NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYELAMATKAN REKAN YANG TERSESAT

Pada hari kelima latihan survival di hutan – ketika tim Evan sudah mulai menemukan ritme yang baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari – Evan memutuskan untuk menjelajahi area lebih jauh dari basis operasi untuk mencari sumber makanan tambahan. Setelah mendapatkan persetujuan dari Siti sebagai pemimpin tim dan dibarengi oleh Rio yang ingin membantu mengumpulkan tanaman obat, mereka berangkat menjelang pagi hari dengan membawa alat pemotong kecil dan wadah untuk menyimpan hasil panen.

"Kita akan pergi ke arah lembah sebelah timur," jelas Evan kepada Rio saat mereka memasuki jalur yang lebih rimbun. "Kakek saya pernah bilang bahwa daerah itu biasanya banyak tumbuh tanaman ubi jalar liar dan beberapa jenis jamur yang aman untuk dimakan. Selain itu, mungkin kita bisa menemukan sumber air tambahan yang lebih bersih."

Rio mengangguk sambil terus memperhatikan lingkungan sekitar. "Baiklah, tapi kita harus berhati-hati ya. Hutan ini sangat luas dan mudah membuat kita tersesat jika tidak memperhatikan jejak jalan kita."

Setelah sekitar satu jam berjalan, mereka berhasil menemukan area yang ditumbuhi ubi jalar liar yang banyak dan beberapa jenis jamur yang Evan kenal aman untuk dikonsumsi. Mereka segera mulai mengumpulkannya dengan hati-hati, dengan Evan menjelaskan cara membedakan jamur yang aman dengan yang beracun.

"Perhatikan tekstur dan warnanya," ujar Evan sambil menunjukkan sebuah jamur berwarna coklat muda dengan tekstur yang lembut. "Jamur yang aman biasanya memiliki warna yang tidak terlalu mencolok, tidak memiliki bau yang menyengat, dan tidak menimbulkan rasa terbakar ketika kita menyentuhnya dengan lidah kita sedikit."

Rio dengan cermat mengikuti instruksinya dan mulai mengumpulkan jamur yang sesuai dengan kriteria yang diberikan. Mereka bekerja dengan cepat namun teliti, mengingat bahwa mereka harus kembali ke basis sebelum matahari mulai terik di tengah hari.

Ketika mereka sedang bersiap untuk kembali, suara teredam seperti orang yang memanggil bantuan terdengar dari arah hutan yang lebih dalam. Evan dan Rio saling melihat dengan ekspresi khawatir sebelum memutuskan untuk mengecek sumber suara tersebut.

"Dengarkan – ada orang yang memanggil bantuan," bisik Evan dengan suara rendah. "Kita harus melihat apa yang terjadi, tapi kita harus berhati-hati ya. Bisa jadi itu adalah bagian dari tes yang diberikan oleh instruktur."

Mereka berjalan perlahan ke arah suara tersebut, dengan Evan memimpin jalan dan menggunakan keahliannya untuk bergerak tanpa membuat suara yang berlebihan. Setelah sekitar sepuluh menit berjalan melalui rerumputan tinggi dan pepohonan rimbun, mereka menemukan seorang calon prajurit dari Kelompok 5 bernama Yuda yang sedang terlentang di tanah dengan lutut yang membengkak parah dan wajah yang pucat karena kelelahan.

"Yuda! Apa yang terjadi padamu?" tanya Rio dengan khawatir saat mereka mendekatinya. Yuda yang mengenali mereka segera menunjukkan ekspresi lega di wajahnya.

"Evan... Rio... akhirnya ada yang menemukan saya," ujarnya dengan suara yang lemah. "Saya tersesat kemarin sore ketika mencari makanan bersama teman saya. Kami terpisah ketika hujan deras datang dan saya tidak bisa menemukan jalan kembali ke basis. Kemarin malam saya terjatuh dari tebing kecil dan terluka di lutut saya."

Evan segera memeriksa kondisi Yuda dengan cermat. Luka di lututnya cukup dalam dan sudah mulai mengeluarkan nanah, menunjukkan bahwa ada risiko infeksi jika tidak segera diberikan perawatan yang tepat. Suhu tubuh Yuda juga terasa lebih panas dari biasanya, tandanya dia mengalami demam akibat kelelahan dan luka yang tidak diobati.

"Kita tidak bisa meninggalkannya di sini," ujar Evan dengan tegas kepada Rio. "Kondisinya cukup serius. Kita harus memberikan perawatan darurat dan membawanya kembali ke basis sesegera mungkin."

Rio mengangguk setuju sambil melihat sekeliling area sekitar. "Tetapi jalan kembali cukup jauh dan kondisinya tidak memungkinkan dia untuk berjalan sendiri. Kita perlu membuat sandungan untuk membawanya."

Tanpa berlama-lama, Evan segera mengambil tindakan. Ia menggunakan ranting pohon yang kuat dan lidi-lidi yang fleksibel untuk membuat sandungan sementara, kemudian menggunakan serban yang mereka kenakan sebagai tali untuk mengikatnya dengan kuat. Rio membantu membersihkan luka di lutut Yuda menggunakan air dari botol yang mereka bawa dan menutupinya dengan kain bersih dari bagian dalam baju mereka.

Sementara Rio memberikan perawatan darurat, Evan menggunakan pengetahuannya untuk menemukan tanaman obat yang bisa membantu meredakan rasa sakit dan menghentikan pendarahan. Ia menemukan tanaman sirih merah yang tumbuh di sekitar area tersebut dan menghancurkannya menjadi bubuk untuk ditempelkan pada luka Yuda.

"Apa itu?" tanya Yuda dengan rasa penasaran ketika Evan menempelkan bubuk tanaman pada lukanya.

"Ini adalah tanaman sirih merah," jawab Evan dengan lembut. "Kakek saya mengajarkan saya bahwa tanaman ini memiliki khasiat untuk menghentikan pendarahan dan meredakan rasa sakit. Ini akan membantu kondisimu sedikit sebelum kita bisa membawa kamu ke basis untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik."

Setelah sandungan siap dan luka Yuda sudah diperban dengan baik, Evan dan Rio mulai membawanya kembali ke arah basis operasi. Jalan pulang terasa jauh lebih berat karena mereka harus membawa Yuda yang tidak bisa bergerak sendiri, namun mereka tidak pernah berhenti atau mengeluh sedikit pun.

Setelah sekitar setengah jam berjalan, mereka menghadapi masalah baru – jembatan kayu kecil yang biasanya digunakan untuk menyeberangi sungai telah roboh akibat hujan deras kemarin. Sungai yang deras membuat mereka tidak bisa menyebrang dengan cara biasa, terutama dengan membawa Yuda yang terluka.

"Kita tidak bisa menyebrang di sini," ujar Rio dengan khawatir saat melihat aliran air yang kuat. "Jika kita mencoba menyebrang, kita bisa saja terbawa arus dan membuat kondisi Yuda semakin parah."

Evan berdiri diam sejenak sambil memeriksa kondisi sungai dan sekitarnya. Ia melihat bahwa di beberapa meter di hilir sungai terdapat area yang lebih landai dengan batu-batu besar yang bisa digunakan sebagai titik pijak untuk menyebrang. Namun untuk mencapai area tersebut, mereka harus melewati area yang ditumbuhi rerumputan tinggi dan semak berduri.

"Kita harus mengambil jalur alternatif ke sana," kata Evan dengan yakin saat menunjukkan arah area tersebut. "Di sana ada batu-batu besar yang bisa kita gunakan untuk menyebrang. Meskipun jalurnya lebih sulit, itu adalah cara yang paling aman untuk kita semua."

Mereka mulai berjalan ke arah area tersebut dengan hati-hati, dengan Evan memimpin jalan dan membersihkan semak berduri menggunakan alat pemotong yang mereka bawa. Rio mengikuti di belakang dengan hati-hati membawa sandungan Yuda, berusaha menjaga agar dia tidak merasa sakit atau tidak nyaman selama perjalanan.

Setelah mencapai area yang diinginkan, Evan mulai membangun jalan sementara menggunakan batu-batu besar dan ranting pohon untuk membuat titik pijak yang aman. Ia bekerja dengan cepat namun teliti, memastikan bahwa setiap batu yang ditempatkan kokoh dan tidak akan bergeser ketika mereka melangkah di atasnya.

"Sekarang kita akan menyebrang satu per satu," jelas Evan kepada Rio dan Yuda. "Saya akan pergi duluan untuk memastikan setiap titik pijak aman, kemudian kamu ikuti dengan membawa sandungan perlahan-lahan. Jangan khawatir – saya akan membantu dari sisi lain."

Dengan kerja sama yang baik, mereka berhasil menyebrang sungai dengan aman tanpa kejadian apa-apa. Yuda yang merasa sangat terbantu mengucapkan terima kasih yang dalam kepada mereka. "Terima kasih banyak, Evan... Rio. Kalian benar-benar menyelamatkan nyawaku hari ini."

"Tidak perlu berterima kasih," jawab Rio dengan senyum hangat. "Kita adalah saudara seperjuangan. Tidak ada yang akan ditinggalkan dalam kesulitan."

Setelah sekitar satu jam lagi berjalan dengan susah payah, mereka akhirnya melihat asap dari kobaran api yang menyala di basis operasi tim mereka. Siti dan Bima yang sedang khawatir karena mereka tidak kembali sesuai jadwal segera berlari menghampiri mereka dengan ekspresi lega di wajahnya.

"Evan! Rio! Terima kasih Tuhan kalian akhirnya kembali!" teriak Siti dengan suara yang penuh emosi. "Kita sudah mulai khawatir ketika kalian tidak muncul pada waktu yang telah ditentukan."

Ketika mereka melihat Yuda yang terluka di sandungan, mereka segera membantu membawa dia ke area yang lebih aman dan mengambil perlengkapan medis untuk memberikan perawatan lanjutan. Bima segera pergi mencari instruktur untuk memberitahu mereka tentang kejadian dan meminta bantuan untuk mengantar Yuda ke pos kesehatan terdekat.

"Saya akan segera pergi ke pos instruktur," ujar Bima dengan cepat sebelum berlari meninggalkan basis. "Kamu semua jaga Yuda ya. Saya akan kembali dengan bantuan sesegera mungkin."

Sementara menunggu bantuan datang, Evan menggunakan pengetahuannya untuk membuat ramuan tanaman obat dari bahan yang dia kumpulkan sebelumnya – kombinasi dari temu kunci, jahe liar, dan daun pegagan yang diolah menjadi ramuan hangat untuk menurunkan demam Yuda dan meredakan rasa sakitnya.

"Minumlah ini perlahan-lahan," ujar Evan sambil memberikan cangkir ramuan kepada Yuda. "Ini akan membantu menurunkan suhu tubuhmu dan membuatmu merasa lebih baik sedikit."

Yuda menerima ramuan dengan tangan yang gemetar dan mulai meminumnya perlahan. Setelah beberapa menit, dia menunjukkan ekspresi lega di wajahnya. "Rasanya sedikit pahit tapi membuat tubuh saya merasa lebih hangat dan rasa sakitnya juga mulai berkurang."

Tak lama kemudian, Bima kembali bersama Letnan Arif dan beberapa instruktur lainnya yang membawa tenda darurat dan alat transportasi darurat untuk mengantar Yuda keluar dari hutan ke pos kesehatan terdekat. Letnan Arif memeriksa kondisi Yuda dengan cermat sebelum memberikan instruksi kepada timnya untuk mengantarnya dengan hati-hati.

"Sangat baik apa yang kamu lakukan, Evan," ujar Letnan Arif dengan suara penuh apresiasi kepada Evan dan teman-temannya. "Kamu tidak hanya menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam bertahan hidup, namun juga menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap rekan seperjuanganmu. Itu adalah ciri khas dari seorang prajurit yang benar-benar baik."

Ia kemudian menambahkan, "Yuda akan mendapatkan perawatan yang tepat dan saya yakin dia akan cepat sembuh. Semua yang kamu lakukan hari ini telah menunjukkan bahwa kamu memiliki hati yang baik dan siap melakukan apa saja untuk membantu orang lain dalam kesusahan."

Pada malam hari tersebut, setelah Yuda berhasil diangkut ke pos kesehatan dan kondisi kondisinya sudah lebih stabil, seluruh Kelompok 3 berkumpul di sekitar kobaran api untuk membahas kejadian yang telah terjadi. Mereka semua merasa bersyukur bahwa Yuda ditemukan tepat waktu dan mendapatkan bantuan yang dibutuhkannya.

"Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Evan dan Rio tidak menemukan dia," ujar Siti dengan suara yang penuh rasa syukur. "Kondisinya sudah cukup serius dan jika dibiarkan lebih lama, bisa saja ada komplikasi yang lebih parah."

Bima juga menambahkan, "Evan benar-benar luar biasa. Dia tidak hanya tahu cara memberikan pertolongan pertama dengan benar, namun juga bisa membuat ramuan obat dari tanaman yang ada di sekitar kita. Itu adalah kemampuan yang sangat berharga."

Evan hanya tersenyum rendah hati mendengar kata-kata teman-temannya. "Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan," ujarnya dengan lembut. "Kakek saya selalu mengajarkan saya bahwa kita harus selalu membantu orang lain yang sedang kesusahan. Dia bilang bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih baik."

Ia kemudian memikirkan Yuda dan berharap agar dia cepat sembuh dan bisa kembali bergabung dengan pelatihan. Evan merasa bahwa pengalaman hari ini telah memberikan dia pelajaran berharga tentang pentingnya kerja sama tim dan bagaimana setiap tindakan baik yang kita lakukan bisa memiliki dampak besar bagi kehidupan orang lain.

Ketika malam semakin larut dan teman-temannya mulai pergi beristirahat, Evan tetap berada di dekat kobaran api dengan memegang kalung batu giok dari lehernya. Ia merasakan bahwa Kakek Darmo sedang menyaksikannya dengan senyum bangga dan memberikan dukungan yang dia butuhkan.

"Terima kasih, Kakek," bisiknya dengan suara yang lembut ke arah langit malam yang penuh bintang. "Semua yang kamu ajarkan padaku telah membantu saya menyelamatkan nyawa seorang rekan seperjuangan hari ini. Saya berjanji bahwa saya akan terus menggunakan ilmu yang saya miliki untuk membantu orang lain sebanyak mungkin dan menjadi orang yang bisa membuat kamu bangga."

Dengan hati yang penuh damai dan tekad yang semakin kuat, Evan akhirnya berdiri dan pergi beristirahat. Ia tahu bahwa pelatihan masih belum selesai dan masih banyak tantangan yang akan datang, namun dengan pengalaman yang dia dapatkan hari ini dan dukungan dari teman-temannya serta keluarga yang selalu ada di hatinya, dia merasa siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang.

Pada keesokan harinya, mereka mendapatkan kabar bahwa Yuda kondisinya sudah membaik dan akan bisa kembali ke akademi dalam beberapa hari setelah mendapatkan perawatan lanjutan. Semua orang merasa sangat senang mendengar kabar tersebut dan berjanji untuk mengunjunginya begitu mereka selesai dengan latihan di hutan.

Evan merasa bahwa pengalaman menyelamatkan Yuda telah memperkuat ikatan persahabatan di antara mereka dan membuatnya lebih yakin dengan tujuan hidupnya sebagai seorang prajurit – bukan hanya untuk melindungi negara dan masyarakat, namun juga untuk selalu siap membantu orang lain dalam setiap kesempatan yang ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!