Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Surabaya — Hardjono Tower
Guncangan bus ekonomi jurusan Surabaya membuat kepala Saskia pening, namun fokusnya tidak goyah dari lembaran proposal.
Saskia duduk di kursi paling belakang, di samping jendela yang kacanya retak dan tidak bisa ditutup rapat. Angin dari luar masuk membawa debu jalanan, bercampur asap rokok dari penumpang di depannya, tapi ia tidak peduli.
Jemarinya sibuk membolak-balik halaman proposal yang sudah ia tulis ulang dengan pensil, kali ini lebih rapi, lebih detail, lebih tajam.
Tiga hari sejak ia menerima kartu nama itu. Tiga hari yang ia habiskan dengan hampir tanpa tidur.
Malam pertama, ia menulis ulang semua proposalnya. Bukan lagi proposal tulisan tangan di kertas HVS. Ia pergi ke warnet di kecamatan, menyewa komputer selama empat jam, mengetik. Data pertumbuhan Si Belang ia masukkan dalam tabel. Foto-foto sebelum dan sesudah ia scan dengan bantuan penjaga warnet. Ia tambahkan analisis SWOT yang sudah ia susun sebelumnya. Ia tambahkan proyeksi keuangan, target pasar, rencana pengembangan breeding.
Malam kedua, ia merevisi semuanya. Tiga kali. Empat kali. Sampai penjaga warnet menegurnya karena sudah hampir tengah malam dan warnet mau tutup.
Malam ketiga, ia mempersiapkan presentasi lisannya. Bukan cuma data. Tapi argumen. Mengapa Hardjono Agribisnis butuh bermitra dengannya. Apa yang ia punya yang tidak dimiliki peternak lain. Bagaimana Air Suci bisa menjadi keunggulan kompetitif yang tidak bisa direplikasi oleh siapapun.
Tentang Air Suci, ia memutuskan untuk tidak menyebutkannya. Tidak secara langsung. Ia akan bilang itu "formula pakan khusus warisan keluarga". Rahasia dagang. Biarkan mereka mengira itu teknologi pakan, bukan air ajaib dari dimensi lain.
Bus melintasi perbatasan kota. Papan hijau bertuliskan "Surabaya - 15 km" terlihat dari balik kaca retak. Saskia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, dan bukan hanya karena debu jalanan.
Daniel Hardjono. Dua puluh delapan tahun. Lulusan Cornell University, program agribusiness management. Mengambil alih posisi CEO dari ayahnya tiga tahun lalu, di usia dua puluh lima. Dalam dua tahun pertama, ia menggandakan revenue perusahaan melalui ekspansi ke pasar premium dan kemitraan dengan feedlot Australia.
Itu informasi yang Saskia kumpulkan dari koran dan pencarian di internet warnet. Semakin ia membaca, semakin ia menyadari siapa yang ia hadapi.
Daniel bukan cuma pengusaha kaya. Ia jenius. Arogan. Perfeksionis. Semua artikel menyebutkan hal yang sama: ia mengukur segalanya dengan angka, tidak toleran terhadap ketidakprofesionalan, dan punya standar yang hampir tidak mungkin dicapai oleh mitra lokal. Ada satu wawancara di majalah bisnis yang membuat Saskia berhenti sejenak.
"Kami tidak butuh mitra yang cuma bisa produksi. Kami butuh mitra yang bisa berpikir."
Berpikir. Itu yang akan ia lakukan.
Bus berhenti di Terminal Bungurasih dengan bunyi rem yang memekik. Saskia turun dengan membawa satu tas jinjing berisi proposal, satu bungkus nasi pecel yang belum ia sentuh, dan kebaya putih warisan ibunya yang sudah ia cuci bersih dari noda darah.
Kali ini kebayanya tidak lusuh. Ia setrika dengan hati-hati, menggunakan setrika arang pinjaman dari tetangga. Jarit coklatnya juga sudah ia cuci. Sandal jepitnya ia ganti dengan sepatu pantofel bekas yang ia beli di pasar loak seharga lima belas ribu. Kulitnya mengelupas di bagian tumit, tapi cukup mengilap dari kejauhan.
Ia berjalan menuju halte bus kota. Matanya mencari rute ke Jalan Basuki Rahmat, di mana Hardjono Tower berdiri.
"Permisi, Pak. Bus ke Jalan Basuki Rahmat yang mana?"
Bapak penjaga halte menunjuk bus berwarna biru yang baru datang. "Itu, Mbak. Setengah jam lagi sampai."
Setengah jam.
Saskia naik ke bus kota. Kali ini lebih bersih, tapi lebih penuh. Ia berdiri, berpegangan pada pegangan tangan yang menggantung. Di kaca jendela, bayangannya sendiri menatap balik.
Ia tidak lagi terlihat seperti gadis desa yang sekarat di kandang sapi. Kulitnya masih pucat, tapi tidak lagi keabu-abuan. Matanya masih lelah, tapi ada nyala di dalamnya. Bibirnya sudah tidak pecah-pecah. Anemianya masih ada, tapi tiga minggu makan teratur dan istirahat yang cukup mulai menunjukkan hasil.
"Aku Saskia Mahendra," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Dokter hewan. Dua belas tahun pengalaman. Tujuh belas kasus distokia. Riset wabah septicaemia epizootica. Aku bukan gadis desa yang tidak tahu apa-apa."
Ia mengulanginya lagi. Dan lagi. Seperti mantra.
Bus berhenti di depan gedung yang membuat Saskia berhenti bernafas sejenak.
Hardjono Tower.
Empat puluh lantai kaca dan baja yang menjulang ke langit Surabaya. Fasadnya berkilau memantulkan cahaya matahari pagi. Logo perusahaan, huruf H besar dengan aksen emas, terpampang di puncak gedung.
Di depannya, air mancur menari-nari dengan irama yang teratur. Taman hijau yang terawat rapi mengelilingi lobi utama. Mobil-mobil mewah parkir di depan, sopir-sopir berpakaian rapi membukakan pintu untuk penumpang mereka.
Saskia berdiri di seberang jalan selama dua menit penuh. Hanya berdiri. Menatap.
Lalu ia menyeberang.
Lobi Hardjono Tower lebih megah dari apapun yang pernah ia lihat. Lantai marmer putih dengan urat emas. Lampu kristal yang menggantung dari langit-langit setinggi tiga lantai. Meja resepsionis dari kayu jati dengan aksen kuningan. Di belakangnya, tiga perempuan dengan seragam hitam dan putih, rambut disanggul rapi, riasan sempurna.
Saskia melangkah ke arah meja resepsionis. Sepatu pantofel bekasnya berdecit sedikit di lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan meja, punggungnya tegak, dagunya sedikit terangkat.
"Selamat pagi. Saya Saskia Utami. Ada janji dengan Bapak Daniel Hardjono."
Resepsionis itu menatapnya. Matanya bergerak dari wajah Saskia ke pakaiannya, ke sepatunya, ke tas jinjing di tangannya. Ekspresinya netral, profesional. Tapi Saskia bisa melihat otot di sekitar matanya sedikit menegang.
"Nama Mbak Saskia Utami?"
"Benar."
Resepsionis itu mengetik di keyboard komputernya. Matanya menyipit menatap layar. Tiga detik. Lima detik. Tujuh detik.
"Ada, Mbak. Janji jam sepuluh. Lantai dua puluh tujuh, ruang meeting Anggrek. Silakan tunggu di lobi dulu. Nanti akan ada yang mengantar."
"Terima kasih."
Saskia berjalan ke sofa di sudut lobi. Sofa kulit hitam yang empuk, kontras dengan sofa beludru di Hotel Tugu yang lebih antik. Ia duduk, meletakkan tas jinjingnya di samping, dan mengeluarkan proposalnya.
Lalu ia melihat bayangannya di dinding kaca lobi.
Seorang gadis kurus dengan kebaya putih sederhana. Sepatu bekas yang mengelupas di tumit. Tas jinjing lusuh. Rambut disanggul tanpa riasan. Duduk sendirian di antara para eksekutif berdasi dan pengusaha bersetelan jas mahal.
Tapi matanya tidak menunjukkan rasa takut.
Ia menatap bayangan kumuhnya di dinding kaca Hardjono Tower. Aku sudah pernah mati sekali, ini bukan apa-apa.