NovelToon NovelToon
Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mafia / Transmigrasi
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa

Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.

Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Pagar Besi Kediaman Xiao

Kereta kuda berwarna hitam itu bergerak pelan namun kokoh menembus hiruk-pikuk Kota Tiancheng. Warga yang berpapasan di jalanan serempak menyingkir ke pinggir, menundukkan kepala rendah-rendah, tidak berani melirik sedikit pun. Bagi mereka, kereta itu bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol kekuasaan absolut dan bahaya yang mematikan.

Di dalam kereta yang luas dan nyaman itu, Shen Yue duduk bersandar pada bantalan beludru tebal berwarna merah tua. Di sebelahnya, Xiao Lei duduk dengan posisi duduk bersila yang tidak formal sama sekali, matanya berbinar-binar menatap keluar jendela kecil, sesekali berseru riang melihat kucing lewat atau penjual makanan di pinggir jalan, persis seperti anak kecil yang diajak jalan-jalan ke kota untuk pertama kalinya.

Di sisi lain, A-Ming duduk dengan kaku di kursi seberang, wajahnya tetap tenang dan tanpa ekspresi, namun matanya sesekali melirik ke arah Shen Yue dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran rasa heran, rasa hormat, dan sedikit rasa lega. Selama bertahun-tahun mengabdi, baru kali ini ia melihat Tuannya begitu hidup, begitu ceria, dan begitu... manusiawi.

"Lihat itu, Yue! Itu kue manisan buah! Wanginya sampai ke sini lho! Nanti kita beli ya? Aku mau makan banyak!" seru Xiao Lei sambil menunjuk ke arah pedagang yang berjalan kaki membawa keranjang dagangan. Ia berbalik menatap Shen Yue dengan wajah penuh harap, bibirnya sedikit mengerucut manja.

Shen Yue tersenyum tipis, menggeleng pelan melihat tingkah laku itu. Sulit sekali membayangkan bahwa pemuda ceria, ramah, dan sedikit manja ini adalah bagian dari sosok yang beberapa saat lalu mengancam akan merobek kulit dan mematahkan tulang manusia dengan nada suara sedatar papan tulis.

"Nanti saja, Xiao Lei. Kita mau ke kediamanmu, kan? Bukannya kau bilang di sana ada taman bunga rahasia?" jawab Shen Yue lembut, mencoba mengarahkan perhatiannya kembali ke tujuan awal.

Mata Xiao Lei berbinar semakin terang. Ia langsung mengangguk heboh. "Iya! Iya! Taman indah sekali! Tapi... tapi sayang..." Sorot matanya yang cerah perlahan meredup, digantikan oleh kesedihan yang tulus. Ia menundukkan kepalanya, memain-mainkan ujung jubah hitamnya yang mahal. "Bunganya sering mati. Setiap kali Xiao Yi marah atau murung, udara di taman itu jadi dingin sekali, lebih dingin dari musim salju. Bunga-bunga itu tidak tahan, akhirnya layu dan mati. Padahal aku sudah merawatnya sebaik mungkin..."

Suaranya bergetar pelan, terdengar sangat sedih, seolah bunga-bunga itu adalah teman-teman tersayangnya yang pergi meninggalkannya.

Shen Yue menatapnya dengan pandangan lembut dan penuh pengertian. Sebagai seorang psikolog, ia paham betul apa yang terjadi. Emosi yang kuat, energi batin yang meluap, dan ketidakseimbangan jiwa Xiao Chen secara tidak langsung memengaruhi lingkungan di sekitarnya, terlebih tempat-tempat yang sering ia datangi. Bagi Xiao Lei, bunga adalah satu-satunya makhluk yang bisa ia ajak bicara dan mengerti dirinya, jadi kematian mereka adalah luka yang nyata baginya.

"Jangan khawatir," ucap Shen Yue pelan, tangannya terulur menyentuh punggung tangan Xiao Lei yang tergeletak di paha. Sentuhan itu hangat, tenang, dan penuh ketulusan. "Nanti aku lihat. Aku akan coba bikin mereka tumbuh lagi. Bunga itu makhluk hidup, sama seperti manusia. Mereka butuh kasih sayang, ketenangan, dan perhatian. Kalau Xiao Yi sedang marah, kita usir dia pergi dulu ya? Biar kamu dan aku yang mengurus taman itu."

Xiao Lei mendongak cepat, matanya berbinar kembali penuh harap. Ia menggenggam tangan Shen Yue dengan antusias, sedikit terlalu kuat namun tidak menyakitkan.

"Benarkah? Kau mau melakukannya untukku? Wah, kau benar-benar malaikat yang turun ke bumi! Xiao Yi pasti cemburu kalau dengar ini, hahaha!" Ia tertawa renyah, kegembiraannya menular ke seluruh ruangan kereta.

Di seberang mereka, sudut bibir A-Ming berkedut pelan, berusaha mati-matian menahan senyum yang ingin pecah. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, berpura-pura mengamati jalanan, namun di dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur. Kehadiran Nona Su ini... mungkin adalah keajaiban yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh tuannya.

Kereta mulai melambat. Suara derap kuda terdengar lebih berat, menandakan mereka memasuki gerbang besar. Shen Yue melirik keluar jendela, dan napasnya tertahan sejenak.

Di hadapannya kini berdiri gerbang raksasa yang terbuat dari besi hitam kokoh, tingginya melebihi dua kali lipat tinggi manusia biasa, dihiasi ukiran naga dan ular yang saling melilit dengan sangat rinci dan mengerikan. Di kedua sisi gerbang, terpasang patung dua singa batu besar yang menatap tajam ke arah luar, seolah menjadi penjaga abadi yang siap menerkam siapa saja yang berani masuk tanpa izin.

Di atas gerbang itu, terukir satu kata besar dengan tinta emas yang kini sedikit memudar warnanya: Kediaman Xiao.

Ini adalah pusat kekuasaan keluarga Xiao, tempat tinggal orang paling berkuasa dan ditakuti di Kota Tiancheng. Bangunan ini tidak hanya besar, tapi juga memancarkan aura dingin, kaku, dan angkuh, seolah seluruh bangunan itu ikut serta menekan nyali siapa pun yang mendekat.

Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan dengan suara berderit panjang dan berat, menyambut kedatangan tuan mudanya. Kereta melaju masuk, melewati halaman depan yang luas dengan jalan setapak berbatu putih yang bersih mengkilap. Di kiri dan kanan, deretan pengawal berdiri kaku berbaris lurus, mengenakan seragam hitam yang sama, kepala tertunduk hormat, tidak berani mengangkat pandangan sedikit pun.

Kereta berhenti tepat di depan tangga utama bangunan megah bergaya istana kuno.

Xiao Lei melompat turun lebih dulu dengan lincah, lalu mengulurkan tangannya ke atas untuk membantu Shen Yue turun, sikapnya sangat sopan dan gagah, kontras sekali dengan tingkah polosnya di dalam kereta tadi.

"Silakan, Nona Yue. Selamat datang di wilayahku," ucapnya sambil tersenyum lebar, matanya berbinar bangga seolah sedang memperkenalkan harta karun terbesarnya.

Shen Yue menerima uluran tangan itu, turun dengan tenang, lalu berdiri tegak menatap bangunan besar di hadapannya. Udara di sini terasa lebih dingin, lebih kering, dan berbau sangat... mewah namun sunyi. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada suara orang mengobrol. Semuanya hening, disiplin, dan penuh tekanan. Benar-benar tempat tinggal yang cocok untuk seseorang seperti Xiao Chen—indah, megah, namun terisolasi dan dingin.

"Kediaman yang sangat megah dan kokoh," komentar Shen Yue pelan, jujur namun tidak berlebihan.

"Haha! Iya kan? Besar sekali, tapi sayang... sepi. Terlalu sepi," jawab Xiao Lei sambil menuntun langkahnya masuk ke dalam lorong utama. A-Ming berjalan di belakang mereka, mengawasi segala arah dengan waspada.

Di dalam, suasana semakin mewah. Lantai marmer putih berkilau memantulkan bayangan mereka. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan pemandangan gunung dan sungai yang sangat indah dan berharga. Lampu-lampu gantung dari kristal dan tembaga menggantung di langit-langit tinggi, memancarkan cahaya hangat namun redup. Di sepanjang lorong, berdiri patung-patung ksatria dan wadah-wadah besar berisi dupa yang membara perlahan, menyebarkan aroma kayu cendana yang kental dan menenangkan.

Namun, di balik kemewahan itu, Shen Yue merasakan ada sesuatu yang berat, sesuatu yang tertahan di udara. Sesuatu yang menekan dada, membuat napas terasa sedikit sesak. Ini adalah rumah yang indah, tapi bukan rumah yang bahagia.

Xiao Lei menuntunnya melewati lorong demi lorong, naik turun tangga, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pintu kayu besar berukiran rumit di bagian paling belakang dan paling tersembunyi dari kediaman itu.

"Ini dia!" seru Xiao Lei antusias, tangannya mendorong pintu besar itu terbuka lebar.

Cahaya matahari sore yang hangat langsung menyergap masuk, membuat Shen Yue memejamkan mata sejenak karena silau. Saat ia membuka mata kembali, pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan takjub.

Sebuah taman luas yang tertutup dinding tinggi, menjadi ruang tersendiri yang terpisah dari seluruh bangunan lain. Di sini, seharusnya penuh dengan bunga-bunga indah, rumput hijau, dan pepohonan rindang. Namun kenyataannya...

Hampir seluruh tanaman di sini layu. Batang-batangnya kering berwarna cokelat, daun-daunnya berguguran berserakan di tanah, kelopak bunga yang seharusnya mekar indah kini terkulai mati. Di tengah taman itu, ada sebuah kolam kecil yang airnya tenang namun keruh, dan di sisi kolam berdiri sebuah gazebo kayu yang indah namun terlihat sepi dan dingin.

Hanya ada satu tanaman yang masih hidup, berdiri tegak di sudut paling jauh, agak terlindung di bawah naungan pohon besar yang juga sudah gundul daunnya. Sebuah tanaman bunga mawar merah yang batangnya penuh duri, namun bunganya mekar indah, segar, dan sangat cantik.

Xiao Lei berjalan pelan mendekati mawar itu, wajahnya sedih sekali. Ia menyentuh kelopak mawar itu dengan hati-hati, seolah menyentuh kaca yang mudah pecah.

"Hanya dia yang bertahan hidup," bisik Xiao Lei lirih. "Bunga ini satu-satunya yang tidak pernah mati, meski kadang kelopaknya sempat layu. Entah kenapa, dia kuat sekali. Sama seperti... sama seperti kamu, Yue."

Shen Yue berjalan mendekat, mengamati sekeliling taman itu dengan cermat. Ia bisa merasakan sisa energi emosi yang berat, dingin, dan penuh amarah yang terserap ke dalam tanah dan tanaman ini. Ini adalah cerminan sempurna dari keadaan jiwa Xiao Chen. Kekacauan, kesedihan, kedinginan, namun ada satu titik kecil yang masih bertahan hidup, masih punya harapan, masih indah meski penuh duri.

"Ini taman yang indah, Xiao Lei," ucap Shen Yue pelan, suaranya bergema pelan di ruang terbuka itu. Ia berbalik menghadap pemuda itu, matanya berbinar tekad. "Dia tidak mati. Dia hanya tertidur. Dan aku tahu caranya membangunkannya kembali."

Xiao Lei mendongak, matanya berbinar penuh harap. "Benarkah? Kau bisa?"

Shen Yue mengangguk mantap. Ia berjalan ke tengah taman, menatap sekeliling dengan pandangan seorang ahli, seorang penyembuh.

"Tentu saja. Tapi aku butuh waktu, dan aku butuh kau untuk membantuku," jawab Shen Yue tegas. Ia berjalan mendekati Xiao Lei, menatap lurus ke dalam mata indah itu. "Tapi ada satu syarat penting, Xiao Lei. Selama kita bekerja di sini... Xiao Yi tidak boleh marah, tidak boleh mengamuk, dan tidak boleh memancarkan aura dinginnya ke sini. Dia harus tenang, damai. Bisakah kau jaga dia? Atau bisakah kau bantu aku menenangkan dia kalau dia datang?"

Xiao Lei mengerutkan keningnya, berpikir keras, lalu mengangguk semangat. "Bisa! Aku bisa! Kalau dia mau marah-marah, aku akan kunci dia di dalam! Aku akan menguasai tubuh ini terus sampai taman ini indah kembali! Aku janji!"

Shen Yue tersenyum lega. Ia berjalan ke arah kolam kecil itu, menatap pantulan air yang tenang. Di permukaan air itu, ia melihat bayangan dirinya, dan di belakangnya, bayangan Xiao Lei yang penuh harap, serta samar-samar... bayangan sosok lain yang berdiri diam di ambang pintu, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan yang penuh rasa sakit, kerinduan, dan ketakutan akan kehilangan.

Itu adalah Xiao Yi. Ia ada di sana, bersembunyi di balik kesadaran Xiao Lei, mengamati segala sesuatu, mendengar segala sesuatu. Ia marah, ia cemburu, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam... ia juga ingin taman ini indah kembali. Ia juga ingin tempat ini, dan dirinya sendiri, bisa terasa hangat kembali.

"Baiklah kalau begitu," ucap Shen Yue tegas, ia berbalik badan, menatap sekeliling taman yang layu itu dengan pandangan yang berubah menjadi lembut dan penuh kasih sayang.

"Mulai hari ini, kita akan mulai dari awal. Kita akan membuat taman ini mekar kembali lebih indah dari sebelumnya. Dan saat bunga-bunga ini kembali bermekaran dengan bahagia... aku berjanji, jiwa di balik tubuh ini pun akan kembali cerah dan damai."

Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan kelopak mawar merah yang satu-satunya itu. Di kediaman yang dingin dan sepi itu, di antara bangunan megah yang penuh kekuasaan, benih-benih perubahan dan penyembuhan baru saja ditanamkan oleh seorang gadis asing yang datang dari dunia lain.

Dan jauh di dalam lorong kesadaran itu, dua sisi jiwa yang bertolak belakang itu sama-sama menatap gadis itu—satu dengan kegembiraan polos, satu lagi dengan rasa ingin tahu yang dalam dan rasa kagum yang perlahan tumbuh, perlahan menyusup masuk ke celah-celah hati yang beku dan penuh duri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!