NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

20. TGD.20

Setelah pertemuan besar antara dua keluarga itu, fokus cerita sedikit bergeser ke arah Arkan. Jika selama ini kita melihat Arkan dari sudut pandang Shelly sebagai "cowok kota" yang datang berkunjung, kini kita masuk ke dalam isi kepala dan keseharian Arkan yang sedang mengalami transformasi besar dalam hidupnya.

---

Setiap malam setelah pulang dari kantor koperasi atau dari lapangan, Arkan kembali ke kamarnya di mess proyek—sebuah bangunan semi-permanen dengan dinding triplek dan atap seng yang berbunyi nyaring setiap kali hujan turun. Di atas meja kerjanya yang penuh dengan gulungan cetak biru dan penggaris skala, Arkan seringkali termenung menatap layar laptopnya.

Ada sebuah *e-mail* dari kantor pusatnya di Jakarta yang masuk setiap minggu, menawarkan posisi *Senior Architect* untuk proyek gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Karier impiannya ada di sana, hanya sejauh satu jam penerbangan. Namun, setiap kali ia melihat ke luar jendela mess yang menghadap langsung ke arah perbukitan desa, hatinya merasa berat.

"Apa aku benar-benar berubah, atau aku hanya sedang jatuh cinta?" gumamnya pada diri sendiri suatu malam.

Ia mengambil sebuah buku sketsa kecil. Di dalamnya bukan lagi gambar fasad gedung yang kaku, melainkan detail sambungan kayu tradisional rumah Shelly yang ia pelajari. Arkan mulai menyadari bahwa keindahan arsitektur bukan terletak pada seberapa tinggi sebuah bangunan, melainkan pada seberapa menyatu bangunan itu dengan manusia dan alam di sekitarnya.

---

Arkan mulai mengubah kebiasaannya. Ia yang biasanya memulai hari dengan *espresso* dari mesin otomatis, kini mulai terbiasa dengan kopi tubruk buatan Ibu Shelly yang ampasnya harus ditunggu mengendap. Ia yang dulu sangat peduli dengan kebersihan sepatu kets putihnya, kini membiarkan sepasang sepatu bot karet menjadi alas kaki utamanya.

Suatu hari, Arkan sedang mengawasi pembangunan balai pelatihan yang ia desain. Salah satu tukang bangunan, Kang maman, tampak kebingungan membaca gambar teknik yang dibuat Arkan.

"Aduh, Mas Arkan... ini garisnya kok banyak banget? Kami biasanya ya cuma kira-kira saja kalau pasang soko (tiang) ini," keluh Kang Maman sambil menggaruk kepala.

Arkan tidak marah. Ia turun dari perancah, meletakkan helm proyeknya, dan duduk di atas tumpukan semen bersama para tukang. "Sini, Kang. Saya jelaskan pakai cara yang lebih gampang. Bayangkan tiang ini seperti kaki manusia. Kalau kakinya nggak sejajar, jalannya pincang. Nah, garis ini gunanya supaya rumah ini nggak 'pincang' sampai puluhan tahun ke depan."

Arkan menghabiskan waktu berjam-jam mengajari para tukang desa tentang struktur bangunan tanpa sedikit pun nada merendahkan. Di sinilah Arkan belajar tentang **kesabaran**. Ia menyadari bahwa di desa, otoritas tidak didapatkan dari gelar di kartu nama, melainkan dari seberapa besar kau mau berbaur dan menghargai cara kerja mereka.

---

Sesekali, Arkan merasa rindu dengan hiruk-pikuk Jakarta. Ia rindu makan steak di akhir pekan atau menonton film di bioskop dengan suara *surround* yang menggelegar. Namun, rasa rindu itu biasanya langsung sirna saat ia melihat Shelly berjalan menuju arahnya membawa sebungkus jagung rebus.

"Mas Arkan, melamun lagi? Ingat Jakarta ya?" tanya Shelly suatu sore.

Arkan tersenyum, menyambut jagung itu. "Cuma teringat macetnya, Shel. Di sini, kalau aku mau ke kantor, tantangannya bukan macet, tapi harus permisi sama kerbau yang lewat."

Mereka tertawa bersama. Di saat-saat seperti itu, Arkan merasa hidupnya lebih "nyata". Di Jakarta, ia merasa seperti sekrup kecil di dalam mesin raksasa yang tidak pernah berhenti. Di desa ini, ia merasa menjadi bagian penting dari sesuatu yang sedang tumbuh.

---

Ujian bagi Arkan datang saat bos besarnya dari Jakarta, Pak Hendra, datang berkunjung untuk meninjau progres proyek pusat pelatihan. Pak Hendra adalah tipe pengusaha yang hanya peduli pada kecepatan dan profit.

"Arkan, progresmu bagus, tapi desainmu terlalu... tradisional," kritik Pak Hendra sambil menunjuk aksen ukiran kayu dan sistem ventilasi alami yang dirancang Arkan. "Kalau pakai beton dan kaca semua, kita bisa selesai lebih cepat dua bulan. Buat apa repot-repot pakai material lokal?"

Arkan berdiri tegak, memegang papan klipnya dengan erat. "Pak, gedung ini dibangun untuk petani. Kalau kita pakai kaca dan AC, biaya perawatannya akan mencekik mereka di kemudian hari. Dengan ventilasi ini, mereka tidak butuh AC. Dengan kayu lokal, kita menggerakkan ekonomi pengrajin di sini. Ini bukan cuma soal bangunan, Pak, ini soal keberlanjutan."

Pak Hendra menatap Arkan dengan heran. "Kamu benar-benar sudah 'tertular' ideologi gadis desa itu ya?"

Arkan tidak menunduk. "Dia tidak menulari saya, Pak. Dia menyadarkan saya tentang apa fungsi sebenarnya dari seorang arsitek. Kita membangun untuk manusia, bukan untuk sekadar memuaskan ego desain kita."

Akhirnya, Pak Hendra menyerah dan membiarkan Arkan bekerja dengan caranya. Kejadian itu menjadi bukti bagi Arkan bahwa ia telah benar-benar menemukan prinsip hidupnya.

---

Di sela-sela kesibukan proyeknya, Arkan mulai mengerjakan proyek pribadinya di malam hari: desain rumah yang pernah ia tunjukkan sketsanya pada Shelly. Ia mengerjakannya dengan sangat detail, menghitung arah angin agar rumah itu tetap sejuk, dan memastikan ada ruang laboratorium kecil untuk Shelly meneliti benih-benihnya.

Ia sering berkonsultasi dengan Bapak Shelly tentang jenis kayu jati yang paling kuat untuk tiang utama. Hubungan Arkan dengan Bapak pun semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu malam hari dengan memancing di kolam belakang rumah.

"Nak Arkan," tanya Bapak suatu malam di pinggir kolam. "Kamu beneran mau menetap di sini? Hidup di sini itu sunyi. Anak muda kota biasanya cepat bosan."

Arkan melempar umpannya ke tengah kolam. "Pak, saya sudah bosan dengan kebisingan yang tidak ada tujuannya. Di sini, kesunyiannya punya arti. Saya merasa setiap hari saya pulang ke rumah, bukan cuma pulang ke tempat tidur."

Bapak menepuk pundak Arkan. "Tahu nggak kenapa Bapak akhirnya setuju sama kamu? Bukan karena kamu pinter gambar, tapi karena kamu mau dengerin omongan orang tua yang cuma lulusan SD ini. Lelaki yang mau dengerin itu lelaki yang bisa jaga keluarga."

---

Dua tahun hampir berlalu. Proyek pusat pelatihan pertanian itu akhirnya diresmikan. Bangunan itu berdiri dengan gagah, sebuah perpaduan antara kemodernan arsitektur dan kearifan lokal desa. Arkan berdiri di tengah kerumunan, melihat Shelly memberikan sambutan sebagai direktur pengelola pusat tersebut.

Tugas Arkan secara kontrak sudah selesai. Kantornya di Jakarta memintanya segera kembali. Namun, Arkan sudah membuat keputusan besar. Ia tidak berhenti dari perusahaannya, tetapi ia meminta izin untuk membuka kantor perwakilan kecil di kota kabupaten dekat desa Shelly.

Malam terakhir sebelum ia resmi "pindah" dari mess ke rumah kontrakan sementara di desa, Arkan mengajak Shelly berjalan-jalan ke lokasi di mana ia berencana membangun rumah mereka suatu hari nanti.

"Shel," Arkan menggenggam tangan Shelly di bawah sinar bulan. "Dulu aku datang ke sini sebagai arsitek yang mau membangun gedung. Sekarang, aku sadar bahwa yang paling penting yang aku bangun di sini bukan gedung itu."

"Lalu apa?" tanya Shelly lembut.

"Diriku sendiri. Dan masa depan kita." Arkan mengeluarkan sebuah kunci kecil. "Ini kunci kantor baruku di kabupaten. Aku nggak akan pergi, Shel. Aku tetap di sini. Kita akan bangun semuanya sama-sama. Kamu dengan padimu, aku dengan garis-garisku."

Shelly tersenyum, air mata haru menggenang di matanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. Di kejauhan, lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu, seperti harapan-harapan kecil yang terus terjaga.

Arkan, si anak kota yang dulunya asing dengan lumpur, kini telah benar-benar pulang. Ia menemukan bahwa rumah sejati bukanlah koordinat di peta, melainkan di mana hati merasa berguna dan dicintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!