Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - Mulai Melangkah
Pagi yang cerah. Nala telah bersiap dengan setelan rapi miliknya. Rambutnya ia model half-up bun yang menampilkan wanita santai, muda dan tampil modis. Pakaian berwarna biru miliknya mampu menampilkan suasana yang segar. Merasa puas dengan penampilannya, Nala berjalan keluar dari kamarnya.
Di ruang makan, Dipta, Maya dan Bayu sudah berada disana. Lengkap dengan makanan yang telah tersedia dan tertata rapi.
“Selamat pagi wahai kakak, kakak ipar dan keponakan kecilku!” riang Nala. Berlari kecil ke arah Bayu yang duduk di kursi makan bayi miliknya. Kursi bayi yang ia belikan, tampak sangat cocok untuk keponakannya tersayang.
“Bayu sayang!” Nala memeluk Bayu, tak lupa mencium pipi gembul bayi berumur 2 tahun itu. Badannya yang berisi tampak sangat menggemaskan.
“Nala hentikan. Lihat pipi Bayu itu, merah!” kesal Dipta yang melihat adiknya begitu over jika sudah bersama anaknya.
“Eh, abang kok sewot. Bayu aja santai malah ketawa-ketiwi sama aku. Ya, kan Bayu kesayangan onti!”
“Sudahlah Nala. Biarkan Bayu makan dengan tenang.” Maya mulai menyuapi Bayu kembali. Nala melirik makanan Bayu. Sayur bayam dan perkedel kentang. Tampak sangat nikmat sekali.
“Dek, kau mau kemana. Tumben rapi!” heran Dipta yang melihat Nala tampil rapi.
Maya ikut menilai penampilan Nala. Nala yang merasa diperhatikan segera berpose layaknya model yang menunjukkan pakaiannya.
“Bagaimana? Cantikkan?”
“Cantik! Tapi mau kemana?” tanya Maya setelah selesai menilai penampilan Nala.
“ Mau ke Kolegium Psikiatri Indonesia. Aku lupa mau melapor kesana sebelum mulai kerja.”
Nala duduk di kursinya dan mulai mengambil sarapan miliknya. Makanan dengan ciri khas Indonesia yang sangat ia rindukan. Selama di luar negeri ia tak bisa memakan perkedel semacam ini. Jangan lupa sayur bening bayam dan pepesan ikan tongkol serta sambal yang tampak merah menggoda itu.
“Uhh, kangen banget makan kek gini!” Nala menikmati sarapannya kini. Meskipun sudah hampir satu bulan di Indonesia, namun lidahnya masih menyesuaikan kembali dengan cita rasa Indonesia.
“Makanlah yang banyak. Kakak yakin saat diluar kau kebanyakan makan roti dan telur, ya kan?”
Tepat sekali.
Itu memang terjadi pada Nala. Nala memang tidak terlalu pandai soal memasak. Namun jika membuat roti atau kue kering, Nala masih berani beradu.
“Kakak tau aja. Sereal pun akan menjadi menu sarapan untukku kak,” Nala menyengir saat kakaknya tampak lelah mendengar kehidupannya saat berada di luar negeri.
“Makanlah yang banyak, tambah kalau perlu!” Maya menyendokkan kembali sayur bayam kesukaan Nala itu.
“Xièxiè sǎozǐ!”
(Terima kasih kakak ipar!)
Jika di rumah Nala dan Maya tampak sarapan sederhana, berbeda dengan rumah keluarga besar Wijaya. Kedua pasangan pengantin baru itu masih tinggal di rumah besar. Meja makan tertata rapi dengan berbagai menu makanan yang disediakan. Para pekerja menyesuaikan makanan sesuai dengan selera setiap anggota rumah.
Zara dan Arsyad yang pertama kali sampai di ruang makan. Disana sudah ada kakek, nenek, ortu si kembar dan ortu Arya.
“Wah, mana pengantin yang satunya?” tanya Hanifah yang tak melihat kedatangan Agas dan Citra
“Masih tidur mungkin. Biasa, pengantin baru! Lihat aja itu, Zara banyak noda merahnya di leher! ” goda Gandari. Para orang tua yang lain tertawa saat melihat respon Zara yang memerah malu.
“Jalannya aja udah beda. Gandari, sepertinya tidak lama lagi suara bayi bakal terdengar di rumah ini.” Wajah Zara semakin memerah malu. Tak hanya Zara, Arsyad pun ikut merasa malu saat digoda oleh para orang tua, terlihat dari telinganya yang ikut memerah.
“Wah ada apa ini, ramai banget.” Arya yang baru saja hadir, tampak kebingungan saat para orang tua sedang tertawa dan melihat Arsyad serta Zara yang masih berdiri dengan wajah yang merah.
“Kalian berdua kenapa?” Arya tampak heran. Namun ia tak menghiraukannya dan memilih untuk duduk di tempatnya.
“Kau tak akan mengerti. Kau saja tak punya pasangan, kalau udah punya pasti nanti tau!” kesal Hanifah saat melihat putra semata wayangnya yang tak berubah. Sifat tak acuhnya itu yang membuatnya begitu frustrasi. Dirinya sangat ingin mempunyai menantu, sama seperti adik iparnya. Menantu cantik yang bisa ia ajak berbelanja atau ngeteh sore bersama.
“Arya, kapan kau kenalkan bunda calon mantu?”
Pertanyaan yang sama, dan terus berulang keluar mulur ibunya saat bertemu dengannya. Arya melirik kesal ke arah Arsyad yang dengan sengaja memamerkan keromantisannya dihadapan keluarga besar.
“Selamat pagi!” sapa Citra dan Agas yang baru saja turun dari kamar. Pengantin baru itu tampak sangat segar dan terlihat bahagia.
“Pagi!”
“Untung kalian cepat datang. Ayo cepat-cepat, kita makan bersama!” Arya segera menyela sebelum bundanya bereaksi kembali. Dirinya segera menyendok nasi goreng dan mengambil lauknya.
“Jangan kau pikir bisa kabur dari bunda, Arya. Bunda akan tetap akan menagih terus menerus sampai kau membawa calon mantu bunda!” geram Hanifah yang melihat anaknya tampak tak memedulikan ucapannya.
“Tenang bunda, calon mantu bunda sudah datang. Sekarang tinggal gimana caranya biar dia bisa balik bersamaku!” batin Arya menjawab ucapan bundanya.
...****************...
Selesai sarapan bersama, semua anggota keluarga memulai aktivitasnya masing-masing. Kedua pasangan pengantin baru itu juga memilih berkumpul di ruang bioskop yang sengaja dibangun agar bisa menonton bersama di waktu lenggang. Selayaknya bioskop, semua dalam ruang sinema itu tersedia. Yang membedakan hanyalah tempat duduknya dibuat lebih empuk agar terasa lebih nyaman. Tak lupa pop corn dan soda sebagai pelengkap acara mereka.
Zara dan Citra menikmati film yang mereka tonton sambil bercanda. Sangat berbeda dengan Agas dan Arsyad. Mereka tampak duduk tenang, sambil memperhatikan ponsel mereka.
“Jadi, rencana kita gimana?” bisik Agas
“Tunda!”
“Why?”
“Gue perlu cari data lengkap Nala. Gue rasa Kak Arya kenal Nala sebelum acara kita kemaren.”
Agas menatap Arsyad tak percaya. Kemudian melirik ke arah ponselnya, dimana Arsyad mengirimkan sebuah video. Dalam video itu, tampak Arya duduk merenung di rooftop rumah sakit dengan memegang sebuah kalung. Hanya saja, ia tak bisa melihat lebih jelas soal kalung itu.
“Maksudnya?” Agas tak mengerti hubungan antara video itu dengan tebakan Arsyad soal Arya yang mengenal Nala.
“Sebelum Kak Arya ke rooftop, dia sempat berbicara dengan Bang Dipta. Lo tau itu kan?”
“Tau!”
“Dan lo tau apa yang mereka bicarakan?—“ “Peringatan. Bang Dipta memperingati Kak Arya soal jangan membahas ranah pribadi, termasuk gelang ‘R’ yang dipakai Nala. Tapi kalau dipikir-pikir, Kak Arya itu aneh, dia dengan sengaja membahas hal itu.” Arsyad menjelaskan dugaannya dengan singkat. Sebenarnya banyak bukti dari perilaku Arya terhadap Nala.
“Maksud lo, mereka saling kenal?”
“Yap! Dan seperti kita baru ketahui, Nala amnesia. Jadi Kak Arya sepertinya mencoba mengorek masa lalu, Nala.”
Agas terdiam. Memikirkan segala rangkaian yang terjadi selama acara pernikahan hingga setelahnya. Di awal acara, Agas dapat melihat kakak sepupunya itu mencoba dekat. Bahkan Arya tampak mengekori Nala. Dimana ada Nala, maka disitu pula ada Arya. Namun, setelah acara, kakaknya itu tampak lesu. Seolah sedang memikirkan hal yang begitu berat. Seolah baru saja mengetahui sebuah fakta besar yang tersembunyi.
“Arsyad. Sepertinya dugaan lo ada benarnya!”
“Sepertinya sebelum acara Kak Arya belum tau soal Nala. Setelah acara, kemungkinan dia baru menyadarinya. Dia baru mengetahui kondisi Nala di hari itu juga, sama dengan kita. Hanya dengan cara yang berbeda.”
“Kalian berdua sedang membicarakan apa?” Zara dan Citra menatap ke arah suami mereka yang terlihat sedang berdiskusi dengan serius. Bahkan sejak film diputar, mereka berdua tampak tak fokus dan lebih memilih saling berbisik.
“Katanya mau nonton, kenapa kalian sibuk sendiri sekarang?” Terdengar lembut, namun nada yang dikeluarkan Citra sedikit naik satu tingkat. Agas segera duduk di samping Citra untuk menenangkannya, begitu pula dengan Arsyad yang mencoba menenangkan Zara.
“Kita tadi Cuma berdiskusi soal Kak Arya dan Nala.” ujar Agas memberitahu
Zara segera melirik tajam ke arah Arsyad. Seolah memperingatkan hasil pembicaraan mereka sebelumnya soal rencana yang ingin dijalankan Arsyad dan Agas. Arsyad dilirik seperti itu segera merangkul istrinya.
“Tenang, yang. Aku tau. Hanya saja, kota mencoba mengenalkan Kak Arya ke Nala, begitu juga sebaliknya. Siapa tau cocok, kan?” ujar Arsyad
Citra melirik ke arah suaminya. Agas yang dilirik segera memberi pembelaan, “ Yang, kau tau kemarin waktu acara, Kak Arya selalu ngintilin Nala loh. Siapa tau Kak Arya jatuh hati, kan?”
Citra menghela napas, begitu juga dengan Zara. Memang dari segi visual Arya dan Nala tampak serasi. Dari segi sifat, mereka saling melengkapi. Nala yang ceria, ramah dan lembut akan sangat kontras dengan Arya yang dingin dan cuek itu.
“Sesuai perkataanku yang awal. Biarkan mereka kenal selayaknya air mengalir. Lagipula, jika berjodoh mereka akan mendekat sendiri kan?” ujar Zara
“Benar. Sebaiknya kita tak perlu ikut campur.”
“Tapi—“ “Nggak ada tapi-tapian. Mau kalian di sambit Bang Dipta!” potong Zara dan Citra saat suami mereka ingin kembali beralasan.