Kita baru saja..."
"Aku tidak butuh waktu lama untuk tahu apa yang kuinginkan dalam hidupku. Dan saat ini, yang kuinginkan adalah kamu," lanjut Jordan dengan nada mutlak.
Jordan memutar kembali tubuh Airin. Melihat wajah Airin yang kebingungan dan tampak sangat menggemaskan, Jordan kembali merasa ingin mencium bibir itu lagi. Namun, kali ini Airin lebih cepat. Dengan gerakan refleks yang sopan namun tegas, ia mengangkat kedua tangan kecilnya, menutupi mulutnya sendiri agar tidak bisa dicium oleh Jordan.
Mata cokelat Airin menatap Jordan dengan pandangan protes yang sangat jernih. Jordan tertegun melihat tindakan itu. Ia melihat Airin yang terdiam dengan tangan menutupi mulut, sementara matanya bergerak-gerak penuh keheranan seolah sedang memproses apakah pria di depannya ini sedang bercanda atau sudah hilang ingatan.
Jordan tidak marah. Ia justru tertawa kecil melihat kepolosan Airin yang begitu murni. Ia meraih tangan Airin yang sedang menutupi mulut itu, menariknya perlahan, lalu mencium punggung tangan Airin secara bergantian dengan lembut. Kecupan demi kecupan mendarat di jemari lentik Airin, membuat gadis itu semakin mematung tak berdaya.
"Jangan menatapku seperti itu, Airin. Kamu membuatku ingin membawamu pulang ke rumahku sekarang juga, bukan ke apartemenmu," gumam Jordan sambil terus mengecup ujung-ujung jari Airin.
Airin hanya bisa diam, merasakan sentuhan bibir Jordan di tangannya yang terasa membakar. Di bawah langit malam jembatan itu, ia menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dosennya yang sangar ini ternyata adalah seorang pemburu yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan mangsanya.
"Pulangkan saya, Pak... Tolong," bisik Airin akhirnya, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam.
Jordan menatapnya dalam, lalu tersenyum tipis. "Baiklah, untuk malam ini aku akan melepaskanmu. Tapi jangan harap kamu bisa lari dariku besok di kampus."