"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Perang Dingin Dimulai
****
Malam perayaan ulang tahun ke-17 yang seharusnya menjadi momen paling indah dalam hidup gue, berakhir menjadi mimpi buruk yang terus membayangi pikiran. Sepanjang malam itu, gue gak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah garang Saka di atas bukit senja dan senyuman dingin Devan di bawah temaram lilin restoran *rooftop* bergantian muncul, mencengkeram kesadaran gue hingga napas gue terasa sesak.
Keesokan harinya, hari Sabtu yang biasanya gue habiskan dengan bermalas-malasan di tempat tidur sambil menonton serial drama, berubah menjadi hari yang penuh kecemasan. Ponsel gue sengaja gue matikan total. Gue takut. Takut melihat rentetan pesan dari Saka yang menuntut jawaban, atau ancaman terselubung dari Devan yang dikemas dalam kalimat-kalimat manis. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun bersahabat, gue merasa asing dengan mereka berdua.
Hingga akhirnya, hari Senin pun tiba. Hari di mana gue gak bisa lagi bersembunyi dari kenyataan.
Gue berdiri di depan gerbang SMA Tunas Bangsa dengan perasaan waswas yang luar biasa. Genggaman tangan gue pada tali ransel terasa begitu erat dan berkeringat. Entah kenapa, langkah kaki gue terasa sangat berat untuk melewati pos satpam.
"Mik! Mikaela!"
Sebuah tepukan keras di bahu mengejutkan gue. Gue menoleh cepat dan menemukan Risa yang baru saja turun dari ojek daring. Sahabat gue itu mengerutkan dahi begitu melihat wajah gue yang pucat dengan lingkaran hitam yang samar di bawah mata.
"Gila, lo kenapa? Muka lo udah kayak zombie kekurangan kafein," komentar Risa tanpa saringan sambil berjalan beriringan bersama gue memasuki area sekolah. "Gimana acara *sweet seventeen* lo kemarin? Sukses besar dong? Disamperin dua pangeran sekaligus."
Gue hanya bisa tersenyum kecut, tidak tahu harus mulai bercerita dari mana. "Gak ada yang sukses, Ris. Yang ada jantung gue hampir copot."
"Hah? Maksud lo?" Risa menghentikan langkahnya di tengah lapangan upacara, menatap gue penuh selidik. Sebelum gue sempat menjawab, atmosfer di sekitar kami mendadak berubah drastis.
Bisik-bisik dari para murid yang sedang berjalan menuju kelas terdengar riuh. Gue mengikuti arah pandang mereka, dan seketika itu juga, pertahanan mental gue rasanya mau runtuh.
Dari arah parkiran utama, Devan berjalan dengan sangat tenang. Dia mengenakan seragam OSIS lengkap dengan ban lengan bertuliskan 'Ketua OSIS' yang terpasang rapi. Di belakangnya, ada tiga anggota seksi keamanan OSIS yang berjalan dengan wajah serius. Dan yang membuat jantung gue berdegup kencang adalah arah tujuan langkah mereka.
Mereka berjalan menuju area parkiran belakang, wilayah kekuasaan anak-anak IPS, tempat di mana Saka baru saja turun dari motor sport hitamnya.
"Wah, ada perang dunia ketiga nih kayaknya," bisik Risa ngeri, mencengkeram lengan seragam gue. "Mik, itu Devan mau ngapain bawa-bawa tim ketertiban ke wilayahnya Saka?"
Gue gak membalas ucapan Risa. Dengan perasaan panik yang membuncah, gue langsung berlari menyusuri pinggiran lapangan menuju parkiran belakang, mengabaikan teriakan Risa yang memanggil nama gue.
Begitu gue sampai di sana, lingkaran murid yang menonton sudah mulai terbentuk. Di tengah-tengah parkiran, Saka berdiri tegak sambil bersandarkan pada motornya. Tangannya bersedekap di dada, dan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di bibirnya—sebuah pelanggaran berat di sekolah. Di hadapannya, Devan berdiri dengan jarak kurang dari dua meter, memegang sebuah buku catatan pelanggaran berwarna merah.
"Saka Aditya," suara Devan terdengar sangat lantang dan berwibawa melalui pengeras suara kecil yang biasa dibawa tim ketertiban, namun di telinga gue, suara itu terdengar seperti lonceng kematian. "Hari ini kamu melakukan tiga pelanggaran sekaligus. Membawa kendaraan bermotor dengan knalpot tidak standar, atribut seragam tidak lengkap, dan membawa rokok ke area lingkungan sekolah."
Saka mendengus remeh. Dia mengambil rokok dari bibirnya, lalu menjatuhkannya ke tanah dan menginjaknya dengan ujung sepatu bot hitamnya. Dia maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga wajah keduanya hampir bersentuhan.
"Terus kenapa, hah?" tantang Saka, suaranya berat dan penuh intonasi berbahaya. Dia melirik ban lengan Devan dengan tatapan merendahkan. "Lo mau sok jadi pahlawan kesiangan lagi di depan anak-anak? Mau pamer kuasa karena lo Ketua OSIS?"
Devan tidak terpancing sama sekali. Senyum tipis, senyuman formalitas yang biasa dia gunakan saat menyambut tamu dinas sekolah, terukir di wajah tampannya. Tapi matanya... mata itu menatap Saka dengan kilat kemenangan yang dingin. Kilat yang sama yang gue lihat di restoran *rooftop* malam itu.
"Aku cuma menjalankan tugas sesuai regulasi sekolah, Saka. Dan berdasarkan poin pelanggaran kamu yang sudah menumpuk sejak semester lalu, hari ini kamu resmi mendapatkan surat peringatan terakhir. Satu pelanggaran lagi, dan pihak sekolah tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan kamu," kata Devan tenang, namun setiap katanya terdengar seperti hantaman godam yang telak.
Saka mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Semua orang tahu kalau Saka paling benci diatur, apalagi diancam di depan umum oleh orang yang paling dia benci.
"Lo..." Saka mencengkeram kerah seragam Devan dengan kasar, membuat para anggota OSIS di belakang Devan langsung bergerak maju untuk melerai. Namun, Devan mengangkat satu tangannya, memberi kode agar timnya tetap diam. Dia membiarkan Saka mencengkeram kerah bajunya yang rapi hingga kusut.
"Kenapa, Saka? Mau pukul aku di sini? Di depan kamera pengawas dan seluruh murid?" bisik Devan, suaranya kini hanya bisa didengar oleh Saka, dan tentu saja gue yang nekat merangsek maju ke barisan paling depan para penonton. "Pukul aja. Dengan begitu, proses pengeluaran kamu dari sekolah ini bisa selesai sebelum jam istirahat pertama."
"Saka, stop!"
Gue akhirnya berteriak, tidak bisa lagi menahan diri melihat kegilaan ini. Gue berlari ke tengah-tengah lapangan parkir, langsung memegang kedua tangan Saka yang sedang mencengkeram kerah baju Devan. Tubuh gue bergetar hebat karena kombinasi rasa takut dan marah.
"Lepasin, Sak! Gue mohon, lepasin!" lirih gue dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menatap langsung ke dalam mata elang Saka yang merah menahan amarah.
Begitu melihat gue berdiri di antara mereka, kilat amarah di mata Saka mendadak meredup, bergantikan keterkejutan yang nyata. Dia menatap gue, lalu melirik ke arah Devan yang masih memasang wajah tenang tanpa dosa. Dengan perlahan dan berat, Saka melepaskan cengkeramannya dari kerah Devan.
"Mik, lo..." Saka mencoba meraih tangan gue, namun gue refleks melangkah mundur, menjauh dari jangkauan tangannya. Penolakan kecil dari gue itu tampaknya memberikan hantaman yang cukup keras bagi ego seorang Saka Aditya. Wajahnya seketika terlihat terluka.
Gue kemudian berbalik, menatap Devan dengan tatapan penuh kekecewaan. "Dan lo, Devan... lo keterlaluan."
Senyum di wajah Devan memudar sesaat mendengar ucapan gue. Ada kedutan kecil di sudut matanya, pertanda kalau dia tidak menyangka kalau gue bakal menyalahkannya di depan umum. Tapi dengan cepat, dia kembali menguasai emosinya.
"Aku cuma melakukan tugas aku, Mika," kata Devan lembut, mencoba meraih pundak gue, namun gue juga menghindar darinya.
"Gue mau ke kelas. Dan jangan ada yang berani ikutin gue!" tegas gue dengan suara bergetar, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin meninggalkan area parkiran belakang yang mendadak riuh oleh bisikan para murid yang semakin menjadi-jadi.
Perang dingin di antara mereka berdua kini telah resmi dimulai, dan gue tahu betul, diri gue adalah hadiah sekaligus sumbu utama dari ledakan yang bisa terjadi kapan saja.
Suasana di dalam kelas XII MIPA 2 terasa begitu mencekam bagi gue. Sepanjang tiga jam pelajaran pertama, gue sama sekali gak bisa fokus mendengarkan penjelasan guru di depan papan tulis. Pikiran gue terus melayang pada kejadian di parkiran tadi pagi. Ancaman Devan malam itu ternyata bukan sekadar gertakan sambal. Dia benar-benar menggunakan kekuasaannya sebagai Ketua OSIS untuk menyudutkan Saka. Dan yang paling menakutkan adalah, Devan melakukan itu semua dengan rapi, legal, dan tanpa cacat di mata hukum sekolah.
"Mik, lo beneran gak apa-apa?" tanya Risa pelan, menyenggol siku gue saat jam istirahat pertama akhirnya berbunyi. "Gue gak tahu ya apa yang terjadi di antara lo bertiga pas hari ulang tahun lo kemarin, tapi tensi tadi pagi itu beneran udah gak sehat. Devan kayak sengaja mau menyingkirkan Saka dari sekolah ini."
Gue meletakkan kepala gue di atas lipatan tangan di meja, mengembuskan napas frustrasi. "Lo bener, Ris. Peringatan lo tempo hari seratus persen akurat. Mereka berdua... mereka berdua udah gila."
"Terus sekarang lo mau gimana? Lo gak bisa terus-terusan menghindar kayak gini. Saka itu tipikal cowok yang makin dilarang makin nekat, sedangkan Devan itu ular berbisa yang bergerak diam-diam di dalam rumput. Lo salah langkah sedikit aja, salah satu dari mereka bisa hancur, Mik."
Ucapan Risa menancap telak di ulu hati gue. Benar. Kalau gue menerima Saka, Devan bakal menghancurkan masa depan Saka di sekolah ini. Tapi kalau gue menuruti Devan karena takut ancamannya, Saka yang ugal-ugalan itu pasti bakal nekat melakukan hal-hal ekstrem yang membahayakan dirinya sendiri atau bahkan Devan. Dua-duanya adalah jalan buntu yang berujung pada kehancuran.
*Bzzzt...*
Ponsel gue yang baru gue nyalakan kembali bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun isi pesannya membuat darah gue seketika berdesir hebat.
> **Unknown:** *Datang ke gudang belakang sekolah sekarang kalau lo gak mau lihat si Ketua OSIS kesayangan lo itu pulang tinggal nama.*
>
Gue membelalakkan mata. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang perang. Gak salah lagi, ini pasti ulah anak-anak buah Saka atau bahkan perintah dari Saka sendiri yang sudah kehilangan kesabaran akibat provokasi Devan tadi pagi.
Tanpa berpikir panjang, gue langsung bangkit dari kursi, mengabaikan teriakan panggilan Risa yang kebingungan. Gue berlari menyusuri koridor, menuju ke arah gedung belakang yang sepi dan jarang dilewati oleh murid-murid karena areanya yang kotor dan terbengkalai.
Begitu gue sampai di dekat belokan gudang tua, gue mendengar suara hantaman keras dan erangan tertahan.
*Bugh!*
Gue mempercepat langkah, dan pemandangan di depan gudang tua itu sukses membuat gue berteriak histeris. Devan sudah terduduk di tanah dengan sudut bibir yang pecah dan mengeluarkan darah segar. Seragam OSIS-nya yang tadi pagi putih bersih, kini dipenuhi noda tanah dan debu. Di hadapannya, Saka berdiri dengan tangan yang mengepal merah, napasnya memburu seperti banteng yang siap mengamuk. Beberapa anak buah Saka dari anak-anak IPS berjaga di sekitar gang, memastikan tidak ada guru yang lewat.
"Saka, cukup!" teriak gue sambil berlari dan langsung memosisikan diri gue di depan tubuh Devan, menghalangi Saka yang sudah siap melayangkan pukulan kedua.
Saka menghentikan tangannya yang menggantung di udara tepat beberapa senti di depan wajah gue. Matanya merah, penuh dengan emosi yang meletup-letup. "Minggir, Mik! Cowok bresek ini harus diberi pelajaran! Dia yang duluan cari gara-gara sama gue tadi pagi!"
"Gue bilang cukup, Saka!" air mata gue akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipi. Gue menatap Saka dengan pandangan penuh ketakutan dan kekecewaan yang mendalam. "Lo mau jadi pembunuh, hah? Lo mau dikeluarkan dari sekolah ini?!"
"Gue gak peduli!" bentak Saka frustrasi, menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. "Gue gak peduli kalau harus dikeluarkan dari sekolah bangsat ini, Mik! Tapi gue gak bisa diam aja melihat dia mengancam lo dan mencoba menjauhkan lo dari gue! Dia itu manipulatif, Mika! Lo dimanfaatkan sama dia!"
Gue tertegun. Jadi Saka sudah tahu kalau Devan mengancam gue?
Di belakang gue, Devan perlahan bangkit berdiri sambil menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Bukannya ketakutan, Devan justru terkekeh pelan—sebuah tawa sinis yang terdengar sangat mengerikan di tengah situasi mencekam ini. Dia melangkah maju, berdiri tepat di samping gue, lalu menatap Saka dengan pandangan merendahkan yang sangat provokatif.
"Lihat sendiri kan, Mika?" kata Devan, suaranya parau namun tetap terdengar tenang dan penuh kalkulasi. "Ini warna asli dari cowok yang kamu sebut sahabat itu. Dia gak lebih dari seekor binatang yang cuma bisa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Orang kayak dia... gak pantas ada di sekitar kamu."
"Lo bajingan, Devan!" Saka kembali merangsek maju, namun gue langsung menahan dada Saka dengan kedua tangan gue, menangis sejadi-jadinya di depan dada cowok itu.
"Saka, gue mohon... kalau lo emang peduli sama gue, pergi dari sini. Tolong pergi..." rintih gue dengan suara yang nyaris habis karena tangis.
Saka menatap gue yang menangis sesenggukan di dadanya. Genggaman tangannya yang tadinya mengepal kuat perlahan-lahan mengendur. Matanya memancarkan rasa sakit yang teramat sangat melihat air mata gue. Dia melirik Devan yang tersenyum menang di belakang gue, lalu kembali menatap gue dengan tatapan yang terluka dalam.
"Oke. Gue pergi," kata Saka lirih. Dia berbalik, berjalan meninggalkan area gudang belakang bersama gerombolan anak IPS lainnya dengan langkah yang berat. Namun sebelum benar-benar menghilang di belokan, Saka sempat menoleh dan mengucapkan kalimat yang membuat hati gue mencelos. "Tapi ingat satu hal, Mik. Gue gak akan pernah menyerah buat mendapatkan lo kembali dari si ular itu."
Setelah Saka pergi, area gudang tua itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara embusan angin dan isak tangis gue yang perlahan mulai mereda. Gue berbalik, berniat untuk membantu Devan mengobati lukanya, namun begitu gue melihat mata Devan, langkah gue langsung terkunci di tempat.
Tidak ada lagi sisa-sisa kesakitan atau keterkejutan di wajah Devan. Yang ada hanyalah sebuah tatapan kemenangan yang mutlak. Dia membiarkan dirinya dipukul oleh Saka, dia sengaja memancing emosi Saka di tempat sepi... semuanya adalah bagian dari rencana besarnya untuk menunjukkan pada gue betapa 'berbahayanya' seorang Saka Aditya.
"Sekarang kamu bisa lihat sendiri kan, Mik? Siapa yang benar-benar bisa melindungi kamu di sini," bisik Devan sambil tersenyum manis, mengabaikan darah yang masih menetes dari bibirnya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap sisa air mata di pipi gue.
Gue melangkah mundur dengan tubuh yang merinding hebat. Di titik ini, gue baru menyadari satu hal yang mengerikan. Jika Saka adalah api yang membakar apa saja secara terang-terangan, maka Devan adalah racun tak berwujud yang membunuh perlahan tanpa disadari. Dan gue... kini benar-benar telah terjebak di dalam sangkar tak kasat mata yang diciptakan oleh dua cowok *red flag* terbesar di sekolah ini.
### **Pesan Penulis (Author's Note)**
> **Aduh, tensinya makin tinggi aja nih di Bab 3!** Pertarungan terbuka antara dua kubu *red flag* akhirnya pecah juga di area sekolah. Devan yang menggunakan taktik hukum sekolah yang super rapi dan manipulatif, dilawan oleh Saka yang ugal-ugalan dan menggunakan kekuatan fisik karena emosinya yang meledak-ledak. Siasat Devan yang sengaja membiarkan dirinya dipukul biar kelihatan seperti korban di depan Mika bener-bener definisi dari manipulasi tingkat tinggi, ya!
> Sekarang Mika makin terjebak di situasi yang serbasalah. Saka gak mau menyerah, sedangkan Devan makin mengunci posisinya di atas angin. Kira-kira apa ya yang bakal dilakukan Devan selanjutnya dengan bukti luka pukulan dari Saka itu? Apakah dia bakal bener-bener mendepak Saka dari sekolah?
> Jangan lupa ya buat pembaca setia **@ujang_Bonang**, setelah baca bab ini langsung klik tombol **Like**, berikan **Vote** sebanyak-banyaknya, dan tulis teori kalian di kolom **Komentar** tentang siapa yang bakal memenangkan perang dingin ini! Dukungan kalian sangat berarti buat perkembangan cerita ini ke depannya. Sampai jumpa di Bab 4 yang pastinya bakal lebih seru! *Stay tuned!*
>