.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hak Istimewa Kamar 01, Hutan Bambu Ungu, dan Endusan Serigala Ye
Paviliun VIP No. 01 di Sayap Barat Akademi Kekaisaran terletak di titik kulminasi tebing. Posisinya paling terisolasi, dikelilingi oleh Hutan Bambu Ungu yang batangnya terus-menerus mendengung samar, menetralisir fluktuasi energi liar dan polusi suara dari distrik luar. Tempat ini memiliki sirkulasi udara paling tenang di seluruh area asrama.
Xiao Mei bergerak taktis membentangkan selimut bebek rajutan tangan Ji Tian di atas ranjang Giok Es Spiritual yang baru saja terpasang kokoh. Beberapa pelayan akademi yang bertugas membantu pindahan hanya bisa berdiri melongo di ambang pintu, menatap kombinasi aneh antara giok es super mewah seharga ribuan batu spiritual dengan selimut kain kasar bermotif bebek miring yang terlihat sangat kumuh.
Ji Huang mengabaikan tatapan aneh mereka. Dia melangkah lempeng, menjatuhkan tubuh fanya ke atas kasur, dan menghela napas puas setelah menemukan sudut kemiringan bantal yang pas.
"Tuan Muda, semua sistem formasi pemanas ruangan dan sirkulasi teh sudah saya sinkronisasikan," ucap Xiao Mei sembari merapikan tirai bambu.
"Bagus, Xiao Mei. Paviliun ini lulus sensor kenyamananku. Setidaknya di sini tidak ada suara gesekan pedang terbang yang merusak frekuensi tidur siangku," gumam Ji Huang, matanya sudah terpejam setengah.
Di luar paviliun, beberapa murid VIP dari klan-klan kecil yang melewati jalur setapak memandang sinis ke arah Paviliun No. 01. Mereka berbisik-bisik, mengkritik penampilan Ji Huang yang eksentrik dan jalur masuknya yang tanpa tes. Namun bagi Ji Huang, opini para kultivator berdarah panas itu tidak lebih penting daripada sebutir debu di sandalnya.
Kedamaian itu tidak berlangsung lama. Hukum hutan Akademi Kekaisaran mendikte bahwa fasilitas terbaik hanya milik mereka yang memiliki tinju terkeras.
Braaak!
Gerbang kayu Hutan Bambu Ungu yang membatasi halaman Paviliun No. 01 digeser secara kasar. Langkah kaki yang berat dan teratur memecah keheningan. Rombongan murid dalam yang mengenakan jubah putih bersulam kepala serigala perak berbaris masuk, dipimpin oleh seorang pemuda bertubuh tegap dengan tatapan mata sebuas serigala gunung.
Dialah Ye Chen, kultivator Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-8 sekaligus pemimpin Faksi Harimau Langit di Sayap Barat. Ye Chen merupakan jenius dari cabang samping Klan Ye Ibu Kota—klan raksasa yang jejaknya baru saja diselidiki Ji Huang di perpustakaan.
"Di mana murid baru dari klan Huang yang masuk lewat jalur belakang?" suara Ye Chen menggelegar, dipenuhi tekanan Qi yang membuat daun-daun bambu ungu berguguran. "Keluar dari Paviliun No. 01! Secara tradisi Sayap Barat, paviliun utama ini adalah hak sewa milik Faksi Harimau Langit. Murid klan kelas dua tidak berhak menempati titik spiritual terbaik ini!"
Ye Chen bersama dua pengawalnya merangsek masuk hingga ke halaman dalam, memaksa Xiao Mei berdiri di depan pintu kamar dengan wajah pucat namun tetap berusaha menghalangi jalan.
"Tuan Muda kami sedang beristirahat. Mohon Senior tidak membuat kegaduhan," ucap Xiao Mei, berusaha menahan tekanan Qi Lapis ke-8 yang mulai menekan dadanya.
"Minggir, pelayan fana!" bentak salah satu pengawal Ye Chen, bersiap mengibaskan lengannya untuk mengusir Xiao Mei.
Sebelum tangan pengawal itu menyentuh udara di depan Xiao Mei, pintu kayu paviliun terbuka secara perlahan. Ji Huang melangkah keluar dengan langkah lambat yang diseret. Selimut bebek rajutan ayahnya masih bertengger di bahu, dan wajah fanya memancarkan ekspresi lempeng yang sangat mengantuk.
"Kalian berisik sekali," ucap Ji Huang polos, menatap Ye Chen tanpa ada binar ketakutan sedikit pun. "Apakah faksi kalian tidak memiliki jadwal tidur siang, hingga harus datang ke halamanku dan berteriak seperti genit?"
Ye Chen mendengus dingin, bersiap mengeluarkan maklumat tantangan resmi akademi. Namun, tepat saat sepasang mata Ye Chen menatap lurus ke arah garis wajah Ji Huang dari jarak dekat, sebuah reaksi aneh terjadi.
Di dalam saku jubah dalam Ye Chen, sebuah Batu Jimat Hukum Resonansi—alat pusaka rahasia yang diberikan oleh tetua Klan Ye untuk melacak sisa-isisa garis darah murni yang hilang dua belas tahun lalu—mendadak bergetar hebat. Batu itu memancarkan hawa hangat yang membakar kulit dada Ye Chen.
“Apa?! Jimat Resonansi bereaksi?!” batin Ye Chen terguncang hebat. Jantungnya berdegup kencang saat dia kembali mengamati siluet wajah lempeng Ji Huang.
Mata sayu itu, struktur tulang pipinya, dan ketenangan yang tidak wajar... semuanya memiliki kemiripan samar dengan lukisan wajah "Putri Suci" Klan Ye yang melarikan diri ke perbatasan barat dua belas tahun lalu. Motif Ye Chen yang tadinya hanya ingin merebut kamar VIP untuk prestise faksi, seketika bergeser menjadi sebuah investigasi rahasia yang teramat berbahaya. Jika bocah di depannya ini benar-benar keturunan dari sang Putri Suci yang buron, maka menangkapnya hidup-hidup akan membawa Ye Chen langsung ke jajaran inti Klan Ye di Ibu Kota.
Ye Chen menyipitkan matanya, menekan getaran jimatnya, lalu maju selangkah dengan tatapan mengintimidasi. "Ji Huang... siapa sebenarnya ibumu? Katakan dari mana klan cabangmu mendapatkan teknik penyembunyian asal-usul ini!"
Ji Huang, dengan kemampuan persepsi jiwa seorang Dewa Pedang, langsung menyadari fluktuasi energi dari batu jimat di saku Ye Chen, serta perubahan niat membunuh yang mendadak berubah menjadi keserakahan investigatif.
Sadar bahwa orang dari Klan Ye ini mulai mengendus asal-usul tubuh barunya dan menatapnya terlalu lama hingga merusak niatnya untuk kembali ke kasur, Ji Huang hanya menghela napas malas.
Dia tidak mengangkat tangan, tidak pula mengambil posisi bertarung. Ji Huang hanya meletakkan satu jari telunjuk fanya di atas permukaan meja giok di teras paviliun, lalu mengetuknya dengan sangat santai.
Tuk.
Ketukan ringan itu memicu gelombang pembalikan sirkulasi Qi yang sangat halus dan tidak kasat mata. Energi tersebut merambat menembus tanah, melompati ruang, dan langsung menghantam titik koordinat batu jimat di dalam saku baju Ye Chen secara akurat.
Prak!
Suara retakan tajam terdengar dari balik jubah Ye Chen. Batu Jimat Resonansi kuno seharga puluhan ribu batu spiritual itu seketika hancur berkeping-keping menjadi abu, memutus seluruh deteksi garis darah secara absolut sebelum sempat mengirimkan sinyal ke Ibu Kota.
"Ugh!" Ye Chen memegangi dadanya, melangkah mundur tiga langkah dengan wajah yang mendadak memucat. Efek umpan balik dari hancurnya jimat tersebut membuat organ dalam sirkulasi Qi Lapis ke-8 miliknya bergetar hebat, menimbulkan rasa mual yang mendalam.
Dia menatap Ji Huang dengan pandangan penuh tanda tanya dan kengerian terselubung. Bocah di depannya tidak melakukan gerakan kultivasi apa pun, namun pusaka pelacaknya hancur begitu saja.
"Senior dari Klan Ye," Ji Huang menarik kembali jarinya, lalu merapatkan selimut bebeknya dengan wajah polos yang menyebalkan. "Orang-orang dari klanmu rupanya memiliki hobi aneh: suka menatap pria lain yang sedang mengantuk dan menanyakan silsilah keluarga. Sungguh menjijikkan dan membuang-buang waktu faku. Jika kalian tidak segera keluar dari Hutan Bambu Unguku dalam hitungan tiga, aku akan membuat kalian semua tidur telentang di atas rumput ini sampai bulan depan."
Melihat aura tak kasat mata yang mendadak membuat bambu-bambu ungu di sekitar mereka merunduk tajam, Ye Chen tahu dia tidak bisa bertindak gegabah tanpa alat pelacaknya.
"Kita pergi!" desis Ye Chen menahan sakit di dadanya. Dia berbalik dan memimpin rombongannya mundur dengan terburu-buru, menyembunyikan rasa frustrasi dan kecurigaan yang semakin menebal di benaknya.
Ji Huang melihat kepergian mereka dengan pandangan lempeng, lalu menoleh ke arah pelayannya. "Xiao Mei, kunci gerbang bambunya rapat-rapat. Orang-orang kota besar itu sangat menguras energi. Aku mau tidur siang sampai sore hari tanpa gangguan."
"Baik, Tuan Muda," jawab Xiao Mei cepat, segera melaksanakan perintah dengan perasaan lega yang mendalam. Ji Huang melangkah kembali ke dalam kamar, merebahkan diri di atas Giok Es, siap melanjutkan ritual malasnya di tengah pusaran konspirasi Kekaisaran yang baru saja dimulai.