Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Kaina terdiam dengan pertanyaan Haikal. Ia tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi dengan gamblang dan membuat masalah baru nantinya.
Haikal mengernyit dan menatap wajah Kaina dengan penasaran.
"Apa yang terjadi?" desak Haikal tidak sabar.
"Itu..., Saya tidak tau harus menceritakan dari mana," ucap Kaina lirih.
"Ceritalah! Anggap saya batu, dan katakan kenapa kamu bisa mendapat bekas cambukan seperti itu?" ucap Haikal lembut.
Kaina menggeleng, ia tersenyum manis dan menatap Haikal dengan wajah sendunya.
"Saya tidak ingin membuat masalah baru, Tuan. Sekarang, saya sudah keluar dari rumah itu, jadi tidak ada yang perlu dikenang lagi," ucap Kaina tersenyum.
Haikal hanya terdiam menatap Kaina. Gadis ini menyimpan begitu banyak masalah dan juga rasa sakit yang tidak berujung.
Tapi aku penasaran!. Jerit Haikal dalam hati.
"Ck, kau mau aku marah?" tanya Haikal kesal.
Kaina terdiam sambil menghela nafasnya. "Baiklah, tapi Tuan harus janji, kalau Tuan tidak berbuat aneh-aneh nanti," ucapnya menunduk.
"Baiklah!" ucap Haikal kembali memeluk Kaina.
Kaina mulai merasa nyaman dengan pelukan itu, ia menghela nafas pelan dan mulai bercerita.
"Saya, sering menjadi tempat pelampiasan amarah dan kesalahan. Siapapun yang berbuat salah, pasti saya yang akan dimarahi. Bahkan ketika tidak berbuat apapun saya juga terkena imbasnya," ucap Kaina tersenyum miris.
Haikal masih terdiam, membiarkan gadis itu berbicara, mengeluarkan apa yang sudah ia pendam selama ini.
"Bekas luka itu, cukup membuat saya menyadari, jika tidak ada orang yang menginginkan saya berada di sana," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia duduk dan memperlihatkan semua luka yang ada di punggungnya.
"Bekas hitam dan sedikit lebih lebar, itu karena ikat pinggang. Kalau tidak salah, waktu itu Selena terkena tumpahan kopi yang panas karena dia bermain kejar-kejaran bersama Bobi. Saya yang membuat kopinya, dan saya juga yang di salahkan," ucap Kaina.
Haikal menyentuh bekas luka itu dengan hati yang terasa pedih.
"Yang di sebelah kanan itu, kalau tidak salah, aku tidak sengaja memecahkan Gucci mahal ibu karena menghindari pukulan dari Ayah. Saya lupa, entah apa yang saya perbuatan, hingga ayah ingin memukul saya menggunakan ikat pinggang," ucapnya dengan wajah sendu dan menunduk.
"Sejak kapan?" tanya Haikal. "Sejak kapan mereka mulai melekatkan tangan seperti itu?".
"Sudah dari kecil, Tuan. Hanya saja, semakin dewasa, semakin parah dan tidak bisa dikontrol," ucap Kaina.
Haikal terdiam dan kembali memeluk Kaina. Mengecup kening gadis itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Terakhir itu, satu bulan sebelum kita menikah," ucap Kaina.
"Kenapa?" tanya Haikal mengernyit.
"Ntahlah, Tuan. Saya tidak tau kenapa tiba-tiba pulang dari kampus ayah langsung marah dan memukul saya menggunakan sapu, bahkan sapu itu sampai patah. Saya juga demam tiga hari karena itu," ucap Kaina tercekat.
"Dengan sapu? Sampai patah dua?" ucap Haikal emosi. "Apa kau tidak bertanya alasannya?".
"Ayah bilang kalau saya menjual diri, bahkan juga sempat mengatai saya jalaang. Jangankan untuk berbuat seperti itu, ada yang dekat saja tidak," ucap Kaina.
Haikal terbelalak mendengarkan ucapan gadis itu Wajahnya memerah mendengarkan alasan tidak etis yang dikatakan oleh Leo.
"Apa kau tidak bisa membela diri?" tanya Haikal geram.
Kaina menggeleng. "Membela diri, hanya akan menambah rasa sakit dan pukulan yang saya terima. Lebih baik saya diam dan tidak melawan, menerima semua pukulan itu hingga emosi mereka reda," ucapnya tersenyum sambil mengusap air mata.
"Kau demam dan tidak ada yang peduli dan membawa kau ke rumah sakit?" tanya Haikal tidak habis pikir.
"Mungkin Tuan akan tertawa mendengar ini. Nama saya sudah lama tidak terdaftar dalam assuransi keluarga. Jika sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, ibu pasti tidak akan memberikan aku uang sepersenpun hingga nominalnya setara dengan biaya rumah sakit itu. Sementara, saya membutuhkan uang untuk menyambung hidup, karena saya jarang mendapatkan jatah makan ketika berada di rumah," ucap Kaina semakin tercekat.
"Sudah, jangan teruskan!" ucap Haikal memeluk Kaina dengan erat.
"Padahal, apa yang ada di rumah itu sebagian besar adalah milik Bunda," ucap Kaina dengan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
Kau memang defenisi gadis malang dan terlantar. Hidup di keluarga kaya, tapi kau diperlakukan seperti sampah. Lihat saja, apa bisa aku lakukan untuk membalas semua kesakitan yang telah kau derita selama ini!. Batin Haikal.
Ia segera menggendong Kaina dan membilas badan mereka. Ia melihat masih banyak lagi bekas luka yang berbekas jelas di kaki gadis itu.
Haikal merasa semakin geram dengan keluarga sang istri yang bertindak semena-mena.
Setelah bersih, ia kembali menggendong Kaina dan mengeringkan tubuh gadis itu. Ia menatap wajah Kaina dengan dalam.
"Tuan sudah berjanji untuk tidak marah dan melakukan hal yang aneh," ucap Kaina tersenyum.
"Setelah saya mengetahui hal ini, saya berubah pikiran!" ucap Haikal.
"Tuan, tindakan anda hanya akan membuat saya berada dalam bahaya. Pasti ayah akan memukul saya lagi seperti sebelumnya. Apalagi kalau ibu dan Selena juga ikut menghasut dan menanas-manasi ayah," ucap Kaina menahan isakannya.
Haikal terdiam sambil menahan emosi yang sudah menguasai dirinya. Ia hanya mengepal dan menggertakkan gigi sambil menatap lantai, seolah menganggap itu mereka.
"Baiklah! Sekarang, kita makan dulu dan kau harus punya energi agar bisa bermain lagi," ucap Haikal tersenyum tipis.
Kaina melotot mendengar ucapan Haikal. Ia merasa gemeteran karena terbayang dengan rasa sakit yang baru saja ia rasakan.
"Suapi saya!" ucap Haikal memberikan piring makanya kepada Kaina.
Gadis itu mengangguk dan menyuapi Haikal. Namun ia mengernyit ketika melihat ayam goreng tepung yang ada di atas piring.
"Itu saya masak untuk kamu. Air lemonnya juga harus di minum. Biar kamu lebih segar dan bertenaga dengan perut yang kenyang," ucap Haikal tersenyum.
Kaina hanya terdiam dan kembali menyuapi Haikal. Ia merasa ingin lari dari sini dan bersembunyi agar tidak diterkam lagi oleh pria tampan ini.
Haikal hanya menahan tawa melihat wajah pucat Kaina, ia merasa gemas dan ingin kembali melakukannya lagi dengan sayang istri.
Ck, bisa-bisanya aku ketagihan. Gadis ini seperti candu yang seolah menarikku untuk selalu bdekat dengannya. Aku merasa tidak bisa untuk menahan diri. Batin Haikal.
Ia mengecup bahu Kaina dan membuat gadis itu terkejut. Hampir saja ia menjatuhkan piring yang tengah dipegang.
"Tu-tuan," ucap Kaina mengelak.
Haikal tersenyum dan memeluk Kaina, ia mengambil piring dan meletakkan di atas nakas.
Jantung gadis itu berdetak kencang, menerka apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aku menginginkanmu!" ucap Haikal tersenyum mesum dan kembali mencumbu Kaina.
Gadis itu terkejut, namun Haikal segara dan menahan tubuhnya agar tidak bergerak. Kini ia kembali berada dalam kukungan pria tampan itu.
Kaina merasakan sesutu yang berbeda dari awal tadi. Kenikmatan seolah lebih menguasai dari pada rasa sakit.
Kelembutan Haikal membuatnya hanyut dalam peraduan malam itu. Kaina menahan diri untuk tidak mendesaah, namun gerakan Haikal membuatnya merasa tidak sanggup untuk menahan.
"Akh, Tuan!" ucapnya dengan dada yang membusung.
Wajahnya memerah dengan bibir yang tergigit, membuat Haikal semakin terbakar gaairah. Ia semakin bersemangat untuk bermain dengan sang istri.
Kaina mulai merasakan sesuatu yang membuatnya tidak ingin lepas dari kegiatan ini. Ia juga menginginkannya.
Saya sudah jatuh terlalu dalam dengan sentuhan anda, Tuan!. Batin Kaina.
Ia hanya pasrah mengikuti Haikal dan nalurinya. Hingga mereka selesai bermain, kini Kaina terkulai lemas di atas tubuh Haikal.
"Katakan, jika kau menikmatinya!" ucap Haikal terengah.
Kaina menggeleng pelan, ia menyangkal pertanyaan yang membuatnya semakin malu.
"Ck, kau tidak menangis lagi. Ayo katakan, jika kau menginginkannya lagi!" ucap Haikal terkekeh.
Kaina menutup mulut Haikal dengan tangan. Ia merasa sangat mengantuk dan ingin beristirahat.
Haikal terkekeh, rasa puas hinggap dihatinya. Ia mengelus punggung Kaina dengan lembut, seolah memberikan rasa cinta kepada gadis itu hingga mereka terlelap dengan saling berpelukan.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya