Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jalan Terakhir Menuju Gerbang
Cahaya fajar mulai menyelinap masuk kembali, namun kali ini tidak membawa kehangatan atau rasa lega seperti kemarin. Sinar matahari pagi itu tampak pucat dan dingin, seolah alam pun masih merasakan sisa kengerian dari peristiwa mengerikan semalam. Kabut tebal masih bergelayut rendah di antara pepohonan, menciptakan suasana samar dan kabur yang membuat segala sesuatu tampak tidak nyata, seperti mimpi buruk yang belum berakhir.
Raka dan Bara turun dari bukit kecil itu dengan langkah yang berat dan diam. Di tempat di mana semalam terjadi pembantaian mengerikan itu, kini tidak ada jejak yang tersisa. Tanah sudah rata kembali, darah sudah terserap ke dalam bumi, dan pisau-pisau yang terjatuh pun entah ke mana rimbanya. Seolah tujuh nyawa manusia yang hilang itu tidak pernah ada, seolah mereka hanyalah asap yang hilang tertiup angin.
Namun, kenangan itu terukir dalam di ingatan mereka berdua. Bayangan mata hijau menyala, suara desisan mengerikan, dan jeritan terakhir Dimas akan terus menghantui mereka selamanya, menjadi pengingat abadi betapa kecil dan lemahnya manusia di hadapan kekuatan alam dan makhluk yang lebih tua dari waktu itu.
"Kita sudah buang banyak waktu semalam," ucap Bara pelan, suaranya serak dan berat. Ia menengadah melihat posisi matahari yang mulai naik perlahan di celah kanopi pohon. "Waktu kita tinggal sedikit. Batas waktu kita adalah saat matahari berada tepat di atas kepala sampai tenggelam nanti. Kalau kita tidak sampai di gerbang utama sebelum itu... kita akan tertinggal selamanya di sini, sama seperti mereka."
Raka mengangguk. Ia menatap ke arah hulu sungai yang kini semakin menyempit dan airnya makin jernih namun deras.
"Kita harus percepat langkah. Tidak lagi berjalan hati-hati, tidak lagi berhenti cari makan atau istirahat. Kita pakai sisa tenaga yang ada. Kita lari kalau perlu. Hanya ada satu tujuan sekarang: keluar dari hutan ini."
Mereka berdua kembali melangkah, kali ini dengan kecepatan penuh. Rasa lelah, rasa lapar, dan rasa sakit di seluruh tubuh mereka disingkirkan jauh-jauh. Yang ada hanya satu tekad: bertahan hidup dan pulang.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin terasa perubahan di sekitar mereka. Hutan yang tadinya lebat, liar, dan penuh bahaya mulai berubah perlahan. Pepohonan raksasa mulai berganti menjadi pohon-pohon yang lebih pendek dan teratur. Semak belukar mulai menipis. Dan yang paling penting... mereka mulai menemukan jejak-jejak keberadaan manusia lainnya.
Di pinggir sungai, mereka melihat sisa-sisa api unggun yang sudah dingin, potongan pakaian yang sobek, jejak kaki yang banyak dan berantakan, serta sesekali tercium bau amis darah yang samar namun mengerikan. Jelas sekali, di sepanjang jalan ini telah terjadi pertempuran kecil, pembunuhan, dan perebutan kekuasaan. Hanya yang terkuat, tercermat, dan paling beruntung yang masih terus berjalan.
"Lihat jejak ini..." tunjuk Bara ke tanah yang lunak di pinggir air. Ia berjongkok sebentar untuk mengamati, lalu berdiri kembali dengan wajah serius. "Ada sekitar lima atau enam orang yang lewat di sini belum lama ini. Mereka berjalan beriringan, terburu-buru, tapi ada yang terluka parah. Jejak kakinya menyeret."
"Apakah mereka kawan atau musuh?" tanya Raka singkat, matanya tetap waspada mengamati sekeliling.
"Bisa jadi kawan, bisa jadi musuh," jawab Bara sambil kembali berjalan. "Di hutan ini, kawan dan musuh sering kali sama saja. Tapi satu hal yang pasti... mereka berjalan ke arah yang sama dengan kita. Menuju keluar. Kita harus hati-hati, jangan sampai kita terjebak di antara mereka atau diserang dari belakang."
Setelah berjalan sekitar dua jam lagi dengan napas yang makin memburu dan kaki yang terasa berat seperti besi, tiba-tiba di depan sana, di balik rimbunan pohon bambu yang panjang dan rapat, mereka mendengar suara-suara manusia. Bukan suara teriakan atau pertempuran, tapi suara desahan, rintihan, dan percakapan yang lemah namun jelas terdengar.
Mereka berdua langsung berhenti, merapatkan tubuh ke balik batang bambu yang tebal, mengintai diam-diam ke depan.
Di sana, di sebuah tanah lapang kecil yang terbuka di tepi sungai, terlihat sekelompok orang yang berjumlah empat orang sedang duduk bergerombol di bawah pohon besar. Wajah mereka kotor, pucat, penuh luka dan lecet, seragam mereka sobek-sobek dan berlumur darah kering. Di antara mereka, ada seorang pemuda yang terbaring lemah di tanah, kakinya bengkak besar dan berwarna kehitaman, jelas sekali terkena racun ular atau tanaman beracun.
Raka mengenali salah satu wajah di antara mereka. Itu adalah Rio, pemuda pendiam yang dulu sering duduk sendirian di sudut barak, orang yang tidak banyak bicara tapi terlihat sangat cerdas dan tenang.
"Lihat itu... itu Rio," bisik Raka pelan ke telinga Bara. "Dia orang yang baik. Dulu dia pernah berbagi air minum dengan orang yang kehausan saat latihan pertama."
Bara mengangguk pelan, matanya tetap waspada. "Aku ingat dia. Dia tidak berbahaya. Tapi lihat kawannya yang lain... ada dua orang yang wajahnya tampak tidak sabar dan kejam. Mereka menatap pemuda yang sakit itu dengan pandangan yang tidak enak."
Benar saja, percakapan yang terdengar semakin jelas mengonfirmasi firasat buruk Bara itu.
"Dia tidak akan bertahan lama lagi," ucap salah satu pemuda berwajah kasar itu dengan nada dingin dan tidak peduli, menendang pelan kaki pemuda yang sakit itu. "Kakinya sudah membusuk. Racunnya sudah sampai ke jantung. Membawanya hanya akan memperlambat kita semua. Kita akan tertinggal dan mati di sini juga kalau kita terus menggendong beban mati ini."
Rio langsung menegakkan tubuhnya, wajahnya marah namun lemah.
"Kita tidak bisa meninggalkannya! Kita bersumpah untuk saling menjaga saat masuk ke sini! Kalau kita tinggalkan dia, sama saja kita membunuhnya!"
Pemuda kasar itu tertawa sinis, tawa yang kering dan penuh kepahitan. Ia menatap Rio dengan pandangan tajam.
"Kau masih percaya sumpah serapah di tempat neraka ini? Kau lihat sendiri apa yang terjadi pada orang-orang kemarin? Kau lihat Dimas dan kelompoknya? Kau lihat mayat-mayat yang berserakan? Di sini tidak ada sumpah, Rio. Yang ada hanya hidup atau mati. Dan aku memilih hidup."
Ia berdiri, lalu memberi isyarat pada temannya yang lain.
"Ayo kita pergi. Tinggalkan dia di sini. Biar dia mati tenang, atau biar binatang buas yang mengurusnya. Itu lebih baik daripada kita semua mati karena dia."
Rio berusaha menghalangi mereka, tapi ia terlalu lemah dan mereka berdua lebih kuat. Mereka mendorong Rio jatuh ke tanah, lalu berbalik badan mulai berjalan menjauh tanpa rasa bersalah sedikit pun, meninggalkan kawan mereka yang terbaring sekarat sendirian di tanah, dan meninggalkan Rio yang berusaha bangkit kembali dengan wajah penuh keputusasaan dan air mata marah.
"Kalian pengecut! Kalian manusia rendahan!" teriak Rio di belakang mereka, tapi suaranya hilang ditelan suara angin.
Raka tidak bisa lagi menahan diri. Ia melihat dirinya sendiri di dalam diri Rio. Ia melihat rasa kemanusiaan yang masih tersisa berjuang melawan kejahatan dan rasa takut. Tanpa menunggu lagi, Raka melangkah keluar dari persembunyiannya, berjalan tegak menuju tanah lapang itu.
"Raka! Tunggu!" Bara berbisik kaget, tapi ia tahu ia tidak bisa menahannya. Ia pun ikut berjalan keluar, berdiri di samping sahabatnya itu.
Rio tersentak kaget saat melihat dua sosok asing muncul dari balik pepohonan, tangannya langsung meraih pisau yang ada di sampingnya, siap bertempur meski tubuhnya lemah. Namun saat ia melihat wajah Raka dan Bara, matanya melebar penuh keterkejutan dan rasa lega.
"Kalian... kalian masih hidup..." gumam Rio tak percaya, air mata bahagia perlahan menetes di pipi kotornya. "Kira kira kami pikir hanya kami yang tersisa."
Raka berlutut di samping pemuda yang sakit itu, memeriksa kakinya yang bengkak dan hitam. Napas pemuda itu sudah sangat lemah, nyawanya tinggal seulas senar.
"Gigitan ular berbisa," ucap Raka singkat, menoleh ke arah Bara. "Kita punya sisa obat penawar yang diberikan di awal masuk. Satu botol kecil. Masih ada sisa sedikit."
Bara mengangguk pelan, meski ada keraguan di matanya. Obat itu adalah aset berharga, satu-satunya perlindungan mereka sendiri. Tapi melihat kondisi pemuda itu, dan melihat ketulusan di mata Raka, Bara mengeluarkan botol kecil itu dari saku bajunya.
"Kalau ini bisa menyelamatkan nyawa, gunakanlah," ucap Bara pelan. "Tapi ingat, Raka... kita berisiko sendiri kalau nanti ada yang digigit. Tapi... aku rasa itu harga yang pantas dibayar untuk tetap menjadi manusia."
Mereka membagi sisa obat itu ke dalam mulut pemuda yang sekarat itu, lalu mengikat kakinya erat-erat agar racun tidak menyebar lebih cepat. Pemuda itu menggeliat kesakitan, lalu perlahan napasnya menjadi lebih teratur dan tenang, meski belum sadar.
Rio menatap mereka berdua dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam, rasa terima kasih yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia berlutut di depan mereka, menundukkan kepalanya.
"Terima kasih... terima kasih banyak. Kalian tidak tahu betapa berartinya ini bagiku. Aku pikir aku sudah sendirian di sini. Aku pikir semua orang sudah berubah menjadi binatang buas."
Raka menepuk bahu Rio, membantunya berdiri.
"Jangan berterima kasih dulu. Perjalanan belum selesai. Kita masih harus keluar dari sini. Dan kalau kita berempat bergerak bersama, kita lebih kuat. Kita bisa saling menjaga punggung masing-masing. Tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang dibuang. Itu aturan kita mulai sekarang."
Rio mengangguk kuat-kuat, matanya kembali berbinar harapan.
Mereka berempat kini bergerak maju bersama-sama. Raka dan Bara memikul beban tubuh pemuda yang sakit itu secara bergantian, sementara Rio berjalan di depan sebagai pemandu tambahan. Kekuatan mereka bertambah, cakupan pengawasan mereka makin luas, dan rasa takut yang tadinya menyelimuti hati perlahan berkurang.
Namun, semakin dekat mereka ke tepi hutan, semakin banyak pula sisa-sisa pertempuran yang mereka temukan. Di pinggir jalan setapak, mereka melihat mayat-mayat yang sudah kaku, pakaian yang sobek, dan jejak darah yang mengering di tanah. Semuanya adalah bukti nyata betapa kejamnya ujian ini. Dari dua puluh delapan orang yang masuk malam pertama, kini mungkin hanya tersisa sepuluh atau lima belas orang saja yang masih berjuang hidup.
Dan akhirnya, setelah melewati sebuah bukit terakhir yang curam dan berpasir, pemandangan yang mereka tunggu-tunggu akhirnya muncul.
Di depan sana, di balik rimbunan pohon terakhir, terlihat hamparan tanah lapang yang luas, kering, dan rata. Di ujung tanah lapang itu, menjulang tinggi pagar kawat berduri yang tebal dan kokoh, diapit dua menara pengawas besar yang menjulang ke langit. Dan di tengahnya, berdiri kokoh gerbang besi raksasa yang terbuka lebar, tempat di mana segalanya dimulai, dan tempat di mana segalanya akan berakhir.
Markas utama Garuda Security.
Matahari sudah condong ke barat, sinarnya menyilaukan mata setelah berhari-hari mereka berada di bawah bayang-bayang pohon raksasa. Udara di sini terasa berbeda, lebih hangat, lebih kering, dan terasa... lebih manusiawi.
Namun, kebahagiaan melihat gerbang itu terasa berat dan penuh ketegangan. Karena di tanah lapang yang luas dan terbuka itu, mereka bukan satu-satunya orang yang sampai.
Sudah ada beberapa sosok manusia lain yang berdiri terhuyung-huyung, berjalan pincang, atau berbaring lelah di dekat gerbang. Ada sekitar tujuh atau delapan orang yang sudah sampai lebih dulu. Di antara mereka, ada yang duduk diam menundukkan kepala, ada yang menangis lega, ada yang menatap tajam ke arah orang lain yang baru datang, dan ada yang masih memegang erat pisau mereka seolah bahaya masih ada di sana.
Raka menghitung jumlah orang yang ada di sana. Dulu ada dua puluh delapan orang yang masuk. Sekarang, yang berdiri di sini, termasuk dirinya, Bara, Rio, dan temannya yang sakit, hanya ada dua belas orang.
Dua belas orang yang selamat dari neraka hutan belantara. Dua belas orang yang telah melihat kematian, menyaksikan pengkhianatan, dan bertahan hidup melawan alam dan manusia yang kejam.
Saat mereka berempat berjalan melintasi tanah lapang itu menuju gerbang, semua mata tertuju pada mereka. Mata-mata yang lelah, mata-mata yang penuh trauma, tapi juga mata-mata yang kini tampak lebih keras, lebih dingin, dan lebih tajam.
Di depan gerbang itu, Komandan Hendra sudah berdiri menunggu. Ia berdiri tegak di tengah jalan, kedua tangannya disilang di dada, wajahnya tetap dingin, tanpa ekspresi, tanpa senyum atau rasa iba. Di belakangnya, berbaris rapi para instruktur lengkap bersenjata, mengawasi setiap gerakan para pemuda yang selamat itu.
Raka dan Bara berhenti tepat di hadapan sang komandan, napas mereka terengah-engah, tubuh mereka penuh luka dan kotoran, tapi punggung mereka tetap tegak dan pandangan mata mereka tidak menunduk sedikit pun.
Komandan Hendra menatap mereka satu per satu, meneliti kondisi fisik, luka-luka, dan sorot mata mereka yang telah berubah total. Ia berjalan perlahan menyusuri barisan dua belas orang yang selamat itu, langkah kakinya berat dan berirama, sama seperti saat pertama kali mereka berkumpul di sini.
Ia berhenti tepat di depan Raka dan Bara. Ia menatap lekat-lekat wajah mereka, lalu menatap ke arah pemuda yang sakit yang masih mereka pikul bersama Rio.
"Kalian membawa beban tambahan," ucap Komandan Hendra pelan, suaranya rendah namun jelas terdengar oleh semua orang. "Di hutan itu, membawa orang lemah berarti memperlambat diri sendiri. Berarti berisiko mati bersama. Kenapa kalian membawanya? Kenapa kalian tidak membuangnya seperti yang dilakukan orang lain?"
Suasana menjadi hening seketika. Semua orang menatap ke arah Raka, menunggu jawabannya.
Raka menatap lurus ke mata sang komandan, matanya tenang, tajam, dan penuh keyakinan yang baru ia temukan di dalam hutan itu.
"Karena kami tidak mau menjadi seperti binatang buas, Pak," jawab Raka tegas, suaranya lantang dan jelas. "Kami masuk ke sini untuk menjadi prajurit, bukan pembunuh sesama manusia. Kami belajar bertahan hidup melawan alam, tapi kami tidak belajar untuk membunuh rasa kemanusiaan kami sendiri. Dan kami percaya... prajurit sejati tidak akan pernah meninggalkan kawannya, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, hidup maupun mati."
Hening kembali menyelimuti tempat itu. Banyak orang yang menahan napas, takut Raka akan dihukum karena menjawab berani-berani seperti itu.
Namun, perlahan-lahan, sudut bibir Komandan Hendra bergerak naik sedikit. Bukan senyum kejam atau mengejek, tapi senyum tipis yang penuh arti, senyum kepuasan yang tersembunyi.
Ia menepuk bahu Raka kuat-kuat, lalu berjalan ke tengah menghadap ke seluruh dua belas orang yang selamat itu.
"Bagus..." ucapnya lantang, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru. "Sangat bagus. Kalian dua belas orang ini telah membuktikan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kekuatan fisik atau keahlian bertahan hidup. Kalian telah membuktikan bahwa kalian punya akal, punya insting, dan yang paling penting... kalian punya jiwa yang tidak mudah hancur atau berubah menjadi kejahatan meski ditempatkan di kondisi paling kejam sekalipun."
Ia menunjuk ke arah hutan lebat di belakang mereka, tempat di mana banyak kawan mereka tertinggal selamanya.
"Di sana, kalian melihat kawan mengkhianati kawan. Kalian melihat manusia mati karena serakah atau bodoh. Kalian melihat wajah kematian yang sesungguhnya. Dan kalian yang selamat... kalian belajar pelajaran terbesar dalam hidup kalian: bahwa musuh terbesar bukanlah alam, bukanlah binatang, tapi sifat buruk yang ada di dalam diri manusia sendiri. Dan kalian telah mengalahkan musuh itu di dalam diri kalian masing-masing."
Komandan Hendra berdiri tegak, mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Dari lima puluh orang yang datang, tersisa dua belas orang. Dua belas orang yang pantas menyandang gelar calon prajurit elit Garuda Security. Kalian telah lulus ujian tahap pertama. Kalian telah membuktikan bahwa kalian bukan sekadar daging dan tulang, tapi kalian adalah baja yang sudah ditempa di api neraka."
Ia diam sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hati mereka yang lelah namun penuh bangga.
"Tapi ingatlah baik-baik... apa yang kalian lalui kemarin dan kemarin lusa hanyalah permulaan. Hanyalah pemanasan yang sesungguhnya. Di depan sana, pelatihan yang jauh lebih berat, lebih kejam, dan lebih berbahaya sedang menanti. Musuh yang sesungguhnya belum kalian temui. Bahaya yang nyata belum kalian rasakan. Dan rahasia besar di balik organisasi ini... baru akan mulai terungkap perlahan-lahan."
Komandan Hendra menatap tajam ke arah Raka, lalu ke arah Bara, dan ke arah Rio.
"Masuk ke dalam. Istirahatlah. Sembuhkan luka-luka kalian. Besok pagi, saat matahari terbit... pendidikan sesungguhnya akan dimulai. Dan bagi kalian, Raka Pratama... aku sudah melihat apa yang aku cari. Kau dan sahabatmu itu... kalian memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Sesuatu yang akan membuat kalian menjadi legenda... atau menjadi musuh terbesar kami."
Ia memberi isyarat tangan. Gerbang besi raksasa itu terbuka lebar sepenuhnya.
"Selamat datang kembali ke dunia manusia, anak-anak. Dan selamat... karena kalian masih hidup."
Raka, Bara, Rio, dan semua orang yang selamat itu berjalan melintasi gerbang besi itu, meninggalkan hutan belantara yang mengerikan itu di belakang mereka selamanya. Di dada mereka, rasa bangga dan rasa sedih bercampur menjadi satu. Di mata mereka, kini tersimpan kenangan yang tidak akan pernah hilang.
Raka menoleh ke belakang sekali lagi, menatap kegelapan pepohonan di kejauhan. Di sana, di balik kerimbunan itu, tertinggal sebagian dari dirinya yang lama, tertinggal masa lalu yang lemah, dan tertinggal kawan-kawan yang gugur. Dan dari sana, lahirlah sosok baru: seorang prajurit yang telah ditempa oleh penderitaan, yang tahu arti hidup dan mati, dan yang siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Ia kembali menoleh ke depan, ke arah bangunan markas yang kokoh dan besar di depannya. Perjalanan panjangnya baru saja melewati satu rintangan besar. Ujian hutan selesai. Tapi bayangan Garuda Security, rahasia gelap organisasi itu, dan takdir besar yang menantinya... baru saja mulai terungkap selapis demi selapis.
Dan Raka tahu, dalam hati terdalamnya... perjalanan ini akan membawanya ke tempat yang jauh lebih jauh, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih penting daripada yang pernah ia bayangkan.