Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tamu Tak Diundang
Suara klakson mobil yang melengking panjang membelah ketenangan pagi di Desa Sunyi, memantul kasar di antara jajaran pohon jati yang meranggas. Di dalam rumah bata merah, Arkananta sedang meletakkan dua mangkuk nasi hangat di atas meja kayu. Tangannya mendadak berhenti di udara. Urat-urat di punggung tangannya menegang, dan jam tangan perak di pergelangan kirinya terasa berdenyut berat, seolah jarum detiknya sedang mendaki tanjakan yang terjal.
"Infiltrasi terjadi lebih awal dari kalkulasi operasional," ucap Arkan, suaranya rendah dan tajam. Ia melirik Nayara yang duduk di seberangnya.
Nayara tidak langsung menjawab. Ia sedang menggenggam tasbih kayunya, meraba retakan kusam yang ia dapatkan setelah bertahan dari serangan hawa dingin dan aroma bunga beracun kemarin. Wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya yang abu-abu menatap pintu depan dengan jernih. "Atmosfernya berubah, Arkan. Ini bukan aroma tanah Terra. Ada saturasi parfum kimia yang dipaksakan masuk ke ruang ini."
Arkan berdiri, melangkah menuju jendela. Di halaman yang berdebu, sebuah konvoi sedan hitam mengilap berhenti dengan posisi yang sengaja merusak pagar tanaman liar. Seorang wanita turun dari pintu tengah—Kireina. Ia mengenakan gaun sutra berwarna marun yang kontras dengan lingkungan sekitarnya, lengkap dengan kacamata hitam besar yang menutupi tatapan menghinanya.
"Bayu, beri mereka akses masuk. Minimalisir kontak fisik hingga instruksi selanjutnya," perintah Arkan melalui alat komunikasi kecil di kerahnya.
"Lapor, Tuan. Terdeteksi perangkat keras dengan modulasi frekuensi mencurigakan di kompartemen belakang mereka," suara Bayu terdengar statis di telinga Arkan.
"Abaikan. Itu adalah instrumen provokasi. Tetap di posisi."
Pintu depan rumah berderit terbuka tanpa ketukan. Kireina melangkah masuk, suara sepatu hak tingginya menghantam lantai kayu dengan bunyi dentum yang sengaja dikeraskan. Ia berhenti di tengah ruangan, mengibaskan tangannya di depan hidung seolah-olah udara di dalam rumah itu adalah polusi.
"Luar biasa, Arkananta. Saya memahami ini adalah fase pengasingan, namun menetap di dalam struktur apak seperti ini benar-benar di luar ekspektasi saya," Kireina melepaskan kacamata hitamnya, menatap sekeliling dengan bibir yang melengkung sinis.
"Sirkulasi udara di sini jauh lebih organik dibanding kepalsuan High Tower, Kireina. Apa urgensi Anda melintasi zona Forgotten ini?" Arkan berdiri tegak di depan meja, menempatkan dirinya sebagai perisai alami bagi Nayara.
Kireina tertawa, sebuah tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. Ia beralih menatap Nayara yang masih duduk tenang. "Dan inilah subjeknya... figur panti asuhan. Masih mengenakan tekstil berkualitas rendah, saya lihat? Sangat akurat dengan stratifikasi kasta Anda."
Nayara berdiri perlahan, menunjukkan Silent Dignity yang ia pelajari dari pahitnya pengusiran di panti dulu. "Kedaulatan diri tidak ditentukan oleh serat kain, Nyonya Kireina. Martabat saya tidak terdegradasi hanya karena berpijak di atas kayu, bukan marmer."
"Martabat? Sebuah terminologi yang ironis mengingat institusi panti Anda berada di ambang likuidasi," Kireina melemparkan sebuah map dokumen berwarna emas ke atas meja kayu yang kasar. "Nyonya Besar menginstruksikan terminasi lahan 'Cahaya Sauh'. Jika Anda menolak menandatangani klausul inkompetensi mental hari ini, unit berat akan meruntuhkan struktur bata merah itu besok fajar."
Arkan merasakan telinganya mendadak berdenging tajam. Sebuah frekuensi tinggi yang menyakitkan mulai menyebar dari mobil-mobil di luar, menembus dinding rumah. Melalui Shared Scar, ia merasakan lambung Nayara mendadak mual hebat dan napas istrinya mulai tersengal.
"Terminasi frekuensi itu sekarang, Kireina," geram Arkan. Wajahnya tetap datar, namun matanya mendingin hingga menyerupai baja.
"Frekuensi? Saya hanya membawa stimulasi audio untuk memecah kesunyian tragis ini," Kireina melangkah mendekat ke arah Nayara, mengabaikan peringatan Arkan. "Lihat manifestasi fisikmu, Nayara. Tremor, pucat, dan tidak stabil. Kau hanyalah beban dalam neraca hidup Arkan. Apakah kau pikir visual bayi itu mampu merubah status limbahmu? Kau tetaplah residu yang dibuang di depan gerbang."
Nayara mencengkeram pinggiran meja, kuku-kukunya menusuk kayu hingga meninggalkan bekas melingkar yang memutih. Ia bisa merasakan frekuensi suara itu mencoba mengacak-acak fokus batinnya, namun ia menolak untuk tumbang. "Eksistensi foto itu adalah parameter ketakutan kolektif Anda. Jika saya tidak memiliki nilai strategis, mengapa Anda harus menempuh jarak sejauh ini hanya untuk melakukan intimidasi?"
"Kami tidak mengenal rasa takut. Kami hanya sedang melakukan sanitasi terhadap reputasi Empire Group," Kireina mencengkeram dagu Nayara secara mendadak. "Eksekusi tanda tangan ini, atau saya pastikan figur Fatimah dan subjek panti lainnya kehilangan akses hunian malam ini."
Arkan melangkah maju. Dalam sekejap, suhu di ruangan itu terasa turun beberapa derajat—aktivasi Void Energy. Ia tidak menyentuh Kireina, namun tekanan hampa itu membuat Kireina secara refleks melepaskan cengkeramannya dan mundur selangkah.
"Hapus kontak fisik Anda dari istri saya," ucap Arkan, suaranya sangat tenang namun membawa beban yang menghimpit dada. "Sampaikan pada Nyonya Besar, dokumen likuidasi ini hanya akan berakhir sebagai bahan bakar di dapur kami."
Kireina mengatur napasnya yang mendadak sesak karena tekanan batin dari Arkan. "Transformasi Anda sangat ekstrem, Arkan. Anda mengorbankan proyeksi politik demi subjek panti ini? Ini adalah anomali kognitif."
"Saya tidak memilih subjek. Saya memilih integritas yang Anda kubur di bawah marmer High Tower," Arkan melirik ke arah luar, di mana Bayu mulai bergerak melumpuhkan perangkat frekuensi suara secara diam-diam. "Segera evakuasi diri dan kepalsuan Anda sebelum saya menanggalkan etika tuan rumah saya."
Kireina tersenyum licik, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api emas. "Satu catatan terakhir. Pesan dari Nyonya Besar: jika Anda merindukan aroma panti itu, silakan hirup sisa residunya sekarang." Ia membakar sudut surat pengosongan lahan itu dan menjatuhkannya ke lantai kayu.
Nayara segera menyiramkan sisa air minumnya ke api yang mulai menyala. Ia menatap Kireina dengan mata yang kini berpendar tajam—Truth Eye miliknya menangkap bayangan hitam yang melekat pada Kireina, sebuah energi busuk yang dikirim oleh Kyai Hitam.
"Oksidasi ini tidak akan menghanguskan martabat saya, Kireina. Namun kebencian sistemik Anda akan mengonsumsi diri Anda sendiri di kemudian hari," ucap Nayara dengan suara yang stabil meski tubuhnya masih merasakan sisa mual.
Kireina mendengus, mematikan pemantik emasnya dengan gerakan jemari yang gemetar karena amarah yang tertahan. Ia menatap genangan air di lantai kayu dengan pandangan merendahkan, lalu beralih menatap Arkananta yang masih berdiri kokoh seperti karang yang menolak pecah oleh ombak. Bau asap kecil dari kertas yang terbakar itu bercampur dengan aroma Amber yang pekat, menciptakan kontras yang memuakkan di indra penciuman Nayara.
"Anda menganggap pemadaman api kecil ini sebagai kemenangan?" Kireina melangkah mundur menuju pintu, namun ia berhenti sejenak untuk memperbaiki letak selendang sutranya. "Besok, Astinapura akan menyaksikan kedaulatan Arkananta runtuh saat panti asuhan itu rata dengan tanah."
"Saya tidak pernah berkompromi dengan narasi bohong, Kireina. Dan Anda adalah representasi kebohongan paling toksik dari ibu saya," balas Arkan, suaranya dingin dan datar, tanpa sedikit pun emosi yang bisa dieksploitasi oleh lawan bicaranya.
Kireina tertawa sinis, suaranya melengking kontras dengan kesunyian desa. "Simpan retorika itu untuk sidang etik nanti. Evakuasi area ini sekarang, atmosfernya merusak pori-pori saya."
Dengan lambaian tangan yang penuh kepalsuan, Kireina keluar dari rumah. Bunyi sepatu hak tingginya yang menghantam teras terdengar seperti rentetan tembakan bagi pendengaran Nayara yang masih sensitif akibat serangan frekuensi suara tadi. Begitu mesin mobil mewah itu menderu menjauh, Arkan segera berbalik dan menangkap bahu Nayara yang mulai limbung.
"Nayara, stabilkan posisi dudukmu. Aktivasi pernapasan manual sekarang. Bayu telah melakukan terminasi pada gangguan sinyal tersebut," ucap Arkan, suaranya melunak, penuh dengan nada protektif yang dalam.
Nayara jatuh terduduk di kursi kayu, tangannya meremas tasbih hingga buku jarinya memutih. "Auditori saya... terasa seperti tertusuk jarum mikro, Arkan. Dan sistem pencernaan saya merespons negatif."
Arkan berlutut di depan Nayara. Ia memejamkan mata, mengaktifkan resonansi Shared Scar secara sadar melalui Teknik Absorbsi Paksa. Ia menarik napas panjang, membiarkan mual dan denging di telinga Nayara berpindah ke sistem sarafnya sendiri. Wajah Arkan mendadak menegang, dan setetes darah segar mengalir dari lubang hidungnya—efek dari penyerapan beban batin yang terlalu cepat.
"Arkan! Terminasi prosesnya! Anda sudah mencapai batas toleransi fisik sejak semalam," bisik Nayara, mencoba menarik tangannya, namun Arkan menahannya dengan lembut tapi kuat.
"Aku adalah perimeter pertahananmu, Nayara. Jika aku gagal mengeliminasi gangguan audio ini dari sistemmu, maka aku kehilangan hak untuk berdiri di sisimu," Arkan mengusap darah di hidungnya dengan punggung tangan, lalu menatap Nayara dengan mata abu-abu yang kini kembali jernih. "Apakah level kenyamananmu meningkat?"
Nayara mengangguk pelan, rasa sesaknya perlahan meluruh, digantikan oleh kehangatan yang mengalir dari telapak tangan Arkan. "Apa urgensi mereka menghancurkan panti itu? Itu hanya struktur tua bagi mereka."
"Panti itu adalah bukti otentik dari malpraktik masa lalu mereka, Nayara. Mereka ingin meratakannya untuk menghapus jejak bahwa 'Unit Nol' pernah memiliki eksistensi di sana," Arkan berdiri, membantu Nayara tegak kembali. "Kireina tidak sekadar melakukan provokasi. Dia meninggalkan instrumen pelacak."
Bayu masuk kembali ke dalam ruangan, membawa sebuah perangkat kecil berbentuk cakram hitam yang tadi tersembunyi di balik bingkai jendela. "Tuan, teridentifikasi pemancar frekuensi infrasonik terintegrasi dengan pelacak GPS. Mereka memasang ini untuk memantau pergerakan kita ke area hutan."
Arkan mengambil perangkat itu dan menghancurkannya dengan sekali remasan tangan—manifestasi Iron Bone yang mengerikan. "Kita tidak akan melakukan manuver pelarian, Bayu. Kita akan mendefinisikan ulang aturan main mereka di tanah Terra ini."
Nayara menyentuh tasbihnya, menyadari ada satu butiran kayu yang kini memiliki retakan melintang yang baru, lebih dalam dari sebelumnya. "Besok... konfrontasi fisik terhadap panti akan dimulai, bukan?"
"Mereka akan mengerahkan agresi total, mulai dari manipulasi opini hingga sabotase fisik. Namun mereka alpa pada satu variabel," Arkan menatap keluar jendela, ke arah matahari yang mulai tinggi. "Di koordinat ini, saya bukan lagi pewaris yang terkekang. Saya adalah Komandan atas tanah yang mereka pijak."
Nayara berdiri di samping Arkan, membiarkan jemari mereka bertautan. Ia merasakan martabatnya bukan lagi berasal dari pengakuan kasta, melainkan dari keberanian untuk berdiri tegak di tengah kehancuran. "Lalu, apa protokol kita, Arkan? Jika mereka mengerahkan unit berat, apa yang kita aktivasi?"
"Kita akan aktivasi kebenaran yang tidak bisa didegradasi oleh baja, Nayara. Dan aku akan memastikan, setiap inci tanah panti asuhan itu menjadi kuburan bagi reputasi mereka," jawab Arkan dengan nada yang sangat yakin.
Malam itu, Desa Sunyi kembali tenang, namun udara terasa lebih berat. Di bawah lampu minyak yang redup, Arkan dan Nayara mempersiapkan diri. Mereka tahu bahwa kunjungan Kireina hanyalah pembuka dari serangan yang lebih besar. Di dalam hati Nayara, sholawat perlindungan terus bergema, menjadi perisai batin yang tidak bisa ditembus oleh frekuensi suara mana pun. Perang harga diri telah dimulai, dan mereka tidak akan mundur satu langkah pun dari bata merah yang jujur itu.