NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Kiara Mengetahui

#

"Lu telat setengah jam."

Mahira merosot di kursi depan Kiara, melepas kacamata hitamnya. "Sorry. Macet."

Kiara menyesap cappuccino-nya sambil menatap sahabatnya dengan alis terangkat. "Macet atau lo ngehindarin gue gara-gara kemaren gue tanya soal Putri Aisyara terus lo tiba-tiba kabur?"

Kafe Ruang Tengah—tempat langganan mereka sejak kuliah—masih sepi di jam sepuluh pagi. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan. Musik jazz lembut mengalun dari speaker. Tempat yang aman untuk berbicara tanpa telinga-telinga penasaran di kantor.

"Gue nggak kabur—"

"Lu kabur, Mahira." Kiara memotong. "Dan sejak itu lo nggak bales chat gue. Telepon gue. Bahkan email kantor gue lo ignore. Jadi sekarang, lo mau jelasin atau gue harus maksa?"

Mahira menghela napas panjang. Ia memanggil pelayan, memesan kopi hitam tanpa gula. Butuh sesuatu yang kuat untuk percakapan ini.

"Gue... nggak tahu harus mulai dari mana."

"Mulai dari kenapa lo pucat kayak orang nggak tidur seminggu." Kiara meletakkan cangkirnya. "Dan kenapa pas gue sebut nama Putri Aisyara, lo reaksinya kayak orang yang liat hantu."

Mahira menatap tangannya sendiri di atas meja. Jemarinya bergetar halus. "Karena gue... gue rasa gue adalah dia. Atau... dia adalah gue. Gue nggak tahu gimana jelasinnya."

Keheningan.

Kiara tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya menatap.

"Gue tahu ini kedengeran gila—" Mahira mulai lagi.

"Reinkarnasi," potong Kiara pelan. "Lu percaya lu reinkarnasi dari Putri Aisyara."

"Bukan percaya. Gue... gue lihat. Gue rasain." Mahira menarik napas gemetar. "Gue punya ingatan yang bukan milik gue. Mimpi yang terlalu nyata. Dan setiap kali gue sentuh benda-benda tertentu, gue... gue kayak tersedot ke masa lalu. Liat kejadian yang terjadi 300 tahun lalu."

Pelayan datang membawa kopi Mahira. Ia menunggu pelayan itu pergi sebelum melanjutkan.

"Nenek gue ninggalin surat. Dia bilang, ini warisan spiritual keluarga. Dan gue... gue yang dipilih untuk ngalamin ini." Suaranya nyaris berbisik. "Khaerul—dia reinkarnasi dari pembunuh gue. Panglima Khalil. Dan minggu depan, gue akan ketemu sama... sama Zarvan."

"CEO Al-Hakim yang mau merger sama perusahaan lu?"

"Dia juga reinkarnasi. Dari Pangeran Zarvan. Calon suami Aisyara yang... yang mati nyoba nyelamatin dia."

Kiara bersandar di kursinya. Mengusap wajah. "Okay. Ini... ini berat, Mahira."

"Lu pikir gue gila?"

"Nggak." Kiara menatapnya dengan serius. "Gue pikir lu lagi ngalamin sesuatu yang di luar logika. Dan gue nggak bisa bilang ini nyata atau nggak. Tapi gue kenal lu dari SMA. Lu bukan orang yang suka drama atau cari perhatian. Jadi kalau lu bilang lu ngalamin ini, gue percaya."

Air mata tiba-tiba mengalir di pipi Mahira. Ia tidak sadar betapa ia butuh seseorang—selain Raesha—untuk percaya padanya.

"Makasih," bisiknya.

Kiara meraih tangan sahabatnya. "Tapi lu nggak bisa jalanin ini sendirian. Lu butuh bantuan."

"Bantuan siapa? Psikolog? Dokter? Mereka bakal bilang gue stress atau depresi atau—"

"Ustadz Hariz."

Mahira mengerutkan kening. "Ustadz yang sering ngisi kajian di masjid kantor?"

"Iya. Dia juga ahli spiritual." Kiara menurunkan suaranya. "Tahun lalu, sepupu gue ada masalah... mirip kayak lu. Dia liat hal-hal yang nggak masuk akal. Ketemu ustadz Hariz, ternyata ada gangguan jin. Setelah diruqyah, sembuh."

"Lu pikir gue kesurupan?"

"Bukan kesurupan. Tapi mungkin... mungkin ada makhluk halus yang ngasih lu visi-visi itu. Atau mungkin dia bisa bantu lu ngerti apa yang sebenernya terjadi." Kiara mengeluarkan ponselnya. "Gue ada nomornya. Lu mau gue sambungin?"

Mahira terdiam. Konsultasi dengan ustadz? Ia tidak pernah terpikir ke sana. Tapi mungkin... mungkin Kiara benar. Mungkin ia butuh perspektif spiritual untuk memahami semua ini.

"Oke," ucapnya pelan. "Sambungin."

***

Mereka menghabiskan satu jam di kafe—Mahira menceritakan detail mimpi-mimpinya, visi-visi yang datang, surat nenek, hingga pesan ancaman yang ia terima. Kiara mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali bertanya untuk klarifikasi.

"Jadi basically," Kiara menyimpulkan, "lu, Khaerul, sama Zarvan ini terikat kutukan. Dan kutukan itu bisa putus kalau... kalau apa?"

"Gue nggak tahu." Mahira menggeleng. "Surat Nenek cuma bilang gue harus ungkapin kebenaran dan temuin cinta yang tertunda. Apapun itu artinya."

"Cinta yang tertunda... maksudnya lu harus jadian sama Zarvan?"

"Kayaknya." Mahira menyesap kopi yang sudah dingin. "Tapi gimana gue bisa jatuh cinta sama orang yang belum pernah gue kenal? Yang bahkan belum pernah gue liat?"

"Mungkin pas ketemu nanti, lo akan langsung ngerasa sesuatu." Kiara tersenyum tipis. "Kayak soulmate connection gitu."

"Ini bukan drama Korea, Ki."

"Who knows?" Kiara nyengir. "Mungkin hidup lu emang udah kayak drama Korea. Reinkarnasi, cinta terlarang, kutukan—lengkap!"

Mahira tertawa—pertama kalinya sejak berhari-hari. Dan ia bersyukur punya sahabat seperti Kiara yang bisa bikin ia tertawa di tengah kekacauan ini.

"Oh iya," Kiara meraih tasnya, "besok gue udah janjiin lu sama Ustadz Hariz. Jam 4 sore. Di rumahnya, Kemang."

"Secepat itu?"

"Lu bilang Zarvan datang lima hari lagi kan? Kita nggak punya waktu banyak." Kiara berdiri. "Ayo, gue anter lu pulang. Lu keliatan butuh istirahat."

Mereka berjalan keluar kafe—siang Jakarta yang panas menyambut. Kiara menyalakan AC mobilnya langsung ke maksimal.

"Lu yakin nggak mau gue temeni ke rumah Nenek besok?" tanya Kiara sambil menyetir keluar parkiran.

"Gue sama Raesha aja. Kita mau ke lokasi yang ada di peta—"

Mahira menghentikan kalimatnya. Matanya menangkap bayangan di spion samping. Sebuah motor hitam. Pengendaranya memakai helm fullface dan jaket hitam.

Motor yang sama yang ia lihat tadi pagi saat berangkat dari rumah.

"Ki," suaranya pelan, "jangan panik. Tapi gue rasa ada yang ngikutin kita."

Kiara melirik spion. "Motor hitam?"

"Iya."

"Lu yakin dia ngikutin kita? Bukan cuma kebetulan searah?"

"Gue udah liat motor itu dari pagi." Jantung Mahira berdegup kencang. "Pas gue keluar rumah. Pas gue parkir di kafe. Dan sekarang."

Kiara mengencangkan pegangannya di setir. "Oke. Gue akan coba lepas dia."

"Ki, jangan ugal-ugalan—"

Tapi Kiara sudah menginjak gas, menyalip mobil di depannya dan belok tajam ke kiri. Motor hitam itu tetap mengikuti.

"Shit." Kiara belok lagi, masuk ke jalan yang lebih sepi. "Dia masih di belakang."

Mahira menoleh ke belakang—motor itu makin mendekat. Pengendaranya tidak berusaha menyembunyikan niat mengikuti mereka lagi.

"Ki, bawa ke tempat ramai!"

Kiara kembali ke jalan utama, memasuki kawasan mall yang padat. Ia parkir di basement, mematikan mesin.

"Motor itu masuk nggak?"

Mereka menunggu. Satu menit. Dua menit.

Tidak ada motor hitam.

"Mungkin dia hilang," gumam Kiara, tapi suaranya tidak yakin.

Mahira membuka pintu mobil. "Ayo kita masuk mall sebentar. Tunggu situasi aman."

Mereka berjalan cepat menuju lift. Mahira terus menoleh ke belakang—paranoid bahwa seseorang masih mengikuti. Basement yang remang-remang terasa menyeramkan.

Lift terbuka. Mereka masuk—

—dan seorang pria berjaket hitam masuk bersamaan.

Mahira tersentak. Pria itu menunduk, wajahnya tertutup hoodie. Tapi ia bisa merasakan tatapannya. Tatapan yang membuatnya merinding.

Kiara menekan tombol lantai 3. Pria itu menekan lantai yang sama.

Pintu lift tertutup.

Keheningan mencekam. Mahira bisa mendengar napasnya sendiri—terlalu keras, terlalu cepat. Kiara meraih tangannya, menggenggam erat.

Ding.

Lantai 3.

Pintu terbuka. Mereka keluar dengan cepat—pria itu mengikuti di belakang.

"Ki, dia—"

"Aku tahu." Kiara menariknya masuk ke toko pakaian. "Kita sembunyi di sini."

Mereka berpura-pura melihat-lihat baju sambil sesekali melirik keluar. Pria berjaket hitam itu berhenti di depan toko. Berdiri. Menunggu.

"Gue telepon Raesha," bisik Mahira, mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar.

Tapi sebelum ia sempat menekan nomor kakaknya, pria itu berjalan mendekat—masuk ke toko.

"Permisi."

Suaranya berat. Familiar.

Ia melepas hoodie-nya—

—dan wajah Khaerul muncul.

Mahira terpaku. Kakinya serasa membeku.

"Mahira," Khaerul tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata. "Kita perlu bicara."

Kiara melangkah di depan Mahira, postur protektif. "Dia nggak mau bicara sama lu."

"Ini urusan keluarga." Khaerul menatap Kiara dengan tatapan dingin. "Nggak ada hubungannya sama kamu."

"Apapun yang lu mau omongin, omongin di depan gue juga," ujar Kiara tegas. "Gue nggak akan ninggalin Mahira sendirian sama lu."

Khaerul mendekat satu langkah—dan Mahira bisa melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang sama dengan tatapan Pangeran Khalil di visi-visinya.

"Aku tahu kamu sudah tahu," bisik Khaerul, suaranya berbahaya. "Tentang masa lalu. Tentang siapa kita sebenarnya."

Mahira menelan ludah. "Aku nggak ngerti apa yang lu—"

"Jangan bohong." Khaerul memotong. "Aku juga punya ingatan yang sama. Mimpi yang sama. Dan aku tahu, kamu adalah dia. Aisyara."

Dunia serasa berhenti berputar.

"Kalau kamu pikir Zarvan bisa menyelamatkanmu kali ini," Khaerul melanjutkan dengan nada pelan yang mengerikan, "kamu salah. Sejarah akan terulang, Mahira. Dan kali ini, aku akan pastikan tidak ada yang bisa menghalangi."

Ia berbalik dan berjalan keluar—meninggalkan Mahira dan Kiara terpaku dalam ketakutan.

"Mahira..." Kiara meremas tangannya. "Apa maksudnya dia?"

Tapi Mahira tidak bisa menjawab.

Karena ia tahu persis apa maksud Khaerul.

Pembunuhan yang terjadi 300 tahun lalu akan terulang.

Dan kali ini, Khaerul tidak akan gagal.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 6**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!