NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Ssstt." Alya menempelkan jari telunjuknya di bibir, lalu perlahan menuruni ranjang dengan hati-hati, berusaha agar gerakannya tidak mengganggu si Kembar yang sedang terlelap.

"Maksudmu apa sebenarnya, sayang?" tanyanya lagi, suaranya serak menahan kebingungan.

Alya segera meraih tangan Romeo, menyeretnya keluar dari kamar. Tatapannya yang tajam dan menantang membuat Romeo nyaris tak bisa menahan tawa.

"Jangan terlalu keras suaramu." bisik Alya dengan nada manja, matanya berbinar setelah mereka berhasil keluar dari kamar.

"Sudah di luar kamar, santai saja. Kamarnya kan kedap suara. Sekarang, jelaskan padaku kenapa kamu bilang begitu." kata Romeo, suaranya rendah tapi penuh rasa ingin tahu.

"Sekretarismu bilang, sekretarismu itu yang akan menjadi calon istrimu." ucapnya sambil menatap tajam.

"Calon istri…?" gumamnya, suaranya penuh campuran kaget dan geli.

"Sebenarnya, dia bilang kalau kamu calon suaminya… jadi berarti dia calon istrimu, kan?"

"Tidak… aku sama sekali nggak merasa jadi calon suaminya."

"Kenapa kamu pilih sekretaris yang seperti itu? Pakaiannya terlalu terbuka. Dia juga bilang aku ulet bulu karena maksa minta bukain pintu." keluh Alya dengan nada kesal.

Dia memang enggan melaporkan hal seperti ini, tapi menimbang sikap mama Dinda yang menolak secara terbuka, Alya jadi harus ekstra waspada.

"Sialan, aku pecat dia sekarang juga!" Romeo mendidih mendengar hinaan itu diarahkan pada istrinya. Dia hampir melangkah maju, tapi Alya cepat menahan tangannya.

"Eh, jangan begitu… itu namanya merusak rezeki orang lain. Tolong, jangan." pinta Alya dengan suara lembut tapi tegas, matanya menatap penuh harap.

"Kenapa harus dibiarkan? Dia sudah kelewat batas, menghina dirimu begitu." gerutu Romeo dengan nada kesal.

"Aku hanya ingin menghentikannya. Maaf kalau sikapku terdengar kekanak-kanakan. Aku memang masih orang baru dalam hidupmu, aku tidak tahu seperti apa masa lalumu… apakah dia hanya sekretaris, atau pernah menjadi sesuatu yang lebih dariku. Aku cuma butuh kejelasan, supaya tidak ada salah paham di antara kita. Maaf." Begitu kalimat itu meluncur dari bibirnya, Alya langsung diliputi rasa bersalah. Seharusnya ia menahan diri dan tidak mengatakannya barusan.

"Kamu nggak ingat? Satria bilang, sekretarisku, Amel, baru saja melahirkan. Dia sekretaris baru ku, sayang."

"Aku… nggak terlalu ingat, soalnya aku kaget banget waktu dia bilang begitu tadi. Mungkin… dia memang menyukaimu." gumamnya pelan, matanya menatap bingung tapi penasaran.

"Aku nggak masalah." geram Romeo, amarahnya masih membara. Matanya menatap tajam ke arah pintu seolah siap meluapkan kemarahannya kapan saja.

"Aku tahu mama nggak terlalu suka sama aku. Maaf kalau aku terlalu berlebihan, aku cuma ingin memastikan semuanya aman." ucapnya pelan, menundukkan kepala sambil menahan rasa cemas.

"Kamu nggak salah. Malah kalau kamu cuma diam, itu yang bakal bikin kamu salah sangka tentang aku. Aku senang kamu jujur dan ngomong langsung ke aku. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu… aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Aku bahkan nggak kenal dia. Dan soal omongan anak-anak tadi…"

"Kenapa?"

"Itu murni nggak sengaja… aku buka pintu, dia juga kebetulan buka pintu. Akhirnya… ya, cuma sentuhan kecil saja." ucapnya, sedikit menunduk sambil menahan rasa canggung.

"Benarkah cuma segini?" tanya Alya, matanya menyipit penuh selidik.

"Eh, kok nggak percaya sama suamimu sendiri sih?"

"Percaya nggak, ya?" goda Alya sambil mengusap dagunya dengan santai.

"Kamu, ya…" Romeo menyambar kesempatan, jari-jarinya menari di kulit Alya.

"Hentikan, aku nggak kuat!" Alya menjerit sambil memohon.

Tiba-tiba...

Pintu ruangan Romeo terbuka, menghadirkan sosok wanita yang kehadirannya sama sekali tidak diharapkan. Kedatangannya langsung menarik perhatian Romeo dan Alya.

"Romeo!" teriak Dinda lantang, suaranya bergema di ruangan.

Tatapannya menyala, menyorot Alya yang kini tersandar di pelukan Romeo.

Alih-alih melepaskan Alya, Romeo semakin menahan tubuhnya, mencondongkan wajah dan menempelkan ciuman lembut di pipi Alya. Sementara itu, Alya tampak canggung, gugup, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.

“Ini namanya sopan santun, mama? Masuk seenaknya terus berteriak?” Romeo mengejek tanpa menahan amarahnya.

"Apa-apaan ini? Kantor ini juga milik mama, jadi mama berhak datang kapan saja," ucap Dinda dengan nada yakin, menatap tegas ke arah Romeo.

"Hak mama? Romeo yakin nggak salah dengar. Kantor ini sejak kapan jadi milik mama?" Romeo menahan amarahnya, menatap sang ibu penuh ketidaksetujuan.

"Romeo, ingat ya, dalam warisan papamu itu, ada hak mama juga. Dan jangan lupa, sebagian dari hartamu sendiri sebenarnya juga termasuk milik mama." ucapnya tegas.

"Apakah Mama tidak merasa bersalah? Hak Mama hanya sepersembilan, tapi Mama ambil setengah harta Papa demi pria miskin itu!" serkas Romeo, nada suaranya menusuk.

Kemarahan Dinda memuncak, matanya memerah seakan menahan letusan emosi yang ingin lepas.

"Apa urusan wanita miskin itu di sini? Bukankah Mama sudah menyuruhmu menceraikannya?" bentak Dinda, matanya menyorot Alya sambil mengalihkan perhatian.

Romeo hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Ternyata, jika membunuh tak dianggap dosa, Dinda lah yang akan dia singkirkan pertama. Bukan karena Romeo durhaka, tapi karena ada alasan kuat yang membuatnya bertindak begitu.

"Alya adalah istriku. Tentu saja dia ikut ke mana pun aku pergi. Mama tidak punya hak mencampuri atau memintaku menceraikannya." ujar Romeo dengan tegas, menatap lurus ke arah Dinda.

"Jadi istri yang kamu nikahi cuma karena harus menutup hutang ayahnya yang tukang judi itu?" sindir Dinda dengan nada dingin dan menusuk.

Alya, yang sejak tadi terus menunduk, langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar ucapan mama mertuanya. Hatinya seperti tertusuk mendengar kata-kata itu. Memang benar, tapi bukan itulah alasan utama dia menikah dengan Romeo.

"Berani sekali kau menatapku seperti itu! Hah… memang benar, kan? Kau menikahi putraku hanya karena dia melunasi semua hutang papamu!" seru Dinda, suaranya penuh amarah.

“Sudah! Berhentilah, Mama! Kalau terus bicara seperti itu, aku akan melupakan bahwa Mama adalah orang tuaku!” teriak Romeo, suaranya bergetar menahan amarah.

Alya terkejut hingga terlonjak ketika mendengar teriakan suaminya. Entah apakah Romeo menyadari atau tidak, suaranya meledak tepat di samping telinganya. Namun, Alya menahan diri, saat ini suasana terlalu tegang untuk mempedulikan rasa nyerinya, dan ia harus tetap tenang terlebih dahulu.

Dinda dan Yona sama-sama tercengang. Ini pertama kalinya mereka menyaksikan Romeo berteriak di depan orang.

"Jadi kamu membela wanita miskin ini, ya, Romeo?" Dinda menunjuk Alya dengan nada menantang.

Alya terdiam, takut setiap kata yang keluar justru membuat Dinda semakin membencinya.

"Wanita miskin yang mama hina itu… dia istriku!" ucap Romeo dengan tegas, menegakkan diri di hadapan Dinda.

Dinda menoleh menjauh, tidak menyangka Romeo

kini sudah lepas dari genggamannya.

"Hei… kau wanita yang pintar, tapi kejam. Apa kau tega merusak hubungan ibu dan anak hanya demi dirimu sendiri? Apakah hatimu tidak pernah merasa bersalah? Aku sudah terpisah dari anakku bertahun-tahun, dan sekarang kau datang membuat semuanya makin sulit." Dinda menatap Alya dengan mata penuh tipu daya, mencoba menyulut rasa bersalah yang tak seharusnya dimiliki Alya.

"Jangan sentuh istriku dengan kata-katamu! Apa Mama lupa kalau hubungan kita sudah berakhir sejak Mama memilih meninggalkan aku dan Papa demi pria lain?" Romeo memotong dengan suara tegas, matanya menatap lurus tanpa kompromi.

Alya hanya terisak, kepalanya digeleng pelan. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya melakukan hal seperti yang dituduhkan padanya saat ini. Sama sekali, tidak ada niat itu.

"Pergilah ke kamar… aku akan datang menemuimu sebentar lagi." bisik Romeo lembut, menatap Alya yang masih terisak di hadapannya.

"Ta-tapi..."

"Pergilah, sayang. Telingamu terlalu berharga untuk disiksa oleh kata-kata kasar dan hinaan tak masuk akal ini." sindir Romeo sambil menahan amarahnya.

Alya mengangguk setuju, menatap suaminya dengan mata yang penuh kekagetan. Dia tak pernah menyangka akan menghadapi perlakuan semacam ini. Selama ini dia hanya mengira mertua kejam hanya ada di dalam cerita novel, ternyata kenyataannya bisa menimpa dirinya sendiri.

"Pergi sekarang juga."

Alya segera berbalik dan melangkah ke kamar, di mana si kembar tengah berada. Dinda semakin gusar, ucapannya diabaikan begitu saja oleh Alya. Tanpa pikir panjang, Dinda meraih vas di atas meja dan melemparkannya ke arah Alya.

Bugh!

“Aargh!” teriak Alya, suaranya melengking saat vas itu menghantam bagian belakang kepalanya.

"Alya..."

Kejadian itu berlangsung begitu cepat, Romeo tak sempat menghentikan aksi mamanya. Alya tersungkur ke lantai, benda yang menghantamnya bukan vas kecil, melainkan ukuran sedang. Secercah darah mulai merembes di sela rambutnya, membuat Alya menahan nyeri saat menyentuh kepalanya sendiri.

Romeo segera berlari menghampiri Alya, wajahnya tegang dan panik melihat darah yang mengalir deras. Tatapannya tajam menyorot Dinda, yang sama sekali tampak tak menyesal atas kejadian itu.

"Kau bahkan tak layak disebut manusia! Dasar iblis!" teriak Romeo, amarahnya meledak saat menatap santainya wajah mamanya.

Yona menatap dengan senyum tipis, campuran antara puas dan cemas. Dia tahu betul kebrutalan mama tirinya, tapi melihat Dinda bertindak begitu di depan Romeo tetap membuatnya terkejut.

"Sat… Satria!" teriak Romeo dengan suara parau, dadanya berdebar kencang, matanya menatap sekeliling penuh panik.

Satria, yang sedang berada di ruangannya, langsung tersentak saat mendengar namanya dipanggil. Tanpa menunggu lama, ia berlari menuju kamar Romeo, dan matanya membeku melihat pemandangan yang begitu mengerikan di hadapannya.

"Bangunkan anak-anak sekarang! Kita bawa Alya ke rumah sakit, istri gue bisa kekurangan darah!" teriak Romeo sambil tergagap, dadanya sesak. Tanpa disadari, air matanya menetes, menatap wajah Alya yang pucat membuat hatinya hancur.

"Tenang, Lo… turun duluan ke bawah. Anak-anak, urusan gue!" seru Satria dengan suara tegang, meski hatinya sendiri tak kalah panik.

Tanpa ragu, Romeo segera menggendong Alya dengan gaya ala bridelsyle, Romeo menantang tatapan Dinda. Matanya menyorot tajam, penuh amarah.

"Jangan sebut aku anakmu lagi, Dinda."

Deg!

Romeo segera meninggalkan Dinda, meninggalkannya terpaku saat kata-kata itu keluar dari mulut nya.

"Ma… mama…" gumam Yona tanpa sadar.

Satria menangkap jelas bisikan Yona tadi, tapi ia memilih untuk mengabaikannya dan segera membangunkan si kembar. Tak disangka, Arjuna muncul juga, niatnya memang hanya mengunjungi Romeo. Namun, ia justru berjalan santai tanpa peduli pada Dinda, yang masih terpaku dan terdiam akibat ucapan Romeo sebelumnya.

"Sat, ada apa? Romeo di mana?" tanya Arjuna dengan nada kebingungan, matanya mencari-cari di sekeliling.

"Panjang ceritanya… Alya terluka dan sedang dibawa ke rumah sakit. Lo bantu gue urus si kembar dulu," ujar Satria sambil menatap Arjuna serius. "Mama Dinda pasti bakal coba ambil mereka. Itu bisa jadi ancaman buat Romeo." Arjuna mengangguk, meski hatinya sedikit berat. Ia tak sepenuhnya mengerti mengapa Satria begitu yakin, tapi nalurinya mengatakan ada bahaya yang memang patut diwaspadai.

"Tenang, lo gendong Selina, gue gendong Serena." kata Arjuna tegas sambil menatap Satria. "Nanti kita langsung nyusul Romeo."

Tepat ketika keduanya berhasil mengangkat si kembar, Dinda tiba-tiba muncul dan menghadang. Semua ini sesuai firasat Satria sebelumnya, Dinda pasti bakal melakukan sesuatu untuk menekan Romeo.

"Kalian mau bawa cucuku ke mana?!" bentak Dinda, wajahnya hanya beberapa inci dari Arjuna, matanya menyala penuh kemarahan.

"Minggir, nenek tua." ujar Arjuna dengan nada dingin, matanya menatap tajam Dinda tanpa ragu.

"Serahkan cucuku sekarang juga! Kalian orang luar, tak punya hak membawanya!" teriak Dinda, suaranya menggema penuh amarah.

"Sejak kapan Anda mulai mengakui mereka, Nyonya Dinda? Bukankah dulu Anda membenci mereka berdua?" Arjuna menatapnya dengan tajam, suaranya dingin tapi tegas. "Orang asing ini, entah Anda mau percaya atau tidak, ternyata lebih dicintai oleh si kembar daripada nenek mereka sendiri. Jangan coba menghalangi jalanku. Kalau sampai terjadi, percayalah, aku tidak akan segan melupakan bahwa Anda seorang wanita tua."

Dinda terkejut setengah mati, matanya terbeliak. Ia tak pernah menyangka kalau teman Romeo berani bersikap seberani ini padanya.

"Lepaskan cucuku!" seru Dinda panik, tangannya cepat meraih Serena yang berada dalam gendongan Arjuna.

Namun sayang, tenaga Dinda tak sebanding dengan Arjuna. Hanya dengan satu gerakan siku, tubuhnya tersungkur ke belakang, terjengkang tanpa daya.

"Arrgghh!"

"Aku tidak akan bertanggung jawab kalau persendian Anda cedera, Nyonya Dinda." cibir Arjuna, suaranya dingin menusuk.

Tanpa menoleh lagi, Arjuna dan Satria pergi meninggalkan Dinda dan Yona, meninggalkan keheningan yang menegangkan di antara keduanya.

"Sial… sial… semuanya hancur! Semua gara-gara wanita miskin itu! Tunggu saja, aku akan membalas semua hinaan yang kusesali hari ini!"

"Mama, sabar dulu. Sekarang yang terpenting adalah kita cari tahu ke mana Romeo membawa wanita miskin itu." sela Yona.

"Kamu benar. Mama harus tahu ke mana Romeo membawanya. Kalau sudah ketemu, perempuan itu akan mama singkirkan tanpa ragu," tekad Dinda dalam hati.

Sementara itu, Romeo menekan gas mobilnya hingga nyaris terasa getarannya. Ia sengaja tidak memakai sopir pribadi, takut hanya akan membuang waktu lebih lama lagi.

"Sayang… tahan sebentar lagi." bisik Romeo, wajahnya penuh kecemasan dan matanya tak lepas dari Alya.

Darah mengalir deras dari kepala Alya. Seharusnya lukanya tak separah ini, tapi lemparan Dinda terlalu keras. Akibatnya, Alya kini terkapar dengan pendarahan yang membuat semua romeo panik.

Kemeja Romeo sudah terkena darah, seakan menempel pada setiap seratnya, begitu pula jas yang kini menjadi alas kepala Alya, basah oleh luka yang mengalir deras.

Sejak tadi, Romeo sudah diterpa cacian dan umpatan tanpa henti, namun itu tak menghentikan laju mobilnya. Dia menekan pedal gas dengan ganas, menembus jalanan tanpa peduli apapun di depannya. Bahkan razia polisi pun dia abaikan, hingga satu unit motor polisi terpaksa mengejar dari belakang, sirene meraung di udara.

Setelah tiba di pintu IGD, Romeo menjerit sekuat tenaga sambil menggendong Alya. Kepanikan jelas terpancar di wajahnya, ketakutan akan sesuatu yang mengerikan menimpa istrinya membuat dadanya sesak.

"Astaga… kenapa darahnya begitu banyak?" dokter itu terkejut, matanya menatap Alya dengan cemas begitu Romeo membawanya masuk.

Dokter segera membawa Alya ke ruang penanganan, sementara Romeo ditahan di luar. Tiba-tiba, seorang polisi muncul dan melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Romeo.

"Mohon ikut saya sebentar, Tuan." Ujar Ledusing dengan nada tegas yang sulit diabaikan.

Dalam kepanikan, Romeo spontan menoleh, wajahnya memerah karena kesal menatap polisi tersebut.

"Apa kau tidak lihat aku? Di mana, hah?" bentak Romeo, nadanya meninggi penuh amarah.

"Anda ditilang karena mengemudi secara ugal-ugalan. Tunjukkan surat-surat Anda!" Ledusing mengucapkannya tegas, tak peduli apapun yang dibantah Romeo.

Tiba-tiba...

"Menurutmu aku harus melangkah pelan seperti siput sementara nyawa istriku terancam, huh? Apa kau juga akan diam saja jika yang berada di posisi Alya adalah istrimu?" bentak Romeo, matanya menyala marah, tangan kanannya mencengkram kerah baju Ledusing dengan erat.

“Saya peringatkan terakhir kali. Turunkan tangan Anda, atau saya pastikan Anda diproses atas penganiayaan dan ancaman terhadap petugas kepolisian.”

"Ah, lupakan semua itu! Aku tak peduli sedikit pun." bentak Romeo, suaranya penuh kemarahan.

Tiba-tiba, Satria muncul diikuti Arjuna, sementara si kembar masih berada dalam pelukan mereka. Keduanya terperanjat melihat Romeo sedang bersitegang dengan seorang polisi.

"Rom, tenang dulu. Ada apa ini?" tanya Satria begitu tiba di depan Romeo, mencoba menenangkan situasi.

"Gue ngebut dan ugal-ugalan karena mikirin nyawa Alya. Lo sendiri pasti ngerti apa yang dia lakukan di sini." jawab Romeo dengan nada kesal, matanya menatap tajam.

Satria mengangguk mengerti, lalu segera menyerahkan Selina kepada Arjuna, yang kini duduk menunggu di ruang tunggu.

"Romeo… kenapa sampai begitu? Dia menabrak." Arjuna bertanya pelan, matanya menatap penuh cemas.

"Bukan, soal begini biasanya Ladusing yang urus kalau kita ugal-ugalan." katanya sambil menatap tajam.

"Ini urusan lo, pastiin semua nya beres."

"Gue urus semuanya, lo nggak usah takut."

Satria segera mendekati Ladusing, tak henti-hentinya menceritakan kronologi yang mengancam nyawa istri sahabatnya. Namun, proses tetap berjalan, Ladusing menolak menuntaskan nya begitu saja.

Tiba-tiba...

"Tuan Romeo, saya harus menahan Anda. Aksi ugal-ugalan di jalan dan penganiayaan terhadap polisi jelas pelanggaran serius."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!