"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Ramah
"Kak Fransisca!" Suara yang begitu familiar membuat Fransisca menoleh ke belakang.
Dan benar saja sosok Arkan Zoya terlihat. Rambut yang disisir tanpa pome membuatnya terlihat bagaikan idola remaja. Bahkan kala mengenakan pakaian dengan perpaduan pink putih saja masih terlihat normal.
Pemuda yang memeluk Fransisca erat. Berucap dengan nada manja."Arkan masih takut dengan Doni. Karena itu Arkan minta pada kak butler untuk mengantar Arkan ke tempat kak Fransisca bekerja. Kak Fransisca tidak marah kan?" Benar-benar ekspresi manis bagaikan anak anj*ing kecil yang memelas.
Rendi menipiskan bibir menahan tawanya. Masih teringat di benaknya, bagaimana sosok Arkan Zoya sebelum mengalami kecelakaan.
Gaya rambut yang selalu tertata rapi, setelan jas memberikan kesan berkelas. Wajah rupawan tanpa senyuman, tapi sekali tersenyum seperti akan menjatuhkan hukuman mati. Itulah seseorang yang pernah mendapatkan julukan raja neraka dalam dunia bisnis. Tidak ada satu orang pun yang tidak tegang setiap berhadapan dengannya.
Dan sekarang...pria yang dengan wajah seperti idola remaja. Senyuman secerah sinar matahari, ditambah tingkah manjanya yang membuat mual. Apa kedua orang ini adalah orang yang sama?
"Tidak marah Arkan sayang." Fransisca menarik pipi seseorang Arkan Zoya. Bahkan mengusap-usap pucuk kepalanya. Tidak disangka harga diri seorang Arkan Zoya telah jatuh sejauh ini.
"Maaf nyonya...tuan Arkan berguling di lantai sambil menangis ingin menemui nyonya. Mungkin tuan masih ketakutan... trauma dengan tuan muda Doni yang mengancamnya." Jelas sang butler pelan, sedikit menunduk meminta maaf.
"Benar Arkan menangis?" Tanya Fransisca.
Arkan mengangguk bersungguh-sungguh."Arkan takut."
"Tenang ya..." Fransisca menghela napas kasar.
"Kak Fransisca...ini siapa?" Tanya Arkan Zoya polos.
"Tuan Arkan, mungkin tuan tidak mengingatku. Namaku Rendi, dulu tuan sering menegurku. Tapi sekarang menjadi seperti..." Kembali Rendi menipiskan bibir menahan tawanya.
"Arkan, ini kak Rendi, yang kak Fransisca ceritakan sebelumnya." Ucap Fransisca lembut.
"Oh... pacar palsu, kenapa wajahnya jelek?" Pertanyaan polos dari Arkan Zoya benar-benar mengundang emosi.
Rendi berusaha keras untuk tersenyum menahan amarahnya. Walaupun segalanya tersimpan dalam senyuman seperti gunung purba Toba yang bersiap-siap untuk meledak suatu hari nanti.
"Tidak sejelek itu." Fransisca menghela napas.
"Apa dia miskin? Kenapa memakai jam tangan murah? Seperti yang dipakai pelayan." Pertanyaan dari Arkan Zoya, benar-benar mengundang amuk massa, mungkin itulah yang disebut bocah kematian.
"Dia tidak miskin...hanya kurang mampu saja." Fransisca berusaha menjelaskan.
Sementara lagi-lagi Rendi menghela napas. Arkan Zoya mode imortal begitu mengerikan. Arkan Zoya mode idol remaja, begitu menyebalkan. Makhluk ini... benar-benar...
"Arkan, kak Rendi bekerja padamu. Itu artinya ini adalah mata pencarian kak Rendi. Memang kak Rendi tidak kaya, tapi memiliki hati yang tulus." Jelas Rendi pada orang ini.
"Oh...tapi ibu Arkan dulu selalu bilang, orang tulus memiliki harga diri, jika mengatakan tulus tapi memikirkan uang namanya munafik. Tapi kenapa kak Rendi menjadi pacar kak Fransisca? Kata kak Fransisca dibayar. Itu artinya kak Rendi munafik?" Pertanyaan dari Arkan Zoya membuat ingin rasanya Fransisca membenturkan kepalanya ke dinding.
Bagaimana bisa bocah ini dari anak kecil anteng tiba-tiba berevolusi menjadi bocah kematian.
"Nyo...nyonya Fransisca. Dia sedang dalam mode tidak normal. Boleh aku menghajarnya beberapa pukulan. Toh dia tidak akan membalas dan melawan kan?" Pertanyaan dari Rendi dengan tatapan kosong.
Jika yang mengatakannya anak kecil asli, dirinya mungkin tidak masalah. Tapi ini masalahnya yang mengatakannya adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Astaga! Dirinya mungkin akan mengidap hipertensi setelah ini.
"Mau aku menghajarnyamu?" Tanya Fransisca berusaha tersenyum pada Rendi.
"Tidak! Tapi bagaimana kamu bisa bertahan menjaga bocah kematian dalam tubuh orang dewasa?" Tanya Rendi tidak mengerti sama sekali.
"Arkan anak yang manis, dia baik sebenarnya, sama sekali tidak pernah membantah. Kalau waktunya makan dia akan makan semuanya termasuk sayuran. Dia juga pandai mewarnai dengan krayon. Dan yang paling penting...Arkan Kaya!" Itulah yang diucapkan Fransisca dengan kata-kata terakhir penuh penekanan.
Sementara Rendi menghela napas menatap Fransisca memeluk suaminya erat. Pemuda yang pastinya merasa nyaman membentur dia gumpalan daging lembut berbalut pakaian formal. Dan... dirinya sebagai pria tampan, lumayan pintar, tapi miskin...iri... benar-benar iri.
Entah kapan hutang pinjol yang ditinggalkan adiknya senilai 58 juta lunas.
"Ya... kekayaan memang penting." Lagi-lagi helaan napas terdengar.
"Arkan pulang dengan kak Butler ya? Kak Fransisca harus pergi bekerja. Kalau tidak, bagaimana kalau Arkan pergi ke taman bermain dengan kak Butler hari ini." Ucap Fransisca membujuk.
"Tidak mau! Arkan ingin pergi dengan kak Fransisca." Gumam Arkan merajuk, hampir menangis.
Kalau sudah begini bagaimana dapat menghentikannya. Inilah sulitnya merawat seseorang dengan keterbelakangan mental? Memang lebih mudah menghadapi pria pencemburu bukan? Daripada anak kecil ambekan.
Sang butler merapikan letak kacamatanya. Kemudian terlihat tersenyum tenang."Saya akan meminta ijin pada bagian HRD untuk Rendi cuti kerja. Tuan Arkan terlihat mudah akrab dengannya. Jadi mungkin dapat menemani tuan Arkan bermain hari ini."
"Akrab? Aku dan bocah kematian ini!?" Tanya Rendi meyakinkan pendengarannya.
"Benar! Biasanya tuan Arkan menjauhi orang asing. Nyonya Fransisca memiliki hal penting, untuk mengawasi perusahaan. Karena itu mohon Rendi menemani tuan Arkan. Saya akan memberikan bayaran yang pantas untuk hari ini." Kalimat dari sang butler mengeluarkan black card dari sakunya.
"Arkan mau pergi dengan kak Miskin!" Teriak mulut tanpa adab itu memeluk Rendi erat.
Benar-benar definisi bocah kematian bukan?
Arkan Zoya, memang terlihat memiliki mental anak-anak berusia 5 tahun saat ini. Sama sekali tidak ada yang salah. Tapi, sudah pasti bayaran yang besar akan didapatkannya setelah ini dari sang butler.
Bingung harus bagaimana. Tidak! Dirinya adalah orang paling penyabar di dunia. Karena itu perlahan Rendi berusaha keras untuk tersenyum.
"Yakin mau dengan kak Rendi?" Tanya Rendi melirik ke arah black card.
Arkan Zoya mengangguk."Kak Munafik... pasti akan sangat menyenangkan bermain bersama."
"Nah...semuanya sudah sepakat. Aku juga harus membuat persiapan untuk hal yang terjadi besok. Karena itu Rendi jaga yang mulia suamiku tercinta. Kalau kamu memukulnya sekali, maka aku akan memukulmu ribuan kali. Karena hanya Arkan kantong uang yang paling setia padaku. Kamu mengerti?" Ancaman dari Fransisca penuh senyuman.
"Mengerti..." Ucap Rendi menelan ludah. Lagipula apa yang dapat terjadi? Hanya menjaga anak kecil. Lebih tepatnya orang dewasa yang memiliki jiwa anak kecil.
"Kak Fransisca...Arkan menyayangimu." Ucap Arkan tiba-tiba beralih memeluk Fransisca. Sementara senyuman lenyap dari bibir pemuda itu. Sama sekali tanpa disadari Fransisca.
Sedangkan sang butler merapikan letak kacamatanya kembali. Masih tersenyum ramah, penuh arti...