King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Sinar matahari pagi musim panas yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah tirai beludru abu-abu gelap di kamar utama Kastel Stone.
Cahaya itu jatuh tepat di atas ranjang king-size yang kini tampak berantakan, menjadi saksi bisu dari malam pertama yang penuh dengan dinamika emosi dan kegilaan tak kasat mata.
King Stone perlahan membuka sepasang mata elangnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan di sisi ranjangnya.
Sembari mendudukkan tubuh kekarnya yang bertelanjang dada, King mengusap wajahnya yang tidak lagi sepucat kemarin.
Jahitan di perut kanannya memang masih sedikit berdenyut perih, namun ramuan cinta dan kehadiran Olivier di sisinya semalaman telah bertindak sebagai obat bius terbaik di dunia.
Brak!
"KINGSTON STONE!!! KAU PRIA BERENGSEK!!!"
Sebuah lengkingan amarah yang teramat nyaring mendadak menggema dari balik pintu kaca buram kamar mandi utama. Pintu itu digeser paksa hingga menghantam pembatasnya dengan keras.
Olivier Martinez—atau yang kini telah resmi menyandang nama Olivier Stone—melangkah keluar dengan napas yang memburu.
Wanita itu hanya mengenakan jubah mandi sutra putih yang sengaja ia buka lebar di bagian kerahnya. Wajah cantiknya memerah sempurna, bukan karena malu, melainkan karena amarah murni yang siap meledakkan seluruh isi kastel pagi ini.
Dengan jari telunjuk yang gemetar, Olivier menunjuk ke arah leher, tulang selangka, hingga ke batas dadanya yang kini dipenuhi oleh bercak-bercak merah keunguan yang teramat pekat, padat, dan kontras di atas kulit putih mulusnya.
"Ini kau lakukan kapan, sialan?!" teriak Olivier, matanya melotot tajam menatap suaminya yang masih terduduk di atas ranjang.
"Kau bilang kau hanya akan menciumku! Kau bilang kau tidak akan melakukan apa pun sampai perutmu sembuh! Tapi lihat ini! Kau membuatku tampak seperti habis diserang oleh sekawanan serigala lapar!"
Di atas ranjang, King Stone yang awalnya sempat terkejut mendadak meledak dalam tawa renyah yang teramat puas. Pria bertubuh monster itu memegangi perut kanannya yang dibalut perban dengan tangan kiri agar jahitannya tidak robek, sementara tangan kanannya memukul-mukul kasur saking gelinya melihat ekspresi murka sang istri.
King mengulas senyuman konyol yang dipenuhi kemenangan. Wajah tampannya yang biasa memancarkan aura Playboy dingin, kini sepenuhnya runtuh menjadi wajah seorang pria buas yang berhasil menjebak mangasanya.
"Kapan lagi, Wifey? Tentu saja saat kau sudah kelelahan dan tertidur lelap setelah ciuman panjang kita," jawab King dengan nada suara baritonnya yang serak khas bangun tidur, sama sekali tidak merasa bersalah.
Olivier memang tertidur dengan sangat pulas. Namun, King Stone tidak akan pernah melewatkan kebiasaan lamanya sepuluh tahun lalu di apartemen lantai enam belas.
Bagi seorang King Stone, menancapkan "tanda kepemilikan" yang pekat di seluruh tubuh Olivier adalah ritual wajib yang tidak boleh dilewatkan, terutama di malam pernikahan mereka.
Semalaman suntuk, pria itu dengan telaten, perlahan, dan penuh kegilaan menghujani kulit istrinya dengan kecupan-kecupan menuntut yang meninggalkan bekas kemarahan yang absolut.
"King! Ini keterlaluan! Bagaimana aku bisa turun ke meja makan dengan leher penuh bercak seperti ini?!" jerit Olivier, frustrasi setengah mati sembari mencoba menarik kerah jubah mandinya setinggi mungkin, namun tanda yang dibuat King terlalu tinggi hingga mencapai batas rahang bawahnya.
"Gunakan foundation atau syal, Sayang. Tapi kurasa itu tidak akan membantu, karena aku membuatnya dengan sangat berniat agar seluruh dunia tahu kau adalah milikku," sahut King santai, mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang sangat menyebalkan sebelum melangkah turun dari ranjang untuk mandi.
...****************...
Sementara itu, di ruang makan utama Kastel Stone, suasana pagi terasa begitu hangat namun sarat akan antisipasi.
Meja makan panjang dari kayu jati kuno peninggalan abad pertengahan itu kini telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan mewah gaya kontinental, mulai dari kaviar, daging panggang premium, hingga roti panggang Prancis yang harum.
Seluruh anggota keluarga inti klan Stone telah berkumpul dan duduk di kursi masing-masing. Patriark Kyle Stone duduk di ujung meja memegang koran bisnis pagi, didampingi oleh Mommy Emmeline yang tampil anggun dengan gaun rumah berwarna pastel.
Di sisi kanan, Grandmaman Victoria Stone duduk dengan megah sembari memangku Nora Amelie yang sedang disuapi potongan stroberi segar oleh nenek buyutnya itu.
Di sisi kiri meja, dua pasang suami istri muda klan Stone sudah mengambil posisi.
Kendrick Stone duduk sembari mengupas apel untuk Freya, sedangkan Kaelix Stone duduk dengan ketenangan mutlaknya di samping Lavender Lynn, sementara Xavier kecil dan Kyara sibuk berbisik-bisik di ujung meja.
Langkah kaki yang berirama konstan dari arah selasar luar mendadak mengalihkan perhatian seisi ruangan.
Pintu ganda ruang makan terbuka, menampilkan King Stone yang berjalan dengan kemeja kasual hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan aura segar dan bugar.
Di sampingnya, Olivier berjalan dengan langkah yang sedikit dihentak, mengenakan gaun pagi berleher kerah tinggi berwarna marun, mencoba menyembunyikan mahakarya suaminya semalam.
Namun, usaha Olivier sia-sia. Begitu ia duduk di kursi yang ditarik oleh King di sebelah Nora, pergeseran kain kerah gaunnya saat ia menunduk seketika memperlihatkan bercak-bercak kemarahan berwarna merah keunguan yang berjejer pekat di sepanjang leher kirinya hingga ke bawah telinga.
Suasana di meja makan mendadak hening seketika.
Uhuk! Uhuk!
Kendrick Stone yang baru saja menggigit potongan apel langsung tersedak hebat.
Wajah tampannya memerah karena batuk yang tertahan, matanya melotot sempurna menatap leher kakak iparnya, lalu beralih menatap wajah King yang duduk dengan ekspresi paling polos dan tanpa dosa di dunia.
"Demi tuhan, King..." bisik Kendrick, suaranya bergetar menahan tawa gila yang sudah siap meledak di tenggorokannya. Ia buru-buru meneguk air putihnya, lalu mencondongkan tubuhnya di atas meja.
"Wah, wah, wah... lihat ini. Jadi ini alasan mengapa tim medis klan tidak menerima panggilan darurat dari kamar utama semalam? Ternyata kau tidak merobek jahitan perutmu, Kak, melainkan merobek harga diri kakak ipar dengan kanvas merah di lehernya!"
Freya istrinya langsung menyikut rusuk suaminya dengan keras. "Kendrick! Diam! Ini di depan anak-anak!" bisik Freya dengan wajah yang ikut memerah karena geli.
Jangan tanya ulah siapa bercak kemarahan itu berada di sana.
Seluruh orang dewasa di ruangan itu—termasuk Daddy Kyle dan Mommy Emmeline—tahu betul watak posesif gila yang diwarisi oleh putra sulung mereka.
Mereka memang tidak bercinta semalam karena kondisi fisik King yang belum memungkinkan untuk "aktivitas berat", namun semalaman penuh, King Stone telah membuktikan bagaimana gairah liarnya tetap bisa menciptakan sebuah karya indah yang teramat mencolok di atas tubuh sang istri.
Lavender Lynn yang duduk di samping Kaelix menaikkan sebelah alisnya.
Sebagai singa betina yang mendominasi, ia menatap King dengan pandangan menghina yang sangat puas. "Kaelix, lihat kakakmu," ucap Lavender dengan nada datar namun sarat akan ejekan. "Pria Playboy yang baru saja melepas status lajangnya ternyata bertingkah lebih agresif daripada remaja yang baru pertama kali menyentuh wanita. Sungguh kekanak-kanakan."
Kaelix Stone, yang biasanya diam seperti patung es, perlahan menurunkan cangkir kopi hitamnya ke atas tatakan piring kecil dengan bunyi ting yang pelan.
Pria dengan kacamata perak itu melirik leher Olivier, lalu menatap King dengan pandangan matanya yang dingin namun berkilat geli.
"Sialan kau, King," ucap Kaelix, suaranya berat dan tenang namun langsung memotong riuh meja makan. "Kau benar-benar tidak bisa menahan diri bahkan untuk satu malam saja. Kau membuat polusi visual di meja makan pagi ini."
"Hahaha!" Kendrick akhirnya tidak bisa lagi membendung tawa gilanya.
Pria itu tertawa lepas hingga bahunya berguncang, bahkan sampai mengeluarkan air mata saking gelinya melihat Olivier yang kini sudah menundukkan wajahnya sedalam mungkin, siap menenggelamkan diri ke dalam mangkuk sup karena malu yang luar biasa.
"Kingston Stone! Kau benar-benar buat mommy malu!" Mommy Emmeline ikut menimpali, melempar serbet kain ke arah putra sulungnya dengan pandangan jengkel namun dihiasi senyuman geli.
"Bagaimana bisa kau menganiaya leher menantuku seperti itu di malam pertama kalian?! Kau bertingkah seperti Hewan buas!"
King Stone hanya mendengus pelan, meraih cangkir kopinya lalu meminumnya dengan santai, sama sekali tidak terganggu oleh cemoohan dari adik-adiknya. "Itu namanya hak milik sah secara hukum, Mom. Lagipula, aku tidak melakukan apa pun yang melanggar saran medis," bela King dengan senyuman miring yang teramat menyebalkan di depan Kendrick dan Kaelix.
Grandmaman Stone yang sejak tadi diam, tiba-tiba menghentikan kegiatannya menyuapi Nora. Wanita tua itu memperbaiki letak kacamata bacanya, meneliti bercak di leher Olivier, lalu menoleh ke arah King dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat mendukung.
"Bagus, Kingston!" ucap Grandmaman dengan suara lantang yang membuat Kendrick langsung menghentikan tawanya karena terkejut.
Wanita tua itu mengangguk-angguk puas. "Itu baru namanya laki-laki klan Stone! Tancapkan tanda yang jelas agar tidak ada lagi lalat-lalat atau dokter pria di rumah sakit itu yang berani mendekati menantuku! Kalau bisa, tahun depan kau harus memberikan Nora seorang adik laki-laki yang tangguh!"
"Grandmaman!" pekik Olivier dengan suara tertahan, wajahnya kini sudah matang sempurna seperti kepiting rebus akibat dukungan dari matriark tertua klan tersebut.
Nora Amelie yang duduk di antara Grandmaman dan ibunya, menatap bercak merah di leher sang ibu dengan kening yang berkerut cerdas.
Bocah sepuluh tahun itu kemudian menoleh ke arah King yang sedang tersenyum konyol ke arahnya.
"Daddy," panggil Nora dengan suara datarnya yang sangat mirip dengan gaya bicara Olivier saat sedang menginterogasi pasien.
"Ya, Sayang? Ada apa?" jawab King dengan nada suara yang mendadak melunak seribu kali lipat, menatap putrinya dengan binar penuh kasih sayang.
"Leher Mommy jadi terlihat sangat aneh seperti digigit serangga besar," ucap Nora polos, yang seketika membuat Kendrick kembali meledak dalam tawa menggila hingga hampir terjatuh dari kursinya, sementara Kaelix hanya bisa menyembunyikan senyuman miringnya di balik telapak tangannya.
Malam pertama yang dilewati tanpa pergulatan ranjang itu justru ditutup dengan sebuah mahakarya kebersamaan yang teramat konyol, mengunci takdir baru klan Stone di atas meja makan pagi yang dipenuhi oleh tawa, ejekan, dan kehangatan murni yang selama sepuluh tahun ini telah hilang dari sarang para serigala Chicago.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣