"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Batas yang Runtuh
BAB 12: Batas yang Runtuh
Perjalanan dari kampus menuju apartemen terasa seperti hitung mundur menuju penghakiman bagi Kiara. Di dalam mobil sedan mewah itu, Adrian menyetir dengan kecepatan tinggi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rahang tegasnya tetap mengunci rapat, dan aura dominasi yang pekat memenuhi kabin mobil. Kiara hanya bisa meremas tali tasnya di jok penumpang, menyadari bahwa pelariannya telah benar-benar berakhir.
Begitu pintu penthouse mewah itu tertutup dan terkunci otomatis, Adrian tidak memberikan kesempatan bagi Kiara untuk sekadar melepas sepatu pantofelnya. Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan bertenaga, Adrian menyambar tubuh mungil Kiara, mengangkatnya ke dalam gendongan posesif, lalu melangkah lebar menuju kamar tidur utama.
"Adrian! Lepaskan aku! Tolong, jangan sekarang!" jerit Kiara panik, memukul-mukul dada bidang Adrian.
Namun, Adrian seolah telah menutup rapat akal sehatnya yang digerus oleh api cemburu buta. Pria itu menghempaskan tubuh Kiara dengan lembut namun tegas ke atas ranjang king size berseprai sutra hitam. Sebelum Kiara sempat bangkit, tubuh tegap Adrian sudah mengurungnya di bawah sekat kedua lengannya yang kokoh.
"Aku sudah memperingatkanmu tentang konsekuensinya, Kiara," bisik Adrian, suara baritonnya mendadak berubah menjadi sangat serak, berat, dan sarat akan gairah lapar yang pekat.
Mata elang Adrian berkilat gelap, menatap lurus ke dalam manik mata Kiara yang berkaca-kaca. Adrian menundukkan kepalanya, langsung membungkam bibir Kiara dengan sebuah ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan membakar dibandingkan di ruang dosen tadi. Tangan besar Adrian bergerak dengan cekatan, menanggalkan kemeja putih kampus Kiara satu per satu, mengekspos lingerie sutra tipis yang sengaja ia pasangkan tadi pagi.
"Ahhh... Adrian..."
Lenguhan Kiara lolos begitu saja saat bibir panas Adrian mulai menjajah kulit lehernya, memberikan gigitan dan hisapan yang sangat intens di sana. Sentuhan kulit-ke-kulit yang begitu mendadak dan intim itu mengirimkan gelombang sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh pertahanan batin Kiara. Di bawah dominasi mutlak sang profesor yang super tengil namun perkasa, akal sehat Kiara perlahan meleleh. Rasa cemburu Adrian yang meledak justru memicu gairah liar yang tak tertahankan di antara keduanya.
Sore itu, di balik tirai kamar yang tertutup rapat, batas yang selama ini mereka jaga akhirnya runtuh sepenuhnya. Adrian mengklaim haknya sebagai suami kontrak untuk pertama kalinya dengan sangat intens, penuh penekanan posesif, dan gairah yang menggebu-gebu, menandai setiap jengkal tubuh Kiara seolah ingin menegaskan kepada dunia bahwa gadis itu adalah miliknya seutuhnya. Di bawah penyatuan yang panas dan dipenuhi desahan yang memburu itu, Kiara hanya bisa pasrah, terbawa arus gairah luar biasa yang dialirkan oleh sang profesor.
Satu jam berlalu. Kamar tidur mewah itu kini kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekam.
Hawa panas sisa pergolakan gairah masih terasa di udara, namun di dalam dada Kiara, suasananya justru berbanding terbalik. Dingin, hampa, dan menyakitkan.
Kiara berbaring miring membelakangi Adrian, menarik selimut tebal bermotif abu-abu itu hingga menutupi dadanya yang polos. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh dengan deras, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Dadanya naik turun dengan ekstrem, menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh pria di belakangnya.
Rasa menyesal, sedih, dan marah mendadak bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang sangat menyesakkan.
Kenapa aku bisa selemah ini? batin Kiara menangis histeris merutuki dirinya sendiri. Kenapa aku membiarkan dia menyentuhku sejauh ini? Hubungan kami ini hanya pernikahan kontrak... kami hanya menikah di atas kertas demi uang tiga ratus lima puluh juta! Aku bukan siapa-siapa baginya.
Kiara merasa sangat terhina. Ciuman dan sentuhan intens Adrian yang ia kira didasari oleh secercah perasaan, kini terasa seperti sebuah transaksi bisnis yang kejam. Adrian memperlakukannya seolah tubuhnya bisa dibeli dan dikendalikan kapan saja hanya karena selembar kertas perjanjian sialan itu. Pria itu benar-benar meremehkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Di belakangnya, Adrian perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang memunggungi Kiara. Pria itu menyugar rambutnya yang berantakan ke belakang, mengembuskan napas panjang sembari meraih kemejanya yang berserakan di lantai. Sifat dingin dan tengilnya mendadak kembali, seolah kejadian panas beberapa menit lalu tidak berarti apa-apa baginya.
"Jangan menangis, Kiara," ujar Adrian datar, suara baritonnya terdengar begitu acuh dan tanpa beban, mengiris hati Kiara semakin dalam. "Kamu sudah menandatangani kontrak itu, dan kamu tahu betul apa konsekuensinya. Tugasmu adalah mematuhiku dan melayaniku. Jadi, jangan bersikap seolah-olah kamu adalah korban di sini."
Mendengar kalimat dingin yang keluar dari bibir Adrian, tangis Kiara pecah seketika. Ia membalikkan tubuhnya, menatap punggung tegap Adrian dengan binar mata yang dipenuhi rasa benci, terluka, dan kecewa yang teramat sangat.
"Ya! Aku memang tahu konsekuensinya, Adrian!" teriak Kiara dengan suara serak karena air mata, mengabaikan fakta bahwa ia sedang berhadapan dengan dosennya yang ditakuti. "Tapi bukan berarti kamu bisa meremehkanku seperti ini! Kamu menganggapku apa? Mainan yang bisa kamu pakai kapan saja kamu cemburu? Kamu membeli tubuhku, tapi kamu tidak punya hak untuk menginjak-injak harga diriku!"
Adrian menghentikan gerakannya memasang kancing kemeja. Pria itu menoleh sekilas, menatap Kiara dengan mata elangnya yang kembali dingin dan tak tersentuh.
"Jika aku memang meremehkanmu, Kiara... aku tidak akan repot-repot membawamu ke apartemen ini dan melunasi utang pamanmu," sahut Adrian dengan nada tengil yang teramat menyebalkan di telinga Kiara, sebelum berdiri dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Kiara yang kembali menangis tergugu di atas ranjang, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya terikat dalam sangkar emas sang profesor yang kejam.