Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjumpaan Biru dan Ayu
#4
“Em— itu karena Mamak hendak memberimu kabar bahagia.”
“Kabar bahagia?” Biru bertanya-tanya dalam hati.
“Mamak kau, sudah bebas hari ini—”
Krik!
Krik!
Krik!
Sunyi seperti ada suara jangkrik yang tiba-tiba terdengar di antara mereka. Biru sibuk dengan pikirannya, dan Karmila berdebar menanti jawaban Biru.
“Biru.”
Tak tahan menunggu lama, Karmila kembali memanggil Biru dengan suara sangat lembut.
“Iya, Mak. Biru masih di sini,” sahut Biru dengan sopan.
“Syukurlah,” ucap Karmila. “Segera temui Mamak kau, ya, Nak?”
“Insya Allah, Mak. Besok pulang kuliah, Biru mampir ke rumah Bibi Giana.”
“Kenapa tak sekarang saja?” tanya Karmila sungguh tak sabar mempertemukan Biru dengan ibu kandungnya.
“Ini sudah hampir jam sebelas malam, Mak.”
Karmila terkekeh, “Maaf, Mamak lupa, habisnya Mamak terlalu bahagia. Ya, sudah, kau istirahat saja, Mamak tutup teleponnya, ya?”
“Iya, Mak.”
“Assalamualaikum.”
Klik!
“Waalaikumsalam,” gumam Biru menjawab salam dari Karmila.
Biru meletakkan kantong kresek yang hendak ia jadikan tempat penampungan sampah, badannya rebahan di sofa panjang ruangan tersebut. Sementara pikirannya melayang kemana-mana, membayangkan banyak hal.
Tentang dirinya yang kini tumbuh menjadi pria dewasa, tanpa kehadiran kedua orang tua kandungnya. Meski Karmila dan Ismail telah menjelaskan segalanya, namun, jiwa muda Biru tetap menyimpan banyak pertanyaan.
Esok harinya.
Pagi-pagi sekali ia bangun, dan bersiap hendak mendatangi rumah Giana, tempat Ibunya kini berada.
Meski Biru kini sudah mulai beranjak mandiri secara finansial, namun Biru tetap memilih motor sebagai moda transportasi. Selain lebih hemat waktu, bisa lebih hemat pula BBM, selain itu Biru memang lebih suka mengendarai motor kemanapun.
•••
Mendengar kabar bahwa Biru hendak datang, Ayu sudah bersiap sejak usai sholat subuh, ia memasak hidangan dengan seadanya bahan yang ada di lemari pendingin. Menunya pun ia sesuaikan dengan selera Biru, berdasarkan informasi singkat dari Karmila hari sebelumnya.
Tepat jam 07.00 sarapan siap, Ayu buru-buru kembali ke kamarnya untuk mandi dan merapikan penampilan. Demi menyiapkan kesan pertama bertemu bayi kecil yang dahulu ia relakan untuk diasuh paman dan bibinya.
Ayu menggosok kedua telapak tangannya, dingin, dan jantungnya terus berdebar-debar. Beberapa kali ia melirik cermin memeriksa wajahnya yang pucat dan sedikit gugup, tentu saja ia gugup karena ini perjumpaan pertamanya dengan Biru setelah 20 tahun.
Kemarin, Karmila sudah menunjukkan foto terbaru Biru. Tapi rasanya pasti akan berbeda bila bertemu dan berhadapan secara langsung.
Beberapa saat kemudian, Ayu mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Tok!
Tok!
“Nyonya, Den Biru sudah datang,” ucap Mbok Sum.
Deg!
Bagaimana ini, kenapa detak jantungnya semakin cepat?! Bahkan getaran tangannya semakin terlihat dengan jelas.
“Iya, Mbok,” jawab Ayu.
Tak ingin membuat Biru lama menunggu, Ayu pun keluar dari kamarnya. Dress sederhana sepanjang pertengahan betis sengaja ia pilih, agar tetap memperlihatkan sisi feminim dirinya, sekaligus rasa yang natural dan apa adanya.
Suara gesekan alas kakinya, membuat dua orang yang kini berbicara dengan suasana hangat, menoleh ke arah Ayu.
Giana berdiri menyambut kedatangan Ayu, “Nah, ini Mamak kau, Biru.”
Meski sudah ditahan sekuat tenaga, air mata haru tetap meleleh secara otomatis dari kedua mata Ayu. Ketika ia kembali bisa melihat bayi kecil yang dahulu ia timang dan rawat untuk sesaat, kini sudah tumbuh dewasa, tinggi dan sangat tampan.
Bagi seorang ibu, tetap putranya yang paling tampan. Meski secara alami paras Biru memang sudah rupawan sejak dulu, karena ia mewarisi darah seorang priyayi.
Perpaduan wajah Restu dan wajah Tuan Yassir menghasilkan sosok pemuda bernama Albiru. Tinggi dengan postur atletis, wajah nan bersih tanpa ada bekas jerawat, dilengkapi dengan cambang tipis yang menghiasi tepian wajah hingga garis rahang. Benar-benar pemuda dengan wajah idaman para gadis.
“Ayo, cium tangan dulu,” ujar Giana membuyarkan kebisuan ibu dan anak tersebut.
Biru melangkah mendekati Ayu, namun, sebelum ia tiba lebih dekat, Ayu lebih dulu menghampiri dan memeluknya erat.
Raungan tangis Ayu terdengar di setiap sudut ruangan, kerinduannya pada Biru kini telah terobati. Rasa haru menyelimuti sekujur tubuhnya, seiring dengan semakin erat dekapan tangannya. “Maafkan Mamak, Nak. Maaf,” isak Ayu dengan suara parau.
Berbeda dengan Ayu, Biru hanya diam membisu, kedua tangannya tetap menjuntai bebas di kedua sisi tubuhnya. Entahlah, mungkin karena sekian lama waktu memisahkan, hingga Biru merasa tak memiliki kedekatan emosi dengan Ayu.
Beberapa saat kemudian, Ayu pun melerai pelukan mereka. Ia terkejut melihat kaos biru yang basah, akibat air matanya yang mengalir deras. “Aduh, Maaf. Kaos kamu jadi basah karena Mamak menangis terlalu lama.”
Ayu menarik beberapa lembar tisu, bermaksud mengeringkan kaos Biru. Tapi pria itu mencegahnya, “Tidak apa-apa, Mah, nanti kering sendiri.” Biru mengambil alih tisu dari tangan Ayu, kemudian sedikit mengeringkan kaosnya, meski tak berefek apa-apa.
Tertegun untuk sesaat karena Biru menyebut dirinya dengan panggilan berbeda. “Mah?” gumam Ayu.
“Iya, Mamah. Kalau Mamak, panggilan untuk Mamak Karmila," ucap Biru dengan nada amat datar.
Sungguh getir hati Ayu, karena Biru menyambutnya dengan tatapan biasa saja, bahkan membedakan panggilan untuknya dan untuk Karmila. Tapi tak apa, toh maknanya sama saja, lagipula wajar, karena selama 20 tahun mereka terpisah karena keadaan memaksa.
“Baiklah, tidak apa-apa, panggilan Mamah juga indah,” kata Ayu, tak ingin mendebat perkataan Biru di hari perjumpaan mereka yang pertama.
Dari kejauhan, Giana melihat interaksi kaku tersebut, rasanya gemas sendiri, karena melihat sikap Biru yang terkesan datar, sementara Ayu dengan rasa rindunya yang kian menggebu.
Tapi biarlah, untuk perjumpaan pertama dia jiwa yang telah lama terpisah, ini saja sesuatu yang luar biasa. Giana yakin, seiring berjalannya waktu, hubungan mereka akan kian melekat dengan sendirinya.
•••
Di salah satu kampus terkemuka Ibu Kota.
Sebuah mobil mewah memasuki pelataran, hari ini kampus tersebut, kedatangan mahasiswa baru, katanya sih, transferan dari salah satu universitas di Singapura.
Seorang gadis cantik, keluar dari dalam mobil berwarna merah tersebut, pakaian modis plus make up yang membuatnya menjadi pusat perhatian seketika.
“Maaf, dimana gedung administrasi mahasiswa?” tanyanya pada orang pertama yang berpapasan dengannya.
“Di sana, lurus saja menyeberangi lapangan.”
“Oke, thanks,” ucap gadis itu sebelum berbalik.
Kampus mulai ramai dengan para mahasiswa yang menanti jam perkuliahan dimulai, ada yang berdiskusi, ada yang ngobrol santai sambil ngemil, ada juga yang iseng saling lempar bola karena terlalu bosan menunggu.
Gadis itu terus berjalan mengikuti petunjuk arah yang baru saja ia dapatkan, ia mengeluarkan ponsel guna memeriksa melihat notifikasi apa yang masuk. Hingga ia tak menyadari tiba-tiba dari arah samping sebuah bola melayang ke arahnya. Lalu—
Grep!
Seseorang menarik lengannya hingga ia terhindar dari bola nyasar, namun, yang terjadi selanjutnya, gadis itu kini berakhir di pelukan pria muda yang menyelamatkannya.
#nggak perlu dijelaskan, ya, pasti sudah tahu siapa mereka.
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan