NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Khawatir Tanpa Alasan

Cahaya matahari menyusup di antara celah tirai sutra merah, membedah kegelapan ruang utama Selendang Merah dengan berkas-berkas emas yang hangat. Di dalam ruangan yang luas itu, aroma dupa mawar beradu dengan wangi the yang baru diseduh, menciptakan atmosfer kemewahan yang memabukkan. Meja-meja rendah dari kayu mahoni mengkilap telah tertata, dikelilingi bantal duduk berlapis kain mahal untuk menyambut para tamu yang datang sejak semalam.

Beberapa pejabat tinggi dari Paviliun Tianlu cabang Jing’an duduk lesehan dengan postur angkuh. Jubah biru resmi mereka tersampir longgar, memamerkan plakat mandat emas di pinggang sebagai simbol otoritas yang tak terbantahkan. Mereka adalah bawahan langsung Zhao Tianlong, datang untuk mencari hiburan atau sekadar melepaskan penat setelah pertemuan birokrasi di distrik Hongluo.

Madam Luo duduk berlutut di sudut ruangan, kipasnya terbuka separuh untuk menyembunyikan senyum terlatih yang kaku. Di balik topeng keramahannya, matanya memancarkan ketegangan akut. Ia tahu benar, satu langkah salah di hadapan para pemegang kekuasaan ini bisa menjadi lonceng kematian bagi Selendang Merah.

Hua’er melangkah masuk dengan nampan di tangan. Jubah sutra merah gelap membalut tubuhnya, menonjolkan lekuk feminin yang selalu berhasil memancing mata lelaki, sementara rambut hitamnya terurai rapi di punggung. Namun, hari ini ada yang berbeda. Tatapannya yang biasanya tajam dan waspada kini tampak kosong, seperti cermin yang kehilangan bayangan.

Pikirannya masih tertambat pada kabar tiga pemberontak yang selamat semalam. Mereka bercerita tentang seorang pemuda tanpa qi, ciri yang terlalu identik dengan Li Shen yang memilih menantang maut demi memberi mereka jalan keluar. Gua itu runtuh di kejauhan, dan tak seorang pun melihat Li Shen keluar hidup-hidup.

Hua’er berlutut di depan tamu utama, seorang pengawas senior dengan wajah sombong yang tak berhenti menelanjangi tubuhnya dengan tatapan lapar. Saat ia mengangkat teko keramik untuk menuang teh, jemarinya bergetar hebat. Ingatannya tentang Li Shen seolah menarik paksa fokusnya dari kenyataan.

Cairan panas meluap. Gelas keramik itu tergelincir, pecah berkeping-keping di atas meja. Teh mendidih segera membasahi karpet mahal, permukaan kayu, hingga merembes ke jubah sutra sang pengawas.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Hua’er tanpa peringatan. Suaranya bergema nyaring, membuat seisi ruangan seketika sunyi senyap. Pipi Hua’er tersentak ke samping, rasa panas yang membakar menjalar di wajahnya seiring darah tipis yang mulai mengalir dari sudut bibir yang pecah.

Para pelayan atau pun wanita penghibur yang berada di sana menahan jeritan di tenggorokan. Yang lain menunduk cepat atau pura pura sibuk.

Bahkan Madam Luo hanya bisa mencengkeram kipasnya hingga buku jarinya memutih. Hatinya menjerit, namun ia tetap membeku. Di dunia yang dikuasai Tianyuan, kemarahan rakyat kecil adalah dosa besar.

Hua’er tetap berlutut, menunduk dalam-dalam. “Saya mohon ampun, Tuan. Maafkan kecerobohan saya,” suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai memunguti pecahan keramik satu per satu, tak peduli pada ujung tajam yang mengiris jari-jarinya.

Sang pengawas tertawa kasar, suara yang penuh penghinaan. “Ceroboh?” ejeknya sambil mencondongkan tubuh, matanya menelanjangi Hua’er tanpa rasa malu. “Perempuan sepertimu memang hanya berguna di ranjang. Menuangkan teh saja tidak becus, apalagi mengurus hal lain.”

“Berdiri,” timpal pejabat lainnya dengan seringai bejat. “Biarkan kami melihat seberapa ‘becus’ dirimu melayani kami malam ini.”

“Karena kau telah merusak jubahku,” sang pengawas pertama kembali bicara, “kau harus membayar dendanya. Malam ini, kau akan melayani kami semua secara gratis. Aku ingin melihat apakah mulutmu itu selembut permintaan maafmu.”

Tawa cabul meledak di antara para pejabat itu. Sebelum situasi semakin tak terkendali, Madam Luo mencoba mengintervensi dengan tawa yang dipaksakan. “Tuan-Tuan sekalian sungguh murah hati dalam memberi pelajaran. Namun mohon maaf, gadis ini sudah dijadwalkan untuk tamu penting yang cukup… sensitif. Jika jadwalnya kacau, urusan kecil ini bisa menjadi panjang dan merepotkan bagi kita semua.”

Pengawas itu menyipitkan mata, rahangnya mengeras. “Kau berani menolak perintahku, Madam Luo?”

Atmosfer ruangan mendadak mencekam. Namun, di tengah ketegangan itu, Hua’er mengangkat wajahnya. Matanya yang dingin kini menyimpan api gelap yang membara.

“Tidak perlu, Madam,” ucap Hua’er tenang. Ia menatap sang pengawas lurus-lurus. “Saya akan patuh pada kehendak Tuan tamu malam ini. Saya akan melayani kalian… dengan cara yang tidak akan pernah kalian lupakan.”

Madam Luo tertegun. Kipas di tangannya berhenti bergerak. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang retak di dalam jiwa Hua’er. Sejak hilangnya Li Shen, Hua’er bukan lagi wanita penghibur yang penuh tipu daya, ia telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Tawa kepuasan kembali memenuhi ruangan. The baru disajikan, percakapan kembali mengalir lancar seolah-olah tidak ada darah dan penghinaan yang baru saja tumpah. Madam Luo menatap punggung Hua’er yang menjauh, menyadari bahwa kebencian gadis itu terhadap Tianyuan telah mencapai titik didih.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!