Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: JALAN PULANG DI TENGAH GERIMIS
Aku tidak tahu bagaimana caranya kedua kakiku yang gemetar bisa membimbingku keluar dari ruang kerja Ibu Retno. Langkahku terasa begitu berat, seolah-olah lantai marmer yang kupijak setiap hari kini menjelma menjadi rawa berlumpur yang siap menenggelamkanku. Aku kembali ke dapur belakang, menatap nanar tumpukan cucian piring yang belum kuselesaikan.
Air mataku terus mengalir tanpa suara, membasahi celemek kusam yang menjadi saksi bisu penindasan mental dan fisikku selama empat bulan ini. Rahasia yang baru saja diungkapkan Ibu Retno secara gamblang di depan wajahku merobek-robek seluruh dinding hatiku hingga tak bersisa.
Pernikahan simbolis. Sebuah sandiwara licik yang dirancang rapi oleh keluarga Wijaya demi mengelabui hukum dan menghindari denda 70 gram emas murni. Dan yang paling membuat dadaku sesak hingga sulit bernapas adalah kenyataan bahwa Mas Rendra—pria yang setiap malam memelukku hangat, pria yang sangat kucintai hingga aku rela merendahkan harga diriku menjadi pelayan di rumah ini—ternyata adalah seorang pengecut besar. Dia terlalu malu menikahi Sari yang lebih tua lima tahun, nekat mengancam akan mengakhiri hidupnya di dalam kamar, lalu kini bersedia menuruti skenario busuk ibunya untuk berdiri di pelaminan besok pagi demi menyelamatkan harta toko grosir mereka.
Mereka mengira karena aku anak desa miskin yang penurut, aku akan diam saja menyaksikan suamiku bersanding dengan wanita lain besok pagi. Mereka mengira aku akan dengan patuh menunggu di rumah ini selagi Mas Rendra mengucapkan janji suci fana di depan penghulu.
"Yuni? Kamu kenapa menangis?"
Suara langkah kaki Mas Rendra yang baru pulang dari toko grosir seketika memecah keheningan dapur. Aku buru-buru menyeka pipiku dengan punggung tangan, lalu berbalik menatapnya. Wajah Mas Rendra tampak sangat lelah, matanya sayu penuh dengan kilat rasa bersalah yang kini bisa kubaca dengan sangat jelas.
Dia melangkah mendekat, mencoba meraih kedua tanganku yang kasar karena deterjen. "Ibu sudah bicara denganmu, ya? Yun... tolong mengertilah posisi keluargaku. Ini semua cuma pura-pura, cuma di atas kertas. Besok setelah akad selesai, aku akan langsung meninggalkan Sari dan pulang kepadamu. Aku cuma mencintaimu, Yun," bisiknya dengan suara serak, mencoba meyakitkanku.
Aku menatap sepasang mata pria di depanku ini. Rasa cinta yang selama empat bulan ini kupupuk dengan air mata dan keringat seketika mati, membeku menjadi rasa muak yang teramat sangat. "Pernikahan bukan mainan, Mas. Dan harga diriku bukan keset yang bisa kamu injak demi menutupi utang emas keluargamu," jawabku lirih namun tajam, membuat Mas Rendra tersentak mundur seolah baru saja ditampar.
Tanpa menunggu balasannya, aku berbalik dan melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar kami di lantai dua. Aku tidak ingin mendengar satu pun janji manis atau alasan pengecut dari mulutnya lagi.
Tepat pukul dua dini hari, saat seluruh isi rumah telah tenggelam dalam tidur yang lelap, aku perlahan bangkit dari ranjang tanpa menimbulkan suara. Aku menatap Mas Rendra yang tertidur gelisah di sampingku untuk yang terakhir kali. Aku melangkah ke arah lemari pakaian, mengeluarkan tas kain kecil yang kubawa dari desa dulu. Aku tidak mengambil satu pun baju baru, perhiasan, atau uang yang ada di kamar ini. Aku hanya mengambil beberapa pasang baju kurung lamaku dan satu benda paling berharga yang kusembunyikan di balik lipatan kain: alat tes kehamilan bergaris dua.
Kutangkup perutku yang kini berusia empat bulan dengan jemari yang bergetar. Anakku, kita pulang ke rumah kakek dan nenekmu. Kita tidak butuh ayah seorang pengecut, bisikku dalam hati penuh tekad.
Aku berjalan menuruni anak tangga marmer satu per satu dengan langkah seringan kapas, menyelinap keluar melalui pintu belakang menembus udara malam Maret yang dingin dan sisa-sisa gerimis yang masih jatuh. Aku membelah kegelapan jalanan kota Semarang, menuju terminal bus untuk pulang ke rumah kedua orang tuaku. Rumah tua berdinding papan kusam dengan lantai semen retak-retak di desa adalah satu-satunya tempat perlindungan yang paling aman bagi jiwaku yang beralas luka.
Fajar baru saja menyingsing saat bus ekonomi yang kunaiki berhenti di tepian jalan raya desaku. Tubuhku rasanya remuk dan perut bawahku sedikit melilit akibat guncangan selama perjalanan, namun hawa kebebasan yang kuhirup membuatku mampu melangkah menyusuri jalan setapak desa yang masih basah oleh embun pagi.
Saat kakiku menapak di halaman rumah orang tuaku, pintu depan berbahan kayu jati tua yang sudah kusam perlahan terbuka. Sesosok pria paruh baya dengan sarung tersampir di pundak melangkah keluar sambil memegang sapu lidi. Bapak. Begitu matanya yang mulai rabun menangkap sosokku yang berdiri mematung dengan wajah pucat dan tas kain di tangan, beliau langsung terpaku.
"Yuni...?" suara Bapak terdengar bergetar, sarat akan ketidakpercayaan.
Mendengar suara itu, pertahanan yang kubangun sejak semalam runtuh seketika. Aku berlari kecil, menjatuhkan tas kainku, lalu bersimpuh memeluk kaki Bapak yang kasar karena bertahun-tahun menempa hidup di ladang. "Bapak... Yuni pulang, Pak..." tangisku pecah, menumpahkan seluruh beban penderitaan yang selama ini kupendam sendiri.
Ibu yang berada di dapur segera berlari ke depan, menjerit kecil melihatku yang sudah menangis sesenggukan di dalam dekapan Bapak. Kedua orang tuaku langsung membimbingku masuk ke dalam rumah, mendudukkanku di atas lincak bambu ruang tamu yang sederhana.
Di bawah temaram sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah-celah dinding papan, aku menumpahkan seluruh kebenaran yang memuakkan itu kepada Bapak dan Ibu. Aku menceritakan tentang bagaimana aku hanya dijadikan pelarian, tentang denda 70 gram emas murni, dan kenyataan pahit bahwa pagi ini Mas Rendra sedang melangsungkan pernikahan simbolis dengan wanita lain.
Ibu seketika menangis histeris, memeluk pundakku dengan tubuh yang gemetar hebat karena amarah. Sementara Bapak, aku melihat rahangnya mengeras seketika. Tangan Bapak mengepal begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Biadab..." desis Bapak dengan suara yang bergetar rendah. "Mereka mengira karena kita orang kecil, mereka bisa membeli harga diri anakku dengan uang hantaran murah lalu mempermainkannya sesuka hati? Kita memang miskin, Yuni, tapi harga diri kita tidak bisa dibeli!"
Bapak lalu menurunkan pandangannya ke arah perutku yang mulai kelihatan menonjol. Beliau menghela napas panjang, mengelus perutku dengan kelembutan seorang kakek. "Jangan takut soal anak di dalam kandunganmu ini, Nduk. Bapak dan Ibu masih punya tenaga untuk memberi makan darah dagingmu. Kita besarkan dia di sini, jauh dari uang dan keserakahan keluarga kaya di Semarang itu."
Mendengar kata-kata Bapak, sepotong ruang kosong di dalam dadaku yang membeku kini perlahan-lahan mulai terasa hangat kembali. Aku tahu jalan di depanku tidak akan mudah, statusku akan menjadi gunjing tetangga desa dan aku harus bekerja keras lagi. Namun, di bawah atap rumah orang tuaku yang sederhana ini, Sri Wahyuni telah resmi menutup lembaran lamanya sebagai budak sandiwara.
Biarlah pagi ini keluarga Wijaya merayakan pernikahan simbolis mereka dan mengira telah bebas dari denda. Mereka tidak tahu bahwa aku pergi dengan membawa pergi darah daging mereka di dalam rahimku, dan suatu hari nanti, waktu yang akan berjalan perlahan untuk membuktikan siapa yang sebenarnya akan hancur pada akhirnya.