Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 32: Dua Wanita dan Satu Pertemuan Tak Terduga
Yi Feng berdiri termenung di halaman, menatap tumpukan barang yang ditinggalkan Wu Yonghong dan ketiga temannya.
Orang-orang tua itu bergegas pergi dengan alasan ada urusan penting, namun meninggalkan barang-barang yang menurut Lin Qian tak lebih dari sekadar rongsokan. Ada sepasang sepatu bot yang sudah usang, sebuah payung tua yang warnanya sudah pudar, serta benda-benda aneh lainnya yang bentuknya tak bisa ia kenali. Mereka bilang ini sebagian adalah barang pesanan dan sebagian lagi pembayaran untuk garpu yang dibeli sebelumnya.
Lin Qian hanya bisa menggelengkan kepala.
*Ah, mungkin mereka benar-benar tak mampu membayar dan malu, jadi menukarnya dengan barang-barang bekas rumah tangga.* Lagipula, keuangannya akhir-akhir ini cukup aman. Nanti kalau hujan, sepatu bot dan payung ini pasti berguna saat pergi membeli anggur.
Di dekat kakinya, Wangcai terus saja menggonggong dan merintih gelisah. Bukan pada barang-barang itu—melainkan menatap tajam ke arah sebuah pintu kecil di sudut halaman, pintu yang selama ini Lin Qian jarang buka dan jarang perhatikan. Bagi Wangcai yang memiliki indra tajam binatang ajaib, dari balik pintu itu samar-samar terpancar aura yang dalam, kuno, dan sangat menakutkan.
Namun melihat Lin Qian yang tetap santai berbaring di kursi malas seolah tak peduli apa pun, Wangcai pun akhirnya diam—meski rasa penasaran dan waspadanya belum sepenuhnya hilang.
Sementara itu di Kamar Dagang Baofeng, Presiden Luo Cheng berdiskusi dengan Mei Lian. Ia berniat mengundang Lin Qian ke Konferensi Puisi Tahunan yang akan digelar di tepi Sungai Chunxi—ajang berkumpulnya para sastrawan dan cendekiawan terkemuka di Kota Yunzhou.
“Kita harus berhati-hati,” nasihat Mei Lian dengan wajah serius. “Sang Ahli memilih tinggal di sini karena ingin merasakan kehidupan manusia biasa. Selama kita tidak mengganggu ketenangannya dan mendekatinya sebagai sesama manusia biasa, seharusnya tidak ada masalah. Undang saja dia dengan sopan—jika dia tertarik, dia akan datang sendiri.”
Setelah mendapat petunjuk itu, Presiden Luo Cheng datang sendiri ke aula bela diri dan menyampaikan undangan.
Lin Qian menerimanya sambil mengerutkan kening sedikit. Tidak ada pekerjaan lain yang harus dilakukan hari itu, dan rasa penasaran muncul di hatinya. Ia ingin melihat seberapa tinggi budaya sastra di dunia ini dibandingkan dengan warisan lima ribu tahun peradaban yang ia bawa dari dunianya dulu.
Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi.
Berita kehadiran Lin Qian di acara itu menyebar cepat.
Di sudut kota lain, Yao Linger yang kini bersembunyi dan mengamati gerak-gerik Lin Qian membaca kabar itu dengan mata berbinar. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mendekat dan menjalankan misi berat yang ditugaskan Ning Xuanwu.
Di sisi lain, Han Bojin juga memberi tahu putri kesayangannya, Han Yuner Karena buku-buku karangan Lin Qian, posisi kamar dagang keluarganya mulai terancam tersaingi. Dengan wajah penuh harap, ia berkata pada putrinya, “Yuner, bangunlah hubungan baik dengannya. Kau mengerti maksud Ayah, kan? Hanya dengan cara ini kita bisa mempertahankan posisi kita.”
Han Yuner mengangguk malu-malu, namun di matanya terlihat tekad yang kuat. Ia tidak akan kalah dari siapa pun, apalagi dalam hal kecantikan dan pesona.
Hari Konferensi Puisi pun tiba.
Tepi Sungai Chunxi dipenuhi orang-orang berbakat yang memamerkan karya dan puisi mereka. Suasana meriah dan penuh aroma tinta.
Lin Qian berjalan santai di antara kerumunan, mendengarkan dan membaca setiap tulisan yang dipajang. Namun semuanya terasa biasa saja baginya. Dibandingkan dengan ribuan puisi agung dari zaman kuno yang sudah ia hafal di luar kepala, karya-karya ini terasa dangkal dan kurang makna. Belum ada satu pun yang mampu menarik minatnya.
Meski ia santai, ia menjadi pusat perhatian diam-diam.
Dua wanita cantik mengawasinya dari kejauhan, sama-sama bersiap mendekat.
Yao Linger maju lebih dulu. Saat berjalan melewati Lin Qian, ia sengaja membuat langkahnya goyah dan seolah terjatuh dengan anggun, berharap Lin Qian akan menolongnya.
Namun... Lin Qian sama sekali tidak menoleh, bahkan tidak melirik sedikit pun. Ia berjalan terus seolah tak ada apa-apa.
Yao Linger tertegun di tanah, malu dan bingung. Banyak cendekiawan lain yang berkerumun ingin membantu, namun ia usir semua dengan tatapan dingin.
*Mengapa? Apakah aku belum cukup menarik baginya?* batinnya cemas.
Melihat kegagalan itu, Han Yuner maju dengan wajah tersipu malu-malu. Ia menyapa Lin Qian dengan ramah dan sopan. Lin Qian mengingat wajah gadis ini—putri dari Han Bojin yang dulu pernah meremehkannya. Ia hanya menjawab singkat dan dingin, lalu kembali berjalan maju.
Han Yuner pun terpaku di tempat, hatinya sedikit remuk.
“Kau pikir kau punya kesempatan? Kau bahkan tidak pantas menyentuh ujung bajunya,” cibir Yao Linger sambil berjalan melewati Han Yuner dengan tatapan merendah.
“Siapa kau berani bicara seperti itu?” tantang Han Yuner, menolak mengalah.
Namun pertengkaran mereka terhenti saat Lin Qian berhenti melangkah.
Di hadapannya berdiri sosok wanita yang tak pernah ia duga akan bertemu lagi—Peng Ying.
Wanita yang dulu ia tolong, namun meninggalkannya demi kekuasaan dan kemewahan Sekte Lingxue, kini menatapnya dengan sorot mata yang aneh—campuran antara kebencian, kesombongan, dan rasa iri yang sulit disembunyikan.
“Kau... Lin Qian,” sapa Peng Ying dengan nada dingin dan tajam. “Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini. Masih saja berpura-pura hebat, ya?”
Lin Qian menatapnya datar. Hatinya tak lagi bergetar sedikit pun. Sejak hari Peng Ying pergi meninggalkannya tanpa ragu, wanita itu sudah lenyap dari hatinya—seperti debu yang tersapu angin musim gugur.
“Aku juga tidak menyangka,” jawabnya singkat.
Peng Ying tersenyum mencemooh, mendekatkan wajahnya sedikit dan berbisik dengan nada penuh ejekan.
“Kau pikir kau hebat hanya karena menulis buku laku dan dilindungi Mei Lian? Sadarlah, kau tetaplah manusia biasa—semut kecil di mata para kultivator. Aku tahu semuanya. Kau hanya penulis beruntung.”
Ia tertawa kecil penuh kemenangan.
“Kau tahu? Aku memang diusir dulu, tapi Yu Wujie sudah mengirim surat jaminan. Tak lama lagi aku akan kembali ke Sekte Lingxue dengan posisi lebih tinggi. Dan kau? Kau akan tetap di sini, menjadi manusia biasa yang bisa diinjak-injak kapan saja. Dendam hari itu... aku belum lupa. Aku akan memastikan kau tahu tempatmu yang sebenarnya.”
Kata-kata penuh kebencian itu diucapkannya dengan keras, seolah ingin melampiaskan semua rasa frustrasinya selama ini—menegaskan bahwa baginya, Lin Qian hanyalah orang yang pernah ia anggap berguna namun kini sudah tak ada harganya lagi.
Lin Qian mendengarkan semuanya dengan wajah yang sama sekali tidak berubah. Tidak marah, tidak terluka, tidak pula terpancing.
Ia hanya menatap Peng Ying sejenak dengan pandangan yang tenang—pandangan seseorang yang melihat hujan lebat dari balik jendela yang hangat—lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ketenangan mutlak itu, justru jauh lebih menyakitkan daripada amarah mana pun.