NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Laras Kecewa

Malem itu gue lagi duduk di balkon apartemen, rokok di tangan, angin malam Jakarta yang masih gerah bikin baju nempel di badan. HP gue di pangkuan, chat Laras lagi terbuka. Dia kirim foto selfie tadi sore, senyumnya manis tapi ada sesuatu di matanya yang beda kayak lagi nunggu kepastian yang belum dateng-dateng.

Laras: Bram, besok malem free ga? Mau ketemu, ada yang pengen aku omongin serius.

Gue bales cepet, tapi dalam hati udah tahu arahnya.

Bram: Free kok. Biasa di kafe kita? Jam 7 ya.

Besoknya gue dateng lebih awal ke kafe Senopati. Tempat itu udah kayak markas kami. Gue pesen Americano, duduk di pojok yang biasa. Laras dateng pas jam 7 pas, pakai dress biru muda simpel, rambut digerai sebahu. Senyumnya manis, tapi ada kegugupan yang jelas keliatan dari cara dia aduk lattenya.

“Udah lama nunggu?” tanyanya sambil duduk.

“Baru juga. Lo keliatan cantik banget malem ini,” gue puji, berusaha ringankan suasana.

Laras ketawa kecil, tapi matanya ga lepas dari gue. Obrolan awal ringan soal kerjaan dia yang deadline, gym gue, film baru. Tapi setelah kopi tinggal setengah, Laras tarik napas panjang.

“Bram… aku pengen ngomong serius,” katanya pelan, jari-jarinya muter-muter sendok kopi. “Kita udah sering ketemu, sering chat tiap hari. Aku suka sama kamu. Bukan suka yang main-main. Aku pengen hubungan kita serius. Aku ga mau cuma jadi salah satu cewek yang kamu temuin pas lagi bosan atau lagi butuh temen cerita.”

Gue diem sebentar. Kata-kata itu gue duga bakal dateng, tapi tetep aja bikin dada gue sesak.

“Laras… gue juga suka sama lo. Lo beda dari yang lain. Manis, ga ribet, enak diajak ngobrol panjang. Tapi lo tahu gue gimana. Gue 32 tahun, masih suka takut komitmen. Banyak yang pernah gagal di masa lalu. Kerjaan lagi hectic, promosi ke Yogya hampir keluar, keluarga maksa nikah, mantan-mantan masih ganggu. Gue lagi usaha banget buat benerin semuanya,” gue jawab jujur.

Laras senyum tipis, tapi matanya kecewa banget. “Aku ngerti kamu sibuk. Tapi tiap kali aku minta kepastian, kamu selalu jawab ‘lagi usaha’. Aku capek nunggu, Bram. Aku mau yang jelas. Kalau kamu masih ragu, bilang aja sekarang. Aku ga mau dipendem terus.”

Obrolan kami alot hampir dua setengah jam. Laras ga marah besar, tapi kekecewaannya keliatan jelas di setiap kata. Dia cerita betapa dia udah usaha percaya sama gue, tapi tiap ada isu baru . Ria yang agresif, Marita yang selalu deket, Dian yang makin sering senyum dia selalu denger dari gosip kantor atau temennya. Gue cuma bisa minta maaf berulang-ulang dan janji bakal lebih serius.

“Aku tunggu jawaban yang bener ya Bram. Jangan cuma kata-kata. Aku sayang kamu, tapi aku juga sayang diri aku sendiri,” katanya sebelum naik taksi pulang. Pelukannya malam itu agak dingin.

Gue balik ke apartemen dengan hati berat. Laras emang beda. Dia ga drama berlebihan kayak Sinta, ga agresif kayak Ria, tapi kecewa dia bikin gue mikir dua kali soal hidup gue yang berantakan ini.

Pagi harinya di kantor, gue langsung gas pol. Target bulan ini tinggi banget, tapi gue ga mau kalah. Dari jam 7 pagi gue udah di meja, laptop nyala, cek data campaign kemarin satu-satu. Gue kerja dengan ketekunan yang jarang gue lakuin sebelumnya. Meeting dengan tim marketing, presentasi strategi digital baru, revisi proposal client besar yang nilainya miliaran. Gue bahkan skip istirahat siang, cuma pesen makanan lewat Marita biar bisa lanjut kerja.

Marita dateng jam 7.30 dengan kopi panas dan senyum lebar seperti biasa.

“Kak Bram, kopinya spesial hari ini. Report kemarin udah aku rapihin semua. Aku tambahin analisis ROI dan proyeksi tiga bulan ke depan juga,” katanya sambil taro map tebal di meja gue.

Marita emang setia banget. Sekarang dia udah pandai banget bikin laporan. Bahkan kemarin dia bantu Bambs yang reportnya berantakan parah. Bambs yang biasa iri dan suka nyindir, sekarang kadang minta tolong diam-diam ke Marita.

“Thanks Mar. Lo emang terbaik. Bambs juga lo bantu ya?” gue puji sambil senyum.

“Iya Kak. Biar tim ga ketinggalan. Lagian Kakak lagi fokus promosi ke Yogya, aku bantu semampu aku,” jawabnya sambil kedip.

Sepanjang pagi gue fokus total. Meeting dengan tim sales, diskusi strategi kampanye TikTok dan Instagram, revisi budget iklan. Gue kerja tanpa henti, suara keyboard gue kedengeran terus. Marita selalu nemenin, siapin dokumen, catat poin-poin penting, bahkan ingetin gue minum air biar ga dehidrasi.

Siang harinya Dian lewat kubikel gue. Sekarang dia makin deket dan berani. Tiap lewat, dia senyum manis, kadang sengaja berhenti sebentar buat nanya hal kecil sambil badannya deket banget.

“Kak, ini filenya udah aku cek ulang. Ada yang perlu direvisi?” tanyanya sambil condong ke meja, bahunya sengaja deket sama lengan gue.

“Bagus Di. Malem ini ketemu lagi ya setelah kantor?” gue bisik pelan.

Dian salting tapi langsung ngangguk cepet.

Karir gue lagi naik daun. Bu Sita kemarin bilang gue bakal dipromosikan jadi Asisten Manager di cabang Yogyakarta. Tinggal nunggu surat resmi. Tapi sebelum itu, gue harus menghadap Pak Krismono, direktur utama perusahaan, buat wawancara program pengembangan cabang.

Siang harinya gue dipanggil ke lantai direktur. Pak Krismono, cowok 54 tahun yang tegas dan berwibawa, duduk di belakang meja besar dengan pemandangan kota Jakarta.

“Bram, duduk. Gue denger performance lo bagus akhir-akhir ini. Cerita dong, program apa yang lo rencanain biar cabang Yogya bisa maju pesat dalam 6 bulan pertama?” tanyanya sambil menyilangkan tangan.

Gue jelasin dengan percaya diri penuh. Mulai dari strategi digital marketing yang lebih agresif pakai data analytics, kolaborasi dengan influencer lokal Yogya, optimalisasi budget iklan di platform lokal, sampai program training intensif buat tim sales dan admin. Gue juga usulin sistem reward baru biar motivasi karyawan naik.

Pak Krismono dengerin sambil ngangguk-ngangguk. “Bagus. Lo termuda yang paling potensial saat ini. Surat promosi minggu depan keluar kalau check up kesehatan lo oke. Siap pindah ke Yogya?”

“Iya Pak. Siap total,” gue jawab tegas.

Pulang dari meeting, Marita langsung nyamperin di kubikel. “Gimana Kak? Lancar?”

“Lancar banget. Kayaknya beneran dipromosikan.”

Marita senyum bangga, matanya berbinar. “Pantes. Kakak kerja keras banget akhir-akhir ini. Aku seneng bisa bantu meski cuma sedikit.”

Dian juga dateng ke meja gue, matanya penuh kekaguman. “Kak Bram hebat. Aku bangga banget sama Kakak.”

Sepanjang sore kantor rame sama gosip promosi gue. Bambs manyun di pojok kubikelnya, tapi Marita malah bantu dia bikin report biar ga ketinggalan target. Dian makin sering mampir, kadang bawa snack kecil buat gue, senyumnya manis setiap kali mata kami bertemu.

Malem harinya gue ketemu Laras lagi buat klarifikasi. Dia masih kecewa, tapi gue usaha jelasin bahwa gue lagi serius, cuma karir lagi naik jadi harus fokus dulu.

“Aku tunggu kamu beneran siap Bram. Jangan cuma kata-kata doang,” katanya sebelum pulang dengan pelukan yang masih agak dingin.

Gue balik ke apartemen mikirin semuanya. Kerjaan lagi bagus, promosi ke Yogya hampir pasti, Marita setia banget, Dian makin deket, tapi Laras kecewa karena keraguan gue yang belum hilang. Hidup kantor dan pribadi lagi berjalan paralel yang makin rumit.

Besok libur, tapi pikiran gue masih ke wawancara tadi dan janji sama Laras. Gue harus ambil keputusan yang bener sebelum semuanya terlambat.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!